Tuesday 18th June 2013

Home » Bioskop, Film » 106 Tahun Sihir “Gambar Idoep”

Aduh enak rasenye

Nonton dua-duaan

Kayak tuan dan nyonye di gedongan…

SEPENGGAL lagu Nonton Bioskop, duet Benyamin S dan Ida Royani yang tersohor pada tahun 70an, itu  mengisahkan sejoli yang tinggal di sebuah kampung pinggiran Jakarta. Malam minggu, mereka naik delman pergi nonton bioskop, dua-duaan seperti tuan dan nyonya di kawasan Menteng yang ketika itu dibilang gedongan.

Bagi pergaulan mentropolis Jakarta kini, lirik lagu itu mungkin terasa katrok. Aktifitas menonton bioskop dua-duaan tentu bukanlah sesuatu yang menghebohkan, apalagi membandingkannya dengan tuan dan nyonya di Menteng.

Masyarakat kini lebih heboh melihat filem-filem yang ditayangkan dengan teknologi tata suara yang canggih.  Atau fasilitas tempat duduk berdua-duaan yang nyaman dan tontonan yang lebih beragam di bioskop. Mau nonton berdua-duaan kek,  berombongan dengan kolega kek, atau dengan keluarga, itu soal biasa. Yang penting tetap up date dengan filem-filem terkini sejagat, serta dapat membeli cinderamata yang berhubungan dengan  filem-filem yang ditontonnya dengan  layanan yang profesional seperti yang diberikan bioskop Blitz Megaplex.

Dalam medan persaingan bioskop yang tajam, Blitz Megaplex mampu membetot penonton dalam jumlah besar. Penonton mempunyai pilihan untuk menonton film dari Prancis dan  Korea, selain filem Indonesia. Blitz mampu menjadi pesaing yang handal bagi Cinema XXI yang telah berpengalaman selama 20 tahun lebih mengoperasikan  70 bioskop Cineplex (cinema complex) yang memiliki 300 layar. Cinema XXI membangun bioskop bilik kembar ala cineplex di kota-kota besar di Indonesia menggantikan bioskop ala cinemascope, yang berlayar tunggal dengan kapasitas penonton yang besar, yang kini mulai berguguran, atau tetap beroperasi dalam kondisi yang memprihatinkan, dengan segmen penonton kelas menengah-bawah.

106 tahun  bioskop di Indonesia. Semenjak sebuah filem dipertunjukkan di rumah Tuan Scharwz di Tanah Abang Kebonjae –kelak bernama The Rojal Bioscope – tanggal 5 Desember 1900, masyarakat Batavia gempar oleh penemuan teknik untuk memproyeksikan gambar ke sebuah layar. Warung-warung kopi, pasar, tempat-tempat berkumpul ramai membicarakan bayangan ajaib itu, yang dinamakan gambar idoep. Mereka menjual tiket yang sangat mahal, hingga mayoritas penonton  orang Belanda. Dengan munculnya gedung bioskop, sedikit demi sedikit seni pertunjukan tradisional keliling juga mulai mati, puncak kematiannya pada di tahun 1930an.

Gagasan bagaimana budaya visual terkait dengan teknologi ini kemudian juga berkembang pada gagasan tentang kelas. Ketentuan pembagian kelas dan harga tanda masuk bukan semata-mata karena alasan ekonomi. Lebih jauh, pembagian kelas tersebut mencerminkan usaha mereka memapankan pula susunan masyarakat zaman ini, dengan meletakkan masyarakat Belanda dan Eropa di puncaknya atawa disebut kelas Loge. Kelas dua adalah kalangan Timur Asing (vreemde oosterlingen), orang-orang Tionghoa dan India.  Kemudian kelas tiga, itu khusus orang Jawa dan Islam, dimana akhirnya muncul istilah kelas kambing, karena waktu itu orang Islam berjenggot semua, dan mereka nonton di kelas yang paling murah.

Lebih seabad sudah bioskop di Indonesia membentang layar. Sudah berjuta orang Indonesia, yang dalam masa pertumbuhannya lebih dari seratus tahun menjadi pengunjung tetap gedung-gedung bioskop. Impian-impian masyarakat luas dibentuk secara perlahan-lahan tapi pasti. Melalui bioskop inilah ukuran-ukuran kepuasan hidup dibentuk. Seperti dendang Benyamin S dan Ida Royani di atas, “…Nonton dua-duaan, kayak tuan dan nyonya di gedongan…” [HH]

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments