Tuesday 2nd September 2014

Home » Cover Story, Cover Story » Lagak Hippies dan ‘new ager’ di Ubud

Suasana Bali Spirit Festival 2012 di Bali Purnati, Batuan. (foto: Haska/JB)

PRIA dan wanita yang menyemut di gelaran musik Bali Spirit Festival 2012 berusia separuh baya.  Sebagian besar wanita berusia 40+. Gaya mereka  mengingatkan pada kaum Hippies. Yang pria memanjangkan rambut atau memelihara kumis, janggut, misai, tersenyum, tenang, mengenakan t-shirt batik celup bermotif bunga dengan setelan rompi dan celana baggy, dipadu asesoris kalung dan gelang warna-warni,  bertelanjang kaki atau  beralaskan sandal.  Sedangkan para  wanita mengenakan atasan kain sari atau t-shirt dan celana longgar, dipadu asesoris perak. Mereka menari mengikuti dendang musik atau berpelukan sambil  tiduran di rumput.

Pada eneka program di Purnati Center di Batuan juga kita akan menyaksikan pasangan yang bergaya serupa di atas. Mereka bermeditasi, berpegangan tangan atau duduk sambil memeluk pasangannya di bantal-bantal  empuk yang tersedia. Tidak sedikit dari mereka mengenal gerakan New Age, gerakan spiritual  yang lahir di Barat yang telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.  Meskipun Bali Spirit Festival bukanlah ajang khusus tempat bertemunya new ager, tetapi bila mengamati gaya dan mendengar  pandangan mereka tentang diri individu dan dunia mempunyai kesamaan dengan New Age.

Gerakan New Age bukanlah gerakan yang baru, yang tidak mempunyai hubungan dengan gerakan-gerakan spiritual  sebelumnya. Akar-akar sejarah sejarah gerakan ini dapat ditelusuri di dalam gerakan-gerakan keagamaan alternatif yang muncul pada abad ke-19. Misalnya, Teosofi  dan berbagai macam gerakan-gerakan penyembuhan alternatif. Teosofi adalah satu bagian dari gejala keagamaan yang lebih luas yang dikenal dengan nama esotericisme. Di dalam pengertian yang sempit, kata ‘esotericisme’ berkenaan dengan satu bentuk pengetahuan esoteric yang menawarkan kepada individu pencerahan dan keselamatan melalui pengetahuan  mengenai ikatan-ikatan yang dipercayai mempersatukan manusia dengan dunia ketuhanan dan ruh-ruh perantara. Teosofi khususnya berkenaan terutama dengan pengetahuan tentang misteri-misteri ketuhanan yang tersembunyi. Secara  lebih luas, teosofi juga membahas alam semesta dalam hubungannya dengan Tuhan dan manusia.

Berdendang bersama diluar program yoga. (foto: Haska/JB)

Ditinjau dari sudut lain, New Age dapat dianggap sebagai gerakan pengganti terhadap budaya-tandingan (counterculture) yang muncul pada tahun 1960-an. Sebagaimana dikemukakan oleh para pengamat New Age, banyak new agers adalah baby-boomers (orang Amerika Serikat yang lahir dari tahun 1947 sampai dengan 1961) yang mungkin pada periode tersebut berpartisipasi dalam budaya-tandingan. Ketika gerakan budaya-tandingan berangsur hilang pada awal 1970-an, banyak mantan “Hippies” beralih kepencarian spiritual di luar tradisi Judeo-Kristen.Ide dan pahan New Age yang paling utama adalah kepercayaan akan terjadinya transformasi. Transformasi  sebagai inti dari paham atau visi New Age dikemukakan, antara lain, oleh David Spanglier (1993:82) dan J. Gordon Melton. Transformasi ini, menurut mereka, dimulai pada level individu dan selanjutnya dilanjutkan pada level masyarakat. Dari individu yang utuh dan sehat, lahirlah pikiran dan tindakan yang akan mentranformasi dunia.

Melton menjelaskan bahwa meskipun pengalaman transformasi yang dialami oleh setiap orang itu tidak sama, tetapi pengalaman  tersebut mempunyai beberapa karakteristik, yaitu: New agers telah menanggalkan kehidupan yang didominasi oleh aspek-aspek negative, seperti cara berpikir orthodox yang opresif, hubungan eksploitatif yang disfungsional, kemiskinan, penyakit, kebosanan, tanpa tujuan, dan/atau perasaan putus asa.

Pengalaman tersebut hampir pada saat itu mentransformasi hidup mereka. Bagi banyak new agers, transformasi tersebut berlangsung dalam bentuk pengalaman mistik yang dalam, sering muncul di tengah krisis pribadi, atau sebagai puncak dari suatu pencarian spiritual yang panjang.

Dalam lingkungan New Age dikenal adanya penyembuhan terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan mind, body, dan spirit. Ketiga aspek ini dicoba diobati sekaligus. Inilah yang disebut dengan penyembuhan holistik sebagai lawan dari penyembuhan terhadap satu aspek saja (misalnya, badan dan jiwa) dari si penderita. Dan dari sinilah timbulnya segala nama dan mereka yang bersifat “holistic”, seperti perawatan holistik, pengobatan atau penyembuhan holistik, dan lain sebagainya.

Peserta begitu antusias mengikuti rogram yoga. (foto: Hoo Jan dRas/JB)

Melton mengatakan bahwa untuk mendapatkan pengalaman transformasi, baik yang mistik maupun yang bukan mistik (penyembuhan), new ager menggunakan alat, teknik atau pelatihan, seperti mediatasi, yoga, Kristal, jamu, pijat, berobat pada seorang dukun (healer) New Age,  berpartisipasi di dalam seminar yang membangkitkan kesadaran, dan sebagainya.

Transformasi induvidu dan masyarakat itu terjadi, menurut Melton, berkat suatu tenaga yang berasal dari enerji universal. Enerji yang memasuki semua kehidupan ini berbeda dari bentuk-bentuk enerji yang umumnya dikenal (seperti panas, cahaya, magnit  listrik, gaya berat, dan sebagainya). Enerji ini dikenal dengan nama: prana, mana, odic, orgone energy, holy spirit, the ch’I, mind dan healing force. Tenaga atau kekuatan tersebut dipercaya menyebabkan penyembuhan batin. Tenaga yang sama dilepaskan di dalam berbagai bentuk meditasi dan pengobatan tubuh yang member kekuatan kepada individu secara fisik dan mental. Tenaga ini adalah realitas fundamental dari alam semesta yang dijumpai di dalam keadaan mengalami mistik.

Ide dan praktek alternatif New Age memikat orang pada saat dunia sedang dilanda oleh demam spiritualitas. Ajaran-ajaran agama yang sudah mapan dianggap terlalu kering sehingga tidak mempu memberikan ketenangan dan kebahagiaan. Dua hal ini (ketenangan dan kebahagiaan) adalah komoditas yang sangat didambakan oleh semua orang. Dan dalam kenyataannya kedua-duanya sudah merupakan komoditas langka, terutama bagi orang yang hidup di kota besar. Jadilah kelompok-kelompok ini, termasuk New Age, sebagai komoditas, yang tentu saja tidak lepas dari hukum pasar.

New Age sebagai komoditas yang dibeli dan dipakai atau dipraktekan, pada umumnya, menarik minat orang-orang yang mempunyai paham dan sikap perennial dan tourist of religion. Mereka percaya bahwa dibalik semua agama yang bermacam-macam itu terdapat satu kebenaran (The Truth) yang sama. Sebagai akibatnya, mereka percaya bahwa semua agama itu baik dan jalan yang benar menuju Tuhan. Oleh karenanya itu, mengambil dan mencampur berbagai ajaran agama dan pelatihan spiritual (eklektisisme dan sinkretisme) adalah hal yang wajar. (Helmi Haska, dari berbagai sumber)

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments