Contact: 082 111 855 287
Lesbian dalam Cerpen Anak dan Kekasih PagiBahwa Ibu tak selalu memahami anaknya. Maka, ketika Cinta comes out lesbian, Sang Ibu merasa bersalah, tak peka. Andai tahu lebih awal, ia hendak memberi terbaik. Lalu penerimaan serupa tebusan,”Cinta, Mama dan Papa sudah memikirkan tentang apa pun nantinya pilihanmu, sejak kamu dalam kandungan. Setiap orang tua selalu punya harapan sekaligus kecemasan pada anaknya. Tapi Mama dan Papa menyadari, setiap anak adalah jiwa merdeka, yang mesti kami hormati. Apa pun pilihanmu, Cinta, kami akan selalu mencintaimu.” (Cerpen Anak, hal. 30)
Dua cerpen tersebut menjadi fokus perbincangan peserta yang mayoritas gay dan lesbian. Dede Oetomo menanggapi,”Cerita queer terus bergerak dari pinggir ke mainstream. Ibu yang justru merasa bersalah tidak tanggap anaknya lesbian, percintaan di dapur, dan lain-lain dalam Perempuan Kopi. Bisa dibilang, cerita-cerita seperti ini sangat subversif.”
Bukan kebetulan bila 13 cerpen dalam buku ini mengangkat pergulatan perempuan disertai unsur manis-getir kopi. Dewi Nova merekam peristiwa perjalanan bekerja dengan organisasi kemanusiaan di desa dan kota pulau Jawa, NTT, Bangkok, Mae Sot—perbatasan Thailand dan Burma—, café di Kharghar, Mumbay. Lalu mendedahkan dalam cerpen tentang yang diharap, sebagai perempuan kepada lelaki yang kekasih, sebagai buruh kepada perusahaan, sebagai petani kepada negara, sebagai umat kepada lembaga agama, sebagai warga terhadap negara. Dengan harapan hidup bersama saling memanusiakan.
















