Saturday 20th December 2014

Home » Article & Coloumn, Articles » Lady Gaga: Gerakan kesetaraan perempuan dan pencekalan

oleh GUSTAFF HARRIMAN ISKANDAR

Lady Gaga (sumber foto:theinspirationroom.com)

PADA tanggal 12 Mei 2012 tersiar kabar bahwa Ormas Front Pembela Islam (FPI) akan membubarkan konser Lady Gaga yang rencananya akan diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 3 Juni 2012. Saya tidak tahu apakah ancaman ini benar-benar berasal dari FPI atau hanya sekedar isu yang berkembang di media. Sehari setelahnya, beredar informasi rekomendasi pencekalan konser Lady Gaga dari pihak Kepolisian di Jakarta. Beberapa teman melontarkan kritik bahwa rekomendasi Polisi sekedar mengafirmasi sikap yang dilontarkan oleh FPI.

Saya sebetulnya bukan penggemar Lady Gaga. Saat beberapa teman membincangkan rencana konsernya di Jakarta, saya tidak terlalu berminat untuk menanggapi. Untuk saya pribadi, Lady Gaga tidak ada bedanya dengan bintang pop lain yang kerap mengedepankan sensasi dan selebrasi. Tidak ada yang salah dengan hal ini. Saya hanya kurang berminat. Itu saja alasannya. Kalaupun ada bintang pop yang karyanya suka saya dengarkan, paling banter Madonna, Gwen Stefani atau Adele. Itupun sangat jarang.

Namun saat membaca beberapa informasi tentang upaya pencekalan yang beredar di media, perhatian saya mulai terusik. Ada beberapa pihak yang menuduhkan bahwa kedatangan Lady Gaga bertujuan untuk membangun kerajaan iblis Lucifer di Indonesia. Beberapa ada yang menyoroti cara berpakaian Lady Gaga yang nyentrik, sementara ada juga pihak yang menyatakan bahwa konser Lady Gaga akan menggerogoti moral Bangsa. Semuanya terasa konyol untuk saya. Selain bertentangan dengan akal sehat, alasan-alasan ini menurut saya sangat mengada-ada dan tidak masuk akal.

***

Saya jadi teringat pada sebuah diskusi tentang Seni, Moral dan Etika yang diselenggarakan di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) pada 11 Mei 2012. Yasraf Amir Piliang diundang menjadi sebagai salah satu pembicara. Saya tidak hadir dalam diskusi itu. Namun rekan-rekan Yasraf Amir Piliang Institute (YAP Institute) mengirimkan beberapa catatan diskusi yang dirangkum melalui media sosial di laman berikut: http://bit.ly/Jbx2Gm. Diskusi ini diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan pameran ‘The Wicked Artist and The Innocent Thieft‘ yang diselenggarakan oleh Kelompok Awanama.

Dalam diskusi tersebut, dikatakan bahwa penerimaan dan penolakan sebuah karya seni di masyarakat juga terkait dengan persoalan moral dan etika. Bersamaan dengan hal ini, kebebasan seni menjadi persoalan yang mendasar karena makna kebebasan tidak pernah disepakati secara bersama-sama oleh seluruh komponen di masyarakat. Makna kebebasan suatu kelompok berbeda dengan kelompok lain. Itu kenapa terkadang ada karya seni yang ditolak oleh kelompok tertentu. Entah karena dianggap tidak beretika, atau karyanya dianggap memiliki etika yang berbeda dengan kelompok yang menolaknya.

Dalam konteks ini, kita dapat melihat wilayah irisan yang mempertemukan prinsip kebebasan seni dengan masalah moral dan etika. Batas yang mempertemukannya merupakan sebuah arena kontestasi dan negosiasi yang akan berlangsung secara terus menerus. Meski tidak akan ada kata final, prosesnya akan bergerak sesuai dengan perkembangan dan dinamika zaman. Akan selalu ada tegangan yang saling tarik menarik antara kebebasan artistik yang dimiliki oleh para seniman dengan nilai-nilai etika dan moralitas yang berkembang di masyarakat. Menurut saya menjaga tegangan ini dalam sebuah hubungan keseimbangan yang mengedepankan akal sehat rasanya akan membantu kita untuk menjadi manusia yang beradab.

***

Kembali pada upaya pencekalan Lady Gaga, saya rasa sikap yang dilontarkan oleh FPI dan pihak Kepolisian terlalu berlebihan. Alih-alih menciptakan rasa aman, pencekalan ini justru akan menimbulkan rasa takut dan kecemasan. Saya telah mendengarkan beberapa lagu Lady Gaga, serta menonton videoklip dan dokumentasi konsernya di beberapa negara. Penampilan Lady Gaga rasanya biasa saja dan masih dalam ambang batas yang wajar menurut ukuran saya pribadi. Saya malah sangat menikmati videoklip lagu “Bad Romance” dari Lady Gaga yang diadaptasi menjadi materi pendidikan sejarah perjuangan kebebasan dan kesetaraan perempuan yang dibuat oleh Soomo Publishing.

Saya pertama kali melihat video ini dalam kegiatan diskusi Aletta Jacob’s Journey yang diselenggarakan di Common Room pada 24 April 2012. Saat itu kami kedatangan 10 orang aktivis, politisi dan profesional perempuan dari Belanda yang datang untuk menelusuri 100 tahun perjalanan Aletta Jacob ke kota Bandung. Aletta Jacob adalah seorang figur gerakan feminis Belanda yang berkunjung ke kota Bandung pada tahun 1912. Saat itu terceritakan bahwa Aletta Jacob secara khusus datang untuk bertemu dengan Dewi Sartika dan mengunjungi sekolah perempuan (Sakola Kautamaan Istri) yang didirikan olehnya pada tahun 1902.

Selain melibatkan para peserta dari Belanda, diskusi ini juga melibatkan para aktivis perempuan dan beberapa teman yang aktif di dunia pendidikan kota Bandung. Juga hadir diantara beberapa peserta adalah guru SMP Dewi Sartika. Sesaat sebelum menonton videoklip Lady Gaga, kami berdiskusi tentang sejarah, pendidikan dan gerakan perempuan di Indonesia dan Belanda. Pada masanya, gerakan kebebasan dan kesetaraan perempuan adalah sebuah gerakan politik yang dianggap radikal. Bahkan sampai hari ini, beberapa kelompok masyarakat di Indonesia masih melihat prinsip kesetaraan perempuan sebagai sebuah kontroversi. Pada berbagai tulisan tentang gerakan feminisme kontemporer, dinyatakan bahwa bahkan sampai saat ini dominasi laki-laki masih terasa di berbagai bidang.

Menurut seorang peserta yang bernama Dineke Stam, kunjungan Aletta Jacob ke kota Bandung meninggalkan kesan yang mendalam sehingga ia menulis artikel tentang Dewi Sartika saat kembali ke Belanda. Setelah perjumpaan ini, Aletta Jacob menjalin hubungan baik dengan Dewi Sartika. Menurut Dineke, kedua perempuan ini saling menginspirasi. Kami menyaksikan videoklip Lady Gaga bersama dengan para peserta diskusi hari itu. Menurut saya ini adalah contoh pembelajaran sejarah melalui media populer yang dikemas secara menarik. Mineke Bosch, seorang peserta yang juga merupakan ahli sejarah modern dari University of Groningen mengatakan bahwa video ini menceritakan perjalanan sejarah perjuangan kebebasan dan kesetaraan perempuan di Amerika secara akurat.

Berdasar keterangan Mineke, kiprah perempuan masa kini sangat berhutang pada generasi pendahulu mereka yang hidup dibawah dominasi budaya patriarki. Di masa Aletta Jacobs dan Dewi Sartika, perempuan banyak yang menjadi warga negara kelas dua. Posisi mereka berada di bawah dominasi kaum laki-laki, sehingga kehidupan perempuan pada masa itu kerap terpinggirkan secara sosial, politik dan ekonomi. Berkat gerakan emansipasi, saat ini ada banyak perempuan yang dapat mengenyam pendidikan, berpartisipasi secara politik, meniti karir, serta memiliki kebebasan untuk menyuarakan perasaan dan pendapat mereka secara terbuka. Hal ini setidaknya tercermin melalui keberadaan para musisi perempuan seperti Lady Gaga.

Terkait dengan upaya pencekalan konser Lady Gaga, saya tegaskan dalam catatan ini bahwa upaya itu sama sekali tidak beralasan dan terlalu berlebihan. Kalaupun kehadiran Lady Gaga dianggap bertentangan dengan masalah moral dan etika, saya rasa tidak semua orang Indonesia memiliki pandangan yang sama. Sangat disayangkan bila pihak Kepolisian juga merekomendasikan pembatalan konser. Apalagi bila alasan pencekalan dilakukan karena tekanan kelompok masyarakat yang tidak setuju dengan kehadiran Lady Gaga. Hal ini memperlihatkan bahwa Aparat Negara telah bertindak tidak netral dan hanya berpihak pada kelompok tertentu di masyarakat. Padahal menurut saya solusinya sederhana saja. Bila tidak suka Lady Gaga ya tidak usah beli tiket dan nonton konsernya. Bagi yang suka ya silahkan. Itu saja. []

Gustaff Harriman Iskandar, pendiri Common Room Networks Foundation, Bandung.

Sumber: http://bit.ly/JaIkNd. Artikel  dimuat ulang di sini untuk tujuan Pendidikan dan Pencerahan.

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments