Wednesday 17th September 2014

Home » Life Style & Entertainment, Shopping » Kilau Permata di Pasar Burung

oleh WAYAN SUNARTA

Pedagang batu permata di Pasar Burung di Jalan Veteran, Denpasar. (foto:dok.jengki)

SEORANG lelaki paruh baya dengan senter kecil di tangan nampak asyik mengamati sebutir batu permata mirah Birma (ruby from Burmese). Batu permata berwarna merah menyala dengan kilau sinar bintang (star) berjari enam yang tajam itu begitu memukaunya.

“Ini mirah yang cukup langka. Kristalnya bening dan ber-star,” ujar Handri dengan nada sedikit promosi.
Lelaki paruh baya itu manggut-manggut sambil tersenyum tipis. Ketika dia tanya harga batu seukuran biji kacang kedelai itu, Handri menyebut angka dua juta rupiah. Tawar menawar pun terjadi. Akhirnya, Handri melepas batu itu dengan harga satu setengah juta rupiah.
Handri, pria asal Jawa Timur, merupakan salah satu dari sekian banyak pedagang batu permata di Pasar Burung di Jalan Veteran, Denpasar. Pada mulanya Pasar Burung merupakan pasar yang lebih banyak didominasi oleh pedagang dan pecinta burung. Namun lama kelamaan pedagang dan pecinta batu permata mendominasi Pasar Burung. Bahkan, di sana berdiri “Asosiasi Penggemar Batu
Permata Bali” yang kebanyakan beranggotakan para pedagang batu permata di Pasar Burung.
Selain di Pasar Burung, kumpulan pedagang batu permata bisa juga ditemui di sebelah barat Pasar Kreneng, Denpasar. Hanya sedikit pedagang yang memiliki toko permanen. Kebanyakan menjajakan dagangan dengan sangat sederhana. Cincin-cincin dengan permata aneka ragam dalam kotak perhiasan disusun rapi di atas meja sederhana, bahkan ada yang digeber di lantai.
Pembeli mengamati dan menaksir batu permata sambil berdiri atau berkacak pinggang. Kalau merasa tertarik dengan permata tertentu, pembeli akan jongkok atau duduk di kursi sederhana dan mulai memilih-milih. Tawar menawar pun terjadi, kadang diisi dengan percakapan mengenai khasiat batu permata itu. Tujuan seseorang membeli batu permata juga macam-macam. Ada yang hanya menyukai keindahannya, ada yang untuk koleksi dan investasi. Bahkan tidak sedikit pembeli yang sibuk memburu batu-batu tertentu yang diyakini bertuah magis.
Setiap hari, dari pagi sampai sore, Pasar Burung selalu ramai dengan transaksi batu-batu permata. Sedangkan di Pasar Kreneng, pedagang menjajakan dagangan dari pagi hingga jam satu siang. Di kedua pasar tersebut banyak juga berkeliaran calo batu permata. Para calo ini memiliki kelompok tersendiri.
Batu-batu permata yang dijajakan di Pasar Burung dan Kreneng beraneka ragam. Mulai dari jenis akik (agate), biduri sepah (tiger eyes), mata kucing (cat eyes), sitrin (citrine), giok (jade), pirus (turquis), kuarsa, kristal, obsidian, biduri bulan (moonstone), kecubung pengasihan (ametis), kalimaya (opal) hingga permata berkelas seperti jamrud (emerald), blue safir (blue sapphire), mirah (ruby). Namun, mesti berhati-hati, karena permata palsu juga banyak beredar di kedua pasar ini. Jika ingin membeli permata mesti mengajak teman yang benar-benar paham tentang seluk beluk batu permata.
“Saya pernah rugi membeli blue safir. Saya pikir asli, ternyata blue safir masakan,” ujar Parwata yang iseng-iseng membeli permata di Pasar Kreneng. Yang dimaksud batu masakan adalah jenis permata palsu yang diproses pabrik. Untung saja dia tidak rugi banyak, cuma seratusan ribu rupiah.
Harga batu-batu permata bervariasi, dari sepuluhan ribu hingga ratusan juta rupiah. Memang tidak ada standar harga yang baku. Semua tergantung jenis, ukuran, kelangkaan dan mitos-mitos tertentu yang dilabelkan pada sebiji permata. Selain itu, tergantung juga pada tawar menawar dan keakraban antara penjual dan pembeli. Harga untuk pelanggan setia tentu relatif berbeda dengan pembeli baru.
“Kalau permatanya berjenis kresnadana, harganya bisa sampai ratusan juta rupiah. Itu juga tergantung dari ukuran dan kondisi batunya. Orang Bali banyak mencari batu jenis ini,” kata Handri.

Aneka rupa batu permata. (foto: dok.jengki)

Kresnadana merupakan sebutan orang Bali untuk batu permata safir hitam (black sapphire) dengan nuansa kehijauan/kebiruan yang kilaunya sangat indah dan unik. Kilau sinarnya berstar enam dengan bias warna bernuansa kuning dan merah yang gemerlap. Permata ini sangat langka dan unik. Banyak penggemar permata tergila-gila dan memburu batu ini. Dan tentu saja rela melepaskan uang hingga ratusan juta rupiah.

“Permata kresnadana dipercaya membawa kemakmuran, kebijaksanaan dan melanggengkan kekuasaan,” tutur Mangku Bajra, seorang penggemar batu permata dari Sanur.
Selain kresnadana, batu permata yang banyak dicari orang Bali adalah permata berjenis rambut sedana atau kecubung rutil (rutilated quarts). Bentuk permata ini bening kristal, namun di dalamnya terdapat rambut/bulu berwarna kuning keemasan yang seringkali letaknya tak beraturan. Orang Bali, terutama yang bekerja sebagai pedagang, sering mengaitkan batu permata ini dengan kepercayaan kepada Dewa Rambut Sedana atau Dewa Uang. Aura permata ini diyakini melancarkan rejeki dan membawa keberuntungan dalam berdagang atau berbisnis.
Selain batu permata, banyak pembeli yang mencari benda-benda yang diyakini bertuah dan bernuansa mistik, seperti les kelor, les dadap, les gedebong, besi kuning, rantai babi, keris bertuah, buluh perindu, kayu panca suda, kul buntet (fosil keong). Les adalah sebutan untuk inti kayu atau kayu yang telah membatu dan seringkali digosok atau dipoles menjadi permata. Les kelor, besi kuning, rantai babi, dipercaya mampu membuat pemakainya kebal senjata tajam dan anti peluru. Namun benda-benda aneh ini sulit dipercayai keasliannya. Misalnya, fosil kayu berwarna hitam sering dijual sebagai les kelor. Bagaimana bisa mempercayai sebongkah atau sebiji fosil kayu yang usianya jutaan tahun sebagai kayu kelor, dadap, gedebong dan sebagainya?
Di antara batu-batu permata tentu tak ada yang mengalahkan keunikan batu akik gambar. Dan, tentu saja yang paling dicari dan langka adalah akik brumbun atau panca warna (lima warna). Sebutan lokal untuk jenis akik tertentu pun bermacam-macam, seperti akik madu, akik hati ayam, akik lumut, akik sulaiman, akik mani gajah, akik api, akik combong, dan sebagainya. Wilayah Indonesia, terutama daerah Jawa Barat dan Kalimantan, sangat kaya dengan berbagai jenis batu akik dan jasper. Di Pasar Burung dan Kreneng juga bisa ditemui aneka macam batu akik, baik yang masih bahan mentah, maupun yang sudah dipoles. Harganya pun relatif murah.
“Untuk akik biasa, harganya cuma sepuluh sampai dua puluh ribu rupiah per biji. Namun yang berisi gambar-gambar tertentu, harganya bisa sampai ratusan ribu hingga jutaan rupiah,” ujar Udin, seorang pedagang akik di Pasar Kreneng.
Karena relatif murah dan unik, banyak pecinta batu permata yang secara khusus memburu akik-akik gambar. Gambar atau motif itu terbentuk dari serat, urat, dan warna-warna alami batu itu sendiri. Dan tentu saja sangat tergantung pada keahlian dan kejelian tukang gosok batunya sehingga gambar yang diinginkan bisa terlihat lebih jelas. Gambar pada batu akik bisa bermacam-macam rupa. Secara umum dikelompokkan ke dalam gambar figur (manusia), tokoh pewayangan, hewan, tumbuhan, bunga, lanskap alam, angka, huruf, senjata, dan simbol-simbol tertentu.
Biasanya pedagang telah menyortir batu-batu akik yang dianggap berisi gambar menarik untuk dijual dengan harga relatif lebih mahal. Batu akik yang dianggap kurang istimewa akan dijual eceran atau kodian (20 biji). Membeli kodian tentu harganya jauh lebih murah, berkisar antara seratus hingga dua ratus ribu rupiah per kodi, tergantung nego.
Untuk mendapatkan batu akik gambar yang diinginkan, seorang pembeli mesti rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih dan meneliti sekian banyak akik yang bertebaran di meja pedagang. Imajinasi sangat berperanan penting dalam mengamati dan meneliti setiap batu akik itu. Karena kebanyakan akik yang kurang istimewa, bentuk gambarnya abstrak atau tak beraturan. Namun, di sinilah letak seni dan kenikmatan memburu batu akik gambar. Kalau lagi beruntung, pembeli bisa mendapatkan batu akik gambar naga, gambar macan, atau gambar-gambar unik lainnya dengan harga murah.
“Baru-baru ini saya dapat akik gambar naga. Sepintas gambarnya abstrak, namun setelah saya teliti lebih cermat ternyata ada gambar naga menyemburkan api. Saya jual satu juta rupiah kepada kolektor, padahal belinya cuma sepuluh ribu rupiah,” tutur Wayan Sudha, penggemar batu permata dari Grenceng, Denpasar.
Karena banyaknya penggemar batu akik gambar, maka pemalsuan juga sangat sering terjadi. Gambar tertentu yang paling sering diburu, dipalsukan dengan teknik khusus oleh beberapa pemasok dan pedagang batu permata. Kalau teknik pemalsuannya kurang canggih akan jelas terlihat gambar yang memang sengaja dibuat manusia, bukan murni dari alam. Gambar yang paling sering dipalsukan, di antaranya gambar naga, burung, huruf sakral, gambar keris, salib, tapak dara (tanda tambah).
Suasana transaksi batu permata di Pasar Burung dan Kreneng akan selalu ramai, dan bahkan mungkin semakin bertambah ramai. Sebab bisnis batu permata sangat menjanjikan seiring semakin bertambahnya penggemar batu-batu permata.[JB]
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2011 Journal Bali · Subscribe:PostsComments