Thursday 23rd October 2014

Home » Article & Coloumn, Articles » “Melawan Radikalisme Agama Dengan Seni Atas Nama Pribadi”

oleh NUGROHO ANGKASA & BRAMANTYO PRIJOSUSILO

Bramantyo Prijosusilo di makam Kotagede bersiap menuju markaz MMI (foto:dok.katrinsaut)

MENGHAYATI kecenderungan merebaknya kelompok dan penghayatan agama yang bercirikan kegiatan-kegiatan keagamaan yang memecah belah masyarakat dan berpotensi memicu konflik horizontal, serta mengahayati ancaman kekerasan yang diniscayakan oleh adanya kegiatan-kegiatan semacam itu, maka saya memiliki gagasan untuk membuat suatu “social sculpture” (patung sosial) yang bertema : “Melawan Radikalisme Agama Dengan Seni Atas Nama Pribadi”.

Istilah “social sculpture” dikenalkan perupa Jerman Joseph Beuys di akhir abad XX untuk menamai karya seni berwujud suatu struktur, yang dibangun bersama-sama oleh masyarakat. Salah satu karya Beuys yang terkenal, berupa bibit pohon oak dan sebongkah batu berbentuk kubus kurang lebih sebesar kursi. Siapapun boleh mengambil batu dan bibit oak tersebut, lalu menanam oak itu di dekat batu di suatu tempat, sehingga kelak akan ada sebuah batu yang enak buat duduk, di bawah oak yang rindang, di mana-mana, yang mana itu akan memfasilitasi aktifitas berkontemplasi .

Adapun karya social sculpture saya berjudul “Aku Melawan Pengrusakan Atas Nama Agama” nanti akan berwujud suatu instalasi video / foto / dokumentasi, yang berbahan dasar karya seni pertunjukan saya yang berjudul “Membanting Macan Kerah”, dilengkapi dengan dokumentasi dari karya-karya orang lain siapa saja, yang juga membuat suatu “perlawanan seni atas nama PRIBADI” atas gejala radikalisme yang mengancam keberadaan Negara dan ketentraman Bangsa Indonesia.

Jalan Karanglo sudah dikepung oleh MMI dan polisi

Mengawali pembuatan karya kolaborasi itu, saya akan membuat suatu pertunjukan solo (sendiri) berjudul “Membanting Macan Kerah” yang berwujud suatu peristiwa di mana saya sendiri dengan mengenakan kostum seni akan menyampaikan pengumuman dan membacakan puisi , yang isinya memberitahukan bahwa secara budaya wilayah Yogyakarta memiliki seorang Kalipatullah Panatagama. Oleh karena itu tak elok dan anti budaya jika ada gerakan-gerakan atas nama agama yang menyelisihi ekspresi keagamaan Kraton Yogyakarta yang damai dan berestetika. Peristiwa seni saya tersebut akan berlangsung singkat dan tidak akan menggunakan alat pengeras suara dan tidak mengerahkan massa penonton sehingga diharapkan tidak mengganggu lalulintas atau ketertiban umum.

Pertunjukan akan dilaksanakan selama beberapa menit saja, selepas pukul 9 pagi hari Rabu tanggal 15 Februari 2012 (menghindari jam sibuk lalulintas) di depan Markas Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) di Jalan Karanglo, Kotagede.

Polisi “mengamankan” Bram yang kemudian dimasukan ke truk polisi

Saya pilih Markaz MMI adalah karena dari gagasan yang tercermin di dalam namanya, MMI merupakan salah satu ormas yang menyelisihi bahkan bertentangan dengan kenyataan bahwa Yogyakarta memiliki Kalipatullah Panatagama yang mana secara budaya dan adab, hanya beliau seoranglah yang berhak menyerukan jihad dan mengorganisasikan mujahidin bilamana itu dirasakan perlu. Belum lama ini MMI terlibat dalam penekanan massa kepada kelompok minoritas yang dikatakan sesat, oleh karena itu sebagai langkah ‘saling mengingatkan akan kebenaran dan saling mengingatkan akan kesabaran’ demi menolak cara-cara seperti itu, saya mendatangi Markaz MMI secara PRIBADI (bukan massa).

Logikanya adalah, bila suatu kelompok diyakini sesat, maka tentu pembubaran kegiatan kelompok itu tidak akan membuatnya lepas dari kesesatan tersebut. Sebagai Mukmin kita memohon ditunjuki ‘jalan yang lurus, bukan jalan orang yang sesat maupun jalan orang yang dimurkai’ setiap kali kita menunaikan shalat. Oleh karena itu bila seseorang merasa yakin dirinya tak sesat, tentu tak perlu lagi dia membaca Al Fatihah. Membaca Al Fatihah tentu saja merupakan pengakuan bahwa bagaimanapun juga setiap insan, setiap diri yang membutuhkan membacanya, senantiasa berpotensi sesat dan membutuhkan hidayahNya untuk lepas dari kesesatan tersebut. HidayahNya, bukan ancaman, bukan tekanan, bukan kekerasan dari kelompok lain yang merasa diri jauh dari kesesatan. []

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments