Wednesday 22nd May 2013

Home » Fiction & Poetry, Poetry » Sajak-sajak Nyoman Sukaya Sukawati

Penari Tua: Gambar  Ni Polok di  Museum Le Mayeur

Selain kepada langit untuk siapa pula hatimu menari
Apakah untuk kami agar kami bisa menandai batas samudera
Sebagaimana kami kenang tarianmu seperti derai ombak yang susut ke dalam raga
Betapa pun sunyi tapi itu mengingatkan kepada luasnya cintamu
Bukan soal berharga atau tidak, tapi kami jadi paham betapa tubuh inilah tarian semesta itu
Selain untuk para dewata kepada siapa pula tarianmu kau persembahkan
Mungkin untuk samudera atau bahkan bagi kesunyian di batas terjauh pantai ini

Atau ini hanya pengisi waktu senggangmu hingga laki-laki asing itu
Memiliki dan melukis tubuhmu setelanjang imajinasi dan seredup cahaya pagi
Di saat mana kau menari seperti camar yang terbang rendah menembus kabut
Serupa lintasan cahaya di lidah ombak yang lalu memenuhi pikiran tentang kesemestaan cinta
Sebelum ia menghilang begitu cepat terseret ke arus dalam

Tapi di matamu cahaya itu tetap menggenang sebening hati seorang ibu
Yang memimpikan kekasih dan anak-anaknya lahir dari rahimnya
Anak-anak yang kelak meneruskan tarian yang tertunda
Yang akan melanjutkan gerak-gerik tubuhmu hingga melampaui batas usiamu

“Aku adalah ibu bagi setiap anak yang menari untuk semesta.”

Saat laut pasang di rambutmu
Senja tiba-tiba jatuh dalam bayang-bayang suram yang bisu
Bergerak di antara jejak perahu dan sisa-sisa matahari yang membakar gambar tua
Kau masih juga bermimpi tentang pulau yang menyamar di kaki langit
Di antara deretan pohon kamboja, akar bakau, biji-biji padi, dan duri pandan
Di mana setiap gerak tarian dipahat jadi patung batu yang angker dalam samadinya

Kau menari mengurai horizon jadi desis buih sepanjang pantai
Mendaratkan para nelayan di dermaga-dermaga tak terpetakan
Lalu setiap kerling matamu merangkum semua teluk rahasia
Hingga tubuhmu jadi ucapan paling mistis tentang suara-suara yang diam di dalam

Jika ingin tahu impian terindah maka kini telah kami temukan padamu
Serupa gema yang memantul dan membuat merindu
Tapi masa silam yang disimpan di bilik museum ini
Sewarna kanvas lapuk dengan coretan tinta merah-hitam yang luntur
Menunjukkan mimpi itu terlalu sunyi bersembunyi di balik senyum indahmu
Mimpi yang kemudian seperti air, menghapus jejak-jekak kakimu yg tertanam di pasir
Jejak yang digerakkan oleh rasa rindu terhadap tarian anak-anak jiwa yang tak sempat lahir

***

Pohon Kuburan Desa Trunyan

Sebuah perahu kecil seperti sehelai daun
mendekat ragu-ragu dari balik kabut:

Kala itu senja mulai menyentuh bayangan tergelap pohon ini. Pohon yang menjadi kenangan bagi setiap jasad yang terbaring di bawahnya. Ada warna lumut tua tersangkut di dahan yang patah. Kami bercakap tentang daun-daun terserak serta waktu-waktu yang hampa, “Di sini kita melihat kematian. Sederhana sekali. Tetapi sungguh kita juga tidak paham ada kematian yang lebih indah.” Hari melambat tertahan angin di dinding batu. Kabut menebal dan tak ada suara dari arah danau.

Di tempat terpencil ini kematian menjadi secarik tembang.
Tembang yang memaksa kita terus memaknainya
sepanjang hidup. Hingga tembang ini juga mengirim tubuh kita
kembali ke tanah. Di sini kami temukan rangka tubuh kami
terselip di antara tumpukan tulang-belulang dan tengkorak.
Di lubang matanya ada sisa genangan air mata.
Di rahangnya menggantung pesan terakhir yang belum terucap:

“Hatiku ingin bernyanyi untuk malam purnama.”

Itu malam yang penuh cinta. Saat langit bertemu cahaya keemasan.
Ketika perahu mengitari danau dalam perjumpaan purba.
Kami lahir di sini dan mungkin maut tak akan pernah menjadi bagian terindah hidup, maka biarlah jalan cinta kami ada di sini. Kami bukan sekumpulan ksatria
Yang memanggul nama besar dan demi kematian yang indah
rela membunuh atau dibunuh. Kami bukan manusia utama yang ketika ajal
jasadnya harus diusung di menara tertinggi dan dibakar di punggung lembu putih.

Perahu memutar sejenak hingga senja jatuh di air
Bukit-bukit menghitam dan di kejauhan langit menghilang

Kami hanyalah pemilik danau tertua.
Airnya sumber air mata kami
Batu-batu gunungnya jiwa kami
Cinta kami adalah lembah yang memuja langit
Yang mencoba menangkap bisikan daun-daun
dengan kalimat indah selembut hawa dingin pegunungan.
Di saat mana hasrat kami juga ingin menengadahkan bukit ini
lalu memasang cahaya matahari di matamu
agar di tempat ini selalu terlihat peri
bergerak sehalus halimun membangunkan pagi.
Maka akan kami hembuskan kisah hidup kami
yang kelak menggelombangkan angin rahasia
dari balik pohon kematian ini.

Cinta kami rahasia, seperti akar dengan tanah,
antara cahaya dan bayangan. Antara danau dan gunung
Atau bak kelopak bunga yang tak pernah mekar
yang menyimpan sendiri aromanya yang tersembunyi.
Dan cahaya yang telah bertahun kami tangkap itu
biarlah menjalar secara gelap di dalam jiwa kami.
Lalu seperti bulan ia akan bangkit di celah-celah bukit kelabu
dan memaksa pulang kembali ke dalam dirinya sendiri
sesaat sebelum subuh. Maka hanya hati kami yang bicara:

“Kita memang tak pernah paham kematian yang indah.”

kemudian perahu kecil itu
diam-diam berlabuh di dermaga berkabut
seperti sehelai daun ia membaringkan dirinya di bawah pohon.

Di sini biarlah kemudian ia meninggalkan cerita
Tentang hidup dan cintanya. Meski hanya sederhana.

Di danau ini kami mengaca. Dari tempat terpencil
di palung berdinding keramat bebukitan ini
kami menakar sunyi. Menyapa lalu-lalang musim
Bertahun-tahun menyusuri bagian yang paling rahasia dari gunung
Mencatat angin yang membekukan lapisan lahar di bawah lumut
Lalu kami guratkan jadi tembang-tembang jiwa yang hidup
Tapi jangan sesekali tanyakan kami tentang kematian yang agung.

***

Upacara Gunung  Batur

Kami dirikan kembali istana Dalem Balingkang ini
Dari rangkaian janur, aneka jajan, buah-buahan, dan umbi-umbian
Tak lupa tombak-tombak hulubalang raja kami tancapkan
Di sepanjang lembah menghadap arah puncak gunung

Demi tujuh desa dan legenda penciptaan bumi
Kami lafalkan mantra-mantra peneduh
Agar langit dan batu-batu cadas ini tak saling cakar
Di dalam jiwa kami

Lalu tiga puluh tiga jenis hewan kurban
Lambang kegelapan hati
Kami benamkan ke dasar tergelap danau
Yang sebelumnya telah kami jaring isinya

Di istana ini kami menyamar, di antara kawanan gagak yang terus menjerit
Memenuhi awan dalam perjalanan pulang ke pohon-pohon yang hilang
Di tengah musim-musim yang kian ganjil.
Tangan-tangan tak tampak itu terus saja mengusir mereka dari bukit
Hingga hari-hari terasa semakin angker dan jiwa-jiwa kian nestapa.
Tetapi dusta itu masih saja hendak menghibur
Dengan kalimat-kalimat puitis yang paling pedih
Tentang ranting-ranting telanjang tak berdaun
Yang memagari kaki langit: Batas kerajaan dewata ini!

Tujuh orang jro mangku berkeliling kampung
Memercikkan tujuh jenis air suci dari tujuh sumber mata air
Kami mesti menghitung cuaca, membaca perangai gunung
Ketika mengundang serombongan wong samar, gamang, memedi,
Demit penghuni jurang, hingga ruh penunggu gunung
Untuk perjamuan agung di pelataran ini

Kami sambangi istana mistis itu dengan tarian Sanghyang Api
Melantunkan tembang berantai di tengah asap kemenyan

Dengan doa sesaji ini kami kirim
Meski penunjuk arah tak lagi mampu menuntun kami
Ke perkampungan tua di antara persilangan yang semakin hilir-mudik.
Bisakah kalian temukan kembali jalan sunyi ke rumah di tepi danau itu
Di tempat mana dulu kami selalu menembangkan kakawin dan semaradhana
Setiap malam purnama, penanda ketakjuban kami pada silsilah-leluhur?

Kini kami berbicara hanya tentang pohon-pohon yang lelah
Angin pucat dan bayangan rembulan yang ingkar janji
Serta jeritan kekasih-kekasih yang pergi dalam suaranya yang paling pilu.
Siapa yang akan menjinakkan kisah perih ini untukmu
Selain lembah ini yang tak ingin lagi menguji rahasia kesetiaan kita?
Siapa yang akan menceritakan hari-hari yang penuh haru
Kecuali pohon-pohon ini kembali tumbuh dan bernas di dataran ini?

Melalui upacara ini kami ingin menanam pohon di dalam dirimu
Pohon yang berasal dari darah prajurit
Yang tumpah dalam pergumulan saat merebut kawasan ini

Di hari ketujuh, turunlah ke danau yang menggenang jauh di dalam dirimu
Di tempat mana kita melayarkan ratusan patung dewa
Menaburkan kembang setaman
Menyanyikan lagu-lagu dan bunyi-bunyian terindah
Agar pulau ini tetap basah dan berseri
Inikah makna pesan raja agar kita selalu hidup dengan kurban suci
Agar kita setia menjaga air suci ini di dalam tubuh kita?

Namun saat berbait-bait mantra berkumandang
Itulah suara jiwa yang luka. Jeritan bukit-bukit dahaga
Dan teriakan burung-burung yang tak bersarang
Juga bunyi desis ombak dari tengah danau
Yang tak pernah mencapai tepian

Kamilah yang melepas puluhan penari itu
Serupa bidadari dengan tangan terbuka dan mata menyala
Menarikan bagian yang gemulai dari balik tubuhnya
Tapi apa pula yang harus diutarakannya
Selain doa dari hati kami yang tumpul?

Kini kami berbicara tentang orang-orang yang menggali hujan
Di ladang-ladang kemarau. Atau yang menadah tetes-tetes embun
Di dalam perigi berbatu-batu ini
Lalu mengayak segenggam pasir lahar hingga jadi garam
Untuk sekadar menyelamatkan hidup dari kemusnahan
Tapi apa yang tersisa dari sejarah musim yang kian ganas
Selain ingatan muram pada gunung dan danau yang bisu?

Dan pada jalur-jalur sungai kehitaman
Tak lagi ada bayangan langit. Pada lontar-lontar tua
Suara hati cuma tercatat sebagai goresan kering
“Tapi darah kami adalah turunan Dalem Balingkang dan pasukan setianya.”
Itulah kalimat kebanggaan yang kami tegakkan di hulu hati
Lalu melalui upacara ini kami memanggil ruh-ruh leluhur yang suci
Mendudukkannya di singasana kerajaan dan mengaraknya keliling kawasan
Di antara mata air yang mati. Sebilah keris peninggalan raja
Sekali lagi kami tikamkan hati-hati ke leher hewan kurban
Agar darah kembali menetes membasuh tanah kami.

Di puncak upacara
Mesti kami sandingkan tujuh lapis tubuh ini dengan tujuh lapisan gunung
Lalu apa yang kalian lihat selain sebongkah pulau yang bersimbah darah
Seperti kuburan penuh orang luka yang sedang menanggalkan tulang-belulangnya
Lalu mereka mengigau seperti tak saling mengenal
Dan mulai saling membenci dalam keterasingan
Kami tak lagi mampu mendaki keagungan sukma aksara-aksara suci
Sedang seluruh upacara pemujaan telah menjadi dongeng rutin
Hingga akhirnya kami temukan lapisan tubuh ini
Serupa onggokan istana batu tanpa penghuni
Di lereng terjauh gunung ini.

Di akhir upacara, hendak kami dirikan keagungan Dalem Balingkang
Tapi raja legenda itu tinggal puing-puing terserak
Di sekujur tubuh jiwa kami yang rapuh.

Catatan
jro mangku : pemimpin upacara adat di Bali
wong samar, gamang, memedi : jenis-jenis makhluk halus
kakawin, semaradhana : jenis tembang tradisional Bali

***

Nyoman Sukaya Sukawati, lahir di Desa Sukawati, Bali, 9 Februari 1960.  Setelah malang-melintang di dunia jurnalistik, antara lain menjadi jurnalis Harian Nusa Tenggara (Bali) dan RCTI, Nyoman Sukaya sekarang lebih banyak merenung dan menulis karya sastra. Sekarang tengah mengumpulkan puisi-puisinya selama lebih dari dua dekade, untuk diterbitkan dalam buku antologi puisi tunggal.

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments