Monday 24th November 2014

Home » Article & Coloumn, Coloumn » Novel dan Perjalanan

oleh FAHRI SALAM

Ilustrasi: putu heha/JB

SAYA ditemani Potret Warna Sepia karya Isabel Allende selagi pulang ke rumah orangtua, dan saya juga membawa novel tersebut selagi jalan ke kota Kapuas. Novel tersebut, yang lebih tipis dibandingkan Putri Keberuntungan dan Rumah Arwah, sengaja tak dibaca buru-buru hanya karena alasan sentimentil: ingin menyelesaikannya di kamar sendiri.

Saya mulai membacanya sesaat di bawah lampu atap bus yang redup, membiarkan diri saya penasaran dengan kisahnya, kemudian perhatian saya lebih ditujukan dengan perasaan berdebar-debar karena laju bus yang menyalip kanan-kiri, terganggu dengan asap rokok yang pekat (well, saya bukan salah satu perokok di bus umum), dan bagian besar dari perjalanan pulang ini, sesuai kebiasaan, ialah mendengarkan perempuan penyanyi dangdut Pantura-an muncul.

Mereka datang saat bus keluar dari tol Cikampek dan melewati Subang. Seorang pria (rautmukanya terlihat tua), yang mengangkat salon pengeras suara di depan perutnya lewat tali disampirkan ke pundak, mulai membuka perkenalan, menyapa supir dan kernet, dengan suara khas. Jarinya mengatur bahana di atas kotak salon, sementara tangan satunya memegang mikropon, dari kabel colokan yang tersambung di dekat alat pemutar kaset. Jenis suaranya begitu saya kenali karena, bertahun-tahun tinggal di Kandanghaur, wilayah pinggiran pantai utara Jawa Barat, suara mereka nyaris berderap serupa dengan ketebalan nada yang bulat, jeda berdecap pada setiap kalimat, dan tawa yang dibuat-buat. Ingatan saya justru terlempar pada kawan karib masa remaja kakak saya, seorang penyanyi musiman yang telah meninggal, dan tetangga depan rumah (hanya nasib baik menyertai orang-orang sabar) yang mulanya pedagang, bangkrut, menjual rumahnya—tetapi, profesi sambilan pembawa acara musik dangdutan sesekali ia lakoni.

Begitulah. Mereka berjalan susah-payah di antara lutut penumpang di lorong bus yang sempit, lalu segera mikropon itu diserahkan kepada penyanyi perempuan di belakangnya (usianya sebaya ibu-ibu), mengenakan kaos ketat (terlihat gumpalan lemak di pinggangnya), dan celana jins yang mekar di bagian matakaki. Ia menyapa pendengar, menyapu pandangan pada penumpang pria yang ditaksir olehnya sebagai calon pemberi saweran terbesar, lantas seraya musik bergema, ia pun menyebut penumpang yang duduk di pojok, penumpang bertopi, penumpang berbaju kotak, penumpang yang hanya memakai singlet, mengajak mereka bergoyang, dan—karena tempatnya tak mungkin—“cukup jempolnya saja yang digoyang.” Itulah ketika kemampuannya diperlukan untuk menerapkan suatu mekanisme mengamen yang muncul sendiri dari pengalaman.

Mereka berlalu setelah satu-dua lagu, mereka berjalan dari depan ke belakang, si penyanyi menyodorkan tas plasik kepada penumpang, yang bersiap-siap menaruh uang, dan ada sikap yang diuntungkan dari caranya menggoda bagi mereka yang memberi lembar-lembar ribuan. Saya tertidur kemudian dan mendadak panik kala terjaga, mengenali nama-nama tempat dari balik kaca jendela bus, lampu yang menyorot nama jalan sebuah toko, minimarket-minimarket, segalanya terlihat bercahaya sementara di belakangnya gelap, udara dingin dari celah jendela, hujan yang tiba-tiba turun, tiba-tiba gerimis, lalu tiba-tiba langit terang kembali, seakan-akan laju bus meloncat-loncat, dan lampu jalan membias di atas permukaan air sungai di tepi jalan raya.

Semua terlihat asing namun minimarket yang menjamur di pinggir jalan menjadikan suatu perjalanan terkesan serupa. Kau membeli sebotol minuman di minimarket itu dan kau merasa kau tak terlalu jauh dari tempatmu bertolak, dua jam di belakangmu. Kita merasa asing satu sama lain sementara dunia makin terkoneksi dari sebuah papan iklan dan produk makanan dan sebuah minimarket. Kadang-kadang pikiran saya memburuk dalam lamunan perjalanan dan, dari tempat saya duduk itu, angin utara mengirimkan bau laut, bau tembaga dari ikan yang dijemur di sepanjang tepian pantai, bau garam, semuanya bercampur dalam beberapa menit. Saya harus beranjak menuju kursi di samping supir bus, mengenali sebuah tempat masa kecil, kemudian, sebelum terlambat, saya harus menghentikan bus, melangkah turun, pandangan mengarah sebuah gang perkampungan, mendekatinya, lalu perasaan asing kian memburu justru dari jalan lurus menuju rumah yang sangat dikenali.

Ingatan terkadang polos. Tokoh utama dalam novel Potret Warna Sepia, Aurora del Valle, berusaha mengenali masa lima tahun pertama hidupnya. Ia merangkainya dari potret ibunya Lynn Sommers berwarna sepia, seorang perempuan berdarah Latin dan Cina yang kecantikannya amat mencolok di jalanan San Francisco, buah cinta tulus dari pasangan Eliza Sommers dan Tao Chi’en. Aurora, lahir tanpa pernikahan antara Lynn dan Matías, cinta buta yang polos Lynn dengan sikap sepele Matías, sesudah lima tahun, diserahkan ke nenek dari pihak ayahnya, Paulina del Valle, untuk diasuh—dan dengan menyandang nama keluarga, ia (sementara) terbebas dari masa lalu itu, diboyong ke Cile, sifatnya yang pemalu dari perhatian total Paulina, jiwanya yang pemberontak dari pengajaran feminis Bibi Nívea dan Señora Pineda, serta pengawasan penuh pertimbangan dari Paman Frederick. Ia tak mewarisi kecantikan mamanya namun otaknya sepintar paman Severo. Kisah keluarga ini, dalam laju pasang-surut kehidupan sang matriark Paulina membesarkan Aurora, terangkai di zaman ketika peristiwa dan ide-ide besar dunia berkecamuk: perang saudara antara kaum liberal dan konservatif, nasionalisme, feminisme; pada kurun 1862-1910.

Allende membawa petualangan Eliza Sommers pada Putri Keberuntungan tatkala ia mengejar cinta masa remajanya, mencari jejak pacarnya hingga ke California saat demam emas, dan sesungguhnya pengembaraan itu demi meraih pasangan cintanya, yang sedekat teman perjalanan, dalam sosok Tao Chi’en. Mereka menetap di wilayah Pecinan di San Francisco pada era diskriminasi rasial dan perbudakan seks gadis-gadis buta huruf dari kampung mereka yang miskin. Dalam Potret Warna Sepia, Allende melapangkan jalan Eliza kembali ke Cile, bertemu dengan Aurora, cucu yang diasuhnya selama lima tahun, setelah ia pergi membawa jasad suaminya yang dibalsam ke Cina untuk dimakamkan di Hong Kong, lantas menemukan kembali jiwa penjelajahnya, mencapai Tibet, menuturkan rahasia darimana mimpi buruk setan-setan berpiyama hitam muncul dalam benak Aurora. Penutup kisah tiga generasi keluarga ini, Rumah Arwah, menuturkan Blanca dari rahim Clara si Cenayang (cucu Severo dan Nívea) seutuhnya berkisah tentang pergolakan di Cile pada masa politik modern ketika ide sosialisme, yang bergaung luas itu, diredam dengan kudeta senjata, pada era Perang Dingin—atau dalam kalimat Subcomandante Marcos, Perang Dunia Ketiga.

Kota-kota yang menjadi latar dari kisah keluarga kelas menengah Cile ini mencapai Santiago, Valparaiso (kota pelabuhan), California, San Francisco, lantas London, Paris, hingga, dalam tuturan monolog, Cina—atau dengan kata lain, separuh belahan dunia.
Saya mengingat bahwa selagi membaca novel Sepia, saya berada dalam perjalanan di atas pesawat menuju Banjarmasin, lalu melintasi trans-Kalimantan, mencapai Kapuas, mengajak novel ini menginap dua malam di sebuah hotel di pusat kota, persis di tengah keramaian pasar. Saya menentengnya saat berjalan di tepi sungai berwarna coklat, sungai dengan air payau, yang sulit saya temukan di Jawa. Saya bertemu dengan penjual mie dari Cilacap, yang ikut orangtuanya bertansmigrasi pada 1980-an, dan sekarang—sesudah ia menempa pengalaman di Jakarta—menikmati hasilnya, ribuan mil dari tempat ia dilahirkan. Saya juga ditemani supir mobil yang mengantar saya, pria berusia 32 tahun dengan seorang anak, yang pernah setahun merantau ke Bandung sebagai supir angkot, belakangan ia tak betah (uang yang didapat tak sepadan dengan tenaga yang terkuras), dan pernah dua kali ia melakukan perjalanan dengan sepeda motor dari Kapuas menuju Bandung. Di saat kembali ke Jakarta, saya duduk dengan pasangan tiga anak yang tinggal di Jatinangor, suaminya teknisi di sebuah rumah sakit di Banjar.
Aurora del Valle, yang kecintaan pada fotografi justru mengembalikan martabatnya pada masa peran perempuan di zamannya sangat domestik, menggali ingatan dengan citraan potret yang ia kumpulkan di tempatnya dilahirkan di saat fajar (atau Lai Ming) dalam keriuhan dan aroma khas daerah Pecinan. Saya jarang, bahkan tak pernah, selama ini membawa kamera guna menangkap apa-apa yang sepatutnya saya abadikan dalam perjalanan. Ingatan pada kota-kota tempat saya melintas sepenuhnya menjadi wilayah privasi dalam kepala saya, yang kadang-kadang bercerita selayaknya novel, dengan alur yang goyah.

“Pada akhirnya,” kata Allende dalam epilog Sepia, “satu-satunya yang kita punya dengan berlimpah ruah adalah kenangan yang kita anyam.” [ ]

Fahri Salam, mengampu jurnalisme sastrawi di Pantau. Tinggal di Jakarta.

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments