Sunday 26th October 2014

Home » Cover Story, Cover Story » Center of Excelent Pariwisata Indonesia

Gerbang candi bentar di depan kampus STP Bali

DINAMIKA sektor pariwisata di Tanah Air tidak bisa dilepaskan dari peran Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali. Kampus yang megah dengan sentuhan arsitektur bergaya Bali ini berdiri sejak tahun 1978. Ketika memasuki area kampus melewati gerbang candi bentar.Lalu disambut patung Dewi Saraswati, sang dewi pendidikan, yang berdiri anggun di tengah kolam yang dirindangi pohon tunjung.Inilah kampus yang sohor disebut sebagai center of excelent, yang sekarang menghimpun lebih dari 1300 mahasiswa dari pelbagai pelosok di Indonesia dan mancanegara seperti dari Timor Leste, di lahan seluas 18 hektar yang dikelilingi tembok penyengker khas budaya Bali.

Tidak sedikit para top manajer sektor pariwisata jebolan kampus, yang awal berdirinya bernama Pusat Pendidikan Pariwisata dan Perhotelan Bali (1978-1981) yang kemudian tahun 1982 menjadi Balai Pelatihan dan Latihan Pariwisata (BPLP) sampai 1993, lalu dirubah menjadi STP Bali sampai sekarang.Pada tahun 2012, kampus ini akan ditingkatkan menjadi institut, yang akan mendidik mahasiswa S2.

Menurut Ketua STP Bali, Dr. I Nyoman Madiun M,Sc., misi STP Bali adalah menjadikan kampus sebagai center of excelent bagi dunia pendidikan pariwisata Indonesia.”Kampus ini harus menjadi pusat unggulan di bidang pariwisata yang berstandar internasional,” katanya.

Mahasiswa STP Bali memperoleh pendidikan pariwisata sesuai dengan standar internasional. Para mahasiswa biasanya mendapatkan teori terlebih dahulu di ruang kuliah pada pagi hari, baru kemudian praktek pada siang harinya.Pratikum mahasiswa terdiri dari praktek laboratorium, praktek kuliah kerja nyata, praktek industri.

Sarana restoran praktek berikut dapur praktek cukup besar dan lengkap.Setiap
mahasiswa dilengkapi dengan alat praktek dapur standar.Uniknya di salah satu dapur ada ruangan kecil yang bisa dijadikan tempat kuliah mini dan dilengkapi dengan proyektor, sehingga dosen bisa mengajar dengan menggunakan salinda yang interaktif pada mahasiswa. Terdapat 3 dapur utama dan 3 restoran di dalam bangunan berlantai 2 itu, ada yang Oriental, Western dan juga Japanese.

Mahasiswa STP Bali seusai praktek Food & Beverage

Di kantin yang berlokasi agak rendah dibandingkan bangunan-bangunan lainnya, mem­buatnya terasa lebih teduh di daerah perbukitan yang panas, hutan belukar yang berada di salah satu sisinya, sehingga saat siang bisa ditemukan burung-burung kecil berdatangan untuk sekadar mencari remah makanan yang terjatuh di meja atau lantai kantin.

Gedung perkuliahan mahasiswa berada dilahan seluas 15 hektar. Selain bangunan kuliah dan perpustakaan, ada juga lab bahasa dan komputer, serta jaringan Wifi (Hot Spot) di kampus ini. Ruang kuliah juga terasa sejuk karena fasilitas AC yang ditempatkan di masing-masing ruang, sementara walau di luar udara cukup panas saat terik maka jalan-jalan yang sudah bebas debu dan tanaman penghijau yang menyejukkan rasanya membuat kampus ini lebih mirip taman yang luas daripada pusat pembelajaran. Disertai dengan berbagai elemen tambahan seperti bale bengong di beberapa lokasi dan kolam-kolam hias.Selain itu ada berbagai bangunan yang menunjang aktivitas mahasiswa termasuk aktivitas non pendidikan, mungkin seperti kegiatan UKM sebuah universitas, termasuk untuk olah raga dan seni.

Para dosen, staf administrasi yang bekerja di STP Bali direkrut melalui proses seleksi ketat, sesuai kualifikasi untuk ditempakan di bidangnya masing-masing.Menurut I Nyoman Madiun, tidak mungkin proses pembelajaran untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang profesional tanpa didukung oleh staf pengajar yang memang handal. ”Dalam proses perekrutan sejak awal kita benar-benar memperhatikan kualifikasi sebelum staf pengajar menjadi keluarga besar kampus,” terangnya.

Mahasiswa sedang praktek recepsionist

Sebagai bentuk kerja nyata para dosen yang mengajar diwajibkan untuk melongok dunia pariwisata secara langsung. Hal ini dilakukan untuk memberikan pengalaman sebagai seorang wisatawan kepada para dosen serta dapat memahami permasalahan yang terjadi secara langsung pada sudut pandang wisatawan dimana nantinya akan ditransformasi kepada para mahasiswa.

Lulusan STP saat ini banyak bekerja di sektor pariwisata dibidang perhotelan, rumah makan, biro perjalan wisata, pendidikan pariwisata, pemerintahan, kapal pesiar dan lain sebagainya. Selain banyak pula dari lulusannya yang memiliki usaha sendiri berhubungan dengan dunia kerja pariwisata.Selain itu para alumni STP Bali banyak yang berkecimpung di organisasi pariwisata seperti PHRI, MICE Bali.

Nyoman Madiun bangga pada alumini STP Bali kini menempati posisi atas di beberapa perusahaan bertaraf internasional baik di Indonesia maupun di mancanegara. ”Murid saya di era 80-an Saudara Rizal Kasim pernah sebagai GM Hyatt Regencey di Kinibalu, Malaysia, sekarang saya dengar sudah pindah menjadi GM di salah satu perusahaan di Hongkong. Di Bali bapak Dewa Rucika menjabat sebagai Executive Assistant Manager Nikko Bali Hotel & Spa,” katanya.

Saat ini STP Bali  telah diakui oleh United Nations World Tourism Organization (UN-WTO) sebagai lembaga pendidikan tinggi di bidang kepariwisataan berkelas dunia (World Class Educational Tourism), dengan menerima sertifikat Tourism Education Quality (Tedqual) dari UN-WTO ini. Dengan demikian STP Bali sudah berkelas dunia, sehingga SDM lulusan STP Bali dapat bekerja di mana pun di dunia, karena telah mengantongi sertifikat  Tedqual.[]

Gus Wira/JB

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2011 Journal Bali · Subscribe:PostsComments