Thursday 18th September 2014

Home » Film » Garin: Film “Soegija” bukan dogma agama

Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan keluarga besar. Satu keluarga besar, dimana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian, dan permusuhan.

(Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ)

KENDATI  film bertajuk Soegija mengangkat sosok kenamaan dari umat Katolik, Monsinyur Albertus Soegijapranata SJ, Garin Nugroho selaku sutradaranya menjelaskan bahwa film ini lebih menekankan perjuangan serta sikap humanisme tokoh tersebut.

“Film ini bukan dogma, lebih pada kepemimpinan di tengah masa perang dan bagaimana seorang. Uskup sekaligus seorang warga negara mengelola cita-cita berbangsa itu,” ucap sutradara senior tersebut saat ditemui SH di sela-sela “Dialog Film Soegija” di gedung KWI, Jalan  Cut Meutia 10, Jakarta, pada Minggu (15/04/2012) ini hadir sejumlah narasumber, antara lain, sejarawan Anhar Gonggong, kolumnis Sukardi, dan penulis buku Rm. Subanar.

Hal yang menarik dari Soegija menurut Anhar adalah keluasan pikir dan tindaknya. Pada peristiwa pendudukan Jepang di Semarang, ia tidak hanya menyelamatkan umat Katolik namun juga bangsa Indonesia. “Dia bukan hanya uskup, dia pemimpin. Di tengah krisis musti ada orang yang bisa mengambil sikap dan melampaui dirinya. Itulah kategori pahlawan. Selain teruji sebagai pemimpin yang baik, ia memang layak disebut pahlawan,” kata Anhar.

Senada dengannya, aktris Olga Lydia yang turut berperan dalam film tersebut berkata bahwa film yang mengangkat sosok Uskup Agung itu tidak akan bercerita tentang pelajaran-pelajaran agama Katolik, walaupun ia mengakui napas kekatolikannya sangat terasa.

Maksudnya adalah ketika Soegija menerapkan Hukum Kasih dalam kepemimpinannya. “Ini sangat menarik, di mana sebuah film perang, kepahlawanan, tetapi dia bicara juga tentang kasih yang masih ada di dalam masyarakat, dan bagaimana kasih itu bisa membantu menyelesaikan masalah,” Olga menjelaskan.

Romo Benny Susetyo dari Komisi Hak KWI pun menangkap jiwa nasionalisme Soegija yang dilandaskan pada perintah Tuhan dalam kitab suci, misalnya tentang perintah untuk menghormati orang tua. “Soegija menerjemahkan ‘menghormati orang tua’ itu dengan menghormati Ibu Pertiwi. Dengan menghormati Ibu Pertiwi maka Soegija mempersembahkan dirinya untuk bangsa dan negara,” tuturnya.

Soegija merupakan film drama epik sejarah berformat film perjuangan dengan mengutip cerita dari catatan harian tokoh Pahlawan Nasional Mgr Soegijapranata, SJ, yang juga merupakan uskup agung pribumi pertama yang diangkat Vatikan.

Film Soegija mengambil setting masa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia kurun 1940-1949, mengangkat kisah Mgr. Soegijapranata yang dikenal sebagai Pahlawan Nasional dan juga uskup pribumi pertama di Indonesia. Posisinya sebagai pemimpin Gereja Katolik saat itu tidak menghalanginya berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Misalnya dalam perang 5 hari di Semarang, Uskup yang dikenal dengan kalimat “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia” ini berhasil melakukan negosiasi dengan Jepang dan sekutu di Gereja Gedangan, tempat ia tinggal, untuk membuat gencatan senjata.

“Mengalami kepemimpinan di masa lampau itu tidak gampang. Soegija berhasil dengan silent diplomacy dan kemanusiaannya. Soegija berhasil menunjukkan bahwa dasar dari seluruh nasionalisme adalah humanisme. Dan humanisme berdasar pada dialog antar multikultur.” Demikian dikatakan Garin Nugroho yang didaulat untuk menjadi sutradara film kolosal Soegija. Menurutnya isu tentang multikulturalisme penting untuk terus dimunculkan, di tengah aneka konflik di tanah air terkait persoalan kebangsaan. Ditambah lagi dengan krisis kepemimpinan yang saat ini menjadi kegundahan sebagian besar masyarakat.

“Yang menarik dari sosok Soegija adalah dia menggabungkan kemampuan diplomasi “diam-diam”-nya, pelayanannya, dengan sifat keras, ketegasan untuk mencapai cita-cita. Jadi gabungan antara tiga itu,” tutur Garin.

Di sisi lain, Garin menyadari bahwa saat ini banyak sekali film yang mengedepankan kalangan tertentu, misalnya umat Islam, dalam film Sang Pencerah. Ia menilai bahwa film seperti itu memiliki esensi yang sangat baik. Oleh karena itu, ia pun merasa harus membuat film-film dari tokoh agama lain mulai dari Islam, Hindu, Buddha, Kristen, dan Katolik.

Namun, jika pembuatan film-film tersebut dianggap sebagai upaya mendoktrin agama tertentu, ia menilai bahwa masyarakat sedang mengalami kemunduran dalam demokratisasi. Menurutnya keberadaan film-film seperti itu justru dapat menjadi sebuah panduan multikultur bagi mayarakat Indonesia yang heterogen.

Dengan demikian, katanya, masyarakat dapat mengalami berbagai jenis kepemimpinan dan bisa memetik nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. “Jadi kalau saya justru merasa wajib (membuat) hukumnya, selama film-film itu menuju kembali pada aspek-aspek berbangsa,” ucapnya.

Lebih lanjut Garin menuturkan, masyarakat harus punya “kedewasaan multikultur”. Multikultur tidak selalu diartikan menonjolkan berbagai macam agama dan budaya sekaligus dalam sebuah karya. Justru, masyarakat harus bisa menerima ketika ada film atau karya apa pun yang hanya mengedepankan salah satu kalangan.

Sementara itu, menurut Romo Murti Hadi Wijayanto SJ selaku produser, film ini ingin menampilkan Soegija yang keluar dari “jubahnya” sebagai gerejawan, dan lebih sebagai negarawan. Salah satu yang penting menurut Garin adalah: “Dasar dari nasionalisme adalah humanisme dan humanisme adalah dasar dari setiap agama.”

Kolosal

Dengan mengambil latar belakang perang, tentu saja film ini menjadi sebuah film kolosal yang memerlukan banyak pemain. Djaduk Ferianto selaku salah satu produsernya mengatakan bahwa ada sekitar 5.000 orang yang terlibat sebagai pemain, belum termasuk kru produksinya. Garin pun mengakui cukup sulit mengolah film ini.

Kesulitannya adalah karena film ini berlatar Perang Dunia I, dengan latar belakang berbagai suku budaya dan bangsa seperti Jawa, Jepang, Belanda, dan Amerika. “Setiap hari bisa 100–150 pemain, jadi memang secara teknik, jumlah manusia, bahasa, dan keberagaman aktor dari berbagai negara, film ini cukup sulit untuk diolah,” katanya.

Dibutuhkan waktu 3 tahun untuk melakukan penelitian hingga film ini lahir dan akan tayang pada 7 Juni 2012 mendatang. “Tiga tahun lalu saya mulai melakukan riset berdasarkan buku Rm. Budi Subanar SJ sebagai peneliti dan penulis buku tentang Mgr Soegijapranata. Rencananya hanya akan dibuat dokumentasi dalam bentuk video. Baru pada 2 tahun lalu Djaduk Ferianto mempertemukan saya dengan Garin. Lalu mulai muncullah ide membuat film layar lebar,” ujar produser film dari SAV Puskat, Rm. Murti Hadi Wijayanto, SJ.

Film yang mengambil setting lokasi Semarang, Jogjakarta, Klaten, serta Ambarawa dan sekitarnya ini bukanlah film dakwah melainkan film tentang kebangsaan, kemanusiaan, dan keimanan. Di film ini akan kita jumpai banyak lagu klasik yang barangkali sebagiannya sudah kita lupakan. Itu janji dari Djaduk Ferianto yang menjadi tim kreatif dan menggarap musik. Di antaranya 2 lagu kemarin ditampilkan oleh Endah Laras. Ini ekspresi penyanyi bernama lengkap Endah Purwani Laras saat membawakan Bunga Anggrek dalam diskusi kemarin. Selain menyanyi, perempuan asal Solo ini juga wasis bermain musik, diantaranya ukulele. (Merdesa)

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments