Saturday 19th May 2012

Home » Cover Story, Cover Story » Kiprah Penulis Indonesia di Forum Dunia

oleh HASKA

Pramoedja Ananta Toer (foto.dok.pri)

SUATU pagi di Istana Merdeka, anno 1955. Presiden Soekarno seperti biasa mengundang para menteri, cendekiawan, seniman dan sastrawan untuk membincangkan topik yang hangat sambil menikmati kopi dan sarapan bersama. Waktu itu Indonesia sedang mempersiapkan  Konfrensi Asia Afrika (KAA) yang akan dilaksanakan di Bandung, 18 hingga 24 April 1955. Ini hajat besar berskala internasional yang pertama kali diselenggarakan di muka bumi setelah Indonesia merdeka. Ada  kepala negara yang meragukan kemampuan Indonesia sebagai tuan rumah  konfrensi yang diikuti para pemimpin dari 29 negara itu.

“Waktu itu Perdana Menteri India, Jawaharlal Nehru arogan, menganggap remeh kemampuan Indonesia menyelenggarakan Konfrensi Asia Afrika di Bandung,” ujar Pramoedja Ananta Toer kepada saya pada bulan April 2005, pada sore yang cerah di kediamannya yang asri di Bojong Gede, Bogor. Pramoedja yang baru saja menjalani terapi akupuntur di Jakarta bicara dengan bersemangat.  Ketika itu Indonesia sedang mempersiapkan peringatan 50 tahun KAA di  Bandung.
Menurut Bung Pram, sapaan akrab Pramoedja, para seniman dan sastrawan kala itu mendorong kesuksesan KAA di Bandung, yang merupakan momentum bagi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika bersatu melawan kolonialisme dan imperialisme. Pada kesempatan minum kopi pagi bersama Presiden Soekarno itulah Pramoedja mengusulkan bahwa disamping mengundang para kepala negara juga diikutsertakan para sastrawan atau pengarang dari Asia dan Afrika . Dengan mengundang pengarang, menurut Bung Pram, niscaya mereka akan menulis tentang Indonesia dalam karya sastra atau features di surat kabar masing-masing negara. Sehingga dunia mendapat gambaran yang utuh tentang revolusi Indonesia serta menginspirasi mereka dalam menentang kolonialisme dan imprealisme.
Rupanya Presiden Soekarno sangat terkesan dengan gagasan Pramoedja.
“Baiklah Mas Pram. Itu gagasan yang bagus. Saya minta Mas Pram yang memimpin delegasi pengarang Indonesia nanti,” ujar Soekarno ketika itu. Hubungan Soekarno dan Pramoedja secara personal tidaklah begitu akrab. Biasanya Pramoedja lebih bersikap diam ketika diundang acara minum kopi bareng Pemimpin Besar Revolusi Indonesia itu. Soekarno menyapa Pramoedja yang usianya lebih muda dengan “Mas Pram”,  sedangkan Pramoedja memanggil presiden yang akrab dengan seniman itu,”Bung Karno”.
“Waktu itu saya langsung menolak perintah Bung Karno. Rupanya Bung Karno tidak suka dengan penolakan saya. Suasana menjadi tegang,” tutur Pramoedja.
Pramoedja  merasa tidak mempunyai kapasitas sebagai pemimpin delegasi pengarang Indonesia karena tidak mempunyai pengalaman dalam berorganisasi.  Bung Karno dengan suara baritonnya yang menggelegar langsung menukas,”Kita sedang revolusi. Ini perintah!”
Tapi Pramoedja tetap menolak dengan alasan dalam revolusi pun harus ada pembagian tugas. Ia berterus terang tidak sanggup menjadi pemimpin delegasi, lebih menyukai posisinya sebagai pengarang saja. Walau Bung Karno jengkel, masih menurut Pram, namun gagasan mengundang para pengarang se-Asia dan Afrika itu tetap dilaksanakan.

Penyair Made Adnyana Ole membacakan sajak "Dongeng dari Utara" pada pembukaan UWRF 2011. (foto: vifick bolang/jb)

Dalam konferensi, para pengarang membuat program kerja sama sastra, dengan menerjemahkan dan menerbitkan karya sastra Asia dan Afrika. Situasi Perang Dingin yang melatari menjadi isu yang dibahas masing-masing delegasi, di samping ide-ide perkembangan sastra masing-masing negara serta penyelenggaraan lomba karya sastra. Para pengarang Indonesia begitu aktif  menghidupkan forum yang akhirnya menjadi konfrensi tersendiri, Konferensi Pengarang Asia-Afrika (KPAA) yang terus berlangsung secara berkelanjutan.

Beberapa pengarang Indonesia, selain Pramoedja Ananta Toer,  yang aktif  KPAA, antara lain Utuy Tatang Sontani, ketua delegasi Indonesia dalam Konfrensi Pengarang Asia-Afrika di Tashkent, Uzbekistan 1958. Hesri Setiawan,  wakil Komite nasional Indonesia untruk Biro Pengarang Asia-Afrika di Kolombo, Sri Langka (1961-1965). Sitor Situmorang, memimpin Delegasi Pengarang Indonesia ke Sidang Komite Eksekutif Himpunan Pengarang Asia-Afrika di Tokio (1961) dan Bali (1963).
Bali pernah menjadi tuan rumah Sidang Komite Eksekutif Konferensi Pengarang Asia-Afrika (SKE-KPAA). Pertemuan internasional ini berlangsung 16-21 Juli 1963 di Hotel Segara Village,Sanur.
Menurut  Guru Besar Bidang Sastra Universitas Udayana yang juga kritikus sastra, Prof. Dr. Nyoman Dharma Putra M. Litt,  sidang Konferensi Eksekutif KPAA ini diikuti delegasi seniman dan budayawan negara-negara Asia Afrika. Sidang ini dibuka Presiden Soekarno dan ditutup oleh Menteri luar negeri Subandrio di Hotel Bali, Denpasar, di tempat berlangsungnya Konfernas Lekra setahun sebelumnya.  Tidak jelas apakah Soekarno hadir langsung atau diwakili dalam pembukaan SKEKPAA, yang jelas Soekarno menyampaikan pidatonya yang ringkasannya dimuat di Harian Rakjat (21/7/1963, hlm 1). Dalam amanatnya itu, Presiden Soekarno mendesak pengarang Asia Afrika berani menjadi manusia yang mampu mengabdikan pikirannya bagi semua Rakyat Asia Afrika, harus melihat sekeliling dirinya, harus menyelidiki, harus menyelam dalam kedalaman dasar jiwa revolusi yang besar ini.
Kiprah pengarang Indonesia pada forum Konferensi Pengarang Asia-Afrika terhenti sejak meletusnya tragedi G-30-S PKI. Banyak pengarang  ditahan pemerintah Orde Baru rezim Presiden Suharto dan dibuang ke Pulau Buru karena diduga terlibat mendukung kudeta G-30-S PKI.
Dari sekian program yang dirancang, hanya lomba karya sastra antara Indonesia dan Vietnam, gagal direalisasikan. “Karena Amerika menduduki Vietnam,” ujar Pramoedja Ananta Toer yang wafat 30 April 2006 silam.
Saya kira kilas balik tentang peristiwa Konfrensi Pengarang Asia Afrika menunjukkan bahwa Indonesia dan Bali khususnya telah lama menjadi medan gagasan bagi para penulis dunia, yang menyuarakan jiwa zaman. Pada era Perang Dingin yang ditandai dengan benturan ideologi, para penulis Indonesia turut menyumbangkan pemikiran melalui forum penulis internasional.
Peristiwa Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang digagas sebagai kebangkitan jiwa masyarakat Bali pasca tragedi Bom Bali, tidaklah muncul begitu saja.Bali telah mempunyai tradisi sastra yang panjang yang hidup dan dihidupkan oleh komunitas-komunitas sastra yang bertebaran di beberapa daerah. Tema-tema yang mengilhami penyelenggaraan UWRF seyogyanya berangkat dari semangat dinamika sastra yang komunal tersebut, yang sesuai dengan konteks zamannya, lalu dimanifestasikan dalam penyelenggaraan UWRF.Sehingga tema penyelenggaraan tidak sekadar menjadi tempelan belaka, yang mengalienasikan penulis Indonesia dari program festival yang sebagian besar diikuti oleh penulis dari mancanegara (baca: Australia). [JB]
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2011 Journal Bali · Subscribe:PostsComments