Friday 19th December 2014

Home » Creative Community, Creative Industry » Sumber Daya Insani Sebagai Pondasi Ekonomi Kreatif

Suasana Focus Group Discussion (FGD) di Common Room, Bandung

[JOURNALBALI.COM] Setelah Jakarta, Focus Group Discussion (FGD) yang di fasilitasi oleh Kementerian Perdagangan melalui Indonesia Kreatif diadakan di Kota Bandung. Salah satu kota kreatif di Indonesia ini dipilih karena kota Bandung mempunyai insan kreatif yang sangat banyak, sehingga kelebihan ini menjadikan salah satu modal utama Pemerintah Daerah untuk pengembangan kota ini.

Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 12 November 2010, di Common Room, Jl. Ki Gede Utama, Bandung. dengan judul kegiatan “Pengembangan Sumber Daya Insani Sebagai Pondasi Ekonomi Kreatif Indonesia” . Diskusi kali ini mengundang beberapa tokoh kreatif yang sangat konsisten menjalankan profesinya masing-masing, dan telah banyak berkontribusi atas perkembangan industri kreatif di kota Bandung.

Pada kesempatan ini narasumber yang hadir adalah Intelektual, wakil dari pemerintahan dan pelaku kreatif kota Bandung. Intelektual yang hadir antara lain Rizky Adiwilaga (BCCF), Tata Soemardi dari Arsitektur ITB, Iu Rusliana dari UIN Bandung, dan Popy R dari FE Unpad. Pemerintah sendiri diwakili oleh empat Kementerian yaitu Nina Purnamasari dan Erry Utomo dari Pusat Kurikulum Kemendiknas, Budi Santoso dari Kemendag, Endang Wirastuti dari Kementerian Kominfo dan R.Siswarini dari Kemenkop UKM.

Pelaku kreatif yang hadir adalah Tisna Sanjaya, salah seorang seniman dan juga dosen FSRD ITB, Wawan Sofwan seorang aktor dan sutradara di MainTeater Bandung, Andar Manik seorang praktisi seni dan pengajar dari Jendela Ide, M. Zaini dari Komunitas Hong dan Gustaff Iskandar selaku tuan rumah adalah salah satu inisiator dari Common Room yang juga adalah seorang media artist, peneliti, dan Direktur Bandung Centre for Media Arts.

Diskusi dibuka dengan kata sambutan dari Gustaff Iskandar sebagai tuan rumah. Dalam sambutannya, Gustaff menyatakan bahwa Common Room terlibat dalam memfasilitasi kegiatan ini karena Common Room merupakan wadah dimana berbagai kalangan dapat merancang dan merealisasikan berbagai kegiatan dengan fokus kepada aktivitas riset dan pengembangan di bidang pengetahuan publik dan kreativitas. Selain itu, diskusi ini adalah kali kedua yang diadakan di Common Room setelah diskusi pada tahun 2009.

Pokok pembahasan  dari diskusi ini adalah isu-isu aktual  menyangkut  sumber daya insani di Indonesia mengingat posisinya sebagai aset utama dalam pengembangan ekonomi kreatif.  Pada saat diskusi berlangsung muncul pula beragam tanggapan dari narasumber mengenai aspek-aspek lain dari ekonomi kreatif seperti konsep pengembangan, kerja sama antar elemen, serta sosialisasi dari Inpres No 6 tahun 2009 mengenai Pengembangan Ekonomi Kreatif.

Budi Santoso dari Kemendag berpendapat bahwa  terkait dengan Inpres No 6 Tahun 2009, perlu dipikirkan kegiatan-kegiatan ke depannya dan tidak menjadi suatu masalah jika diperlukan adanya perbaikan dan penambahan strategi dari Inpres tersebut. Koordinasi dalam  Pokja pengembangan Ekonomi Kreatif juga menjadi isu yang disorot oleh Budi.

Beberapa narasumber dari pelaku kreatif seperti Gustaff, Andar Manik, dan Wawan Sofwan, berpendapat bahwa peran dari Inpres No 6 tahun 2009 belum menyentuh ke kalangan pelaku kreatif, khususnya dunia seni. Bahkan Wawan Sofwan menyatakan bahwa peran pemerintah masih sangat kurang. Rizky Adiwilaga dari Bandung Creative City Forum (BCCF) berpandangan keluarnya Inpres No 6 tahun 2009 menunjukkan suatu upaya dari pemerintah agar di masa mendatang Indonesia tidak hanya menggantungkan diri pada sumber daya alam, tapi sudah mulai untuk berinvestasi di sumber daya manusia dimana lewat industri kreatif manusia-manusia ini akan menghasilkan ide dan kreativitas sebagai sebuah sumber daya yang terus-menerus dapat diperbaharui.

Iu Rusliana dari UIN Bandung menyarankan Kemendiknas untuk membuat blueprint pendidikan yang dapat menggali potensi kreativitas dimulai sedini mungkin. Pendidikan perlu dimulai dari lingkungan keluarga dan tidak dibatasi oleh pendidikan formal saja. Tapi di lain pihak juga pemerintah harus berhati-hati jangan sampai membunuh kreativitas itu sendiri.

Di lain pihak, Popy Rufaidah mengatakan inventarisasi pendidikan formal maupun non formal perlu difasilitasi. Perlu adanya pembaharuan kurikulum yang “jadul” dimulai dari jenjang SD hingga SMK. SMK sendiri menurut Popy bisa menjadi arahan pendidikan untuk menjadi insan kreatif. Perihal Inpres Ibu Popy menegaskan Inpres perlu diturunkan menjadi Perda dan tataran yang lebih teknis. Kemudian Erry Utomo dari Pusat Kurikulum Kemendiknas merasakan adanya dilema akan kurikulum yang overload dan beliau pun mengamini diperlukannya perombakan kurikulum agar sekolah atau pendidikan menjadi hal yang menyenangkan.

Menurut Tisna Sanjaya pendidikan kreativitas memiliki sisi lain di luar kreativitas itu sendiri, seperti lingkungan, sosial, dan budaya, karena itulah diperlukan kerja sama antar berbagai elemen masyarakat “Perlu adanya strategi budaya, tidak dapat sendiri namun harus dengan berbagai pihak. Kreatif harus di gali terlebih dahulu, jangan tergesa-gesa dan memiliki acuan dari belakang. Yang diajarkan adalah pemikiran dan bukan bentuk.” tegasnya.

Selama diskusi berlangsung, Gustaff juga mengemukakan beberapa pemikirannya melalui media sosial twitter. Dia berpendapat perlu adanya kejelasan antara pengembangan sektor kreativitas sebagai wahana penciptaan nilai-nilai baru dengan komoditas ekonomi, karena pengembangan kreativitas tidak hanya ditujukan untuk menjawab kebutuhan ekonomi, sebab pengembangan potensi kreativitas dapat menjadi solusi untuk menjawab berbagai masalah sosial di masyarakat. Jika pengembangan potensi kreativitas hanya ditujukan untuk menjawab kebutuhan ekonomi, kreativitas yang tumbuh adalah keseragaman, dikhawatirkan dapat menjadi ancaman terhadap keberagaman budaya dan kreativitas.

Diskusi yang juga di live streaming oleh Radiologia Bandung ini diakhiri dengan evaluasi beberapa strategi yang terdapat di Inpres No 6 tahun 2009. Strategi yang menjadi fokus evaluasi adalah peningkatan anggaran pendidikan untuk mendukung penciptaan insan kreatif Indonesia. Beberapa masukan untuk strategi ini adalah: perlunya dokumentasi/ database pelaku industri kreatif yang dapat dishare di website/portal, media dan metode  pendidikan yang kreatif untuk formal dan non formal, model kampung kreatif untuk pendidikan di desa-desa, dan pendekatan pendidikan sedini mungkin untuk insan kreatif. [JB]

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments