Wednesday 30th July 2014

Home » Bali, Events » Pameran Seni Rupa ”LOCAL KNOWLEDGE”, REPOSISI BAHASA RUPA TRADISI BALI # 2

25 September-4 Oktober 2011
Pameran Seni Rupa
”LOCAL KNOWLEDGE”, REPOSISI BAHASA RUPA TRADISI BALI # 2
Pembukaan: Sabtu, 24 September 2011, pukul 19.00 Wita
Bentara Budaya Bali
Jalan Prof Ida Bagus Mantra No 88 A, By Pass Ketewel
Gianyar, Bali
*
Pameran ini melibatkan seniman-seniman yang berproses secara otodidak. Mereka beranjak dari bahasa rupa tradisi, sedari kecil belajar mengukir atau belajar membuat patung, menggambar wayang secara nyantrik dari pendahulu mereka. Namun mereka tidak berhenti hanya mengulang-ulang tradisi seni rupa yang diwarisi secara kolektif. Pengetahuan dasar berupa kecakapan teknik dan ditambah nilai-nilai filosofi yang berasal dari pengalaman kultural Hindu Bali, menjadi bekal mereka dalam mengembangkan bahasa rupa yang lebih menampilkan ekspresi pribadi. Kreativitas yang mereka jalani berdasarkan pada pengembangkan kemampuan pengornasisasian skill untuk mengolah material, dalam istilah neurosisnya disebut sebagai memori motorik. Kecenderungan tersebut berbeda dengan pengetahuan yang berbasis kognitif, terbukti lebih menitik beratkan pada penemuan teori-teori.
Pergulatan dan pergumul panjang dengan hal-hal teknis serta berbagai material menjadikan mereka memiliki segudang pengalaman sehingga menghasilkan penghayatan yang mendalam perihal olah material sebagai medium ekspresi seni. Para seniman yang hadir dalam pameran ini menunjukkan bahwa kreativitas otodidak ternyata mampu melampaui ketaksadaran kolektif dalam rutinitas seni tradisi. Dengan sadar mereka melakukan inovasi-inovasi dari bahasa rupa yang dijalani dalam ranah kolektif. Proses kreativitas yang mereka jalani mengingatkan pada seniman-seniman Renaisans seperti Leonardo da Vinci dan Michel Angelo yang juga belajar secara otodidak dengan daya kreativitas dan keberaniannya menembus batas-batas etik seni rupa seperti mempelajari anatomi dengan membedah tubuh manusia. Bahkan Leonardo menyumbangkan ilmu anatomi manusia tidak saja untuk seni rupa tapi juga dalam keilmuan medis. Mereka adalah para adventure seni rupa dengan terobosan-terobosan yang visoner. Pameran ini dikuratori oleh I Wayan Seriyoga Parta, melibatkan Ketut Muja (Patung), IB Alit (Patung dan Lukis), Made Sukanta Wahyu (Patung), I Made Sama (Patung), I Nyoman Mandra (Lukis), Ida Bagus Putu Gede Sutama (Patung), Dewa Putu Kantor (Lukis), I Wayan Sadha (Karikatur), I Ketut Santosa (Lukis Kaca Naga Sepaha), Dewa Ngurah (gambar Prasi Sidemen).

25 September-4 Oktober 2011Pameran Seni Rupa ”LOCAL KNOWLEDGE”, REPOSISI BAHASA RUPA TRADISI BALI # 2Pembukaan: Sabtu, 24 September 2011, pukul 19.00 WitaBentara Budaya BaliJalan Prof Ida Bagus Mantra No 88 A, By Pass KetewelGianyar, Bali

Pameran ini melibatkan seniman-seniman yang berproses secara otodidak. Mereka beranjak dari bahasa rupa tradisi, sedari kecil belajar mengukir atau belajar membuat patung, menggambar wayang secara nyantrik dari pendahulu mereka. Namun mereka tidak berhenti hanya mengulang-ulang tradisi seni rupa yang diwarisi secara kolektif. Pengetahuan dasar berupa kecakapan teknik dan ditambah nilai-nilai filosofi yang berasal dari pengalaman kultural Hindu Bali, menjadi bekal mereka dalam mengembangkan bahasa rupa yang lebih menampilkan ekspresi pribadi. Kreativitas yang mereka jalani berdasarkan pada pengembangkan kemampuan pengornasisasian skill untuk mengolah material, dalam istilah neurosisnya disebut sebagai memori motorik. Kecenderungan tersebut berbeda dengan pengetahuan yang berbasis kognitif, terbukti lebih menitik beratkan pada penemuan teori-teori.
Pergulatan dan pergumul panjang dengan hal-hal teknis serta berbagai material menjadikan mereka memiliki segudang pengalaman sehingga menghasilkan penghayatan yang mendalam perihal olah material sebagai medium ekspresi seni. Para seniman yang hadir dalam pameran ini menunjukkan bahwa kreativitas otodidak ternyata mampu melampaui ketaksadaran kolektif dalam rutinitas seni tradisi. Dengan sadar mereka melakukan inovasi-inovasi dari bahasa rupa yang dijalani dalam ranah kolektif. Proses kreativitas yang mereka jalani mengingatkan pada seniman-seniman Renaisans seperti Leonardo da Vinci dan Michel Angelo yang juga belajar secara otodidak dengan daya kreativitas dan keberaniannya menembus batas-batas etik seni rupa seperti mempelajari anatomi dengan membedah tubuh manusia. Bahkan Leonardo menyumbangkan ilmu anatomi manusia tidak saja untuk seni rupa tapi juga dalam keilmuan medis. Mereka adalah para adventure seni rupa dengan terobosan-terobosan yang visoner. Pameran ini dikuratori oleh I Wayan Seriyoga Parta, melibatkan Ketut Muja (Patung), IB Alit (Patung dan Lukis), Made Sukanta Wahyu (Patung), I Made Sama (Patung), I Nyoman Mandra (Lukis), Ida Bagus Putu Gede Sutama (Patung), Dewa Putu Kantor (Lukis), I Wayan Sadha (Karikatur), I Ketut Santosa (Lukis Kaca Naga Sepaha), Dewa Ngurah (gambar Prasi Sidemen).

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2011 Journal Bali · Subscribe:PostsComments