Wednesday 1st October 2014

Home » Creative Community, Creative Industry » Gampangnya Menerbitkan Buku Indie

oleh Irwan Bajang

Buku yang diterbitkan secara indie

APAKAH kamu seorang penulis yang idealis? Penulis yang senang menulis sebuah tulisan aneh yang jarang ditulis orang lain? atau kamu adalah penulis keras kepala yang susah kompromi dengan orang lain? Mungkin kamu bukanlah orang yang dicari banyak penerbit. Karena menerbitkan buku butuh banyak kompromi tema, bentuk dan genre yang laku. Tapi bukan berarti kamu tidak berpeluang menjadi penulis, banyak alternatif lain, bisa dengan menjadi bloger, menulis di milis, atau, tenerbitkan buku kamu secara Indie. Berani?

Berani menerbitkan hasil karya sendiri, berarti kamu sudah berani mengambil sebuah keputusan. Dengan demikian, kamu telah memposisikan diri sebagai seorang penulis sekaligus pengusaha, sehingga, secara garis besar, kamu punya dua keuntungan. Yang pertama adalah kepuasan materi. Kamu akan mendapat laba penjualan buku yang jauh lebih besar dibandingkan dengan menerbitkan buku di penerbit. (sekadar tahu, royalty di penerbitan rata-rata 10% dari hasil penjualan buku). Dan keuntungan nonmaterinya adalah, kamu akan merasa bangga sebab telah berhasil mempublikasikan karyamu sendiri menjadi sebuah buku dan dapat dinikmati banyak orang. Eksistensimu sebagai penulis segera akan diakui.

Ada banyak keuntungan lain sebagai penulis yang bisa menerbitkan buku secara indie. Kamu bisa membentuk dan mempublikasikan karyamu sesuai selera. Kamu bisa pilih cover sesuka hatimu tanpa ada intervensi dari penerbit, atau kamu juga bisa memilih bentuk buku sesuai keinginanmu, ukurannya besar kecilnya, tebal tipisnya, semua terserah padamu. Lay outnya pun demikian, bisa saja kamu pilih bentuk buku seperti yang kamu suka, fullcolour, berhias gambar, bentuk lingkaran, dan lain sebagainya. Selain itu, kamu juga tidak harus repot dan lelah menunggu berbulan-bulan untuk sekadar mendengar khabar naskahmu diterima atau tidak. Kamu bisa mengatur waktunya sesuai dengan keinginan kita. Hal ini jauh berbeda apabila kamu mengirim naskahmu ke sebuah penerbit. Kamu harus menunggu seleksi, kemudian menunggu proses editing, pracetak dan sampai proses cetak yang semuanya bisa memakan waktu dari 6 bulan hingga satu tahunan. Dalam menerbitkan indie, kamulah yang memegang semua kendali atas proses penerbitan hasil karya kamu. Sejak awal proses penulisan sampai dengan pendistribusian ke pembaca. Kamu akan memotong jalur penerbitan yang ribet dan sangat lama itu. Pakailah jurus dan jalurmu sendiri.

Secara pribadi, saya akan merasa senang sekali mengirimi teman-teman saya buku yang saya bikin sendiri. Sebab bagi saya, menulis adalah untuk menggali kepuasan eksistensial. Bahwa dengan meninggalkan jejak tertulis sebelum saya meninggal dunia, setidanya saya meninggalkan sesuatu yang hidup dan tak bisa mati dari diri saya, meskipun saya mati. Sesuatu itu adalah pikiran, dan pandangan saya mengenai hidup dan banyak hal di seputarnya. Saya menulis maka saya ada, begitu kira-kira simpelnya.

Proses penerbitan buku pada dasarnya sangat sederhana. Setidaknya ada 5 tahap dalam proses tersebut. Pertama adalah menyediakan naskah. Pada tahap ini, penulis tentu saja harus menulis, atau mengumpulkan tulisannya yang terserak di mana-mana. Atau bisa saja menulis secara kroyokan, antology puisi misalnya, atau antologi cerpen, dan lain sebagainya. Tahap kedua adalah tahap pengeditan naskah, tahap ini meliputi pengecekan, kurasi, atau beberapa unsur lain untuk memperantik naskah yang telah jadi. Dalam tahap ini juga berlangsung pengecekan kesalahan tanda baca oleh seorang proof reader (asisten editor, atau second editor). Para penulis indie biasa meminta bantuan atau membayar jasa seorang editor untuk melakukan hal tersebut.

Tahap ketiga adalah lay out dan cover. Tahap ini naskah yang sudah siap di susun sedemikian rupa dalam bentuk buku, lalu diberi cover yang menarik agar calon pembaca tertarik melihat dan membelinya. Tahap keempat adalah mencetak. Tahap ini simpel saja, tinggal mencari percetakan dan segera mewujudkan naskah itu menjadi buku.

Nah, sekarang buku sudah siap, maka pekerjaan berikutnya adalah mendistribusaikannya. Kalau secara konvensional, tentu kamu tak harus keliling toko-toko buku untuk menawarkannya. cukup dengan menggunakan jasa distributor yang akan menyebar seluruh buku tersebut ke toko buku se Indonesia Raya. Lantas bagaimana kalau buku kita indie dan hanya cetak sedikit? Indie atau tidaknya buku tidak berpengaruh pada distributor. Yang penting buku punya ISBN, maka mereka akan mau membantu menyebarkann bukumu. Distributor biasanya meminta potongan harga 40% hingga 60% dari harga jual buku tersebut. Namun bagi penulis yang mencetak buku secara indie atau jumlah yang terbatas, jangan khawatir, jaman telah berubah begitu cepat. Telah ada Blog, Milis, Facebook, Twiter, My space, Friendster dan lain sebagainya. Kamu bisa memanfaatkan layanan ini untuk menjualnya di sana. Atau kamu bisa titipkan di komunitasmu, di sistro, kafe, kantin dan tempat alternatif lainnya. Semakin kreatif kamu, maka makin cepat juga bukumu laris manis di pasaran.

Simpel, kan, menerbitkan buku itu? Lalu, apalagi yang kamu tunggu. Segeralah kumpulkan tulisanmu, selesaikan yang belum jadi dan terbitkanlah segera, agar bisa dibaca orang dan pendapatmu didengarkan. Cari temanmu yang bisa mengedit, lay out, dan dibikin sampulnya segera. Atau kalau tidak, komuniatas-komunitas sastra, komunitas-komunitas bloger, segeralah mempelopori dan menggawangi penerbitan karya anggotanya yang layak dibukukan. Adanya jaringan komunitas, sahabat dan lain sebagainya akan menjadikan kekuatan pemasaran semakin besar dan luas.

Sayang sekali kalau tulisanmu yang inspiratif, keren dan mencerahkan itu hanya terpampang di monitor dan tidak terarsip dengan baik. Kalau kamu masih menganggap buku sebagai sesuatu cara menyebarkan gagasan yang efektif, segeralah jadikan buku tulisan-tulisanmu itu.[]

Irwan Bajang, Blogger dan Penyair

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments