Saturday 18th May 2013

Home » Fiction & Poetry, Poetry » Sajak-sajak: Hasan Aspahani

Kembali ke Hotel Tengah Malam

Jakarta lagi istirahat, sesiang tadi berlari.

Kafe sudah tutup. Aku serasa masih di bar tadi,
bergabung dalam jamaah reggae, khusyuk dalam
ritual sakral: rasta, rasta, rasta, rastatadus!

Lobi dikepung sepi, resepsionis yang manis
di balik front office tadi pagi, tak ada lagi.

Aku lupa nomor kamar, kukira sepi di sana pasti
lebih sepi, tak akan bisa kulawan walau dengan
siaran langsung Aljazeera dari jalur Gaza…

Jakarta sudah pulas, seharian kerja keras.

“Selamat Malam,” lelaki berseragam penjaga
menyapa. Kukira dia menyapa aku dan Malam, aku
anggukkan sisa-sisa senyum tengah malam.

Sepasang tamu asing berangkulan, seperti
cemas kehabisan malam. Aku seperti mendengar
si perempuan bicara samar (kalau tak salah
terjemahannya:..) “tolong antar kondom ke
kamar, cepat ya, kami sudah tak sabar…”

***

model 1 (2006) oleh AS Kurnia

***

Bagaimana Mengukur Hidup dengan Mati?

Aku hitung nyawa, hidup, waktu, tubuh
dan yang kelak lunas dengan harga mati

***

model 2 (2006) oleh AS Kurnia

***

Cerita Buat Johani Mikaela

(Maaf, Chairil, Aku tak Kenal Dien Tamaela-mu itu)

Beta Heraldrawungwaraney
Mengusik tapa dewa datu di nirwana itu
cuma mau satu: kau tahu apa kami mau.

Beta Heraldrawungwaraney
Perangkap aku di facebook-ku
Tangkap aku di multiply-ku

Beta Heraldrawungwaraney
Lepas dari kampus, kerja as a consultant,
gadget pertama beli, laptop paten ini.

Beta Heraldrawungwaraney
Jaga mailing-list, terang bunga,
mekar matahari, di mana-mana
memantik nyala puisi.

Beta online di kafe-kafe
buzz beta punya Y!M ID…

Bangun teramat pagi, di kantor
hingga 12 nanti, beta menari ikut
irama Jakarta tabuh tifa, petikan raggae
Tony Q di BB’s Kafe,
buntu jalan raya,
suara tawa entah siapa: hantu
atau manusia-manusia!

Mari ikut tawa!
Mari bikin fun hari kita!
Mari berlepas-berlupa!

Beta suka bikin dewa datu marah
beta bilang: go to your own surga with your own poetry!
Datu yang terpenjara di balai-balai tua,
di pustaka-pustaka lama,
Datu tak bisa ikut beta punya tawa!

Beta online kapan beta suka
Siang, OK! Malam, that’s the time.
Beta bawa puisi ke Stasiun Gambir,
ke Blizt Megaplex, ke kedai Wetiga.

Beta Heraldrawungwaraney
yang mengusik tapa dewa datu di nirwana itu
cuma tahu satu: kau tak tahu apa kami mau.

***

model 3 (2006) oleh AS Kurnia

***

Rumahku dan Kuburku

Rumahku dan kuburku, dari
unggun-kobar nyala sajak

Aku terbakar dan mengabu,
hidup dan mati di panas itu

Dari hutan-Mu aku tebang
pohon kata: Kayu yang amat
tahu betapa tajam kapakku.

Nyala yang kujaga, kupercikkan
dari jemariku yang api-batu

Tak ada Waktu, di rumahku,
segalanya adalah ini yang sekarang,
itu yang kemarin, dan yang mau datang,

Segalanya fana, segalanya baka

Rumahku dan kuburku, dari
unggun-kobar nyala sajak

Aku mengasap dan menguap,
melangit menuju panas-Mu

***

model 4 (2006) oleh AS Kurnia

***

Di Luar Dada Kereta

KAU kereta, tidak bawa siapa-siapa,
mengejar waktu yang makin berjarak

Segalanya menjauh, nama-nama kota,
kilometer yang tak terangka angka

Di jendela kau cuma bisa kenali senja,
malam masam, sinar bulan yang enggan,
singsing pagi, matahari tak lagi berarti.

Aku, cuma penumpang amat gelap, tak
berkarcis tak bertuju: tak tahu sejak
bila, telah buta mulut, telah bisu mata

Menyanyat diri, duga kini: Ini kereta
apa di sini juga sekubur sehidup umur?

* * *

Ajalmu Jauh di Pulau

Angin, air, pulau, kau dan jauh pacarmu
Terang, laut, bulan, kau dan manis cintamu
Perahu, jalan, ole-ole, kau dan leher gadismu
Waktu, sampai, iseng, kau dan rapuh tahunmu

Dia, peluk, pangku. Aku, kau, dan sendiri ajalmu

***

model 5 (2006) oleh AS Kurnia

***

Sajak yang Tak Putih

Kenapa jua kita mesti teringat pada mati?
Langit menari, tujuh warna dibelah pelangi
Basah rambut wangi tubuh dibasuh hujan tadi
Aku minta pandangmu saja, mata nyatu hati

Kenapa masih kita mesti menyanyi berdoa?
Tanganmu tanganku menutup luka menganga
Pelangi tak sempat tanya: itu merah apa?
Langit tiba-tiba telah pula menutup mata

Tadi senja mau tiraikan kelambu telus sutra
Belum kita rebahkan lelah sepasang koyak ia
Kau tarik aku, aku tarik kau, kita telah sama:
Ini seperti tarian akhir, sebelum Mati tiba…

***

model 6 (2006) oleh AS Kurnia

***

Keris Berkarat

Di ranjang, di ranjang, ini pergumulan panjang
aku sudah terlempar dari mimpi dibanting bayang

Bulan kacau, terang kerontang, bantal koyak,
tadi kutikam keris, kukira dadamu yang kuiris!

Bulan kacau, cahaya bertukar redup ke kerlip,
ini di sepuluh jariku darah siapa melumuri?

Keris tak ada lagi, cuma serbuk karat menyeri di
enam, tujuh, sembilan luka di punggung di dada…

***

model 7 (2006) oleh AS Kurnia

***

Sudah Setajam Pedang

Kami masuk ke malam, duduk di gardu,
menjaga daerah mati, samakan saja
bersamamu atau tidak bersamamu

Bukan mau bilang: aku berani hidup,
pandang terasah, sudah setajam pedang

Tak susah impikan merdeka, tetapi
kepastian itu bintang redup cuma!

Ya, sejak itu, waktu jalan. Tapi
jangankan nasib waktu, nasib sendiri
pun kami kini tak ada yang bisa tahu.

]

* * *

Lain Kabar dari Lain Laut

Empat belas baris sesal dalam sesoneta
Tentang ketololan penyair dan pacarnya
Padahal apakah ada yang bisa dipercaya,
kelasi kapal bersauh pembenci dermaga?

Ia ngaku luka, pada bekas kecup tubuhnya,
tahukah pula, ia pun tinggal luka di situ,
Di tubuh pacarnya? Sama luka, darah sewarna
Ke laut dan langit biru, menujukan segala tuju

Kaukenang ia kemudi, kemudian bujur buritan,
Berbuih nafasmu di antara ombak berdustaan
Ini pelayaran menyatukan waktu dan pertanyaan
Yang tinggal di pelabuhan jiwa tak berjawaban

* * *

Sajak yang juga Sia-sia

Sajak yang sia-sia, tak kan kutuliskan lagi
Tentang kau yang datang pada penghabisan kali
Tak bermetafora warna kembang: mawar dan melati

Sajak yang sia-sia, yaitu padanya kita saling
Menimbang cinta, dan akhirnya membimbangkannya,

Pada sajak yang sia-sia, hati berjeruji besi
Dikurung dan mengurung sepi, ‘nunggu vonis mati

* * *

Tak Ada yang Berhenti di Sini

Mana mereka yang mau tuak berkendi-kendi?
Cuma seregu pengecut dan badut lalu tadi…

Pemeta gadungan dan tukang sirkus tepi jalan

Para pelayan perempuan minta lekas pulang,
Menghapus gumpal gincu di sudut-sudut bibir…

Tak tahu ada Mati mengulur tangan ke leher,
Tak singgah di ruang berbaris botol tuak,
Cuma penyair pinggir, sembunyi di larik sajak!

Mana mereka yang mau tuak berkendi-kendi?

***

Hasan Haspahani, penyair bermukim di  Batam. Buku-buku buah pena Hasan Aspahani, antara lain: ORGASMAYA (Yayasan Sagang, 2007), Menapak ke Puncak Sajak (Koekoesan, 2008), TELIMPUH (Koekoesan, 2009).Menurut pengakuannya, sajak-sajak yang dikirimnya ini banyak dipengaruhi sajak-sajak Chairil Anwar. E-mail: hasanaspahani@yahoo.com

AS Kurnia, pelukis kelahiran Semarang, 31 Juli 1960, bermukim di Banjar Tebesaya, Ubud, Bali. E-mail: kniart2000@yahoo.com

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments