Thursday 28th August 2014

Home » Article & Coloumn, Articles » Tedja Suminar: Manusia, Bapak, dan Seniman

oleh EFIX MULYADI
ADA satu momen yang bangkit di ingatan saya setiap kali bersapa dengan Tedja Suminar. Itulah kenangan makan siang di rumahnya di Surabaya, dengan serangkaian sayur dan lauk beserta cobek-cobek kecil berisi sambal terasi dan lalap. Kami bersantap sambil duduk jegang, dengan satu kaki numpang di dudukan kursi. Nikmat dari rasa makanan menjadi berlebih karena obrolan santai, dan sikap hangat tuan rumah yang terbuka menerima saya, seorang pemuda pengangguran yang tak dikenal dan hanya tiba-tiba saja muncul di pintu rumahnya.
Tedja Suminar tidak bertanya apakah betul saya seorang wartawan yang mengantungi kartu pers resmi, atau sekadar petualang yang memanfaatkan keramahan tuan rumah untuk numpang makan dan menyambung hidup satu hari. Ia justru menguatkan kehadiran saya yang mengaku ingin menulis tentang dunia seni Lini, putrinya yang waktu itu tenar sebagai pelukis cilik fenomenal. Katanya menyebut sebuah nama majalah hiburan terbitan Jakarta, “Nanti akan dimuat di Selecta”. Saya nyengir dan bersyukur karena tidak perlu terpojok sehingga harus mengarang jawaban. Sebagai wartawan tak berkantor saya tidak bisa memastikan ke mana cerita tersebut akan saya kirim, dan tentu tidak bisa menjamin terbitnya. Ia membesarkan hati saya, seorang asing yang belum genap dua jam berjumpa.
Keramahan, kehangatan, dan keterbukaan bahkan terhadap seseorang yang sama sekali tidak dikenal itulah yang terus membayang di dalam tiap perjumpaan selama puluhan tahun kemudian. Berbagai perjumpaan itu mungkin saja terjadi di dalam konteks profesi seperti di antara seorang pelukis dan seorang wartawan, namun tetap saja yang lebih terasa adalah sebagai pertemuan antara dua orang manusia. Tanpa predikat, tanpa status sosial, tanpa embel-embel lain.

Tedja Suminar

Jauh hari kemudian saya baru bisa memetik sekelumit pelajaran: kesenian sangat penting, namun lebih penting adalah kehidupan yang menyangganya. Menghasilkan karya yang hebat, mendapat pengakuan di dunia seni, meraih nama besar, menyandang kehormatan di kalangan elit seniman dan budayawan, itu semua tidak sebanding dengan tugas menjaga martabat manusia. Manusia adalah yang utama.

Pelajaran itu sesungguhnya jelas tersedia ketika ia mengabarkan bahwa praktis ia “meninggalkan” dunia seni di mana ia berkiprah sebagai seniman bebas, dan beralih mengerjakan berbagai macam proyek yang bertujuan mendatangkan duit untuk menopang kebutuhan keluarga. Ada prioritas yang mesti diambil, dan ia memilih untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga terlebih dahulu. Katanya, memenuhi kebutuhan keluarga adalah perkara yang utama sebelum orang boleh bersenang-senang memuaskan ego sebagai seniman.
Mengejar karir sebagai seniman menjadi tujuan hidup banyak pelukis, sastrawan, atau penari, namun kalau rumah tangga berkekurangan, anak tidak terbayar uang sekolahnya, dan mesti keluar masuk rumah gadai untuk tetap bisa makan, sudah tentu itu bukan kehidupan yang diimpikan. Tedja tidak ingin istri (pelukis Muntiana) dan anak-anaknya (penari Niniek dan pelukis Lini) berkorban begitu besar demi sukses satu seniman yang kebetulan merupakan kepala rumah tangga.

Sketsa karya Tedja Suminar

Tidak jelas apakah pilihan itu yang menyebabkan namanya yang semula melambung sebagai satu dari tiga pembuat sketsa paling masyhur –bersama Ipee Ma’roef dan Syahwil— berangsur menjadi redup. Tanpa kehadiran dan aktivitas kreatif di dalam waktu yang panjang memang membuat seorang seniman gampang dilupakan. Padahal ia tidak sepenuhnya menghilang karena tetap menghasilkan sejumlah lukisan, yang kelak menjadi modal awal dari pemunculannya kembali ke ranah kesenian dengan dada tegak. Ia melukis para tokoh masyarakat seperti seniman dan penggiat kebudayaan. Tiap kanvas berisi satu orang tokoh berikut gambaran tentang kiprahnya, pemikirannya, keunikannya, atau keunggulannya.

Kehadiran kembali Tedja Suminar antara lain ditandai dengan sebuah pameran lukisan tokoh-tokoh Bali di Bentara Budaya Jakarta pada tahun 1995. Untuk seorang seniman yang lama surut dari peredaran, pameran ini sukses dan mendapat sejumlah kritik positif. Penonton masih bisa melacak ketrampilannya menggoreskan garis yang sangat terlatih, mengolah bentuk, dan menggarap pewarnaan, serta mewujudkan gagasan dan tafsirannya tentang tokoh-tokoh yang dia hormati tersebut. Sebagian dari lukisan-lukisan pilihan ini bakal menjadi materi penting di dalam pameran retrospeksinya di Bentara Budaya Bali awal tahun 2012 ini, menggenapi karya-karyanya yang terentang dari tahun 1957 sampai 2011.
Dipandang dari berbagai sudut pameran ini sungguh berharga. Kita bisa menyimak apa saja yang telah dihasilkan sepanjang lebih daripada setengah abad berkarya, ragam ungkapan, perkembangan pemikiran, di samping berbagai perkara teknis menyangkut pelaksanaan dan eksekusi gagasannya. Sejumlah karyanya, ditilik dari masa sekarang, tidak terjatuh menjadi sekadar dokumentasi terhadap tempat, peristiwa, dan manusia pelakunya, melainkan masih tetap bersinar sebagai karya seni yang mandiri.
Lewat mata dan hatinya kita boleh menikmati misalnya berbagai sketsanya tentang kehidupan di Surabaya, seperti Jembatan Merah, atau panorama Jakarta seperti Katedral, serta berbagai peristiwa seperti odalan atau ngaben di Bali. Karya-karya “lukisan biografi” tokoh-tokohnya tentu masih tetap merupakan keunikan di dalam dunia seni Indonesia.
Apakah kebebasan hidup seorang laki-laki seniman bujangan menghasilkan karya yang secara substansial juga lebih liar, penuh imajinasi, atau penuh kejutan dibanding lukisannya ketika menjadi kepala rumahtangga? Bagaimana dengan karyanya ketikaya  ia menjadi kakek yang berbahagia? Ataukah kehidupan pribadi seorang seniman tidak bersangkut paut dengan keseniannya?
Anda yang layak menjawab selepas menyimak karya-karyanya.[]
*) Tulisan pengantar Pameran Lukisan “Kilas Balik Melodi Garis Tedja” di Bentara Budaya Bali, 14 hingga 23 Januari 2012.
*) Efix Mulyadi, Direktur Eksekutif Bentara Budaya
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments