Friday 28th November 2014

Home » Culture, Etnika » Manusia Bali dan Dunia Babad: Apa Nikmatnya Mengenal Leluhur (Kawitan)?

oleh Sugi Lanus

Ilustrasi (Ist)

ORANG Bali belum merasa “orang Bali” kalau tak mengetahui siapa leluhur mereka. Mereka tertuntut menelusuri silsilah mereka ke atas, atau yang sudah merasa ‘mempunyai’ berlomba mempertegas “sejarah” (ingat dalam tanda kutip)mereka  dengan babad atau unsur-unsur yang mempertegas keberadaan “kepalingbalian” mereka, kemudian diikuti dengan pembentukan organisasi soroh (komunitas yang mendasarkan diri pada persamaan kawitan, pura leluhur), membuat terbitan ekslusif untuk anggota, bahkan terkesan anggota sidang redaksinya “tertutup”, dstnya.

Orang Bali seakan memiliki sebuah project untuk “memetakan sel” mereka, sebuah “genome project”. Walau demikian, tak satu keluarga Bali pun yang saya dengar pernah melakukan tes darah mereka untuk mencocokkan kesamaan gen mereka dengan orang yang dianggap satu soroh dengan mereka. Umumnya orang Bali “mencari leluhur” dan keluarga (baca: wangsa) mereka tidak lewat laboratorium modern, namun lewat lab aneh: “laboratorium paranormal”.

Mereka, kalau tidak berhasil mencarinya lewat jalur silsilah yang diturunkan dari mulut ke mulut, akan mencarinya lewat paranormal (balian). Banyaknya surat-surat pembaca yang menanyakan kawitan di sebuah rubrik di salah satu terbitan Bali, menunjukkan bagaimana besar rasa keinginan tahuan mereka terhadap masa silam “genetika” mereka. Perseteruan diam-diam antar soroh itu juga menegaskan “pentingnya” soroh (baca: mengenal leluhur) buat orang Bali.

Seorang teman baik saya, yang baru menemukan leluhur mereka beberapa tahun yang lalu tiba-tiba menjadi anggota sebuah soroh yang fanatik. Ceritanya “penemuan” leluhur mereka sangat menarik. Suatu ketika ibunya pingsan dan kesurupan (ibunya memang terkenal mudah kesurupan). Maka anaknya (teman saya) bingung. Iapun pergi ke orang pintar, seorang keturunan brahmana ida bagus. Dari orang pintar itu, ia mendapat petunjuk untuk datang ke leluhurnya. Bahwa yang turun dan membuat ibunya kesurupan itu adalah leluhurnya. Berdasarkan petunjuk orang pintar itu pula, teman saya ini tangkil (datang) ke sebuah tempat pura di Gobleg, yang kini ia percaya sebagai pura leluhurnya (pura kawitan).

Sekarang, ia menjadi warga sebuah soroh (wangsa) Pasek yang fanatik. Dulu, sebelum ia menemukan kawitannya, kalau melakukan upacara atau punya masalah spiritual, keluarganya selalu pergi ke gria peranda (orang pintar tersebut), sekarang ia lebih sering pergi ke gria sri empu (rumah pendeta dari keturunan warga Pasek). Walaupun begitu, ia pernah memberitahu saya bahwa ia selalu mengingat kebaikan orang pintar (ida bagus) yang memberinya petunjuk itu. ‘Sira sane kayun megat tresna?’ (Siapa yang mau memutus tali kasih?).

Kakek buyut saya, pun konon, pernah dilakukan sebuah perjalanan khusus untuk menelusuri leluhur kami (mungkin kebanyakan keluarga Bali pernah melakukannya). Konon, kakek saya menelakukan “napak tilas” perjalanan leluhur kami. Kakek dan anggota keluarga lainnya, dari Buleleng naik dokar, memotong gunung belantara menuju Badung. Dalam perjalanannya itu, walau dengan susah payah naik turun gunung dan menerabas hutan, mereka tak menemui hambatan di sepanjang jalan. Dulu terkenal jalur-jalur itu dikuasai rampok dan begal. Hasil perjalanan mereka, sampai kini diyakini di keluarga kami, bahwa perjalanan meraka diberkahi oleh leluhur. Artinya juga, perjalanan menjejaki leluhur itu tidak melenceng. Yang melegakan keluarga kami, setelah “penemuan kembali” leluhur kami, keluarga kami akhirnya sah menjadi warga kawitan Arya Tegeh Koripan, yang konon bertalian darah dengan Sira Arya Kenceng. Konon, keluarga kami di Badung menyambut dengan gembira kedatangan keluarga kami yang tangkil untuk pertama kalinya. Saya membayangkan mereka menyambut kakek buyut kami, yang mewakili keluarga kami, seperti menyambut “kembalinya domba yang hilang”.

Setengah bangga dan setengah berpikir (ragu), saya sering memikirkan/merenungkan: Apa enaknya mengenal leluhur?
Dalam sebuah perjalanan sembahyang, setelah sekian lama saya merenung dan punya kesempatan untuk mempelajari babad secara akademis –terimakasih pada dosen mata kuliah Babad di Jurusan Sastra Bali Unud, IB Rai Putra, yang telah memperkenalkan saya pada dunia babad –akhirnya saya merasa menemukan penjabaran (setidaknya untuk diri sendiri) tentang “nikmatnya” mengenal leluhur lewat penelusuran babad.

Mengenal leluhur, buat saya, adalah mengenal kisah heroisme, kemuliaan, keunggulan, petualangan orang-orang yang darahnya mengalir di dalam tubuh kita. Walaupun cerita leluhur terceritakan/tersusun dalam dongengan, saya sering terjatuh dalam kebanggaan semu akan kebesaran mereka. Orang-orang besar itu, lelehur kami yang ditulis dalam sejarah, darahnya mengalirkan dalam diri saya! (Begitulah perasaan bangga itu terkadang bicara sedikit gombal dalam diri saya).

Kenapa bangga? Benarkah saya berlaku bangga?

Rasanya seperti ikut masuk dalam peristiwa masa lalu kalau tangkil ke kawitan atau pura-pura yang berhubungan dengan leluhur kami. Bersemangat. Persiapan kami untuk melakukan perjalanan menuju pura-pura keluarga itu mirip seperti perjalanan artis-artis sirkus keliling. Ada rapat persiapan, membagi barang/proverti atau banten sesaji yang kita bawa dan kita haturkan. Apalagi prihal mengurus transportasinya. Biasanya kita carter mobil tambahan kalau anggota keluarga banyak yang turut. Saya bayangkan, dulu sebelum ada transportasi seperti sekarang, kakek saya naik dokar atau kuda, mereka tak jarang jalan kaki. Dari Buleleng ke Badung, konon 3 hari mereka jalan kaki, dan tetap mereka bergilir melakukannya setiap 6 bulan sekali, setidaknya setahun sekali. Bayangkan bagaimana mereka mengatur perjalanan itu. Bagaimana mereka mempersiapkan perbekalan. Berapa banyak kelan ketupat yang mereka bawa? Agar tidak basi barangkali mereka akan menggantungnya di pinggir atap dokar. Jadi kalau berjalan dokar tersebut, maka ketupat itu akan bergoyang-goyang jadi hiasan dokar, mirip boneka-boneka lucu yang tergantung di kaca spion dalam mobil-mobil sekarang.

Dan kenapa mereka patuh untuk melakukan perjalanan jauh itu, kenapa mereka setia tangkil, datang jauh-jauh untuk sembahyang?
Saya tidak mau hanya memegang jawaban standar: Agar tak dihukum leluhur!
Benarkah leluhur hendak menghukum turunannya? (Keyakinan kalau tidak tangkil kita “dosa”). Atau, jangan-jangan kita memang menikmati secara tidak kita sadari tradisi berleluhur itu? Saya cenderung mengiyakan yang terakhir ini.

Kawitan, proyek memupuk mitos keluarga

Kita, sadar atau tidak, menikmati tradisi berleluhur (berkawitan) ini; untuk mengenang heroism dalam babad-babad itu, tradisi romantic dan pemitosan keluarga ini. Dengan memasuki “dunia kawitan”, kita memasuki dunia mitos yang melingkupi silsilah yang menyusun keberadaan kita.

Dengan keterbatasan saya, saya memahami bahwa yang membuat mereka, barangkali kita semua orang Bali, melakoninya adalah kenikmatan yang ditimbulkan oleh ingatan kita (yang romantis) pada leluhur itu. Lalu kita bisa mengidentifikasi diri sebagai turunan dari leluhur kita yang, seperti umumnya disuratkan dalam babad-babad, telah ikut menentukan alur sejarah pulau ini. Dengan memiliki silsilah (leluhur), kita juga merasa punya “akar”. Kitapun punya tempat “berteduh” dan “berlindung” dari dunia yang absurd. Bagaimana bisa?

Babad, cerita tentang leluhur, buat manusia Bali adalah sebuah “naskah drama”. Orang yang memiliki naskah (baca: babad) itu dalam beberapa ritus –seperti  upacara pemujaan leluhur, caru (upacara penyucian/ruwat), dalam memperkenalkan diri dengan orang lain (dengan awalan sapa: atur antuk linggih) – mengidentifikasi diri, memaknai eksistensinya dengan naskah tersebut. Babad menjadi semacam pakaian yang siap dipakai, karakter yang siap diperankan oleh seseorang.

Tanpa sadar manusia Bali sedang memainkan lakon-lakon masa silam, mencari karakter untuk memasuki setting raja-raja, orang-orang suci, pendeta, atau tokoh yang tercatat dalam ‘sejarah’ atau yang ikut menentukan alur hidup, bahkan terkait dengan dewa-dewa atau bidadari. Pemeranan ini dimasuki dengan adanya ikatan emosional dengan karakter yang dimainkan, rasa pertalian darah mereka dengan tokoh masa silam (setidaknya begitu keyakinan kita walaupun secara genetik sulit sekali menyusuri darah kita). Lalu dalam melakoni itu, manusia Bali masuk ke dalam “ruang tak sadar”. Dengan kesadaran penuh (logika), saya sulit membayangkan seseorang bisa sedemikian fanatik dengan wangsa (dadia, soroh) mereka dengan berdasar petunjuk paranormal atau dari cerita mulut kemulut yang beredar di keluarga kita.

Benarkah darah atau soroh kita tak pernah bercampur dengan darah dari “luar” soroh kita?

Pihak ayah Arya Tegeh Kori, pihak ibu Dalem Kresna Kepakisan

Saya tahu di Bali kita memegang purusa (garis laki-laki), tapi bila saya, yang berayah yang berkawitan Arya Tegeh Koripan dan dilahirkan dari rahim seorang ibu dari keluarga Arya Kepakisan, tidakkah sepatutnya saya menyembahyangi keduanya? Bukankah sejarah telah banyak melahirkan anak dari bapak ida bagus dan ibu pasek, atau sebaliknya. Pande dengan Bhujangga. Bagaimana dengan mereka?

Dan dalam sejarah, peristiwa campur-campur terjadi berabad-abad, berulang-ulang. Standar kemurnian apa yang menjamin kita untuk meyakini hanya salah satu soroh sebagai garis langsung kita? Ada apa yang melatari timbulnya perseteruan antar soroh dewasa ini? Murnikah hanya perseteruan karena saling klain ketinggian wangsa atau justru unsur kekuasaan, politik dan kepentingan ekonomi yang sembunyi di baliknya?

Kita, sadar atau tidak sadar, telah menjadikan babad atau silsilah leluhur kita menjadi “kendaraan waktu”. Dengan kendaraan waktu ini kita masuk ke masa silam: menjadi anak-anak raja, menjadi cucu-cucu orang suci, turunan pahlawan-pahlawan, leluhur yang terampil pada bidangnya masing masing. Itu terasa kuat ada dalam diri kita dengan dikukuhkan dalam nama-nama (gelar kebangsawanan atau soroh) hingga kini, mengkaitkan diri dengan para dewa, orang suci, para bangsawan (bacalah babad-babad, semua babad mengadung pengkultusan leluhurnya masing-masing), dengan mitos-mitos tersebut manusia Bali mengidentifikasi dirinya. Kita telah melabeli diri kita dengan masa lalu. Merasa spesial dengan label-label yang kita peroleh secara “genetik”.
Mereka, orang Bali dalam “pementasan” itu, menemukan katarsis. Pementasan itu berupa ritual formal (upacara adat, kepangkatan/gelas kasta, bahasa) dan non formal (status) berpadu membuat seseorang terpuasi.

Disana orang Bali mendapatkan “identitas”, “rasa aman” dari absurditas eksistensinya, menemukan komunitas, menemukan sebuah “dunia yang lain”. Dengan “kembali” ke dunia masa lalu, orang Bali, sesekali bisa memisahkan diri dengan realita yang tidak bersahabat. Membuat kita terhenti (istirahat) dari kenyataan hidup yang sering pahit dan keras. Disnilah letak “katarsis” pertunjukan kolosal orang Bali.

Lalu, apakah seseorang tidak justru bermasalah setelah “mengetahui” masa lalunya?

Jawabannya bisa iya dan tidak. Bila mitos-mitos itu membebani seseorang atau ia menggunakan hal ini sebagai sarana dengan total dan buta untuk melabeli diri (sampai ada banyak keluarga di Bali kini “naik kasta”), ini tentu menjadi tanda tanya. Pribadi seseorang akan terbelah. Tubuhnya di masa kini, tapi ia (pribadi dan identitasnya) selalu di masa lalu. Selalu saja merasa diri raja, walaupun tanpa puri dan rakyat (ingat syarat sebuah negara), dan ia mungkin lupa bahwa Bali telah berada di bawah negara Republik Indonesia. Atau, terus merasa orang suci (karena leluhurnya orang suci) padahal dalam kehidupannya bermiliar uang rakyat telah disunat. Padahal berbagai dosa telah menjadi kebiasaan.

Sembunyi dalam mitos, abai pada realitas

Jaman menuntut kemampuan seseorang dan kesucian seseorang dalam kekinian. Bukan atas masa lalu genetiknya. Teks masa lalu, apalagi yang tak kita cerna dengan logika dan tidak kita letakkan dalam kerangka realitas kekinian, akan menjadi dongeng yang cenderung melenakan kita. Teks masa lalu, dalam posisi seperti itu, akan memberangus kekinian kita. Kita akan menjadi hidup di dunia mitos. Tidak berani menghadapi realitas. Kita cenderung akan menjadi manusia yang menghindari kekinian, dengan berlari kemasa lalu: mengkait-kaitkan diri dengan kejayaan leluhur (masa silam kita?). Kita akhirnya cenderung membangga-banggakan leuhur kita berdasarkan babad atau silsilah yang nilai kesejarahannya tercemar pengkultusan dan mitos-mitos yang pekat melingkupinya. Kalau ada seseorang atau sebuah keluarga yang mengklaim “derajatnya” lebih tinggi dari keluaga/warga lainnya, tidakkah mereka (kita) menggunakan sebuah mitos untuk membangun sebuah mitos lagi, atau mengukuhkan mitos-mitos yang ada. Dan, celakanya, sebuah keluarga/warga lain, melawannya dengan mitos keluarganya, yang menurut babadnya juga sama tingginya atau lebih tinggi dari yang disanggahnya. Di Balipun kini terjadi “perang mitos” antar beberapa soroh. Menentang mitos dengan mitos, ini sama dengan menentang kebohongan dengan kebohongan yang lain. Ini akan semakin membuat jiwa kita terikat di dunia masa silam yang penuh ketidakpastian, sementara kenyataan hidup menuntut kita hadir di sini dan menjawab tantangan di ruang dan waktu kekini.

Umumnya orang Bali masih belum pindah dari cara pikir mitos ke cara pikir yang logic. Sedikit-sedikit, kalau ada masalah, kita biasanya berpikir dan curiga pada hukuman leluhur (salahang leluhur).

Sekali lagi: Betulkan leluhur kita begitu tega menghukum kita?

Karena kuatnya jaringan mitos-mitos yang berkembang di Bali, ini banyak mengakibatkan banyak orang Bali (kita) punya kepribadian terbelah (spit personality). Terlalu nyaman dengan peran di atas panggung, terlalu asyik memainkan mitos-mitos, hingga cenderung menghindari realitas.

Pada kenyataannya, di satu sisi Bali memang dunia pangung, dunia mitos-mitos yang hidup, “naskah-naskah drama” yang menggoda untuk dipentaskan, namun sekaligus Universitas Udayana, mall-mall, pantai Kuta dan Legian. Bali adalah campuran situs-situs purba, kisah-kisah kepahlawanan raja-raja, kearifan orang-orang suci dan para pertapa dan petualangan penyair flamboyan yang konon darahnya mengalir di tubuh kita, semuanya melenakan kita, namun Bali sekaligus realitas modern: persoalan migrasi penduduk, tata kota, munculnya kelompok miskin kota, investasi modal asing, persaingan ekonomi internasional, dunia pendidikan yang tidak beres, budaya pop yang menghimpit kearifan dan kesederhanaan para petani di pedesaan-pedesaan sana, penularan virus HIV/AIDS yang mengganas, peredaran narkoba yang merusak otak generasi muda kita, kasus-kasus tanah adapt, dan seterusnya; semuanya itu menuntut kita melek dan siap menghadapi realitas dengan gagah berani. Bukan menghindarinya dengan berlari dengan bersekutu dan berseteru “bersoroh-sorohan”.

Tarikan masa lalu ini (babad-babad dan perbedaan soroh/wangsa) akan menjadi sandungan besar manusia Bali menuju masa depan. (Munculnya pertentangan antar soroh yang sedang melanda Bali, ini sebuah tanda-tanda manusia Bali terlena dan terlempar ke masa silam; mereka terjebak di dalamnya). Kalau tarikan dan sandungan masa lalu ini semakin memenangkan, mengalahkan panggilan atau tuntutan kekinian yang minta dihadapi (bukan dipungkiri dan dihindari), maka orang Bali akan makin kalang kabut memetakan dunianya (gumi), terpinggir dan terlindas oleh zaman, kuasa modal dan logika manusia dari belahan dunia lainnya yang sudah meloncat dari dunia mitos ke dunia “logos”.

Kita dituntut untuk logic. Saya sendiri pasti langsung mencurigai diri sendiri kalau saya sudah mulai berbicara mengkait-kaitkan diri dengan tokoh-tokoh yang saya temui namanya dalam Babad-babad. Sekali waktu (mungkin?) bolehlah. Tapi, jika saya (atau siapapun Anda, tidak peduli apa kasta/wangsa/warga/soroh/dadia/kawitan/warna Anda), terus mengkait-kaitkan atau merasakan bangga diri sebagai keturunan ini atau itu, dan tak berani menghadapi kenyataan kekinian (modernitas) dan persoalan-persoalan sosial lainnya, tak berpegang pada identitas yang kita raih sendiri dalam kekinian kita, curigalah pada diri kita. Jangan-jangan kita hanya manusia yang pengecut tak berani menghadapi realitas dan bersembunyi di ketiak kemasyuran leluhur kita? Betulkah martabat dan kehormatan diturunkan secara genetik?

Dalam situasi yang selalu mengkaitkan diri, melabeli diri dan terus bermimpi akan kejayaan leluhur di masa lalu, orang Bali (kita) mirip dengan pemain teater atau drama, walaupun pementasan telah usai, kita tidak mau melepas tokoh/ karakter raja yang kita mainkan di atas panggung. []

Penulis, pengamat kebudayaan, sarjana sastra Bali.

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments