Wednesday 22nd October 2014

Home » Culture, Etnika » Nyepi

oleh COK SAWITRI

Ilustrasi: Ogoh-ogoh sebagai representasi Bhuta Kala diarak beramai-ramai keliling desa pada senja hari pangrupukan, sehari sebelum Hari Nyepi. (foto:dok.haska/JB)

TANGGAL  23 Maret nanti, Bali akan merayakan Hari Raya Nyepi. Nyepi adalah tradisi tua, kemungkinan besar ini adalah tradisi agama wali, sebab jejak-jejak tradisi ini tersebar di berbagai desa-desa tua di Bali. Kabupaten Karangasem, misalnya, memiliki beberapa desa yang berkaitan tradisi-tradisi tua yang masih dilakukan hingga kini, misalnya tradisi-tradisi ‘ngusabha’ dari ngusabha dodol, ngusabha goreng, ngusabha dong ding, ngusabha dangsil, ngusabha ambu,sambah, dan lain-lain. Yang tersebar dari desa Tenganan, Bungaya, Asak, Selat, Ababi, hingga desa-desa sekitar Pura Besakih yang mentaati tradisi Usana Besukih. Hampir dipastikan disetiap upacara yang dilakukan akan ada yang namanya nyepi. Nyepi dalam tradisi desa-desa tua ada banyak jenisnya, ada nyepi luh, ada nyepi muani, ada nyepi ke carik, ada nyepi desa, dan seterusnya  dan ada nyepi di seputar lokasi kejadian terjadinya upacara.

Tradisi nyepi berkaitan dengan religi agraris, menunjukan kaitannya dengan tradisi keyakinan akan “Sadpralingga giri” yakni enam stana gunung yang berkaitan dengan sejarah stabilnya pulau Bali, sejarah awal bagaimana beternak, bercocok tanam hingga berkaitan dengan pengelolaan lautan. Sadpralingga giri ini adalah gunung Lempuyang, Andakasa, Watukaru, Mangu/Beratan, Batur dan Tolangkir (gunung agung). Jika memperhatikan informasi yang berkaitan dengan nyepi, maka pertama yang digunakan adalah lontar jayakesunu,” ring telenging sasih Kesanga, patut mepare kerti Caru, tawur telenging sasih Kesanga, patut mepare kert Caru, tawur wastannya, sadulur panyepian awengi (Tilem kesanga ngaturang di perapatan agung) Benjangne penanggal apisan (1), sasih sasih kedasa, sedjana padane patut sinamian regan ngelaksanayang semadi mapukukuh ngeningan adnyane, mengastiti ida Sang Hyang meraga Sawetur, mateges : Seng Yogia nyewecanang urip langgeng.”

Dan ada lagi informasi yang berkaitan dengan tradisi yang meyakini akan Bhisama Hyang Pasupati, “….brata penyepian lwir sawung anggeram anda, yan tan panes awaknya tan lumekas ikang anda. Yan tan sepi ing idep, sepi ing gawe, tan malih yoganta, iki ngaran penyepian. Ingon-ingon Dewi Mas Ayu Danu kang ginseng- dening apwining giri tolangkir, mangke juga pamarisudha ning ingwang. Poma, poma,poma. Uluning bawi manadi mrana tikus, walungnya manadi walangsangit, jejeronnya manadi mrana tan pasangkan. Yan pageh samanta ratu ngamong rat, rong puluh tahun sepisan hane mrana walangsangit hana mrana tikus. Yan tan pageh tan wilangan dina mrana tan pasangkan dating. Iki rungwakna, kaki patuk nini patuk angadekan maring pasar agung. Ni Bhuta kala katung pinaka pangsranan pasar, soang karya ring besukih atakwan pwa ring pasar agung, yan prasida kabehan, ke wala jejaton wenang….” Terjemahan bebasnya,” mengenai brata penyepian bagaikan ayam mengeram telur, jika badannya tidak panas telur itu tidak akan menetas. Jika tidak mampu mengendalikan hawa nafsu serakah termasuk tidak melakukan kerja, sembahyangmu tidak akan berhasil terutama dalam melaksana penyepian. Piaraan Dewi Mas ayu danu akan dilebur oleh kobaran api gunung agung inilah sebagai pralinanya. Semoga kepala babi itu akan menjadi hama tikus, tulang belulangnya akan menjadi balangsangit, isi perutnya menjadi berbagai hama bahkan yang tak kamu kenali namanya. Jika penguasa (di Bali) tekun melaksanakan beryadnya, hama tikus, balangsangit akan terjadi dua puluh tahun sekali. Jika tidak tekun atau lupa sama sekali melaksanakan yadnya hama itu akan muncul setiap saat. Ini hendaknya benar-benar diperhatikan dan selalu memuja hyang widhi dalam manifestasinya sebagai kaki patuk dan nini patuk di pura pasar agung, jangan lupa memuja ni Bhutakala katung sebagai dewa pasar, untuk itu setiap ada upacara di Besakih hendaknya memasar ke pasar agung.dan seterusnya….”

Maka menarik kemudian jika mencoba memahami bagaimana terjadinya ketetapan-ketetapan suci di Bali, jika kutipan lontar Padma Bhuwana ini benar dan mungkin akan banyak informasi kepurbakalaan yang belum terungkap disebabkan gunung agung kerap kali meletus begitupun batur dimana lahar dan pasirnya pastilah banyak menyimpan informasi ke balik bumi. Maka jika didalami untuk mulai menyusuri sejarah tradisi yang mengagumkan ini misalnya ” Nihan katattwaning bhuwana alit, katunggalan ring katatatwaning bhuwana agung, mangkana pidartanya. Nihan mulaning pulo Bali ring usana, katama tekaning mangke mawit icaka 85, tat kalanira Sri Aji Candabhaya uamdeg ratu jumeneng sira ring tampaksiring irika anangun kahyangan ring Besukih ” Bahwa sejak 163 masehi telah ada upacara di seputar Gunung Agung dan berkaitan dengan sadpralingga ini.

Bahwa kemudian kini dikenal Nyepi Nasional, Nyepi yang serentak dilakukan di seluruh Bali merujuk dengan perhitungan kalender icaka, bahkan digunakan untuk memberi dalil mengenai penghormatan kepada Raja Kaniskha I, yang barangkali kadang agak sulit membahasnya berkaitan dengan tradisi nyepi di Bali. Jelasnya, Nyepi Nasional, nyepi sang mawa rat ini mengikuti ketentuan jayakesunu, jatuh di bulan kesanga. Dan sudah barangtentu, kalender bali yang tua, disebut palelintangan, ditulis dalam bentuk tika, yang kini hampir punah penggunaannya kecuali masih digunakan di Tenganan dan beberapa museum besar di Eropa; memberikan gambaran bahwa nyepi itu adalah tradisi tua dan menarik sekali jika ada waktu untuk bersama-sama mengkaji dan menggalinya sebab kini nyepi ternyata memberi kontribusi luar biasa kepada keselamatan bhumi, sang ibu. Karena itu, semoga tak ada lagi hotel-hotel menawarkan paket nyepi, kecuali mereka memang ingin diburu oleh berbagai hama yang tak bernama. Mari Nyepi… []

Cok Sawitri, penyair dan novelis.

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments