Thursday 31st July 2014

Home » Article & Coloumn, Articles » Soal Lukisan Palsu dan lain-lain

oleh SYAKIEB SUNGKAR

BEBERAPA minggu belakangan ini komunitas senirupa Indonesia diramaikan oleh desas-desus dan diskusi warung kopi mengenai banyaknya lukisan palsu yang disimpan oleh seorang kolektor besar Indonesia. Sampai hari ini saya masih belum melihat adanya kejelasan rumor ini akan bermuara ke arah mana. Namun gurihnya cerita ini sekarang sudah menembus batas-batas negara Indonesia. Sebagai ilustrasi, tempo hari saya kedatangan kolega yang bergerak di bidang art di China, mereka juga menanyakan hal yang sama : apakah benar buku yang baru diterbitkan oleh kolektor anu sebagian besar isinya berisi karya-karya palsu. Saya mau jawab apa ya?

Lukisan palsu itu apa sih?

Dari seluruh media karya seni, memang media lukis yang paling sexy dan paling mudah untuk dipalsukan. Namun sebelum pembicaraan bergerak lebih jauh, perlu kita definisikan terlebih dahulu apa yang disebut dengan lukisan palsu. Kalau kita sebut suatu lukisan atau karya seni itu palsu, maka orang akan bertanya kemudian lukisan yang aslinya ada dimana? Padahal yang dimaksud dengan palsu disini adalah orang yang membuat karya seni dengan gaya dan corak yang mirip dengan artist atau pelukis lain yang sudah terkenal, dan karya tersebut diberikan tanda tangan dengan menggunakan nama artist terkenal tersebut.

Setidaknya ada empat artist Indonesia yang sering dibuat palsunya, yaitu Raden Saleh, Affandi, Sudjojono dan Hendra Gunawan. Pemalsu bukannya membuat karya yang pleg mirip dengan karya aslinya – yang tersimpan di suatu museum atau di rumah kolektor – tetapi pemalsu membuat suatu karya yang bergaya seperti cara artist terkenal membuat karya. Mengapa ke empat nama tersebut yang favorit untuk dipalsukan, karena memang lukisan-lukisan ke empat artist tersebut harganya semakin hari semakin mahal. Jumlahnya terbatas karena artist tersebut sudah meninggal dunia, sehingga pabriknya sudah tidak produksi lagi. Jadi sekarang banyak sekali lukisan yang seperti buatan Hendra Gunawan misalnya, dengan tanda tangan yang mirip dengan Hendra Gunawan, beredar atau diperjual belikan. Karya seperti itulah yang kita sebut sebagai karya palsu. Bagaimana membuktikannya?

Ada banyak cara untuk membuktikan suatu karya asli atau palsu, misalnya dengan mengecek material yang digunakan, apakah cocok dengan jaman pada saat tahun tertera. Bisa juga bertanya kepada keluarga yang masih hidup apakah pernah melihat lukisan yang dimaksud. Ada juga cara melihat dengan membanding-bandingkan karakter karya yang asli dengan karya yang dicurigai, apakah goresan koasnya, bagaimana cara dia membuat figure, atau ciri penggunaan warnanya, dlsb. Semua cara tadi ada juga kekurangan dan kelemahannya, namun lumayanlah untuk mengira-ngira walaupun tidak tepat 100%.

Disamping itu ada juga kompleksitas lain yaitu beberapa seniman Indonesia kadang mempunyai murid atau dengan sengaja mengajarkan cara melukis seperti dirinya melukis. Itu yang disebut sebagai sistem cantrik. Dullah misalnya, membuat sanggar melukis dimana para muridnya dianjurkan membuat lukisan yang segaya dengan karyanya. Konon karya-karya para murid (cantrik) yang bagus akan dengan senang ditandatangani menjadi karya Dullah. Itu tidak terjadi dengan Dullah saja tetapi Hendra Gunawan konon melakukan hal yang sama. Tersebutlah dua orang murid, yaitu Sasmita dan Sunyoto yang pernah diajari Hendra untuk berkarya selama dipenjara, Sunyoto adalah seorang Kolonel dari Batalion 703 yang terlibat PKI.

