Wednesday 23rd July 2014

Home » Article & Coloumn, Coloumn » Harapan tentang Ketiadaan

oleh MARIANA AMIRUDDIN

Ilustrasi

KETIKA hidup terus berjalan, tahukah usia ada batasan? Seperti ada yang nyangkut setiapkali menuliskan sesuatu. Pecah bising dengar komentar pejabat, seperti sarapan sambil mencium bau pesing. Malam ini kita sesama kelabu, menyerupai mendung. Dimana merah kita? Simpan saja sampai matahari tiba. Biar terus-terusan kita kejar-kejaran bersama awan. Sampai kita rasakan betapa hidup ini cuma berisi kekosongan, sibuk mengukur masa yang akan datang, meski kita sudah mengukur dari sekarang, tak akan ada yang bisa kita ukur di masa mendatang kecuali kemerosotan.

Rentang alam tempat aku menyerah, kini semakin tanpa arah, seperti amarah. Tak ada celah untuk keindahan, semua sudah dihabisi amarah. Terlalu banyak manusia yang tak tertampung untuk sekedar hidup. Hidup menjadi sekedar. Tak punya posisi tawar. Tinggal tunggu kepunahan. Barangkali punah menjadi satu-satunya kata pengganti kekosongan. Karena punah adalah ketiadaan. Dari sanalah kita berasal –ketiadaan.

Ada semacam dorongan untuk memunah atau memusnahkan diri, sebelum dimusnahkan oleh struktur budaya manusia yang berisi kehampaan. Ketiadaan sejarah, kesejarahan yang ditiadakan. Apalagi yang bisa saya sebut selain tiada. Dan ketika hidup tiada makin berkembang maju, aku terpaku masa lalu, seperti orang yang sudah dipenghujung: masa lalu yang tiada. Aku bahkan sudah lupa siapa aku di masa lalu. Seperti pintu-pintu yang terlanjur menutup rapat, dan terkunci satu persatu.

Kehidupan adalah perjalanan, tapi jalanan yang tertutup rapat. Mungkin banyak orang mengatakan, taruhlah sebuah harapan, tapi saya hanya bilang, semua tinggal ilusi. Orang-orang yang masih butuh ilusi untuk mengalihkan kecemasan. Aku kehabisan kata bicara soal keabadian, tentang sejarah terus berulang, tetapi tak juga menuju keadilan. Karena untuk mencapainya takkan cukup umur kita memperjuangkannya.

Satu-satunya harapan hanya ada pada orang-orang pencari uang, bukan pencari keadilan. Hanya orang-orang seperti ini yang merasa hidupnya telah diisi penuh dengan kenikmatan. Sekalipun ada ancaman, mereka akan menyelesaikannya dengan uang. Itu sebabnya orang-orang pencari keadilan sering mengalami kepayahan.

Lalu saya mulai menaruh harapan baru tentang kembalinya ketiadaan. Barangkali hanya ketiadaanlah yang bisa membuat saya benar-benar tenang, karena tak perlu lagi teman seperjalanan, tak butuh lagi harapan tentang keadaan, tak ada urusan dengan kesegalaan. Segalanya selesai sampai di titik ketiadaan. Terserah siapa yang mau menang.[]

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2011 Journal Bali · Subscribe:PostsComments