Judul: ARUMDALU
Tagline: Tiap-tiap sejarah besar diwarnai kejadian kecil yang kadang lebih menarik daripada peristiwa besar itu sendiri
Pengarang: Junaedi Setiyono
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Mei 2010
Tebal: 378 hlm
“Bila kau ingin lepas dari dukamu, lepas tanpa kau kehilangan kepekaan, temuilah aku di sini. Bulan purnama yang kaulihat di malam hari menjadi tanda bahwa kita akan bertemu. Kau terlalu muda untuk memanjakan dukamu.” (hal. 147)
Dari Rumah Gajah milik keluarga Pitanan, Raden Ayu Danti, seorang putri bangsawan dari keluarga Dananjayan memainkan perannya dalam Perang Jawa yang meletus di awal tahun 1825 dan merenggut lebih dari dua ratus ribu nyawa. Putri cantik itu memakai nama Arumdalu (bunga sedap malam), menjalankan pergaulan dengan kalangan orang-orang penting, sehingga diisukan sebagai pelacur kelas tinggi.
Benarlah bahwa daya cinta teramat besar, sehingga mampu menggulingkan roda kehidupan seseorang. Seseorang yang dilukai cinta dapat melakukan hal-hal yang barangkali tak terencanakan sebelumnya. Seorang bangsawan terhormat bersedia menjadi budak demi berdekatan dengan orang yang dicintainya. Seorang terpandang rela menceburkan diri ke lembah bahaya penuh intrik demi menebus rasa bersalah atas nasib pahit yang ditanggung kekasih hatinya.
Demikianlah, skenario nasib menautkan Mas Brata (kelak menukar namanya menjadi Ki Brontok), Danti Arumdalu, Den Mas Danar, Den Mas Lesmana, Karsa, Resa, dan Karni dalam sebuah drama yang berpaut pada peristiwa sejarah perang besar di Tanah Jawa. Bagi pembaca yang pernah menjadi penyimak setia sandiwara radio, kisah berliku yang dirangkai oleh penulis novel Glonggong ini penuh dengan sepak terjang konflik yang mendebarkan. Secara berbingkai, cerita disampaikan melalui tokoh Danukusuma (adik Danti) yang menceritakan kisah yang dituturkan oleh Ki Brontok sebelum meninggal. Ya, cerita di dalam cerita atau istilahnya cerita berbingkai.
Bermula dari cinta segitiga antara Mas Brata-Danti-Resa yang berakibat fatal pada terbunuhnya Ki Ambalawa (orang tua Resa dan Karsa) dalam sebuah peristiwa berdarah yang dirancang oleh Den Mas Danar yang menginginkan adiknya bersuami dengan laki-laki kaya raya. Setelah Ki Ambalawa tewas, Danti kemudian dinikahkan dengan seorang bangsawan kaya yang cacat mental, Den Mas Lesmana. Sebelum pernikahan, Danti menyelundupkan Resa ke kamarnya dengan maksud menyerahkan kegadisannya. Namun Resa yang patah hati tidak bersedia kemudian pergi dalam keadaan frustasi dan ditemukan oleh petinggi Laskar Dipanegaran.
Masing-masing kemudian menjalani kehidupannya; Danti dengan pernikahan semu, Brata menjadi priyayi yang hidup berfoya-foya, dan Resa menikah dengan pelayan bernama Karni yang ternyata adalah seorang mata-mata Laskar Dipanegaran. Pada akhirnya, perjalanan waktu mengalirkan mereka pada pilihan untuk bergabung membela pangeran Aria Dipanegara dalam peran yang berbeda.
Puncaknya adalah ketika mereka terlibat dalam usaha membebaskan Kiai Maja, satu dari tiga tokoh berpengaruh dalam Perang Jawa, yang disekap Belanda di Benteng Salatiga.[ Ade Efdira ]
















