Friday 29th August 2014

Home » Community, Creative Community » BATIKMORPHOSIS (Suatu Upaya Memaknai Kembali Seni Batik)

oleh  WAYAN SUNARTA

“Pagi, Mr.” karya Agus Miki Prasetyo

SEJAK tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO PBB menetapkan batik dari Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Bangsa Indonesia pun terperangah dan merayakan pengakuan internasional itu dengan euforia penggunaan kostum batik di berbagai acara seremonial. Seakan tiada hari tanpa mengenakan kostum batik. Namun, seiring waktu, euforia itu surut dengan sendirinya. Batik kembali kesepian dalam kelawasannya.

Ironisnya lagi, justru banyak orang luar negeri yang tergila-gila pada batik Indonesia.
Secara umum, teknik membatik dikenal dengan sebutan “wax resist dyeing”, yakni mewarnai kain dengan bantuan malam (lilin) untuk menghasilkan efek tertentu dan mencegah bagian lain kain tak terkena warna. Teknik yang berusia sangat tua ini juga dikenal di beberapa negara lain, seperti Mesir, Cina, Jepang, India, Afrika.
Diperkirakan pedagang India yang membawa teknik ini ke Indonesia, yang kemudian dikenal dengan istilah membatik. Kata “batik” sendiri berasal dari bahasa Jawa, yakni dari kata “amba” (menulis) dan “tik” (titik). Membatik berarti menulis atau menggambar titik-titik di atas kain. Sejak zaman Majapahit, batik telah populer sebagai seni kerajinan bermutu tinggi yang dikerjakan kaum perempuan Jawa. Selain sebagai busana, batik dengan motif tertentu juga mengandung nilai magis dan menjadi penanda strata sosial pemakainya.
Seiring perkembangan zaman, aneka corak dan warna batik, terutama batik pesisir, juga mengalami  akulturasi. Misalnya, warna-warna cerah dan motif burung phoenix dipengaruhi budaya Tionghoa. Corak atau motif  bunga tulip, kereta kuda, gedung, dan warna biru, dipengaruhi Belanda. Kini, sejumlah motif batik masih populer, seperti batik gaya Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Pekalongan.
Membatik memerlukan ketekunan dan kesabaran, mulai dari proses membuat pola, membubuhkan cairan lilin di atas kain dengan canting, mewarnai melalui proses tertentu, melarutkan lilin dengan cairan kimia, dan sejumlah proses lainnya. Membatik, terutama jenis batik tulis, memakan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Semua itu tergantung dengan berbagai tingkat kesulitan pengerjaannya.
Hingga saat ini banyak generasi muda masih menganggap batik sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman. Namun, sejumlah anak muda yang memiliki kepedulian terhadap seni batik berupaya memperkenalkan dan menggairahkan kembali seni batik melalui berbagai pameran  dan workshop. Mereka tergabung dalam Komunitas Gondorukem yang dibentuk pada Mei 2004. Kata “gondorukem” berarti malam atau lilin hitam dari getah pinus. Gondorukem meyakini bahwa seni batik masih membuka peluang untuk dieksplorasi, baik secara estetika, bentuk, muatan atau pesan.
Pameran Gondorukem kali ini bertajuk “Batikmorphosis”. Mengacu pada proses metamorphosis itu sendiri. Dari kepompongnya yang lawas, batik muncul menjadi kupu-kupu baru yang lebih variatif. Batik mengalami perluasan penafsiran dan pemaknaan. Tidak hanya berupa motif-motif tradisional, namun menjelma bentuk-bentuk yang kontemporer, sesuai semangat zamannya. Di sini batik diolah dan ditampilkan lebih kreatif. Tidak hanya menggunakan canting dan kain, namun juga kuas dan teknik lain dengan media yang beragam. Hasilnya adalah karya lukisan dengan teknik batik dan karya seni instalasi yang dimuati konsep, pesan dan falsafah tertentu.
Pameran ini adalah salah satu bentuk pemaknaan kembali terhadap seni batik yang merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia. Sehingga batik tidak hanya dipandang sebagai seni kerajinan, melainkan juga seni yang penuh kemungkinan untuk dieksplorasi sesuai kreasi individu masing-masing. Misalnya, dengan teknik dan proses membatik, beberapa anggota Gondorukem mengkreasi visual-visual kontemporer dengan muatan-muatan tertentu.

“Berpikir” karya Abdul Gopur

Hal itu bisa dinikmati pada karya-karya Ni Wayan Setiasih yang menyuguhkan figur-figur karikatural. Ketertarikannya pada dunia fantasi anak-anak, dunia kartun, menghasilkan karya-karya yang bernuansa ceria dan penuh warna. Sebagai contoh, bisa dilihat pada karya berjudul “Dunia Awan”. Eksplorasi serupa juga terlihat pada karya-karya Ni Ketut Indrawati. Misalnya, pada karya “Colour of the Wind”, yang menggambarkan figur wanita berambut panjang bergulung-gulung penuh warna-warni. Melalui karya ini, Indrawati membubuhkan muatan bahwa batik memeram keindahan tersendiri layaknya keindahan rambut wanita.

Dilema batik dalam zaman kekinian diungkapkan Alfina Rizkiy Pratiwi melalui karya berjudul “Pertahankanlah!” Dia menggambarkan sosok wanita berdandan mewah ala Barat, tangan kirinya menarik seutas tali yang digantungi tulisan “Batik”, tangan kanannya juga menggenggam tangkai bunga dari batik. Melalui karya ini, Alfina melontarkan kritik terhadap wanita Indonesia yang melupakan busana tradisionalnya, dan cenderung terpikat busana ala Barat. Karya ini juga menegaskan bahwa batik sebagai warisan leluhur dan kebanggaan bangsa harus terus dilestarikan, tentu disesuaikan dengan semangat zamannya.
Kegelisahan yang sama juga disampaikan Agus Miki Prasetyo melalui karyanya yang berjudul “Pagi, Mr.” Karya satir ini mengisahkan kepedulian warga asing terhadap warisan leluhur bangsa Indonesia. Sementara bangsa Indonesia sendiri menganggap warisan leluhur itu sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman. Ironisnya, generasi muda Barat justru sangat tertarik memelajari batik ketimbang generasi muda Indonesia sendiri. Misalnya, Gondorukem pernah beberapa kali memberikan workshop batik kepada mahasiswa asing yang menetap di Bali.
Sejak berabad-abad lampau, manusia selalu berusaha menemukan “dunia baru” yang dicita-citakannya. Mereka berlomba-lomba mengarungi samudera untuk menemukan dan menguasai dunia baru itu. Pencarian dunia baru seringkali berakhir tragedi, konflik tak berkesudahan, kolonialisasi dan berbagai bentuk eksploitasi serta klaim, termasuk juga di dalam ranah kebudayaan. Pencarian dunia baru terus berlangsung hingga saat ini. Pengklaiman negara tetangga terhadap warisan nenek moyang bangsa Indonesia merupakan salah satu buktinya. Fenomena ini bisa dilihat lebih jauh sebagai minat Barat yang tak jemu membidik dan mempelajari Timur. Hal itulah yang tersirat dalam karya Rochtry Agung Bawono yang berjudul “Mencari Dunia Baru”.
Sementara itu, melalui karya berjudul “Batik untuk Indonesiaku”, I Gusti Putu Diarya Raditya, dengan jelas menegaskan bahwa batik adalah milik bangsa Indonesia. Karya yang sarat semangat nasionalisme ini menampilkan kepulauan Indonesia menetes dari canting. Secara tidak langsung karya ini juga menyiratkan pesan bahwa batik merupakan salah satu ciri ke-Indonesia-an.
Di sisi lain, I Made Arde Wiyasa menggunakan karya batik kreasinya untuk melancarkan kritik terhadap sistem pemerintahan dan pejabat yang korup. Misalnya, terlihat pada karya “Liburan di Depan Mata”, yang menggambarkan seekor tikus sedang merokok dan menatap bayangan kota-kota megah di kejauhan. Simbol tikus dalam karyanya ini tentu mengacu pada oknum pejabat pemerintah yang hobi jalan-jalan ke luar negeri, menghabiskan anggaran negara dengan alasan studi banding.
Selain kreasi batik di atas kain, anggota Gondorukem juga menampilkan karya seni instalasi dengan menggunakan aneka material. Abdul Gopur, misalnya, menampilkan seni instalasi berjudul “Berpikir”, menggunakan benda-benda temuan, seperti kotak kubus, benang, serpihan kulit, kain dengan motif  batik, dan sebagainya. Konsep karya ini berfokus pada kesenian sebagai ekspresi batin, ruang bermain yang melegakan, sehingga menemukan sesuatu yang baru dan berguna bagi banyak orang.
Karya instalasi yang lain disuguhkan oleh Anden Pundy, berjudul “Black Box”,  mengungkapkan catatan-catatan tentang proses membatik. Karya ini diinspirasi dari kotak hitam pesawat terbang yang berisikan berbagai catatan berkaitan dengan penerbangan. Meskipun pesawat hancur, kotak hitam masih memungkinkan untuk ditemukan dan mampu mengungkapkan semua peristiwa yang dialami pesawat tersebut. Begitu pula halnya dengan batik, meski telah lama dilupakan oleh pemiliknya sendiri (bangsa Indonesia), namun catatan-catatan tentang batik tak akan pernah terhapuskan.
Sementara itu, Dewa Ayu Eka Savitri menampilkan karya instalasi berjudul “Di Penghujung Panah # 2”. Karya ini berbentuk baju ukuran besar yang dihiasi motif-motif batik kreasinya, dikombinasikan dengan beberapa elemen lain, seperti foto print beberapa karakter tokoh wayang, puisi di atas kain, perca-perca batik yang dibentuk sedemikian rupa. Savitri juga mengkreasi beberapa motif batik yang mengandung simbol tertentu yang dipadukan dengan karakter pewayangan. Misalnya, motif batik Mega Mendung, ornament Kawung sebagai simbol darah, motif Parang Rusak sebagai simbol senjata atau emosi manusia. Dia memadukan pakem batik tradisional dengan kreasinya sendiri. Selain merepresentasikan tentang tabiat manusia, secara tersirat karya ini juga mengisahkan suka duka yang dialami batik di Indonesia.
Pameran ini diharapkan mampu membangkitkan kembali gairah generasi muda terhadap seni batik. Sebab seni batik adalah warisan leluhur bangsa Indonesia, yang selain harus terus dilestarikan, juga perlu dimaknai ulang sesuai semangat zamannya. Gondorukem sudah, dan akan terus melakukannya. Lalu, bagaimana dengan Anda? []
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2011 Journal Bali · Subscribe:PostsComments