Thursday 30th October 2014

Home » Life Style & Entertainment, Shopping » Butik Batik, Hargai Karya Seniman

[JOURNALBALI.COM-Ubud] Berawal dari kecintaanya terhadap seniserta suka pada barang-barang tua dan unik. I Gusti Ayu Kade Ngurah Ricka Cahyani mencoba untuk membuat wadah yang bisa dijadikan tempat berkumpul para seniman.

Sejak tahun 1998, bangunan yang awalnya difungsikan sebagai bar dia alih fungsikan menjadi butik seni yang diberi nama 22 K. Bukan sekedar nama tetapi 22K memiliki arti yang cukup dalam.

“Saya ingin menjadikan segala sesuatu itu sempurna, baik kecintaan terhadap seni ataupun menjadikan senimannya untuk sempurna. Ibarat emas 22 karat masih mengejar proses sempurna untuk menjadi 24 karat. Selain itu kira-kira jarak dari sini (butik) ke Denpasar 22 kilo meter,” tutur Ricka menjelaskan arti nama toko miliknya yang terletak di jalan Raya Ubud, beberapa waktu lalu.

Dengan sentuhan dan dikemas dengan unsur seni, butik ini lebih menawarkan hasil kerajinan batik sebagai salah satu andalan. Selain kebaya, perhiasan, patung, benda antik dan barang kerajinan lainnya.

Dipilihnya batik sebagai andalan bukan semata-mata dia menyukai batik tetapi juga atas rasa keprihatinannya kepada seniman batik.

“Seperti tidak ada yang menghargai karya pembatik tradisional. Banyak motif mereka yang dijiplak oleh perusahaan yang membuat batik dengan cara printing. Ini yang merusak mental para seniman,” ungkapnya.

Wajar menurutnya bila harga batik kualitas bagus tergolong mahal. Ini sesuai dengan proses pengerjaan yang memakan waktu berbulan-bulan. Terpenting bukan hanya soal waktu tetapi penjiwaan seniman saat menggoreskan canting tinta demi membuat hasil sempurna. Namun yang terjadi sekarang adalah pengkebiriian kepada seniman. Dalam waktu singkat puluhan meter batik bisa dihasilkan oleh pabrik-pabrik modern yang menggunakan mesin printer.

Bagi Ricka, keindahan tetap dimiliki oleh batik yang dikerjakan secara tradisional. Ada keunikan tersendiri pada batik yang dikerjakan secara tradisional, baik yang di lukis maupun di cap. Karena setiap gores tidak akan sama persis antar corak satu dengan corak yang lain walaupun itu satu motif. Begitu pula yang di cap. Lain dengan batik print, semua corak sama karena hasil dari copi paste.

“22K tidak menyediakan batik print. Semuanya batik yang dikerjakan oleh seniman secara tradisional. Untuk harga bervariatif mulai dari dua ratus ribu untuk batik selendang sampai dengan harga yang sepuluh juta untuk batik yang tergolong antik,” lanjut dia.

Perempuan yang sudah 12 tahun berkecimpung dalam dunia batik ini menambahkan harga puluhan juta dianggap tidak mahal bagi orang yang paham dan fanatik akan batik. Bagi mereka ketika merasa cocok setelah melihat hasilnya maka tidak akan terjadi penawaran lagi. Langsung transaksi pembayaran.

Semenjak batik di klaim oleh Malaysia, orang Indonesia mulai tertarik dan berminat membeli batik. Sebelumnya nyaris tidak ada, pembeli batik hanya orang asing.

“Kayaknya harus berterimakasih juga kepada Malaysia, karena dia orang Indonesia ingat kepada warisan budaya yang terkenal di dunia,” candanya sembari tertawa.

Bagi anda yang berminat atau mulai tertarik kepada batik bisa langsung berkunjung ke butik 22K yang berada di Ubud, tepatnya di jalan raya Ubud, Gianyar ini didepan Oka Kartini Bungalow. Selain batik anda juga bisa memilih berbagai macam perhiasan seperti kalung ataupun gelang nan cantik dan unik. (ast)

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments