Denpasar
denpasar, kota yang lahir
dari belukar
adalah akar
yang menjalar
di urat-urat nadimu
tertatih menahan perih
usia yang hijau
kau memburu bayang ibu
yang raib di ufuk barat
di senja penghabisan kata
saat bocah, jernih matamu
tak habis mereguk
cahya purnama
membayangkan sosok ibu
merenda kebaya di situ
namun, kau selalu
berseteru dengan waktu
sayup-sayup tangis ibu
menggema dalam darahmu
kini, waktu menjelma ibu
kau menjadi sekutu
hari-harimu yang ragu
denpasar, kota yang menyusu
pada perempuan-perempuan jelata,
ibu-ibu penjaja sayur di pasar
nanar menatap kepergianmu
tanpa pamit pada leluhur…
Denpasar, Januari 2010
***
Di Tepi Tamblingan
setelah halimun
parasmu pupus
di pias danau
bara pada unggun kayu
masih sisakan birahi semalam
canda perkemahan
telah menyurutkan darah
yang mengalir deras ke urat malu
di pias danau, apa yang gagu
selain waktu yang menunggu
kepulanganmu
pagi itu, embun di pucuk pakis, benalu,
anggrek bulan, cemara dan danau
menduga telah terjadi sekutu
antara kau dan aku
lalu dari bongkah kerak kayu
kau ulurkan kenangan layu
“kayu itu suatu waktu
akan jadi perahu
yang mengantar ruhmu
ke tengah danau,” bisikku
namun parasmu telah pupus
sebelum mengaduh danau
setelah halimun bergulung turun
pengayuh perahu tiba
menjenguk cemas kita
tanpa suara ia menuntunmu
menaiki perahu
lalu mengayuhnya makin jauh
makin jauh…
2002
***
Tanah Lot
ombak yang meludah
meniti gigir cadas
camar yang sendiri
penyap pada warna pagi
sepasang turis
sepasang bibir
di muka gapura candi
seekor anjing kumal
melintas
tak lagi kutemukan kau
hanya warna pagi
muram
dengan lutut gemetar aku bertamu
ke sebuah kafe tepi pantai
seorang ibu menyeduhkan kopi untukku
aku terkenang si penyair tua itu
yang menulis puisi pada sebongkah cadas
di laut lepas
yang merasa jantungnya tertanam
dan tumbuh diantara bunga pandan
sepasang turis
dengan raut kusut
perlahan masuk
ke mulut ombak
waktu merambat
liat dan lambat
2000
***
Laut Bali
sisa cahaya dan arus waktu
larut dalam kadar darahmu
laut tak jemu mengigau pilu
seperti sedu peri-peri penipu
kau hitung jejak kelahiran itu pada pasir
sisa cahaya merembes dari pusar ombak
kawanan bocah muncul dari rekah karang
menawarimu kalung-kalung kulit kerang
pada matanya kau lihat pesisir bali menangis
bukit-bukit kapur terkikis
pantai-pantai tereklamasi
perahu bercadik melaju
seperti masa lalu
seorang tua menegurmu:
“kembalilah ke laut, cucuku
laut adalah ibu
awal dan akhir waktumu”
kau masih tafakur
tubuh pelaut tua itu
perlahan larut jadi garam
dalam kalbu laut
kau memusar mengikuti arus waktu
sisa-sisa cahaya merintih:
“ucapkan mantram leluhur pelaut
agar angin jinak, ombak jinak, ikan jinak
dan turunanmu jadi bijak!”
1999
***
Jimbaran
kau bikin aku gila
bentangan bukit kapur
lintasan hutan bakau
yang dalammu sembunyi
perawan puisi
beri aku asin laut
agar lepas hausku mengulum rindu
telah tiba segalanya
mainan takdir
tanpa akhir
aku penunggang angin payau
datang dari timur
letih ngembara jauh
beri aku berteduh di gubug garammu
biar sempurna kelahiranku
sempurna aku bernama manusia
kau bikin aku gila,
bunga manja…
sebelum angin barat menebar benih
atas bukit kapurmu
bila susah aku menjangkaumu
aku tetap menunggu
sampai akhir waktuku
1996
***
Malam Pengantin Pesisir Serangan
setapak jalan bakau
kubangan lumpur setinggi betismu
kususuri
tiba pada matamu teduh,
pantai biru dan hutan bakau
melantunkan jerit manis
malam pengantin
pagi beranjak siang dan
akhirnya berangkat senja
pun laut pasang surut
dalam kuluman-kuluman lembut
yang mencandu kesadaranku
lalu jenjang lehermu
lalu bulan semu itu
dalam nikmat sunyi
puisiku lahir
namun liang-liang kepiting
penyu-penyu hijau
telah tergusur
bentangan hijau lapangan golf
genangan payau,
bau amis ikan-ikan keracunan
kubangan lumpur. endapan
segala kotoran. semua itu
mengganggu malam pengantinku
di pesisir serangan
1997
***
Bermalam di Toyabungkah
dan kita buka percakapan
dengan kopi hangat dan
kenangan pendakian
cemara bangkit menuju danau
namun aku lebih silau
pada bayang bulan
yang menenun tanya
pada matamu:
di mana batas pasti
antara kabut dan malam?
jalan ini bermuara
di keheningan danau
sebagai bongkahan lahar beku
aku lebih memilih
menjerat dan melepas
bunga-bunga rumput
menjadi sayap
beribu sayap kabut
o, danau kelabu
telah lama kau jadi kopi hangat
dalam gelas para pendaki letih
sedang aku tetap lahar beku
dalam permainan lugu
bunga rumput
1997
***
Lovina
dan camar dan laut dan lumba-lumba
membagi air matanya bagi kita
pada desir senja
pohon ketapang muda mengigau
melepas usia pasir garam
aku dipukau laut di matamu
penuh pusaran tak terduga
ada yang asing
terlalu aku mengenal laut
terlalu rindu terlalu dungu
terlalu pelabuhan
daun ketapang muda luruh
angin betina
menyeretnya ke tengah ombak
ada apa dalam diriku
sesuatu menyungkupi batin
lovina, tak tahu aku
dengan apa mesti
kuabadikan pertemuan ini
dengan puisi tak jadi
atau dengan lagu pilu
satu hal telah pasti
kita akan kembali
pada sunyi diri
lovina, tak tahu aku
apa yang mampu kulakukan
bila memuncak rindu
jaga dirimu
dan kenangan kita
1996
***
Pelabuhan Buleleng
saat mengulum pasir
laut tertegun di bibirmu
muncul jenuh yang indah
membenamkan diri
menghayati
cahaya senja yang meleleh
di belahan bukit mungilmu
pada batas tatap mata
tak pernah kita pahami
sampai di mana jiwa letih ini
memeram doa
menuntun mata hati
tubuh kita menyala
terbasuh warna keemasan senja
ombak memerciki wajah
sekali waktu kita
seperti tak terpahami
tengadah ke langit silam
mata pucat menganga
sepasang burung laut
telah melewati
malam pengantinnya
namun sayap-sayap itu
menjadi letih
dalam sangkar keramat
sang waktu
nelayan mengemas jala
perahu-perahu mengandaskan diri
aku ombak, kau laut
aku laut, kau ombak
kita terhempas dari pelabuhan
ke pelabuhan
setandas-tandas usia
1997
***
Buyan
kabut:
jiwa nelangsa yang perlahan turun
menyungkupi sepasang bukit mungil dan
dua ekor walet yang menari di udara
menghayati getar dingin
dan getir pertemuan
puncak keindahan:
kematian kecil
yang merayap di celah rumpun perdu
mengintip senja penyap di bibir mawar
lalu malam muncul dari pejam matamu
membuka kanal yang membuih dalam diri
malam di perkemahan
si terkutuk mengendap di rerumputan
meliuk ke dalam liang tikus hutan
yang mendadak basah seperti embun
pada kelopak perawan
o, kemurnian hari
kembali mengingat wajah sendiri
penuh luka
dan pada terang unggunan api
pagi tiba membawa sampan-sampan
yang menanti kenangan
kembali menepi
1997
***
Situs Candi Gunung Kawi
bayangan candi:
wujud masa silam yang meleleh
ke dalam genang kenangan bocah gembala
penggalan kepala patung terjatuh
menilik senja
menebar pesona wangi yang raib
menjalar dalam alir nadiku
sungguh terasa sunyi
menelusuri setapak berliku,
setapak masa silam
yang meranggaskan aku ke bumi
beribu-ribu kali
seperti penggalan kepala patung itu,
menjelma brahmana, ksatria, waisya, sudra, paria
kulakoni semua itu
hingga tiba pada sebuah telaga,
aliran tiga mata air dewa
ke situ Kau tuntun aku
bagai keledai dungu
membasuh wajah, tangan, kaki
melebur jiwa
dalam wangi bunga, harum dupa, hening tirta
hingga mayadenawa, dewa dewi, bianglala
menguap bersama gemerincing uang kepeng dan
taburan dolar para peziarah
sungguh terasa sunyi
sendiri menciumi wangi tubuhmu, arca batu
pahatan purba yang bangkitkan sayup-sayup kenangan
nelangsa doa:
aku asing di mataMu
Kau asing di mataku
namun selalu kita saling belit
serupa sepasang naga kasmaran
tunggal
hening
di antara gurat dan retak candi
bayang-bayang tubuhMu meleleh
di jalan setapak
menjelma embun
memisahkan dunia gaib kita
satu hal yang kekal:
aku terperangkap dalam ruang dalam waktu
karena karma, karena punarbhawa
tak paham kapan awal kapan akhir letih ini
tapi yakin,
kerinduan kepada Ibu,
mula denyut waktu
lebih suci dari beribu sajen beribu upacara
yang menuntaskan wujudmu,
o, candi-candi tua
arca-arca dewa
semua meleleh
bagai cairan darah tabuh rah
meleleh ke palung paling kasih
dari hidupku
1997
Wayan Sunarta, penyair kelahiran Denpasar 22 Juni 1975, ini sohor dijuluki sebagai Penyair Biru. Selain menulis syair, Jengki (demikian panggilan akrabnya) menulis seni untuk berbagai media massa. Beberapa buku kumpulan puisinya telah terbit, antara lain, “Malam Cinta” (2007), “Impian Usai” (2007), “Pada Lingkar Putingmu” (2005). Ia juga dikenal sebagai penulis prosa yang tangguh. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit, “Cakra Punarbhawa” (2005). Dalam rangka merayakan ulang tahun Jengki ke-35, diluncurkan buku kumpulan puisi bertajuk “Pekarangan Tubuhku” (Penerbit Bejana, 2010) pada hari Sabtu petang , 26 Juni 2010 menjelang puncak Gerhana Bulan, di Toko Buku Diskon TOGAMAS Denpasar.***
















