oleh SYAKIEB SUNGKARBEBERAPA minggu belakangan ini komunitas senirupa Indonesia diramaikan oleh desas-desus dan diskusi warung kopi mengenai banyaknya lukisan palsu yang disimpan oleh seorang kolektor besar Indonesia. Sampai hari ini saya masih belum melihat adanya kejelasan rumor ini akan bermuara ke arah mana. Namun gurihnya cerita ini sekarang sudah menembus batas-batas negara Indonesia. Sebagai ilustrasi, tempo hari saya kedatangan kolega yang bergerak di bidang art di China, mereka juga menanyakan hal yang sama : apakah benar buku yang baru diterbitkan oleh kolektor anu sebagian besar isinya berisi karya-karya palsu. Saya mau jawab apa ya?
Dari seluruh media karya seni, memang media lukis yang paling sexy dan paling mudah untuk dipalsukan. Namun sebelum pembicaraan bergerak lebih jauh, perlu kita definisikan terlebih dahulu apa yang disebut dengan lukisan palsu. Kalau kita sebut suatu lukisan atau karya seni itu palsu, maka orang akan bertanya kemudian lukisan yang aslinya ada dimana? Padahal yang dimaksud dengan palsu disini adalah orang yang membuat karya seni dengan gaya dan corak yang mirip dengan artist atau pelukis lain yang sudah terkenal, dan karya tersebut diberikan tanda tangan dengan menggunakan nama artist terkenal tersebut.
Ada banyak cara untuk membuktikan suatu karya asli atau palsu, misalnya dengan mengecek material yang digunakan, apakah cocok dengan jaman pada saat tahun tertera. Bisa juga bertanya kepada keluarga yang masih hidup apakah pernah melihat lukisan yang dimaksud. Ada juga cara melihat dengan membanding-bandingkan karakter karya yang asli dengan karya yang dicurigai, apakah goresan koasnya, bagaimana cara dia membuat figure, atau ciri penggunaan warnanya, dlsb. Semua cara tadi ada juga kekurangan dan kelemahannya, namun lumayanlah untuk mengira-ngira walaupun tidak tepat 100%.
Apa pengaruh kedua cantrik tersebut kepada karya-karya Hendra? Saya rasa jangan2 kita sekarang sudah sulit membedakan lagi mana yang karya Hendra dengan karya cantrik-cantriknya. Selanjutnya dalam pembahasan ini saya memperkenalkan istilah Lembaga Hendra. Lembaga Hendra adalah karya-karya yg diproduksi oleh orang-orang yg pernah dilatih atau disupervisi oleh Hendra Gunawan. Baik itu merupakan karya kolaborasi atau cukup Hendra tinggal menandatangani saja. Jika dikemudian hari orang2 yg pernah dilatih oleh Hendra itu membuat karya mengatasnamakan dirinya. Baik apakah Hendra mengetahui atau tidak mengetahui, apakah waktu karya itu dibuat Hendra masih hidup atau sudah mati, maka karya2 seperti itu termasuk kedalam Lembaga Hendra.
Kalau sudah begini memang pengesahan Lembaga Hendra hanya tinggal seremoni saja, seperti penerbitan buku, publikasi di media, pengenalan pada publik senirupa generasi baru dan penjelasan kepada para akademisi2 sekolahan yg cuma mengerti seni kontemporer. Kalau sudah begini jalan ceritanya, maka masalah originalitas karya2 Hendra Gunawan sudah carut marut dari kurun waktu yang sangat lama.
1. Mengupas dengan lebih detail anatomi Lembaga Hendra – siapa saja para pelukis yang terlibat dalam Lembaga Hendra, membedakan mana karya murni Hendra, karya kolaborasi dan karya yg cukup Hendra tanda tangan saja atau Hendra tidak tau sama sekali karya itu dibuat. Saya pernah menanyakan ke ibu Nuraini Hendra Gunawan, mengenai lukisan manakah yang benar2 buatan Hendra, suaminya. Dari sekitar 30-an karya Hendra yang ada di buku OHD, cuma 3 karya saja yang Nuraini confirm itu lukisan suaminya. Jadi jalan kearah alternatif 1 ini, sebenarnya sudah ada titik terang.
3. Ikut mendukung upaya OHD untuk memperluas Lembaga Hendra. Sehingga dimasa depan barangkali kita sudah tidak mempermasalahkan lagi karya Hendra asli atau tidak, tetapi yang lebih penting karya itu bagus atau tidak. Dan ini memang sudah merupakan kunci dari tesis OHD sejak lama : “kalaupun karya itu palsu tetapi hasilnya bagus, maka saya tidak peduli atau mempermasalahkannya” []

















menarik sekali, teytarna pensil ada filosofinya juga ya. terimakasih buat postingnya yang menginspirasi. btw tangan tangan itu digerakkan oleh pikiran, terkadang pikiran menggunakan hati untuk meyakini apa yang dilakukan tangan untuk mengguratkan pensil diatas kertas. betul tidak ya. he he he. salam kenal