Apa pengaruh kedua cantrik tersebut kepada karya-karya Hendra? Saya rasa jangan2 kita sekarang sudah sulit membedakan lagi mana yang karya Hendra dengan karya cantrik-cantriknya. Selanjutnya dalam pembahasan ini saya memperkenalkan istilah Lembaga Hendra. Lembaga Hendra adalah karya-karya yg diproduksi oleh orang-orang yg pernah dilatih atau disupervisi oleh Hendra Gunawan. Baik itu merupakan karya kolaborasi atau cukup Hendra tinggal menandatangani saja. Jika dikemudian hari orang2 yg pernah dilatih oleh Hendra itu membuat karya mengatasnamakan dirinya. Baik apakah Hendra mengetahui atau tidak mengetahui, apakah waktu karya itu dibuat Hendra masih hidup atau sudah mati, maka karya2 seperti itu termasuk kedalam Lembaga Hendra.

Demikian kuatnya image Lembaga Hendra yang sudah tertanam didalam pengetahuan orang sekarang ini, maka orang yang tidak mengetahui mana karya yang betul2 dibuat sendiri oleh Hendra, menganggap bahwa karya buatan Lembaga Hendra adalah karya yang asli. Sementara karya2 mirip Hendra yang diluar dari Lembaga Hendra, diperceive sebagai karya palsu. Barangkali berdasarkan pemikiran inilah maka OHD dengan percaya diri “memperluas” Lembaga Hendra dengan menambahkan karya2 seniman (tukang) baru hasil kurasinya sendiri. Setidaknya saat ini masih ada 6 tukang (forger) pembuat karya seperti Hendra yang bermukim di seantero Jawa-Bali.

Kalau sudah begini memang pengesahan Lembaga Hendra hanya tinggal seremoni saja, seperti penerbitan buku, publikasi di media, pengenalan pada publik senirupa generasi baru dan penjelasan kepada para akademisi2 sekolahan yg cuma mengerti seni kontemporer. Kalau sudah begini jalan ceritanya, maka masalah originalitas karya2 Hendra Gunawan sudah carut marut dari kurun waktu yang sangat lama.

Saya menawarkan beberapa alternatif untuk menyelesaikan masalah ini :

1. Mengupas dengan lebih detail anatomi Lembaga Hendra – siapa saja para pelukis yang terlibat dalam Lembaga Hendra, membedakan mana karya murni Hendra, karya kolaborasi dan karya yg cukup Hendra tanda tangan saja atau Hendra tidak tau sama sekali karya itu dibuat. Saya pernah menanyakan ke ibu Nuraini Hendra Gunawan, mengenai lukisan manakah yang benar2 buatan Hendra, suaminya. Dari sekitar 30-an karya Hendra yang ada di buku OHD, cuma 3 karya saja yang Nuraini confirm itu lukisan suaminya. Jadi jalan kearah alternatif 1 ini, sebenarnya sudah ada titik terang.

2. Mengesahkan Lembaga Hendra sebagai karya asli dengan alasan Hendra sebagai designer dan tukang2 itu sebagai artisan. Itu mirip dengan cara bekerja perupa kontemporer, membuat karya sendiri atau dibuatkan (dibantu) orang lain menjadi sah-sah saja

3. Ikut mendukung upaya OHD untuk memperluas Lembaga Hendra. Sehingga dimasa depan barangkali kita sudah tidak mempermasalahkan lagi karya Hendra asli atau tidak, tetapi yang lebih penting karya itu bagus atau tidak. Dan ini memang sudah merupakan kunci dari tesis OHD sejak lama : “kalaupun karya itu palsu tetapi hasilnya bagus, maka saya tidak peduli atau mempermasalahkannya” []

Sumber: www.facebook.com/syakieb.sungkar. Dimuat ulang di sini untuk tujuan Pendidikan.
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

1 Comment

  1. Celso says:

    menarik sekali, teytarna pensil ada filosofinya juga ya. terimakasih buat postingnya yang menginspirasi. btw tangan tangan itu digerakkan oleh pikiran, terkadang pikiran menggunakan hati untuk meyakini apa yang dilakukan tangan untuk mengguratkan pensil diatas kertas. betul tidak ya. he he he. salam kenal

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments