Friday 1st August 2014

Home » Article & Coloumn, Articles » “Filsafat Analitik: Ludwig Wittgenstein dalam Tractatus Logico-Philosophicus”

oleh Zaim Rofiqi

Ludwig Wittgenstein (1889-1951)

I.Latar Belakang

Filsafat analitik dapat didefinisikan, kurang lebih, sebagai serangkaian pendekatan terhadap masalah-masalah filosofis yang menekankan studi bahasa dan analisa logis atas konsep yang terungkapkan lewat bahasa.[1] Gerakan atau aliran dalam filsafat ini memiliki beragam bentuk, antara lain analisa linguistik, empirisisme logis, positivisme logis, analisis Cambridge, dan “Filsafat Oxford.” Meskipun tidak ada doktrin-doktrin atau ajaran-ajaran khusus yang diterima oleh gerakan tersebut secara keseluruhan, para filosof analitik dan linguistik sepakat bahwa aktivitas filsafat yang paling tepat adalah mengklarifikasi bahasa atau mengklarifikasi konsep. Tujuan aktivitas ini adalah menyelesaikan berbagai perselisihan filsafat dan memecahkan problem-problem filsafat yang dianggap bersumber dari kekacauan penggunaan bahasa.[2]

Analisa bahasa sebagai suatu metode filsafat dianggap telah ada sejak Yunani Kuno. Beberapa dialog Plato, misalnya, secara khusus berkenaan dengan penjelasan atas istilah-istilah dan konsep-konsep. Namun, gaya berfilsafat ini mendapat penekanan yang baru pada abad ke-20. Dengan dipengaruhi oleh tradisi empirisisme Inggris awal—John Locke, George Berkeley, David Hume, dan John Stuart Mill—dan oleh tulisan-tulisan matematikawan dan filosof Jerman Gottlob Frege (terutama “On Sense and Reference” [“Über Sinn und Bedeutung” 1892] and “Thoughts” [“Gedanken” 1918]), filosof Inggris G. E. Moore dan Bertrand Russell menjadi pendiri aliran pemikiran filsafat analitik. Saat masih di Universitas Cambridge, Moore dan Russell menolak idealisme Hegelian, terutama sebagaimana teruraikan dalam karya metafisikawan Inggris F. H. Bradley, yang berpendirian bahwa tak ada yang sepenuhnya riil kecuali Yang-Absolut. Dalam perlawanan mereka terhadap idealisme dan dalam keyakinan mereka bahwa perhatian yang cermat pada bahasa sangat penting dalam penyelidikan filosofis, mereka membentuk gaya dan mood baru dalam berfilsafat di dunia berbahasa Inggris pada abad ke-20.[3]

Dalam konteks filsafat analitik, posisi Wittgenstein dianggap sangat penting. Oleh P. M. S. Hacker ia dianggap mendominasi sejarah filsafat analitik abad ke-20, sebagaimana Picasso mendominasi sejarah seni abad ke-20. Wittgenstein memang tidak membentuk “aliran” pemikiran tersendiri, namun ia mengubah lanskap pemikiran filsafat—bukan hanya sekali, melainkan dua kali. Dan para penerusnya, dalam konteks besar filsafat analitik, entah mereka mengikuti jalan yang telah ditempuh Wittgenstein atau tidak, harus mengorientasikan pemikiran mereka kembali berdasarkan wawasan baru yang dimunculkan oleh karya-karya Wittgenstein. Ia menyelesaikan dua karya besar filsafat yang sama sekali bertentangan, Tractatus Logico-Philosophicus (1921) dan Philosophical Investigations (1953). Tractatus menjadi rujukan analisis Cambridge pada tahun-tahun antara dua Perang Dunia, dan juga menjadi sumber inspirasi utama bagi positivisme logis Lingkaran Wina. Sedangkan Philosophical Investigations (PI) menjadi sumber inspirasi utama bagi suatu bentuk filsafat analitik yang berkembang pada seperempat abad setelah akhir Perang Dunia II, yang berpusat di Oxford dan mempengaruhi pemikiran di wilayah-wilayah dunia berbahasa Inggris.[4]

Tulisan ini berusaha menjabarkan garis besar pemikiran Wittgenstein yang tertuang dalam buku Tractatus Logico-Philosophicus (TLP), dan kemudian memberinya sedikit komentar pada bagian akhir.

II.Ludwig Wittgenstein

II.1. Sejarah Hidup

Ludwig Josef Johann Wittgenstein adalah filosof Inggris kelahiran Austria yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai filosof terbesar abad ke-20. Ia lahir di Vienna pada 1889 sebagai anak dari Karl Wittgenstein, seorang pengusaha dan salah satu orang terkaya di Austria pada masa itu.[5] Meskipun keluarganya pada mulanya Yahudi, Karl Wittgenstein dibesarkan sebagai seorang Protestan, dan istrinya, Leopoldine, yang juga berasal dari keluarga Yahudi, dibesarkan sebagai seorang Katolik. Karl dan Leopoldine memiliki 8 anak, dan Ludwig adalah anak bungsu mereka. Keluarga tersebut memiliki kekayaan dan bakat yang berlimpah, dan rumah mereka menjadi pusat kehidupan budaya Vienna. Banyak penulis, seniman, dan intelektual terkenal fin de siècle Vienna—Karl Kraus, Gustav Klimt, Oskar Kokoschka, dan Sigmund Freud—adalah pengunjung rutin rumah Wittgenstein, dan pergelaran musik keluarga tersebut sering dihadiri antara lain oleh Johannes Brahms, Gustav Mahler, and Bruno Walter.[6]

Setelah bersekolah di Linz dan Berlin, ia pergi ke Inggris untuk belajar teknik mesin di Universitas Manchester. Minatnya pada matematika murni membawanya ke Trinity College, Universitas Cambridge, untuk belajar pada Bertrand Russell. Di sini ia memusatkan perhatiannya untuk studi  filsafat.

Wittgenstein sendiri tertarik untuk mendalami filsafat setelah membaca karya Russell yang berjudul The Principles of Mathematics. Ia mulanya pergi ke Inggris untuk melanjutkan studi tentang teknik mesin (engineering) yang telah ia mulai di Berlin, namun saat ia berada di Universitas Manchester, ia menjadi tertarik pada fondasi filosofis matematika yang menjadi dasar kerja profesionalnya. Buku The Principles of Mathematics itu sendiri dipinjam Wittgenstein dari seorang temannya, dan segera setelah membaca buku itu, muncul minatnya untuk mempelajari filsafat. Ulasan buku itu yang panjang lebar tentang gagasan-gagasan logis dan filosofis matematikawan Jerman Gottlob Frege mendorongnya untuk mengunjungi Frege di Jena. Frege, yang pada saat itu berusia 63 tahun, sebaliknya menyarankan Wittgenstein untuk kembali ke Inggris dan bekerja bersama Russell di Cambridge. Dengan menuruti nasihat Frege, Wittgenstein akhirnya menemui Russell, dan setelah itu dimulailah masa kerjasama pemikiran di antara keduanya.[7

Pada 1918, Wittgenstein merampungkan karyanya yang berjudul Tractatus Logico-philosophicus (1921; terj. 1922), sebuah karya monumental yang ia yakini telah memberikan “pemecahan final” terhadap berbagai persoalan filsafat. Ia kemudian mundur dari pergulatannya dengan filsafat, dan untuk beberapa tahun mengajar sebuah sekolah dasar di sebuah desa di Austria. Pada 1929 ia kembali ke Cambridge untuk kembali bergelut dengan filsafat dan mengajar di fakultas di Trinity College. Beberapa waktu kemudian ia mulai menyangkal beberapa kesimpulan yang ada dalam Tractatus dan mengembangkan berbagai pandangan baru yang terangkum dalam Philosophical Investigations (pub. posthumously 1953; terj. 1953). Wittgenstein pensiun pada 1947, dan ia meninggal di Cambridge pada 29 April 1951. Ia dikenal sebagai orang yang sensitif, tekun, sering menyendiri, dan sering kali depresi. Ia juga dikenal memiliki kepribadian tegas dan percaya diri, dan ia banyak mempengaruhi orang-orang yang memiliki kontak  dengannya.[8]

II.2 Pemikiran Wittgenstein dalam Tractatus Logico-Philosophicus

Tractatus Logico-Philosophicus (TLP) adalah karya Wittgenstein pertama dan satu-satunya dalam bentuk buku yang ia terbitkan selama masa hidupnya (1889-1951). Karya ini ia tulis saat ia menjadi tahanan perang selama Perang Dunia I. Karya ini pertama kali diterbitkan di Jerman pada 1921 sebagai Logisch-Philosophische Abhandlung. Buku ini—terutama dalam hal anggapannya bahwa pernyataan metafisik dan etis adalah pernyataan-pernyataan yang tidak bermakna—dianggap sangat berpengaruh di kalangan para positivis logis dari Lingkaran Wina, seperti Rudolf Carnap dan Friedrich Waismann.[9]

Secara keseluruhan, ada 7 tesis utama yang dikemukakan Wittgenstein dalam bukunya ini:

1.Dunia adalah segala sesuatu yang demikian adanya (The world is all that is the case).[10]

2.Apa yang demikian adanya–suatu fakta–adalah eksistensi duduk-perkara (What is the case–a fact–is the existence of states of affairs).[11]

3.Suatu gambaran logis fakta-fakta adalah suatu pemikiran (A logical picture of facts is a thought).[12]

4.Suatu pemikiran adalah suatu proposisi dengan pengertian (A thought is a proposition with a sense).[13]

5.Suatu proposisi adalah suatu fungsi-kebenaran dari proposisi-proposisi dasar (A proposition is a truth-function of elementary propositions).[14]

6.Bentuk umum dari suatu fungsi-kebenaran adalah [`p, `ξ, N(`ξ)]. Inilah bentuk umum dari suatu proposisi. (The general form of a truth-function is [`p, `ξ, N(`ξ)]. This is the general form of a proposition.[15]

7.Apa yang tidak dapat kita bicarakan, kita harus membiarkannya dalam diam. (What we cannot speak about we must pass over in silence).[16]

Melihat persoalan-persoalan filosofis yang dibahas Wittgenstein di atas, kita dapat membaca buku ini sebagai usaha Wittgenstein untuk memadukan atomisme Russellian dan apriorisme Fregean.[17] Ketika buku ini terbit, Russell memujinya sebagai suatu sumbangan pada teori logika yang tak boleh diabaikan oleh filosof yang serius. Namun buku ini sendiri tidak hanya membatasi diri pada tema-tema yang dibahas oleh Frege dan Russell. Buku ini, menurut Wittgenstein, adalah suatu program etis. Karena alasan inilah, Wittgenstein menganggap Russell telah salah memahami makna bukunya: “Kini saya khawatir Anda tidak sepenuhnya menangkap maksud saya, yang mana keseluruhan persoalan tentang proposisi logis hanyalah konsekuensi logis belaka,” tulis Wittgenstein kepada mantan mentornya itu pada Agustus 1919. “Poin utamanya adalah teori tentang apa yang dapat diungkapkan [gesagt] melalui proposisi—yakni, melalui bahasa—(dan, dengan demikian, apa yang bisa dipikirkan) dan apa yang tidak dapat diungkapkan oleh proposisi, melainkan hanya ditunjukkan [gezeigt]; yang, saya yakin merupakan persoalan utama filsafat.”[18] Wittgenstein, dalam surat yang sama, juga mengeluh bahwa Frege pun gagal memahami bukunya. Pada saat yang hampir sama, ia menulis surat kepada publisis Austria, Ludwig von Ficker, bahwa maksud sebenarnya dari Tractatus bersifat etis, yakni bahwa ia ingin membatasi sifat-dasar dari yang-etis dari dalam. “Semua hal yang oleh banyak orang diocehkan sekarang ini, saya definisikan dalam buku saya sebagai sesuatu yang lebih baik diam tentangnya.”[19]

Disusun dalam gaya bahasa yang ketat dan padat, dan ditata berdasarkan sistem penomoran yang dipinjam dari Principia Mathematica, buku ini juga bermaksud menunjukkan bahwa filsafat tradisional bersandar pada kesalahpahaman radikal atas “logika bahasa kita.” Dengan mengikuti jejak Frege dan Russell, Wittgenstein menyatakan bahwa setiap kalimat yang bermakna harus memiliki struktur logis yang tepat, yang umumnya tersembunyi di balik selubung tampilan gramatik kalimat tersebut, dan karena itu memerlukan analisis logis yang panjang lebar agar menjadi jelas. Wittgenstein percaya bahwa analisis tersebut akan memperlihatkan bahwa setiap kalimat yang bermakna adalah atau suatu susunan fungsi-kebenaran dari kalimat-kalimat lain yang lebih sederhana, atau suatu kalimat atomik yang terdiri dari rangkaian nama sederhana. Karena itu, Wittgenstein menyatakan bahwa setiap kalimat atomik adalah suatu gambaran logis dari suatu duduk perkara yang mungkin, yang harus memiliki struktur formal yang tepat sama sebagaimana kalimat atomik yang menggambarkannya. Wittgenstein menggunakan “teori gambar dari makna” ini untuk mendapatkan kesimpulan-kesimpulan tentang dunia dari pengamatannya tentang struktur kalimat-kalimat atomik. Ia secara khusus mempostulatkan bahwa dunia pada dirinya sendiri harus memiliki suatu struktur logis yang tertentu, meskipun kita mungkin tidak mampu menentukan struktur itu sepenuhnya. Ia juga beranggapan bahwa dunia terutama terdiri dari fakta-fakta, yang sesuai dengan kalimat-kalimat atomik yang benar, dan bukan atas benda-benda, dan bahwa fakta-fakta tersebut, pada gilirannya, merupakan rangkaian obyek-obyek sederhana, yang sesuai dengan nama-nama yang menyusun kalimat-kalimat atomik itu.[20]

Dalam Tractatus Wittgenstein meyakini bahwa peran fundamental kata-kata adalah untuk menamai entitas-entitas (meskipun peran ini disangkal dalam hal operasi logis dan ekspresi kategoris) dan fungsi kalimat untuk menggambarkan bagaimana hal-ihwal dalam realitas. Ia beranggapan bahwa pasti ada suatu keterkaitan makna antara kata-kata dan entitas-entitas yang mereka namai, bahwa cara bahasa memperoleh isi adalah dengan keterkaitan dengan realitas tersebut.[21]

Tidak seperti Russell dan Frege, Wittgenstein beranggapan bahwa bahasa sehari-hari ada dalam tatanan logis yang baik. Karena logika adalah suatu kondisi pengertian, dan sejauh kalimat-kalimat bahasa sehari-hari mengungkapkan pengertian, membawa pemikiran, mereka berada dalam keadaan baik—keadaan yang sebaliknya (yakni kekaburan) adalah karena ekspresi tata-bahasa di tingkat permukaan, dan hal ini akan hilang ketika dianalisis. Ketika kalimat-kalimat bahasa sehari-hari tersebut gagal mengungkapkan suatu pengertian, mereka adalah pseudo-kalimat dalam bentuk yang buruk. Karena itu, bukan tugas filsafat untuk merancang sebuah bahasa yang secara logis ideal, meskipun membayangkan suatu sistem yang secara logis jelas akan memungkinkan sang filsuf menjabarkan bentuk logis yang sebenarnya dari berbagai pemikiran yang dikaburkan oleh permukaan tata-bahasa dari bahasa sehari-hari. Menurut Tractatus, fungsi dasar bahasa adalah mengomunikasikan pemikiran dengan memberinya ungkapan dalam bentuk yang tampak dan jelas. Peran proposisi (kalimat dengan pengertian) adalah menggambarkan duduk-perkara (state of affairs), yang mungkin sesuai atau mungkin tidak. Jika duduk-perkara yang digambarkan oleh sebuah proposisi sesuai, maka proposisi itu benar, jika tidak maka salah.[22]

Wittgenstein berpandangan bahwa kalimat adalah ekspresi pemikiran. Namun pemikiran itu sendiri adalah suatu jenis bahasa, yang terdiri dari unsur-unsur pemikiran. Bentuk sebuah pemikiran harus mencerminkan bentuk realitas sama sebagaimana sebuah proposisi.[23]

Pemikiran Wittgenstein yang ada dalam Tractatus pada umumnya berkenaan dengan pandangannya tentang struktur logis bahasa dan dunia, dan tak mengherankan jika hal ini dengan segera menarik minat para filosof yang menggeluti persoalan-persoalan logika simbolik dan penerapannya. Namun bagi Wittgenstein sendiri, bagian paling penting dari bukunya tersebut ada pada kesimpulan-kesimpulan negatif tentang filsafat yang ia kemukakan pada akhir karyanya itu. Pada bagian akhir tersebut ia mengemukakan bahwa semua kalimat yang bukan gambaran atomik dari rangkaian obyek atau gabungan fungsi-kebenaran (truth-functional) dapat dipastikan tak bermakna. Contoh dari kalimat-kalimat seperti ini, antara lain, adalah proposisi-proposisi etika dan estetika, semua proposisi yang berkenaan dengan makna hidup, semua proposisi logika, bahkan semua proposisi filosofis, dan terakhir semua proposisi yang ada dalam Tractatus itu sendiri. Meskipun semua proposisi ini menurut Wittgenstein tak bermakna, namun mereka bertujuan untuk mengatakan sesuatu yang penting: apa yang berusaha mereka ungkapkan dalam kata-kata sebenarnya hanya bisa ditunjukkan.[24]

Dengan demikian, Wittgenstein menyimpulkan bahwa siapa pun yang memahami Tractatus akhirnya akan membuang proposisi-proposisinya sebagai sesuatu yang tidak bermakna: mereka akan membuang tangga setelah mereka berhasil naik ke puncak. Orang yang telah mencapai keadaan itu tidak akan lagi punya keinginan untuk mengungkapkan proposisi-proposisi filosofis. Ia akan menatap dunia secara langsung dan apa adanya, dan akan menyadari bahwa satu-satunya proposisi yang benar-benar bermakna hanyalah proposisi-proposisi ilmu alam; namun ilmu alam tidak pernah dapat menyentuh apa yang benar-benar penting dalam kehidupan manusia, yakni yang-mistis. Hal yang terakhir ini harus direnungkan dalam diam.[25] Karena, sebagaimana yang dikemukakan dalam tesis terakhir Tractatus, “Apa yang tidak dapat kita bicarakan, kita harus membiarkannya dalam diam.”[26]

II. 2.1. TLP dan “Linguistic-Turn”

Dalam konteks filsafat yang lebih luas, TLP sendiri dianggap sebagai sebuah karya yang memulai apa yang disebut linguistic turn dalam filsafat. Ada kurang lebih enam alasan mengapa demikian. Pertama, buku ini dianggap menentukan batas-batas pemikiran dengan menentukan batas-batas bahasa: yakni, dengan menjabarkan batas-batas antara pengertian dan omong kosong. Buku ini menempatkan bahasa—bentuk dan strukturnya—sebagai pusat penyelidikan filsafat. Kedua, tugas positif filsafat masa depan adalah analisa logico-linguistik atas kalimat. Penjelasan logis atas pemikiran dilakukan dengan penjelasan atas proposisi-proposisi (kalimat-kalimat dengan pengertian). Ketiga, tugas negatif filsafat masa depan adalah memperlihatkan ketidak-sahihan penegasan-penegasan metafisis dengan menjelaskan cara di mana usaha untuk mengatakan apa yang diperlihatkan oleh bahasa melampaui, atau melanggar, batas-batas pengertian. Keempat, Tractatus berusaha menjelaskan watak dasar tanda proposisi dengan menguraikan bentuk proposisi umum, yakni dengan memberi “suatu deskripsi atas proposisi-proposisi tanda-bahasa apa pun sedemikian rupa sehingga setiap pengertian yang mungkin bisa diungkapkan oleh suatu simbol yang sesuai dengan deskripsi tersebut, dan setiap simbol yang sesuai dengan deskripsi tersebut dapat mengungkapkan suatu pengertian, asalkan makna nama-namanya dipilih dengan tepat. Kelima, penyelidikan logis atas fenomena, penyingkapan bentuk-bentuk logis mereka, yang tidak dilakukan di dalam buku ini, akan dilakukan dengan analisis logis atas deskripsi linguistik fenomena. (Langkah pertama dalam menjalankan tugas ini dilakukan dalam tulisan pada 1929, “Some Remaks on Logical Form”, namun keseluruhan proyek tersebut gagal). Karena sintaksis logis bahasa pasti, dan harus, isomorfis dengan bentuk-bentuk logico-metafisis dunia. Keenam, pencapaian terbesar buku ini, sebagaimana dilihat oleh Lingkaran Wina, adalah penjabarannya atas watak keniscayaan logis. Hal ini dilakukan dengan suatu penyelidikan atas simbolisme. Bahwa seseorang dapat mengenali kebenaran suatu proposisi logis hanya dari simbol dianggap merupakan inti pandangan filsafat logika.[27]

Memang, sebagian dari klaim di atas kemudian disangkal. Namun mereka merayakan palingan ke linguistik (linguistic turn) tersebut, yang dijalankan oleh Lingkaran Wina, dan dengan cara yang berbeda, oleh Wittgenstein sendiri dalam filsafatnya yang kemudian, dan juga oleh filsafat analitik Oxford. Tractatus dianggap sebagai sebuah paradigma filsafat analitik dalam fase heroik atau klasiknya pada tahun-tahun di antara dua Perang Dunia. Buku itu adalah inspirasi utama analisis Cambridge dan positivisme logis. Programnya, sebagaimana dipahami baik di Cambridge dan Wina, adalah metode analisis logico-linguistik atas ekspresi-ekspresi kompleks menjadi bagian-bagian sederhana yang tak dapat dianalisis lagi. Dengan demikian, buku tersebut tampaknya memberi fondasi bagi apa yang oleh Lingkaran Wina dibanggakan sebagai “empirisisme yang konsisten”, karena buku itu menyangkal bahwa akal-budi semata bisa memperoleh pengetahuan tentang dunia. Buku itu menganggap metafisika sebagai omong-kosong, dan memberi filsafat suatu peran analitik yang khas dan status yang sepenuhnya berbeda dari status sains. Schlick, salah tokoh utama dalam Lingkaran Wina, bergerak lebih jauh dengan menyebut Tractatus sebagai “suatu titik balik dalam filsafat”, suatu wawasan terdalam menyangkut apa seharusnya tugas dan status filsafat.[28]

III.Sekelumit Tanggapan Pribadi

Pandangan Wittgenstein bahwa Tractatus Logico-Philosophicus adalah sebuah program etis bagi saya sangat menarik. Bagi Wittgenstein sendiri, seperti yang telah disinggung di atas, bagian paling penting dari bukunya tersebut ada pada kesimpulan-kesimpulan negatif tentang filsafat yang ia kemukakan pada akhir karyanya itu. Pada bagian akhir tersebut ia mengemukakan bahwa semua kalimat yang bukan gambaran atomik dari rangkaian obyek atau gabungan fungsi-kebenaran (truth-functional) dapat dipastikan tak bermakna. Contoh dari kalimat-kalimat seperti ini, antara lain, adalah proposisi-proposisi etika dan estetika, semua proposisi yang berkenaan dengan makna hidup, semua proposisi logika, bahkan semua proposisi filosofis, dan terakhir semua proposisi yang ada dalam Tractatus itu sendiri.

Pandangan ini menyadarkan saya bahwa hal-hal yang bersifat etis, estetis, dan metafisis, bukanlah bagian dari (fakta) dunia, jika kita menerima dunia sebagaimana yang didefinisikan Wittgenstein dalam tesis pertama bukunya ini: “Dunia adalah segala sesuatu yang demikian adanya (The world is all that is the case).” Apa yang etis, estetis, dan metafisis sering kali adalah tafsiran kita terhadap fakta, terhadap sesuatu yang demikian adanya (“what is the case”). Dan sebagai suatu tafsiran, hal ini tentu akan selalu berbeda dari waktu ke waktu, dari satu orang ke orang yang lain, dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Dan karena perbedaan radikal yang mungkin dimunculkan dari tafsiran tiap-tiap orang terhadap fakta dunia, terhadap what is the case, maka hal ini memang lebih baik dibiarkan dalam diam: “Apa yang tidak dapat kita bicarakan, kita harus membiarkannya dalam diam (What we cannot speak about we must pass over in silence).” []

[1] Baird, Robert M. “Analytic and Linguistic Philosophy.” Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008. Hlm. 1.

[2] “Analytic Philosophy.” Encyclopædia Britannica. <span>Encyclopædia Britannica 2009 Student and Home Edition</span>.  Chicago: Encyclopædia Britannica, 2009. Hlm. 1.

[3] Baird, Robert M. “Analytic and Linguistic Philosophy.” Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008. Hlm. 1-2.

[4] P. M. S. Hacker, “Ludwig Wittgenstein (1889-1951)”, dalam A. P. Martinich dan David Sosa (eds.), Blackwell Companion to Philosophy: A Companion to Analytic Philosophy, Massachusetts: Blackwell Publishers Ltd, 2001, hlm. 68.

[5] Hans Sluga dan David G. Stern (eds.), The Cambridge Companion to Wittgenstein, New York: Cambridge University Press, 1996, hlm. 1.

[6] “Wittgenstein, Ludwig” Encyclopædia Britannica. <span>Encyclopædia Britannica 2009 Student and Home Edition</span>.  Chicago: Encyclopædia Britannica, 2009.

[7] Hans Sluga dan David G. Stern (eds.), The Cambridge Companion to Wittgenstein, New York: Cambridge University Press, 1996, hlm. 5.

[8] Baird, Robert M. “Ludwig Wittgenstein.” Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.

[9] Baird, Robert M. “Ludwig Wittgenstein.” Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.

[10] Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, (terj. D.F. Pears dan B. F. McGuinness), London: Routledge, 2000, hlm. 5.

[11] Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, (terj. D.F. Pears dan B. F. McGuinness), London: Routledge, 2000, hlm. 5.

[12] Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, (terj. D.F. Pears dan B. F. McGuinness), London: Routledge, 2000, hlm. 10.

[13] Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, (terj. D.F. Pears dan B. F. McGuinness), London: Routledge, 2000, hlm. 19.

[14] Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, (terj. D.F. Pears dan B. F. McGuinness), London: Routledge, 2000, hlm. 36.

[15] Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, (terj. D.F. Pears dan B. F. McGuinness), London: Routledge, 2000, hlm. 58.

[16] Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, (terj. D.F. Pears dan B. F. McGuinness), London: Routledge, 2000, hlm. 74.

[17] Hans Sluga, “Ludwig Wittgenstein: Life and Work; An Introduction”, dalam Hans Sluga dan David G. Stern (eds.), The Cambridge Companion to Wittgenstein, New York: Cambridge University Press, 1996, hlm. 9.

[18] L. Wittgenstein, Letters to Russell, Keynes, and Moore, ed. by G. H. von Wright (Ithaca: Cornell University Press, 1974), hlm. 71, dikutip dalam Hans Sluga, “Ludwig Wittgenstein: Life and Work; An Introduction”, dalam Hans Sluga dan David G. Stern (eds.), The Cambridge Companion to Wittgenstein, New York: Cambridge University Press, 1996, hlm. 9.

[19] L. Wittgenstein, “Letters to Ludwig von Ficker,” in C. G. Luckhardt, ed., Wittgenstein: Sources and Perspectives (Ithaca: Cornell University Press, 1979), hlm. 95, dikutip dalam Hans Sluga, “Ludwig Wittgenstein: Life and Work; An Introduction”, dalam Hans Sluga dan David G. Stern (eds.), The Cambridge Companion to Wittgenstein, New York: Cambridge University Press, 1996, hlm. 9.

[20] Hans Sluga, “Ludwig Wittgenstein: Life and Work; An Introduction”, dalam Hans Sluga dan David G. Stern (eds.), The Cambridge Companion to Wittgenstein, New York: Cambridge University Press, 1996, hlm. 10.

[21] P. M. S. Hacker, “Ludwig Wittgenstein (1889-1951)”, dalam A. P. Martinich dan David Sosa (eds.), Blackwell Companion to Philosophy: A Companion to Analytic Philosophy, Massachusetts: Blackwell Publishers Ltd, 2001, hlm. 71-72.

[22] P. M. S. Hacker, “Ludwig Wittgenstein (1889-1951)”, dalam A. P. Martinich dan David Sosa (eds.), Blackwell Companion to Philosophy: A Companion to Analytic Philosophy, Massachusetts: Blackwell Publishers Ltd, 2001, hlm. 72.

[23] P. M. S. Hacker, “Ludwig Wittgenstein (1889-1951)”, dalam A. P. Martinich dan David Sosa (eds.), Blackwell Companion to Philosophy: A Companion to Analytic Philosophy, Massachusetts: Blackwell Publishers Ltd, 2001, hlm. 73.

[24] Hans Sluga, “Ludwig Wittgenstein: Life and Work; An Introduction”, dalam Hans Sluga dan David G. Stern (eds.), The Cambridge Companion to Wittgenstein, New York: Cambridge University Press, 1996, hlm. 10-11.

[25] Hans Sluga, “Ludwig Wittgenstein: Life and Work; An Introduction”, dalam Hans Sluga dan David G. Stern (eds.), The Cambridge Companion to Wittgenstein, New York: Cambridge University Press, 1996, hlm. 11.

[26] “What we cannot speak about we must pass over in silence”, dalam Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, (terj. D.F. Pears dan B. F. McGuinness), London: Routledge, 2000, hlm. 74.

[27] P. M. S. Hacker, “Ludwig Wittgenstein (1889-1951)”, dalam A. P. Martinich dan David Sosa (eds.), Blackwell Companion to Philosophy: A Companion to Analytic Philosophy, Massachusetts: Blackwell Publishers Ltd, 2001, hlm. 76-77.

[28] P. M. S. Hacker, “Ludwig Wittgenstein (1889-1951)”, dalam A. P. Martinich dan David Sosa (eds.), Blackwell Companion to Philosophy: A Companion to Analytic Philosophy, Massachusetts: Blackwell Publishers Ltd, 2001, hlm. 77.



  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments