<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Journal Bali</title>
	<atom:link href="http://www.journalbali.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.journalbali.com</link>
	<description>Journal Bali</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 07:38:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bentara menggelar diskusi buku biografi ibunda Soekarno</title>
		<link>http://www.journalbali.com/news_1/bentara-menggelar-diskusi-buku-biografi-ibunda-soekarno.html</link>
		<comments>http://www.journalbali.com/news_1/bentara-menggelar-diskusi-buku-biografi-ibunda-soekarno.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 07:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.journalbali.com/?p=15397</guid>
		<description><![CDATA[
JournalBali.com, GIANYAR - Hari Kebangkitan Nasional merupakan salah satu momentum retrospeksi atas sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Memaknai hal tersebut, Bentara Budaya Bali bekerjasama dengan Akademi Kebangsaan menggelar diskusi bertajuk Pustaka Bentara : Menimbang Buku “Ibu Bangsa”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Minggu, 20 Mei 2012 pukul 10.00 Wita mendatang, bertempat di Jalan Prof. Ida Bagus Mantra ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><strong><em><img class="alignleft size-medium wp-image-15398" title="cover buku Ida Ayu Nyoman Rai Ibu Bangsa" src="http://www.journalbali.com/wp-content/uploads/2012/05/cover-buku-Ida-Ayu-Nyoman-Rai-Ibu-Bangsa-170x250.jpg" alt="" width="170" height="250" />JournalBali.com</em>, GIANYAR </strong>- Hari Kebangkitan Nasional merupakan salah satu momentum retrospeksi atas sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Memaknai hal tersebut, Bentara Budaya Bali bekerjasama dengan Akademi Kebangsaan menggelar diskusi bertajuk Pustaka Bentara : Menimbang Buku “Ibu Bangsa”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Minggu, 20 Mei 2012 pukul 10.00 Wita mendatang, bertempat di Jalan Prof. Ida Bagus Mantra Nomor 88 A, Ketewel, Gianyar.</p>
<div>Diskusi tersebut akan mengulas berbagai hal terkait hadirnya buku “Ida Ayu Nyoman Rai: Ibu Bangsa” yang ditulis oleh Guru Besar berbagai universitas di Indonesia, di antaranya Prof. Dr. A.A. Putra Agung, Prof. Dr. A. Fatchan, Prof. Dr. Aminudin Kasdi, Prof.Dr. Fabiola, Prof.Dr. Jacob Sumardjo, Dr. Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, Prof. Dr. Roesminingsih, serta Prof. Dr. Tadjoer Rizal Baiduri.</div>
<p>“Melalui kehadiran buku ini, semoga kita bisa kian memaknai keberadaan Ida Ayu Nyoman Rai, sebagai sosok Ibunda Soekarno, salah satu yang memiliki andil besar dalam proses pembentukan karakter serta pemikiran sang proklamator. Tentulah hal ini patut untuk kita apresiasi bersama” tutur Dr. Nurinwa Ki. S. Hendrowinoto, salah satu penulis buku yang juga perintis Akademi Kebangsaan Jakarta.</p>
<p>Sebagai pembicara, akan hadir Prof. Dr. Fabiola serta Prof. Dr. Roesminingsih yang akan memaparkan hasil-hasil kajian atas figur Ida Ayu Nyoman Rai, baik dari sisi genealogi historis, catatan-catatan biografis maupun perannya sebagai sosok Ibu dari Ir. Soekarno, yang berpengaruh besar terhadap rekahnya gagasan kebangsaan Presiden Indonesia pertama ini berikut tahapan-tahapan pertumbuhan pribadinya. Masing-masing penulis juga mencoba mengungkap data-data sejarah perihal kiprah Ida Ayu Nyoman Rai atau yang juga dikenal Nyoman Rai Srimben selama bermukim di berbagai wilayah di pulau Jawa sehubungan dengan perannya menyertai sang suami, R. Soekeni Sosrodihardjo, yang kala itu bekerja sebagai pengajar di sekolah Belanda.</p>
<div>“Selain peluncuran buku, kegiatan ini akan dimaknai pula dengan dialog bersama para penulisnya, Prof. Fabiola serta Prof. Roesminingsih guna mengulas lebih jauh perihal fakta-fakta sejarah di balik sosok Ida Ayu Nyoman Rai,” ujar Bapak Barata, Ketua Panitia Acara.</div>
<div>Prof. Dr. Fabiola Dharmawanti Kurnia M.Pd lahir di Surabaya, 26 September 1945, menempuh studi S3 di Universitas Indonesia jurusan Sastra Inggris, kini sebagai Guru Besar Universitas Negeri Surabaya. Aktif menulis artikel, esai dan resensi buku yang telah diterbitkan di berbagai media.</div>
<p>Prof.  Dr. Maria Veronica Roesminingsih lahir di Cepu, 15 Januari 1954, merupakan guru besar dan pakar pendidikan Universitas Negeri Surabaya . Mengambil studi S3 di jurusan Ilmu Sosial, Universitas Airlangga. Pernah menjabat Ketua Pusat Jaminan Mutu Unesa, dan baru-baru ini dikukuhkan sebagai Ketua Badan Akreaditasi Sekolah/Madrasah Provinsi Jawa Timur. Kedua narasumber ini telah menerbitkan sejumlah buku dan kerap diundang sebagai narasumber pertemuan-pertemuan nasional ataupun internasional.</p>
<div>“Kegiatan yang merupakan kerjasama antara Akademi Kebangsaan dan Bentara Budaya  Bali ini sekiranya dapat memperdalam pemahaman kita tentang Ir. Soekarno sebagai salah satu tokoh pelopor Kebangkitan Nasional, baik dari sisi pribadi maupun latar belakang beliau dalam mencetuskan gagasan ke-Indonesia-an, yang kemudian menjadi prinsip awal pembangunan negeri ini”, ujar Juwitta Katriana, staf budaya BBB. <strong>(Frischa/JB)</strong></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.journalbali.com/news_1/bentara-menggelar-diskusi-buku-biografi-ibunda-soekarno.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gambara Photo Award merekam realitas masyarakat yang sesungguhnya</title>
		<link>http://www.journalbali.com/news_1/gambara-photo-award-merekam-realitas-masyarakat-yang-sesungguhnya.html</link>
		<comments>http://www.journalbali.com/news_1/gambara-photo-award-merekam-realitas-masyarakat-yang-sesungguhnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 07:19:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.journalbali.com/?p=15394</guid>
		<description><![CDATA[
JournalBali, DENPASAR &#8211; Saatnya dokumentasi fotografi dapat merekam realitas sosial yang sesungguhnya. Melalui  dokumentasi fotografi selain kita mengeksplor sebuah daerah, juga dapat menjadi rekomendasi yang mendorong pembangunan masyarakat di daerah untuk hidup lebih baik. Demikian butir pemikiran Gambara Photo Award Flores Bangkit 2012, yang disampaikan Program Director Gambara, Trisakti Simorangkir bersama kurator Gambara, Riza Marlon, ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><strong><em>JournalBali</em>, DENPASAR</strong> &#8211; Saatnya dokumentasi fotografi dapat merekam realitas sosial yang sesungguhnya. Melalui  dokumentasi fotografi selain kita mengeksplor sebuah daerah, juga dapat menjadi rekomendasi yang mendorong pembangunan masyarakat di daerah untuk hidup lebih baik. Demikian butir pemikiran Gambara Photo Award Flores Bangkit 2012, yang disampaikan Program Director Gambara, Trisakti Simorangkir bersama kurator Gambara, Riza Marlon, Arbain Rambey dan Nyoman Bayu Yudianala pada konfrensi pers di Veranda Cafe, Denpasar, Jumat (18/5) kemarin.</div>
<p>&#8220;Dari Bali kita ingin mengetuk kesadaran masyarakat untuk memperhatikan daerah Indonesia bagian timur khususnya Flores,&#8221; ujar Trisakti yang juga Pemimpin Umum Majalah Warisan Indonesia. Disamping itu, Bali merupakan titik tolak yang penting bagi publikasi program Gambara untuk masyarakat internasional.</p>
<div>Gambara merupakan komunitas budaya visual yang turut berupaya mendorong tumbuhnya kehidupan Indonesia yang lebih baik. Komunitas ini awalnya membuat program Gambara Nias Bangkit 2010 yang kegiatannya menggelar kompetisi foto yang merekam keseharian masyarakat Nias. &#8220;Program ini berhasil mengubah Pulau Nias lebih baik. Awalnya kita melihat Pulau Nias seperti melihat Indonesia tahun 1970-an, setelah  program Gambara Nias Bangkit 2010 ada perbaikan pembangunan yang nyata di Nias. Disamping itu lahir komunitas fotografi, Nias Fotografi Club, yang meneruskan program mendokumentasikan Pulau Nias,&#8221; tutur Trisakti.</div>
<p>Gambara memiliki komitmen dalam  merekatkan interaksi lintas sektor guna menciptakan kreativitas dan terobosan baru dalam pengembangan budaya visual yang inovatif serta mampu memberikan manfaat seluas-luasnya bagi khalayak umum. Tahun 2012 Gambara  memilih Pulau Flores untuk diangkat dengan maksud untuk mengeksplorasi kekuatan foto sekaligus menciptakan kesadaran tentang realitas sosial masyarakat di Pulau Flores yang multikultur.</p>
<p>Flores, masih menurut Trisakti,  adalah perlintasan dan pertemuan beragam budaya. Kami telah melakukan survei di beberapa spot, yang menunjukan Flores adalah <em>melting pot</em>, mempunyai beragam bahasa, adat dan kekayaan alam. Gambara bekerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat setempat melakukan survei di 20 daerah yang akan diekplor 20 finalis pilihan sepuluh kurator Gambara Photo Award Flores Bangkit 2012: Oscar Motuloh, Riza Marlon, Arbain Rambey, Makarios Soekojo, Tirto Handayanto, Frederick Lim Chung Wei, Ray Sugiharto, Moses Agustian, Nyoman Bayu Yudianala, dan Hardy Mendrofa.</p>
<div>Menurut kurator Riza Marlon melalui program Gambara Flores Bangkit 2012 merupakan momen yang tepat untuk menggedor kesadaran  para fotografer Indonesia untuk mengeksplor dan mendokumentasikan daerah-daerah di Indonesia. &#8220;Pada era fotografi digital sekarang ini, setiap orang dimudahkan untuk memotret. Saya harap fotografer Indonesia menggunakan kesempatan ini untuk melakukan pendokumentasian. Kalau kesempatan ini dulu dilakukan oleh fotografer asing karena mereka mempunyai peralatan, sekarang ini kita pun bisa mengerjakan. Masak kita kalah sama fotografer bule, kita yang lebih tahu setiap sudut di Indonesia,&#8221; ujar Riza selaku Wakil Ketua Dewan Kurator Gambara.</div>
<p>Sedangkan Arbain Rambey berpendapat bahwa program Gambara Photo Award merupakan bentuk penyempurnaan dari program kompetisi fotografi pada 2010 sebelumnya. Proses seleksi dilaksanakan sangat ketat hingga terpilih  20 finalis Duta Gambara yang akan ditugaskan untuk melakukan <em>hunting trip</em> ke lokasi-lokasi yang telah ditentukan di Pulau Flores. Program ini, menurut Rambey, tidak sekadar menghasilkan foto yang indah, namun menyasar pada karya foto yang berbicara layaknya  foto jurnalistik. Para finalis nanti diwajibkan membuat lima kategori esai foto tentang <em>landscape</em>, arsitektur, <em>human interest</em>, budaya, dan <em>people</em>. Sebelum tinggal bersama masyarat di 20 daerah di Pulau Flores, para finalis mendapat pembekalan pengetahuan budaya masyarakat lokal. &#8220;Para finalis juga akan diangkat sebagai warga melalui upacara adat,&#8221; imbuh Tri Sakti.</p>
<div>Bagi kurator Nyoman Bayu Yudianala program ini merupakan salah satu bentuk dari merekam sejarah lokal pada zamannya. Kesadaran untuk merekam sejarah ini belum optimal diwujudkan para fotografer. Bangunan arsitektur yang sekarang ada, belum tentu tetap berdiri pada tahun berikutnya. &#8220;Fotografi dapat merekam realitas secara otentik,&#8221; ujarnya. <strong>(Heha/JB)</strong></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.journalbali.com/news_1/gambara-photo-award-merekam-realitas-masyarakat-yang-sesungguhnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaum subaltern Bali</title>
		<link>http://www.journalbali.com/culture/kaum-subaltern-bali.html</link>
		<comments>http://www.journalbali.com/culture/kaum-subaltern-bali.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 06:54:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.journalbali.com/?p=15328</guid>
		<description><![CDATA[
oleh I NGURAH SURYAWAN
I Wayan Tapa, seorang lelaki setengah baya, di sebuah desa utara Pulau Bali sungguh terpukul. Bergetar dan pilu ia menyaksikan mayat ayahnya, lelaki renta yang dekat di hatinya, terbaring di jalan empat tahun lalu pada suatu hari di pertengahan bulan Agustus 2008. Sementara ratusan masyarakat, yang tidak lain adalah krama (warga), saudaranya ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><strong>oleh I NGURAH SURYAWAN</strong></div>
<p>I Wayan Tapa, seorang lelaki setengah baya, di sebuah desa utara Pulau Bali sungguh terpukul. Bergetar dan pilu ia menyaksikan mayat ayahnya, lelaki renta yang dekat di hatinya, terbaring di jalan empat tahun lalu pada suatu hari di pertengahan bulan Agustus 2008. Sementara ratusan masyarakat, yang tidak lain adalah krama (warga), saudaranya sendiri, berteriak penuh caci maki menghujat ayahnya. Kerumunan warga tersebut “menghukum” ayah Wayan Tapa karena dianggap egois, tidak ikut menunaikan kewajiban menjadi krama desa pakraman, tanah tempat kelahirannya sendiri. Ia biasa mendongkel keputusan rapat desa, melakukan aksi perlawanan terhadap keputusan tersebut dengan membangkang dan memilih jalan “lain” dari suara mayoritas.</p>
<div>Di ujung akhir hayatnya, saat menuju pembakaran mayat ke kuburan, ayah Wayan Tapa menerima hukuman dari perbuatannya. Setelah sekian lama kasepekang (dikucilkan, dimusuhi) oleh krama desa, ayah Wayan Tapa yang telah tiada dan juga keluarganya harus menerima hukuman. Wayan Tapa tertunduk pasrah, “Masak orang yang sudah jadi mayat harus dihukum, diperlakukan seperti ini. Sama sekali tidak ada toleransi. Sungguh tidak manusiawi,” ungkapnya.</div>
<p>Jika Tapa hatinya luluh lantak melihat ayahnya “dihukum” oleh krama satu desanya dengan membiarkan jasadnya tergelatk di jalan, cara “menghukum” warga yang dianggap membangkang lainnya adalah dengan jalan kekerasan. Kejadian ini juga dialami oleh Nyoman Katur di sebuah desa ujung timur Bali. Akibat ketegangan perebutan tapal batas wilayah dan tanah pelaba pura, ditambah sentimen pribadi akibat persaingan politik, rumah sederhana Katur menjadai sasaran massa yang tidak lain adalah tetangga dan saudaranaya sendiri. Aksi beringas massa dengan berteriak histeris melempari rumahnya dari setiap sisi. Nyoman Katur mendengar sendiri teriakan suara orang-orang desa yang dikenalnya untuk menghancurkan rumahnya. “Benyahin, benyahin…!” (hancurkan, hancurkan…!).</p>
<div>Sepenggal kisah Tapa dan juga Katur setidaknya menunjukkan bagaimana tali temali dan wacana tentang kebudayaan di Bali tidak bisa dilepaskan dari jalinan kekerasan yang menyertainya. Namun dalam bayangan konstruksi akan Bali, kebudayaan dianggap lepas dari kekerasan yang menyertainya. Tipu muslihat rezim otoritarian Orde Baru dengan politik sensor-nya semakin menempatkan Bali hanya menjadi wilayah yang luput dari infeksi virus kekerasan. Oleh konstruksi para pengamat orientalis dan romantik, Bali adalah rangkaian pulau sorga yang menyuguhkan pentas-pentas kebudayaan yang adiluhung dengan ekspresi tari dan tetabuhan (gamelan) Bali dan pentas ritual kolektif yang emosional. Namun, bagi masyarakat Bali sendiri, kebudayaan adalah sebuah representasi dari berbagai macam penetrasi-penetrasi sejarah, politik, dan sosial ekonomi yang dialaminya dan kemudian menghasilkan sebuah pandangan akan kebudayaan bagi mereka yang kemudian dipraksiskan dalam kehidupan sehari-hari.</div>
<p>Di dalam kompleksitas wacana representasi (baca: kuasa) atas Bali itulah terselip kisah-kisah seperti Tapa dan Katur di atas. Kisah-kisah seperti mereka tentu jauh dari bayangan akan “masa depan Bali” yang diperbincangkan oleh para pengamat, impian program pemberdayaan masyarakat oleh pemerintah daerah, bahkan bisa meracuni industri pariwisata dengan jualan keeksotikan dan harmonisasi di Bali. Tapi, kisah-kisah mereka, dan mungkin berbagai kisah berada di tepi representasi kita umumnya tentang Bali.</p>
<div>Tapa dan Katur sering dianggap sebagai kaum subaltern yaitu mereka yang bukan elite dan kaum yang tidak bisa bicara karena tidak diberinya bahkan konstruksi &#8220;subyek&#8221; dalam wacana kolonialisme. Kaum subaltern juga adalah mereka yang selalu dalam posisi direpresentasikan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, seperti politisi, birokrat, ilmuwan sosial, dan aktivis kemasyarakatan. Mereka tidak pernah bisa merepresentasikan dirinya karena kurang memiliki akses bicara di arena publik. Kaum subaltern adalah kelompok yang selama ini selalu dalam posisi tidak berdaya (disempowered), tidak pernah bisa berbicara di media publik (disenfranchised), dan bersifat marjinal.</div>
<p>Historiografi berupa sejarah hidup dan pergolakan hidup kaum subaltern penting untuk dikedepankan dalam konteks untuk penulisan sejarahnya sendiri, khususnya dalam soal kemerdekaan bicara. Serta historiografi yang menyubyekkan mereka sebagai penulis, pembuat sejarahnya sendiri, bukan sejarah kolonial yang sarat dengan ideologi yang membenarkan penaklukan dan kepentingan elite kolonial penguasa. Didalamnya akan terkandung berbagai relasi-relasi yang bisa menunjukkan apa saja yang membuat bisu dan diamnya kaum yang dikalahkan ini, kaum subaltern. Disamping itu akan juga ditemukan berbagai lapis-lapis dan kompleksitas di internal kaum subaltern tersebut. Jangan membayangkan mereka adalah kaum tunggal tanpa dinamika dan fragmentasi. Di kalangan paria juga terdapat brahmana.</p>
<div>Bagaimana memposisikan kaum subaltern Bali dalam perbincangan tentang politik kebudayaan Bali kini?  Kaum subaltern Bali—meski meski banyak ruang kita perdebatkan istilah dan konteks istilah ini—adalh duri dalam daging dalam konstruksi kebudayaan Bali. Namun, dengan menghadirkannya dalam konteks wacana politik kebudayaan Bali menjadikan kebudayaan Bali tidak hanya seputar persoalan kesenian, pariwisata, ritual, dan cerita menyejukkan tentang Bali. Di sisi lain kebudayaan Bali, terdapat perjuangan manusia Bali yang berada di pinggiran wacana kebudayaan dominan yang selalu berjuang untuk dirinya, kehidupan, dan harga dirinya.</div>
<p>Wacana tentang Bali tidaklah selalu harmonis seperti yang dikonstruksi oleh rezim kolonial yang dilanjutkan oleh kalangan orientalis Indonesia bahkan orang Bali sendiri dalam melihat kebudayaannya. Bali juga kini tidak homogen seperti sebelumnya dan sudah tentu tidak statis. Bali dari dulu seperti ungkapan Santikarma (2003:34) tempat bertandingnya berbagai penafsiran dan berbagai cara untuk menjadi orang Bali. Bali adalah sebuah mosaik yang senantiasa berubah bentuk sesuai dengan ide-ide dari luar dirinya. Dan Bali juga tidak hanya berhenti pada garis perbatasan pulaunya, melainkan terus berlanjut mencakupi orang Bali diaspora di Jakarta, Belanda, Australia dan di belahan dunia lainnya. Bali juga adalah rumah bagi kaum minoritas Muslim, Kristen, dan Budha yang menyebut diri mereka sebagai orang Bali meski tidak memeluk agama Hindu Bali.[]</p>
<div><strong>I Ngurah Suryawan</strong>, <em>Research Fellow di Faculty of Humanities Universiteit Leiden. Penulis buku Sisi Dibalik Bali: Politik Identittas, Kekerasan, dan Interkoneksi Global (Denpasar: Udayana University Press, 2012).</em></div>
<div>Tulisan ini pertama terbit di Harian Bali Tribune, 9 Mei 2012. Dimuat ulang di sini untuk tujuan Pendidikan dan Pencerahan.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.journalbali.com/culture/kaum-subaltern-bali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memetik bulan di musim liburan</title>
		<link>http://www.journalbali.com/film/memetik-bulan-di-musim-liburan.html</link>
		<comments>http://www.journalbali.com/film/memetik-bulan-di-musim-liburan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 06:29:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.journalbali.com/?p=15320</guid>
		<description><![CDATA[
oleh KURNIA EFFENDI
Prelude:
Dulu sekali, di masa kanak-kanak,  aku mengira bahwa jumlah lagu di dunia ini tidak akan pernah bertambah. Dan mereka diciptakan oleh semacam tuhan. Tetapi, mengapa Koes Plus hampir setiap tahun menerbitkan album baru (dengan sebutan volume)? Lalu di televisi hitam putih (berarti di awal tahun tujuh puluhan ya…) ada acara lagu yang salah ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><strong>oleh KURNIA EFFENDI</strong></div>
<p><em><img class="alignleft size-medium wp-image-15321" title="bulan.Ajpg" src="http://www.journalbali.com/wp-content/uploads/2012/05/bulan.Ajpg_-374x250.jpg" alt="" width="374" height="250" />Prelude</em>:</p>
<div>Dulu sekali, di masa kanak-kanak,  aku mengira bahwa jumlah lagu di dunia ini tidak akan pernah bertambah. Dan mereka diciptakan oleh semacam tuhan. Tetapi, mengapa Koes Plus hampir setiap tahun menerbitkan album baru (dengan sebutan volume)? Lalu di televisi hitam putih (berarti di awal tahun tujuh puluhan ya…) ada acara lagu yang salah satunya melibatkan Ibu Soed sebagai komponis atau pencipta lagu. Lho… tujuh notasi dengan dua atau tiga oktaf itu masih bisa dibikin lagu-lagu baru to? Dan para pencipta itu terasa begitu hebat mengolah materi yang sederhana: tinggi rendah nada, lambat cepat irama, lekuk perpindahan, dan lirik yang indah untuk pikiran kami yang masih belum dewasa….</div>
<p>Dari segelintir pencipta lagu anak di masa itu, tersebutlah AT Mahmud, teman SMP Emil Salim (tokoh bersahaja mantan Menteri Lingkungan Hidup dalam beberapa periode). Konon telah tercipta sekitar 500 lagu anak dari “tangan-pikiran seni”-nya. Hanya seorang yang sensitif terhadap jiwa bernyanyi anak-anak yang mampu menggubah ratusan lagu dengan mempertimbangkan moral, pendidikan, dan fantasi puitik, serta teknik pencapaian para pelantun lagu yang masih belia. Seniman sejawatnya, Ibu Soed bahkan menambah karyanya dengan lagu-lagu yang bernapaskan patriotisme, penggugah semangat kebangsaan, dan cinta negeri.</p>
<div>“Ambilkan Bulan, Bu”  adalah salah sebuah karya lagu AT Mahmud yang bernada melankolia, ‘merasuk sukma’ (meminjam istilah yang kerap digunakan Goeroeh Soekarnoputra). Tembang yang diciptakan belakangan (dibanding dengan misalnya “Pelangi” di tahun 1966, atau “Amelia” yang meminjam nama putri Pak Emil Salim, serta yang lainnya), itu kini dipetik menjadi judul film produksi ke-8 Mizan Productions. Ambilkan Bulan, demikian judul film yang ditempatkan pada genre ‘fantasi musikal’ dengan sutradara Ifa Isfansyah (peraih Piala Citra sutradara terbaik dengan film terbaik Sang Penari, versi FFI 2011). Kukira, melalui perjalanan sebagai perawi film, Mizan Productions telah memperoleh trade mark pembuat tontonan edukatif dengan tetap istiqomah di jalur karya sinema yang boleh disaksikan oleh semua usia. Sejak Laskar Pelangi (2009) sampai Ambilkan Bulan (2012), 8 film sepanjang 4 tahun, dengan tema-tema inspiratif. Dan yang terakhir, sebuah film cerita musikal dengan bumbu fantasi, yang mengusung 10 lagu karya AT Mahmud memang didedikasikan kepada mendiang pencipta lagu anak-anak itu.</div>
<p><em><img class="alignright size-full wp-image-15322" title="bulan1.A" src="http://www.journalbali.com/wp-content/uploads/2012/05/bulan1.A.jpg" alt="" width="314" height="208" />Interlude</em>:</p>
<div>Lalu pada sebuah pagi yang cerah aku telah berada di dalam bioskop yang gelap di Pejaten Village, memenuhi undangan Mizan Productions untuk menyaksikan preview karya terbarunya. Ambilkan Bulan. Aku harus menghilangkan beban usia, melebur dalam kecintaan jiwa anak-anak, sembari teringat ucapan penyair Sapardi Djoko Damono yang ingin menjadi kanak-kanak abadi. Dari sikap itu, kukira aku akan ikhlas menerima apa pun yang terjadi di layar nanti senaif apa pun.</div>
<p>Film dibuka dengan kegiatan pagi Amelia menjelang berangkat sekolah: menyempatkan berkomunikasi dengan Ambar, sahabatnya di facebook. Ah, aku langsung melihat kasunyatan hari ini, dunia modern yang realis. Kontekstual. Artinya, aku tidak akan dibawa ke masa lalu ketika dongeng menjadi medium pembelajaran anak-anak. Lalu, sebagai penggemar wajah rupawan, aku langsung terpikat pada paras Astri Nurdin (sebagaimana kesengsemnya aku pada Laura Basuki di 3 Hati…, Ririn Ekowati di Rindu Purnama,  dan Revalina S. Temat di Mestakung). Beruntung aktingnya bagus (barangkali memang tidak mengandung tantangan—bahkan luput ditunjukkan bagaimana perasaannya saat sang suami, ayah Amelia, meninggal akibat kecelakaan). Peristiwa awal, sampai Amelia menjadi yatim diringkas dalam bentuk animasi.</p>
<div>Ketika muncul kupu-kupu, awan-gemawan yang mengapungkan desa Sentanu di langit, kamar Amelia berubah taman sebagai tempat berkomunikasi dengan sang ayah, dan di tengah cerita berangsur ranjang Amelia berada di kebun bunga, di antaranya melalui medium lukisan karya ayahnya… aku mengerti kenapa film ini disebut fantasi musikal. Dalam kenyataan tentu tak mungkin sekian orang termasuk satpam menari gembira saat pakde Amelia datang dari Karanganyar menjemput sang keponakan yang ingin liburan di rumah sepupunya.</div>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-15324" title="bulan2.A" src="http://www.journalbali.com/wp-content/uploads/2012/05/bulan2.A1.jpg" alt="" width="314" height="209" />Percakapan dibangun secara wajar, hubungan antara ibu karier yang sibuk dengan putrinya yang berhasrat menengok hutan di Solo. Perbedaan budaya yang memungkinkan sang ibu enggan berakrab dengan suasana rumah mertua di desa. Semua dijalin dengan khazanah pengetahuan anak-anak, berhias lagu-lagu tematik karya AT Mahmud. Sebagaimana cerita dalam serial Lima Sekawan karya Enid Blyton, anak-anak harus dipikat dengan petualangan, teka-teki atau misteri, pengalaman baru atas rasa ingin tahu, dan kenyataan bahwa ada ikatan batin dengan orang-orang terdekat. Konflik berlangsung saat Amelia memaksa ke hutan yang pernah dipamerkan oleh Ambar melalui foto di facebook, namun ternyata Ambar sendiri belum pernah masuk ke dalamnya. Di sana… ada Mbah Gondrong! Mereka pun tersesat di hutan Sentanu.</p>
<div>Aku tak bisa menghindar dari tawa saat menyaksikan keluguan dan kelucuan si Kuncung, teman Amelia si gembala kambing yang ceplas-ceplos dengan nada medhok Jawa. Tetapi, sebagaimana yang kutunggu, aku pun terharu saat Lana Nitibaskara, eh Amelia menyanyikan lagu “Ambilkan Bulan, Bu”. Sudah kubilang, senandung itu melankolik, maka sungguh tepat dibawakan oleh Amelia ketika ia sedang dirundung cemas dan rindu kepada ibunya nun jauh di Denpasar. Mudah-mudahan saat adegan salat memang kebetulan Amelia dan teman-teman yang tersesat di hutan itu berada di akhir waktu dan ibu Amelia menjalankan di awal waktu, sehingga tampak bersamaan padahal berbeda 1 jam. Hal lain yang agak terabaikan adalah jarak Denpasar-Solo dengan penyeberangan Gilimanuk-Ketapang yang ditempuh lebih singkat dari kenyataannya.</div>
<p>Agus Kuncoro memerankan ayah Amelia, pelukis yang mati muda, mendapat porsi sedikit. Marwoto, si pelawak tidak dieksplorasi komikalnya sebagai penjahat. Landung Simatupang cukup berkarakter, tetapi perannya formal. Latar pandang film ini cukup berimbang: antara kota besar dengan lingkungan apartemen plus dunia kerja yang serbagegas dan suasana pedesaan dengan sosialisasi anak-anak yang karib ceria. Semua itu saling berpadu dalam kancah cerita anak-anak, logika berhias fantasi, serta penyederhanaan kasus penebangan pohon di hutan. Di luar semua itu, memang kuakui suara Lana Nitibaskara sebagai Amelia luar biasa. Pesan sang produser kepada penonton untuk kembali mencintai lagu anak-anak memang patut didukung. Aku tidak sedang mengagungkan masa lalu, tetapi sesungguhnya jiwa kanak-kanak yang pernah tersentuh oleh lirik lagu yang indah dan mendidik, dengan metafora yang cerdas, akan memiliki pekerti yang berbeda. Lebih santun dan apresiatif.</p>
<p><em>Epilude</em>:</p>
<div>Setelah film drama musikal anak-anak Petualangan Sherina (rilis tahun 2000), film Ambilkan Bulan merupakan film anak-anak yang keren. Memang terasa sulit untuk lepas sama sekali dari pengaruh pendahulunya, misalnya soal liburan dan petualangan di hutan. Tetapi bukankah penontonnya anak-anak yang berbeda? Setidaknya telah berjarak 12 tahun, setengah generasi. Sherina Moenaf yang menjadi bintang utama kala itu juga seusia Lana Nitibaskara yang menjadi tokoh sentral dalam Ambilkan Bulan.</div>
<div>Jangan lupa, kita bisa mendengar suara Sheila on 7, /rif, Coklat, Numata, She, Superman is Dead, Tangga, The Changcuters, Judika, Astrid, dan Lana Nitibaskara tentu saja. Mudah-mudahan liburan sekolah tahun ini menjadi semarak dan berkesan bagi anak-anak Indonesia dengan manyaksikan film Ambilkan Bulan di kota masing-masing. Mulai 28 Juni 2012 akan beredar di bioskop. Kita tunggu kesan khusus dari Kak Seto, Pak Raden, Dick Doang, Tika Bisono, Moza Paramita, Aryo si pendongeng.… siapa lagi ya pecinta anak-anak di Indonesia?</div>
<div><em>Libur telah tiba, libur telah tiba</em></div>
<div><em>Hore! Hore! Hore!</em></div>
<div><em>Simpanlah tas dan bukumu, lupakan keluh kesahmu</em></div>
<div><em>Libur telah tiba, libur telah tiba</em></div>
<div><em>Hatiku gembira.</em>…[]</div>
<p><strong>Kurnia Effendi</strong>, <em>sastrawan tinggal di Jakarta</em>.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.journalbali.com/film/memetik-bulan-di-musim-liburan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GAMBARA PHOTO AWARD 2012: Flores Bangkit (Total Prize 461Juta++)</title>
		<link>http://www.journalbali.com/events/gambara-photo-award-2012-flores-bangkit-total-prize-461juta.html</link>
		<comments>http://www.journalbali.com/events/gambara-photo-award-2012-flores-bangkit-total-prize-461juta.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 04:57:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Opportunities]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.journalbali.com/?p=15387</guid>
		<description><![CDATA[
Tahapan Lomba
Babak Kualifikasi (5 Februari 2012 &#8211; 8 Juli 2012)
Pada tahap ini, peserta dapat berpartisipasi dengan mengirimkan foto-foto terbaik anda, dengan atau tanpa proses digital. Olah digital diperbolehkan, sebatas perbaikan kualitas foto tanpa mengubah keaslian objek (white balance, sharpening, exsposure, contrast, brightness, shadow dan highlight).
Upload foto-foto anda ke situs pendaftaran dengan ukuran spesifik: maximum length/height ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-15388" title="gambara lomba" src="http://www.journalbali.com/wp-content/uploads/2012/05/gambara-lomba-162x250.jpg" alt="" width="162" height="250" />Tahapan Lomba</strong></div>
<div><strong>Babak Kualifikasi (5 Februari 2012 &#8211; 8 Juli 2012)</strong></div>
<div>Pada tahap ini, peserta dapat berpartisipasi dengan mengirimkan foto-foto terbaik anda, dengan atau tanpa proses digital. Olah digital diperbolehkan, sebatas perbaikan kualitas foto tanpa mengubah keaslian objek (white balance, sharpening, exsposure, contrast, brightness, shadow dan highlight).</div>
<p>Upload foto-foto anda ke situs pendaftaran dengan ukuran spesifik: maximum length/height 1024 pixels dengan resolusi maksimal 150 dpi. Terdapat 5 kategori yang dapat dipilih yaitu: Landscape, Arsitektur, Human Interest, Budaya, dan People. Masing-masing orang bisa mengirimkan maksimum 5 buah foto. Peserta dapat membagi 5 foto mereka ke dalam kategori-kategori yang disediakan.</p>
<p>Tema pada Babak Kualifikasi adalah “Life Around Us (Kehidupan di sekitar kita)”. Dengan tema ini diharapkan peserta dapat mendeskripsikan tema tersebut dalam keindahan sebuah foto.</p>
<div>Para peserta diharapkan sudah mengirim karya foto mereka dalam batas waktu yang ditentukan di atas.</div>
<p><strong>Babak Final (22 September 2012 &#8211; 1 Oktober 2012)</strong></p>
<div>Babak Final adalah tahap selanjutnya bagi mereka yang dinyatakan lolos dari babak Kualifikasi dan dinobatkan sebagai Duta Gambara.</div>
<p>Pada babak ini, 20 Duta Gambara akan ditugaskan untuk melakukan Hunting Trip ke lokasi-lokasi yang telah ditentukan di Pulau Flores, dan dan saling berkompetisi untuk menghasilkan karya foto essay dan foto tunggal terbaik dalam batas waktu yang telah ditentukan. Agar dapat lebih meresapi realitas dan kondisi masyarakat di tempat tersebut, mereka akan tinggal di rumah-rumah penduduk yang telah ditentukan oleh panitia (homestay). Para pemenang dari GAMBARA Photo Award 2012 : FLORES BANGKIT ini akan ditentukan oleh Dewan Juri berdasarkan pada foto-foto yang mereka buat selama Hunting Trip.</p>
<div><strong>Kriteria, Tema &amp; Periode Pendaftaran</strong></div>
<p><strong>Kriteria</strong></p>
<div>Kompetisi ini terbuka untuk umum dari seluruh dunia, dan peserta berusia 17 tahun keatas.</div>
<div>Kompetisi ini tertutup untuk seluruh karyawan dan anggota keluarga dari PT. Widya Media Delasiga dan Yayasan Delasiga.</div>
<p><strong>Tema</strong></p>
<div>Tema Utama Gambara Photography Award 2012: Flores Bangkit ini adalah &#8220;Cinta BHINNEKA TUNGGAL IKA&#8221; Lomba ini dibagi dalam 2 babak:</div>
<p><strong>Babak Kualifikasi</strong></p>
<div>Sub-temanya adalah: “Life Around Us (Kehidupan di sekitar kita)”</div>
<div>Foto harus dapat mendeskripsikan sub-tema dari sudut realitas sosial masyarakat di sekitar anda.</div>
<p><strong>Babak Final</strong></p>
<div>Temanya adalah: “Cinta BHINNEKA TUNGGAL IKA”</div>
<p><strong>Periode Pendaftaran</strong></p>
<div>Pendaftaran karya foto diterima dari 5 Februari 2012 – 8 Juli 2012, 12:00 pm Indonesia Time (GMT +7)</div>
<p><strong>Hadiah dan Penghargaan</strong></p>
<div><strong>Babak Kualifikasi</strong>:</div>
<div>Dalam babak kualifikasi, selain untuk memilih 20 orang Duta Gambara (finalis), juga para peserta dapat melakukan voting online untuk mencari 3 foto yang paling banyak memperoleh vote.</div>
<div>Lomba Foto Online-Vote (NetFoto): 3 orang Juara Best NetFoto</div>
<div>Hadiah: Camera Bag KATA KT-20 Sling Backpack 3N1</div>
<p><strong>Babak Final</strong></p>
<div>20 Duta Gambara (Finalis) yang terpilih untuk melakukan hunting foto di 20 titik di Flores,</div>
<div>akan mendapatkan:</div>
<div>-20 buah Camera Canon G12</div>
<div>-Tiket pp Flores-Jakarta</div>
<div>-Akomodasi dan transportasi selama Flores</div>
<div>-Free workshop dari setiap Juri Gambara</div>
<div>Para Duta Gambara tersebut akan berlomba menghasilkan beberapa seri karya foto essay, yang akan memperebutkan:</div>
<p><strong>THE WINNER OF GAMBARA PHOTO AWARD 2012</strong>: merupakan penghargaan yang diberikan atas 3 seri karya foto essay para finalis (Duta Gambara) yang paling menggambarkan tema “Cinta Bhinneka Tunggal Ika”.</p>
<div>Hadiah: Trophy + Camera Leica M9P + Bonus Lens 35mm</div>
<div>THE WINNER OF GAMBARA PHOTO AWARD 2012: merupakan penghargaan yang diberikan atas 3 seri karya foto essay para finalis (Duta Gambara) yang paling menggambarkan tema “Cinta Bhinneka Tunggal Ika”.</div>
<div>Hadiah: Trophy + Camera Leica M9P + Bonus Lens 35mm</div>
<p><strong>FRANS SEDA PRIZE</strong>: merupakan penghargaan yang diberikan atas 3 seri karya foto essay kebudayaan para finalis (Duta Gambara) dalam rangka penghormatan gambara atas peran dan sumbangsih alm. Frans Seda bagi kemajuan Flores secara umum.</p>
<div>Hadiah: Camera Canon EOS 1DX + Bonus Lens 35mm</div>
<div>GOLD WINNER: merupakan penghargaan yang diberikan atas 3 seri karya foto essay terbaik para finalis (Duta Gambara) yang mewakili gambaran objektif dari realitas di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan di Flores.</div>
<div>Hadiah: Camera Nikon D4 (Body Only)</div>
<p><strong>SILVER WINNER</strong>: merupakan penghargaan yang diberikan atas 2 seri karya foto essay terbaik para finalis (Duta Gambara) yang mewakili gambaran objektif dari realitas di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan di Flores.</p>
<div>Hadiah: Camera Nikon D3s (Body Only)</div>
<p><strong>BRONZE WINNER</strong>: merupakan penghargaan yang diberikan atas 1 seri karya foto essay terbaik para finalis (Duta Gambara) yang mewakili gambaran objektif dari realitas di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan di Flores.</p>
<div>Hadiah: Camera Leica X1</div>
<p><strong>KURATOR</strong>:</p>
<div>-Oscar Motuloh</div>
<div>-Riza Marlon</div>
<div>-Arbain Rambey</div>
<div>-Makarios Soekojo</div>
<div>-Tirto Andayanto</div>
<div>-Moses Agustian</div>
<div>-Frederick Lim Cung Wei</div>
<div>-Nyoman Bayu Yudianala</div>
<div>-Ray Sugiharto</div>
<div>-Hardy Mendröfa</div>
<p>Ada workshop Fotografi nya juga di 5 kota dalam bentuk Gambara Roadshow, kemarin udah dilakukan di Medan.</p>
<div>Yang selanjutnya ada di:</div>
<div>Bandung, 21 &#8211; 22 April 2012</div>
<div>Bali, 19 – 20 May 2012</div>
<div>Surabaya, 16 – 17 Juni 2012</div>
<div>Jogjakarta, 14 – 15 Juli 2012</div>
<p>Registrasi dan Info lengkap di;</p>
<div>www.gambaraphotography.com</div>
<div>Gambara Photo Award 2012 Facebook Page</div>
<div>Gambara Twitter</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.journalbali.com/events/gambara-photo-award-2012-flores-bangkit-total-prize-461juta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marak kasus kekerasan atas nama agama, Indonesia dilaporkan ke PBB</title>
		<link>http://www.journalbali.com/news_1/marak-kasus-kekerasan-atas-nama-agama-indonesia-dilaporkan-ke-pbb.html</link>
		<comments>http://www.journalbali.com/news_1/marak-kasus-kekerasan-atas-nama-agama-indonesia-dilaporkan-ke-pbb.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 16:49:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.journalbali.com/?p=15384</guid>
		<description><![CDATA[
JAKARTA &#8211; Indonesia akan dimintai keterangan terkait maraknya kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan dalam sidang berkala  Dewan HAM PBB di Jenewa Swiss 23 Mei nanti.
Masuknya kasus kekerasan atas nama agama di Indonesia ke mekanisme Universal Periodic Review (UPR), dewan HAM PBB ini atas laporan sejumlah lembaga HAM di Indonesia yang menyoroti kian memprihatinkannya kondisi ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><strong>JAKARTA</strong> &#8211; Indonesia akan dimintai keterangan terkait maraknya kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan dalam sidang berkala  Dewan HAM PBB di Jenewa Swiss 23 Mei nanti.</div>
<p>Masuknya kasus kekerasan atas nama agama di Indonesia ke mekanisme Universal Periodic Review (UPR), dewan HAM PBB ini atas laporan sejumlah lembaga HAM di Indonesia yang menyoroti kian memprihatinkannya kondisi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia.</p>
<div>Lembaga tersebut antara lain Komnas HAM, Komnas Perempuan dan sejumlah lembaga pemerhati HAM yang tergabung dalam Human Rights Working Group atauu HRWG.</div>
<p>Direktur HRWG,  Rafendi Djamin mengatakan saat ini di Indonesia telah terjadi pelanggaran HAM serius dalam konteks kebebasan beragama dan berkeyakinan.</p>
<div>Pemerintah baik pusat dan daerah, politisi, bahkan aparat keamanan selama ini melakukan pembiaran terhadap terus berlangsungnya kasus-kasus kekerasan atas nama agama yang terjadi di masyarakat.</div>
<p>“Kasus pelarangan pendirian rumah ibadah jemaat GKI Taman Yasmin Bogor menjadi contoh kuat betapa pemerintah daerah dan pusat, politisi serta aparat keamanan membiarkannya”</p>
<div>Mekanisme universal periodic review ini sendiri merupakan upaya dewan HAM PBB  memantau pelaksanaan perlindungan dan pemajuan HAM dinegara-negara anggota PBB.  Dari sidang Universal Periodic Review ini, nantinya  dewan HAM PBB akan menerbitkan sejumlah rekomendasi untuk memperbaiki dan mengatasi kasus pelanggaran HAM yang dilaporkan.</div>
<p>Sebagai anggota Dewan HAM PBB,  pemerintah Indonesia tentu saja dituntut untuk berkomitmen tinggi dalam melaksanakan rekomendasi dewan HAM PBB tersebut.  Oleh karena itu Rafendi Djamin menilai seharusnya mekanisme UPR  ini menjadi tekanan luar biasa bagi pemerintah untuk  lebih  memprioritaskan perlindungan Hak warga atas  Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Indonesia.</p>
<div>“Ini merupakan forum yang sangat baik bagi unsur pemerintah baik di kementrian teknis, pusat dan daerah untuk mengingatkan kembali tanggung  jawab mereka terhadap penegakan HAM kepada rakyat dan internasional. Makanya mereka berada dalam forum dewan HAM PBB.”</div>
<p>Ini merupakan tinjauan PBB kedua kalinya terhadap pelaksanaan HAM di Indonesia.  Tinjauan pertama dilakukan PBB tahun 2008 lalu, namun kala itu pemerintah belum terbuka dan tidak mengakui maraknya kekerasan atas nama agama ditanah air.</p>
<div>Berbagai laporan menyebutkan sejak beberapa tahun terakhir di Indonesia kasus kekerasan berlatar belakang agama memang terus menunjukan peningkatan.</div>
<div>Laporan SETARA Institute terakhir menyebutkan  tahun 2011 lalu terjadi 244 kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan dengan 299 bentuk tindakan kekerasan.</div>
<p>Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan adalah tiga provinsi dengan tingkat pelanggaran paling tinggi. Ironisnya negara justru terlibat sebagai pelaku kekerasan itu, baik secara aktif melakukan pelanggaran maupun pembiaran terhadap masalah itu.</p>
<div>Sementara itu Front Pembela Islam (FPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah dua organisasi sebagai aktor non-negara yang paling banyak melakukan tindakan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan. <strong>(http://www.radioaustralia.net.au)</strong></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.journalbali.com/news_1/marak-kasus-kekerasan-atas-nama-agama-indonesia-dilaporkan-ke-pbb.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Open call: Green World Art and Culture Festival 2012, India</title>
		<link>http://www.journalbali.com/events/open-call-green-world-art-and-culture-festival-2012-india.html</link>
		<comments>http://www.journalbali.com/events/open-call-green-world-art-and-culture-festival-2012-india.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 12:03:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Opportunities]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.journalbali.com/?p=15381</guid>
		<description><![CDATA[
Call to artists worldwide to participate in the Green World Art &#38; Culture Festival in Odisha, India, November 2012 – an incubator for art and ideas, artistic exchange and dialogue in the visual arts. Residency and participation opportunities.
The Green World Art &#38; Culture Festival (GWAF) –Odisha is a world initiative led by a Group of ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>Call to artists worldwide to participate in the Green World Art &amp; Culture Festival in Odisha, India, November 2012 – an incubator for art and ideas, artistic exchange and dialogue in the visual arts. Residency and participation opportunities.</div>
<p>The Green World Art &amp; Culture Festival (GWAF) –Odisha is a world initiative led by a Group of Artists and has become an auspicious space for artists across the world that nurtures creativity and imaginative art practice. The Festival has been the destination for performing artist around the world for being open and welcoming to artists and has been a venue for participation, exchange, discourse, dialog, debate and a space that is an incubator for contemporary art experimentation that focuses on the process. The Festival has actively been a host for alternative art practices, from the city of Bhubaneswar along the Culture villages and Green luster of the Rural Odisha.</p>
<div>GWAF is a Artists initiative led by  Jeetin Rangher and Kristian Al-Droubi. Administered by PRERANA Trust; the Green World Art &amp; Culture Festival GWAF –Odisha sees its role as an incubator for art and ideas, artistic exchange and dialogue in the visual arts. Through our programming we aim to assist and develop forms of art such as media art, performance, and video, environmental, cultural, public and community based art and other experimental modes of cultural production.</div>
<p>This year the festival is establishing a base for new platform of art residence programs which will work on new level of art exchange.</p>
<div><strong>Invitation to Artists</strong></div>
<div>As a deliberate policy core invitees have been from different countries, which have resulted in the development of an active network of artists in the region. The GWAF –Odisha seeks to promote cross cultural exchange within the visual practices of the world.</div>
<div>The Festival provides space for slide lectures, small conferences, installations, performances, screenings and informal gatherings for artists and the alternative art community. It has consistently engaged with local artists, writers and creative individuals. It believes in networking and supporting other alternative groups and institutions with similar goals.</div>
<p><strong>Application</strong>:</p>
<div>Applications are invited from artists, who are looking for a stint in a culturally and environmentally rich state like Odisha, to complete or complement a particular art project. The precise reasons underlying the desire to pursue an artistic project in Odisha should be specified. It is not essential that the project should be completed during the duration of the Festival, but in any case the GWAF –Odisha is mandatory at the end of the Festival. This event should provide the first glimpses into the outcome of the Festival. As well as pursuing his or her own project, the incumbent will be expected to interact with the local art world.</div>
<p><strong>Last date for receipt of applications: Aug 31, 2012</strong></p>
<div>Festival dates: 01 – 07 November 2012</div>
<div>Required documents (please send only soft copy in English )</div>
<div>* Passport photo</div>
<div>* Resume</div>
<div>* Reasons for applying for the residency and outline of the artistic aims and objective including preferred dates for the residency in 2012</div>
<div>* Information on previous significant artistic projects.</div>
<div>Please send your applications to:  greenworldartfestival@gmail.com</div>
<div>Attachments should not be greater than 2 MB in a single mail.</div>
<div>Website:</div>
<div>http://greenworldartfestival.com/index.php</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.journalbali.com/events/open-call-green-world-art-and-culture-festival-2012-india.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pameran Seni Rupa: Suara Akar Ilalang</title>
		<link>http://www.journalbali.com/events/pameran-seni-rupa-suara-akar-ilalang.html</link>
		<comments>http://www.journalbali.com/events/pameran-seni-rupa-suara-akar-ilalang.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 11:54:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.journalbali.com/?p=15378</guid>
		<description><![CDATA[
25 Mei – 25 Juli 2012
Pameran	 : Suara Akar Ilalang
Seni lukis, patung, dan seni instalasi
Perupa	 : Lucia Hartini, Dyan Anggraini, Wara Andindyah, Laksmi Shitaresmi, Juni Adhitia Wulandari.
Kurator/Penulis	 : Thomas U. Freitag/ Wayan ‘Jengki’ Sunarta
Griya Santrian Gallery,
Jl. Danau Tamblingan 47, Sanur, Bali.
Telp/Email	 : 0361 288181/ infogallery@santrian.com
Pembukaan pameran	: Jumat, 25 Mei 2012, pukul 18.30 wita
Diresmikan oleh Cok Sawitri (sastrawan, dramawan, budayawan)
Pameran ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><img class="alignleft size-medium wp-image-15379" title="akar" src="http://www.journalbali.com/wp-content/uploads/2012/05/akar-171x250.jpg" alt="" width="171" height="250" />25 Mei – 25 Juli 2012</div>
<div><strong>Pameran	 : Suara Akar Ilalang</strong></div>
<div><em>Seni lukis, patung, dan seni instalasi</em></div>
<div>Perupa	 : Lucia Hartini, Dyan Anggraini, Wara Andindyah, Laksmi Shitaresmi, Juni Adhitia Wulandari.</div>
<div>Kurator/Penulis	 : Thomas U. Freitag/ Wayan ‘Jengki’ Sunarta</div>
<div><strong>Griya Santrian Gallery</strong>,</div>
<div>Jl. Danau Tamblingan 47, Sanur, Bali.</div>
<div>Telp/Email	 : 0361 288181/ infogallery@santrian.com</div>
<div>Pembukaan pameran	: Jumat, 25 Mei 2012, pukul 18.30 wita</div>
<div>Diresmikan oleh Cok Sawitri (sastrawan, dramawan, budayawan)</div>
<div>Pameran ini menampilkan karya-karya lima perempuan perupa berbeda generasi yang tergabung dalam Kelompok Akar Ilalang. Nama mereka sudah tak asing lagi dalam kancah seni rupa di Indonesia.Tema-tema karya mereka cenderung berkutat pada persoalan yang dihadapi perempuan, berkelindan dengan dunia fantasi. Karya-karya mereka adalah suara dari ruang kalbu yang terdengar sayup-sayup, namun mampu memberi makna bagi kehadirannya.</div>
<p>Para perempuan perupa ini sejak lahir telah dibentuk dalam kehidupan sosial budaya Jawa yang sangat kental menganut ideologi patriarki. Secara disadari atau pun tidak, mereka telah mengalami banyak ketidakadilan gender. Budaya patriarki membuat laki-laki mendominasi struktur sosial, dari tingkat keluarga hingga yang lebih luas. Laki-laki dianggap sebagai penentu arah kebudayaan, bahkan kehidupan. Sementara itu, perempuan seringkali hanya dianggap pelengkap keutuhan kekuasaan laki-laki.</p>
<div>Meski hidup dalam budaya patriarki Jawa, lima perempuan perupa ini tidaklah secara frontal menampilkan karya-karya yang melawan atau memberontak terhadap hegemoni patriarki tersebut. Kalau pun karya mereka mengandung nuansa pemberontakan terhadap kekuasaan laki-laki, cenderung diungkapkan secara metaforis, simbolis, bahkan dengan parodi jenaka.</div>
<div>Mereka mengatakan bahwa mereka bukanlah penganut feminisme. Mereka masih merasa sebagai perempuan Jawa yang hidup dalam nilai-nilai dan falsafah budaya patriarki. Karena “suara” mereka kurang mendapat tempat di ruang patriarki, mereka menggunakan media seni rupa sebagai ruang untuk “bersuara”.</div>
<p>Bagi mereka, melukis adalah karier, sekaligus sarana untuk menumpahkan unek-unek atau beban pikiran, ekspresi dari imajinasi dan fantasi, bahkan terapi untuk penyembuhan luka batin. Karya-karya mereka semacam buku diari yang banyak berkisah perihal lika-liku kehidupan mereka.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.journalbali.com/events/pameran-seni-rupa-suara-akar-ilalang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>China tuan rumah  AAIC ke-3</title>
		<link>http://www.journalbali.com/news_1/china-tuan-rumah-aaic-ke-3.html</link>
		<comments>http://www.journalbali.com/news_1/china-tuan-rumah-aaic-ke-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 19:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.journalbali.com/?p=15375</guid>
		<description><![CDATA[
JournalBali.com, NUSA DUA- Asian Aroma Ingredient Congress and Expo  (AAIC) 2012,  yang diselenggarakan di Bali mulai 13 Mei, Rabu kemarin (16/5) ditutup dengan menggelar lokakarya bertajuk  Healing Aromatherapy oleh Dr. Kurt Schnaubelt dari Amerika.  Menurutnya, essensial oil berperan penting dalam pencegahan dan penyembuhan penyakit. Lebih efektif, jika penggunaan minyak esensial tersebut sesuai dengan karakteristik individu bersangkutan.
Sementara ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><strong><em>JournalBali.com</em>, NUSA DUA</strong>- Asian Aroma Ingredient Congress and Expo  (AAIC) 2012,  yang diselenggarakan di Bali mulai 13 Mei, Rabu kemarin (16/5) ditutup dengan menggelar lokakarya bertajuk  Healing Aromatherapy oleh Dr. Kurt Schnaubelt dari Amerika.  Menurutnya, essensial oil berperan penting dalam pencegahan dan penyembuhan penyakit. Lebih efektif, jika penggunaan minyak esensial tersebut sesuai dengan karakteristik individu bersangkutan.</div>
<p>Sementara kongres yang ditutup oleh Ketua  Dewan Atsiri Indonesia  Dr. Ir Meika Syahbana Rusli, MSc dengan serah terima bendera AAIC kepada tuan rumah AAIC ke -3 kepada delegasi Cina. Selain menetapkan China sebagai tuan rumah AAIC ke-3 dan Sri Langka tuan rumah AAIC ke-4 di tahun 2016. Anggota AAIC juga  berkomitmen untuk meningkatkan kualitas kesetaraan kerjasama antar Negara, dan antar stake holder industry atsiri se Asia baik selaku produsen pengolahan mau pun penyedia bahan baku. Mempertegas pelaksanaan fair trade  business dan tanggungjawab atas keberlanjutan industri untuk kesejahteraan bersama.</p>
<div>Kongres dan expo  ke dua di Bali ini diikuti 300 peserta dari 16 negara ((ndia, Cina, Australia, Columbia, Perancis, Haiti, Jepang, Pilipina, Qatar, Spanyol, Sri Langka, Swiszerland, UK, USA. Menampilkan 28 pembicara pleno dan parallel dari tujuh Negara. Pameran diikuiti 17 peserta dari tujuh Negara.</div>
<p>Bagi industri minyak atsiri Indonesia, penyelenggaraan AAIC sangat berperan penting. Seperti diungkapkan Dr Anton Apriyanto disela penutupan acara AAIC kemarin, bahwa pelaku usaha, petani pembudidaya, pengembang teknologi dan kalangan akademisi dapat bertukar pengalaman dalam pengembangan minyak atsiri dan produk ikutannya. Sekaligus memperkuat jaringan bisnis berkeadilan antar anggota se Asia.</p>
<div>Hal potensi bahan baku dan pasar, tak kurang pendapat Wakil Menteri Perdagangan RI Dr. Ir. Bayu Krishnamurti  bahwa Bali tidak hanya memiliki kekayaan bahan baku minyak esensial,  Bali juga membuka peluang pasar produk tersebut. Pasalnya pasar minyak esensial tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik masyarakat, tetapi juga kebutuhan pasar pariwisata. Seperti diketahui pariwisata sangat terkait dengan layanan spa pengguna produk minyak esensial. Pemerintah mendorong pengembangan produk minyak esensial dengan harapan mampu meningkatkan multi flyer efek dan nilai tambah industri tersebut kepada masyarakat petani.</div>
<div>Wamen mengingatkan bahwa penggunaan minyak esensial dimasyakat nusantara sudah menjadi keseharian dan menjadi warisan budaya. Kedatangan pedagang Eropa ke Indonesia pun karena rempah- rempah sebagai dasar pengolahan makanan, obat mau pun kecantikan. Indonesia perlu membangun dan mengembangkan jaringan perdagangan berkesetaraan untuk produk minyak esensial. Palin tidak mampu mengimbangi system dan pola perdgangan yang telah dilakukan pihak  Korsel, Cina dan Jepang, khususnya produk produk kecantikan kulit.</div>
<p>Hal senada juga ditegaskan Menteri Pertanian Dr. Ir Suswono saat menerima peserta AAIC dan Expo 2012. Sebagai bagian dari kawasan Asia, Indonesia tak hanya memiliki potensi bahan baku juga memiliki potensi pasar tradisional dengan tren permintaan meningkat baik dari kalangan domestik,ekspor dari  kalangan  dewasa sampai generasi muda, bahkan untuk produk bayi. Meskipun baru mengisi 5% kebutuhan pasar dunia, pengembangan atsiri Indonesia tidak cukup hanya dalam hal budidaya tanamannya, juga perlu pengambangan teknologi pengolahannya. Indonesia, tegas Suswono jangan hanya terpaku menjadi produsen raw material/bahan baku, tetapi sudah menjadi eksportir produk jadi siap pakai. Pengembangan industry atsiri ini, tegas Suswono tidak hanya untuk mengisi permintaan pasar klas tinggi, tetapi dapat dikembangkan secara bervariasi. Sehingga nilai tambah budidaya tanaman atsiri di Indonesia mampu mensejahterakan petani, pekebun sebagai ujung tombak keberlanjutan industry atsiri dunia ini. <strong>(*/Tim JB)</strong></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.journalbali.com/news_1/china-tuan-rumah-aaic-ke-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resesi Besar: apa pula yang terjadi pada Keynes?</title>
		<link>http://www.journalbali.com/events/resesi-besar-apa-pula-yang-terjadi-pada-keynes.html</link>
		<comments>http://www.journalbali.com/events/resesi-besar-apa-pula-yang-terjadi-pada-keynes.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 18:30:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.journalbali.com/?p=15373</guid>
		<description><![CDATA[
oleh ALLEN MYERS
SEGERA setelah pecahnya krisis ekonomi-keuangan di tahun 2008, terdapat spekulasi yang bingung di media (bahkan dalam Partai Buruh Australia) bahwa pemerintah (yakni, kelas penguasa) akan kembali menyampahkan neoliberalisme dan kembali pada beberapa bentuk dari ekonomi Keynesian yang cukup standar sejak Perang Dunia ke II sampai awal tahun 1970-an. Spekulasi ini dirangkum dengan baik ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><strong>oleh ALLEN MYERS</strong></div>
<p>SEGERA setelah pecahnya krisis ekonomi-keuangan di tahun 2008, terdapat spekulasi yang bingung di media (bahkan dalam Partai Buruh Australia) bahwa pemerintah (yakni, kelas penguasa) akan kembali menyampahkan neoliberalisme dan kembali pada beberapa bentuk dari ekonomi Keynesian yang cukup standar sejak Perang Dunia ke II sampai awal tahun 1970-an. Spekulasi ini dirangkum dengan baik akhir Oktober lalu oleh jurnalis Truthout Michael Corcoran:</p>
<blockquote><p>“<em>Setelah bailout (menalangi kebangkrutan) Bear Stearns tahun 2008, Martin Wolf, seorang penulis ekonomi untuk Financial Times dan biasanya pendukung setia terhadap globalisasi pasar-bebas, menulis: ‘Ingat 14 Maret 2008: adalah hari dimana mimpi kapitalisme pasar bebas global mati.’ Di artikel yang sama, mengutip Joseph Ackerman, kepala eksekutif Deutsche Bank, ia mengatakan: ‘saya tak lagi percaya pada kekuatan pasar untuk menyembuhkan diri sendiri.’ Dalam artikel 10 Oktober, The Washington Post — dengan segala keseriusan — mengemukakan bahwa krisis ekonomi saat ini berarti ‘Akhir dari Kapitalisme Amerika’ yang selama ini kita kenal. Sampul majalah Time pada Februari 2009, menyatakan, Kita semua Sosialis sekarang,’ mengacu pada kebutuhan akan intervensi pemerintah untuk menyelamatkan kapitalisme yang sakit. ‘Apapun yang mau kita akui ataupun tidak,’ artikel tersebut mengamati, ‘Amerika tahun 2009 sedang menuju suatu negara Eropa modern</em>.&#8221;</p></blockquote>
<div>Namun, kebangkitan Keynesianisme tak terjadi. Pemerintah di seluruh dunia secepatnya kembali pada ortodoksi neoliberal, mencoba mengurangi pengeluaran publik dalam hal kesejahteraan sosial. Kenapa Keynes sekali lagi dirangkul dan kemudian dengan cepat dibuang?</div>
<p><strong>Mengenai apa Keynes itu?</strong></p>
<div>Sebelum Keynes, ekonom kapitalis tradisional (biasanya disebut “ekonom neo klasik”) memotret kapitalisme sebagai sistem yang pada prinsipnya mengatur dirinya sendiri yang dapat sesekali mengalami gangguan namun cenderung kembali secara otomatis ke “normal”, “kenormalan” ini termasuk full employment—lapangan kerja penuh/pemenuhan lapangan kerja. Depresi Besar agaknya merupakan pukulan yang keras atas optimisme semacam itu, tanpa perlu menjahati lebih lanjut dari yang benar-benar dibutuhkan teori pokok yang salah itu.</div>
<p>Ekonomi neo klasik mengasumsukan bahwa permintaan dan penawaran menentukan harga, produksi, lapangan kerja, dll. Keynes, tanpa melanggar asumsi ini, berargumen bahwa permintaan dan penawaran bisa menentukan dua atau lebih situasi yang agak berbeda: di satu keadaan, permintaan dan penawaran boleh jadi seimbang pada kemakmuran secara umum, namun di lain keadaan, dapat seimbang pada depresi yang berkepanjangan (seperti tahun 1930-an). Sebagai pembela yang teguh (dan kaya) dari tatanan saat ini, Keynes berupaya merancang resep untuk menggeser suatu kesetimbangan yang tak dikehendaki (seperti resesi permanen) ke (kesetimbangan) yang lebih dikehendaki.</p>
<div>Pada awal suatu penurunan dalam siklus bisnis kapitalis, Keynes mencatat, biasanya terdapat ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan: lebih banyak yang diproduksi daripada adanya permintaan yang efektif (permintaan didukung oleh uang). Kapitalis, oleh karena itu, memotong produksi, namun hanya akan memperparah persoalan, karena mengurangi pekerja dan oleh karena itu mengurangi permintaan efektif.</div>
<p>Keynes berargumen bahwa pemerintah dapat mencegah spiral penurunan ini jika, pada saat yang tepat, mereka menghadang ketidakseimbangan permintaan dan penawaran melalui penciptaan suatu permintaan artificial (bohong-bohongan). Tak penting bagaimana cara pemerintah melakukannya; bahkan mereka dapat sekadar membayar orang untuk menggali lubang dan kemudian mengisinya kembali, demikian katanya. Kuncinya adalah meletakkan uang di tangan rakyat yang akan membelanjakannya kurang lebih sesegera mungkin, sehingga permintaan efektif itu akan naik dan para kapitalis tak perlu memotong produksi.</p>
<div><strong>Inflasi</strong></div>
<p>Kritik mengatakan bahwa menciptakan daya beli tambahan tanpa meningkatkan produksi cenderung akan mendorong naik harga-harga, yakni berupa inflasi. Keynesian mengakui bahwa ini dapat terjadi, namun menyatakan bahwa inflasi dapat dinetralisir dari kesibukan siklus bisnis. Jika pemerintah mencegah “jebolnya” siklus bisnis dengan meningkatkan permintaan efektif, maka ia dapat menghadang inflasi dengan mengurangi permintaan efektif selama masa “ledakan/boom”. Contohnya, pemerintah dapat melakukan defisit anggaran untuk mencegah resesi namun kemudian melakukan surplus anggaran ketika permintaan mulai melampaui penawaran. Strategi itu disebut “counter-cyclical” (konter-siklus): pemerintah harus belanja ketika kaum buruh dan kapitalis tidak bisa atau tidak mau melakukannya, dan memotong pengeluaran belanja tersebut ketika konsumen dan pengeluaran investasi menciptakan suatu kemajuan.</p>
<div>Lebih jauh lagi, Keynes mengatakan, sedikit inflasi tentu saja lebih baik daripada kembali pada Depresi Besar tahun 1930, dan dalam dirinya sendiri hal itu bukanlah sesuatu yang buruk. Derajat inflasi yang masuk akal akan mendorong profit dengan mengikis upah riil, ia bilang: “kaum buruh berada dalam situasi yang lebih sulit melawan serangan semacam ini ketimbang melawan pemotongan upah langsung”.</div>
<p><strong>Apakah berhasil?</strong></p>
<div>Dari sekitar akhir Perang Dunia ke II hingga awal 1970-an, Keynesianisme merupakan ideologi ekonomi dominan pemerintah-pemerintah di negeri-negeri kapitalis maju. Dan ia tampak menjadi kesuksesan: secara keseluruhan, periode tersebut merupakan salah satu ekspansi kapitalis, dan resesi-resesi pada umumnya bersifat pendek dan ringan dibanding dengan awal abad ke 20, apalagi 1930-an. Namun demikian, penampilan kesuksesan Keynesian ini bersifat simplistic dan cenderung membingungkan antara sebab dan akibat.</div>
<p>Penghancuran standar kehidupan kelas pekerja dan organisasinya selama tahun 1930an dan penghancuran luar baisa akibat Peran Dunia II telah menciptakan landasan yang ideal bagi kapitalisme: suatu pasar yang hampir-hampir tanpa batas dan keuntungan yang dijamin secara virtual. Situasi, bukanlah teori ekonomi siapapun, merupakan sebab fundamental dari ledakan kapitalis pasca perang.</p>
<div>Periode ledakan (boom) kapitalis, seperti yang ditunjukkan Marx, secara umum lebih menguntungkan bagi kondisi kelas pekerja, ketimbang resesi, meskipun ekspansi kapitalis dalam jangka panjang meningkatkan penindasan dan eksploitasi pekerja. Ledakan pasca perang tersebut saat ini dikenali dalam pikiran publik sebagai Keynesianisme dan “negara kesejahteraan”.</div>
<p>Ini merupakan suatu periode ketika rata-rata upah meningkat secara gradual namun relatif teratur, hanya jika upah tersebut mulai dari tingkat yang paling rendah. Langkah-langkah “kesejahteraan sosial”, yang secara umum merupakan bagian dari upah buruh yang dibayar secara kolektif bukannya individual, lebih baik ketimbang saat ini, karena suatu kombinasi dari beberapa faktor: tunjangan pengangguran adalah pembiayaan yang lebih sedikit bagi kapital karena lebih sedikit orang yang menganggur; perubahan teknologi membutuhkan lebih banyak tenaga kerja terdidik, sehingga pendidikan harus dibuat lebih murah; pemerintah-pemerintah imperialis butuh meyakinkan bagian-bagian kelas pekerja mereka bahwa sistem ini adil dan masuk akal untuk mendapatkan dukungan atas perang melawan revolusi kolonial; super-profit imperialisme masih sangat luar biasa besar, membuatnya lebih mudah bagi kapital mengucurkan uang kemana-mana ketika dibutuhkan untuk menenangkan ketegangan sosial.</p>
<div>Keynesianisme berkebalikan dengan ekonomi neoliberal, yang mulai semakin dominan sejak resesi internasional 1973-74, dan yang lebih kurang merupakan ideologi resmi pemerintah dalam periode kemunduran bagi kondisi dan organisasi kelas pekerja. Dibawah topeng kepedulian terhadap hutang, neoliberalisme berusaha mengurangi sebanyak mungkin semua elemen upah sosial: pendidikan, kesehatan, asuransi pengangguran, pensiun, transportasi publik, taman-taman dan kenyamanan publik, udara bersih—semua hal yang membuat kehidupan buruh lebih mudah dan lebih menyenangkan yang untuknya mereka tidak perlu membayar biaya-biaya tertentu.</div>
<p>Perbedaan dalam teori ekonomi benar-benar ada, namun kurang signifikan dibandingkan kondisi kapitalisme dunia yang sudah berubah, yang merupakan alasan dibalik pergeseran dari Keynesianisme ke neoliberalisme. Keynesianisme dan neoliberalisme tidak melayani kepentingan kelas yang berbeda, namun merupakan cara lain untuk melindungi kepentingan kapitalis di dalam kondisi objektif yang berbeda.</p>
<p><strong>Apa yang sudah berubah?</strong></p>
<div>Apa yang sudah berubah dalam kondisi objektif yang menyebabkan kelas kapitalis berkuasa beralih dari Keynesianism ke neoliberalisme?</div>
<p>Bahkan dimasa kejayaan Keynesian, kebijakan konter-siklus tidak pernah bisa diikuti secara konsisten. Kenaikan harga adalah salah satu kekuatan pendorong utama dari suatu ledakan (boom).  Konsekuensinya, pemerintah tidak dapat mengurangi daya belanja selama ledakan dalam jumlah yang sama dengan jumlah yang ditambahkan dalam (masa) penurunan; mencoba melakukannya hampir selalu berarti ancaman mengubah kemajuan menjadi resesi baru.</p>
<div>Ketidakmampuan mengikuti nasehat Keynes ini—bahwa pemerintah harus bisa ‘menarik’ ekonomi pada tahap atas siklus sebanyak permintaan efektif yang mereka buat pada tahap menurun—sebagian dikarenakan terlalu mengabaikan faktor psikologi. (Hal yang ironis karena teori Keynes yang banyak mengandalkan pengamatan dan asumsi perilaku psikologi para kapitalis, buruh, dan konsumen). Jika anda pikir ingin membeli kulkas baru atau mesin cuci baru, dan anda punya cukup uang dan harga secara umum naik, lalu hal yang masuk akal dilakukan adalah membeli alat itu sekarang. Namun jika harga jatuh (karena pemerintah mengurangi daya belanja agar menjadikan harga berubah sejumlah nol terhadap seluruh siklus bisnis), kemudian hal logis yang dilakukan adalah tunggu untuk melihat siapa tahu (harga) akan turun lebih banyak. Ketika banyak orang mulai melakukan hal yang sama atas dasar logika ini, surplus anggaran memiliki efek penekan yang lebih besar dari yang diharapkan oleh Keynes atau pemerintah-pemerintah yang mengikuti idenya.</div>
<p>Hasilnya, inflasi menjadi bangunan dalam ekonomi kapitalis pasca perang. Serikat-serikat buruh mulai mencari penyesuaian “biaya hidup” dalam kontrak-kontrak kerja mereka dengan pengusaha; guna menolong pengusaha, pemerintah-pemerintah meningkatkan kebohongan mereka menyangkut tingkat inflasi. Namun berbohong tidak menghentikan bergeraknya realitas di jalannya sendiri. Di akhir tahun 1960an, suntikan “normal” pemerintah terhadap permintaan efektif tak lagi cukup untuk memblokade resesi. Inflasi dan resesi (“stagnasi”) sekarang terjadi secara bersamaan dan dijelaskan oleh suatu istilah baru: “stagflasi”.</p>
<div>Seperti setiap ledakan lain yang panjang (maupun pendek), ledakan pasca perang secara gradual merusak kondisi-kondisi yang membuat keberadaannya menjadi mungkin. Dibawah kondisi-kondisi ekonomi yang lebih menguntungkan di tahun 1950-an dan 60-an, kaum buruh secara gradual (dapat) meningkatkan upah mereka. Seiring produksi meledak, pasar mulai dibanjiri (barang-barang) dan kemudian (menjadi) kepenuhan. Semakin banyak kapitalis mengakumulasi profit, semakin mereka desakkan tekanan penurunan pada tingkat keuntungan. Resesi internasional di tahun 1973-74 menunjukkan bahwa ledakan pasca perang telah berakhir.</div>
<div>Keynesianisme tidak benar-benar bertanggung jawab atas ledakan tersebut, dan bahkan lebih tidak bisa lagi menghadang kekuatan yang membuat ledakan itu berakhir. Untuk mempertahankan kepentingan mereka lebih baik lagi dalam kondisi-kondisi yang baru, mayoritas kapitalis mulai bergeser pada strategi neoliberalisme yang lebih agresif, melakukan serangan yang lebih terbuka dan langsung pada rakyat pekerja, standar kehidupan mereka, dan kemampuan mereka untuk mengorganisir.</div>
<p><strong>Keynes dan politik</strong></p>
<div>“Kembalinya Keynesian” pada tahun 2008 boleh jadi telah membangkitkan harapan pada segelintir politisi-politisi sosial demokrat, namun hal itu tak pernah benar-benar serius dimaksud oleh bagian signifikan manapun dari kelas penguasa. Pembicaraan tentang Keynesianisme tampaknya dimaksud hanya untuk memberi selubung atas kucuran (dana dalam) jumlah besar pada bank-bank yang tampak mendekati kejatuhan. Ini bukan suatu langkah Keynesian yang sesungguhnyam karena Keynes menghendaki daya belanja didistribusi pada rakyat yang akan membelanjakannya, dengan cepat. Bank-bank yang ditalangi sebagian besar duduk-duduk saja di atas uang yang mereka terima. (Di AS, beberapa diantara mereka meminjam uang dari pemerintah dengan bunga yang hampir nol dan kemudian meminjamkannya lagi ke pemerintah dengan bunga yang lebih tinggi.)</div>
<p>Alasan bagi ketidak-minatan kapitalis pada Keynesianisme sederhana saja. Baik kondisi ekonomi dan politik kapitalisme hari ini benar-benar berbeda dari tahun 1950-an dan 1960-an, ketika kebijakan Keynesian sepertinya yang paling cocok untuk melindungi kepentingan kapitalis. Kita masih dalam periode yang mendesak kapitalis pada kebutuhan akan neoliberalisme.</p>
<div>Kebijakan “upah sosial” (atau “kesejahteraan sosial”) yang lebih baik akan menguntungkan rakyat pekerja, dan berjuang untuk mempertahankan atau meningkatkannya adalah suatu bagian penting dari perjuangan melawan para kapitalis dan pemerintahan mereka. Namun jangan ada ilusi bahwa perjuangan itu akan dimenangkan melalui permohonan dengan penjelasan, dengan meyakinkan para politisi bahwa kebijakan semacam itu lebih rasional daripada kebijakan neoliberal. Seperti dalam pertempuran langsung, kapitalis hanya akan menyerahkan apa yang dipaksa untuk diserahkan.[]</div>
<p>Direct Action — March 14, 2012 http://directaction.org.au/issue38/the_great_recession_whatever_happened_to_keynes</p>
<div>*Diterjemahkan oleh Zely Ariane</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.journalbali.com/events/resesi-besar-apa-pula-yang-terjadi-pada-keynes.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

