Monday 1st September 2014

Home » Literature » Catatan Sayembara Cipta Karya Sastra se-Nusantara

oleh HELMI Y. HASKA

NKD Ayu Winastri

SAYEMBARA karya sastra  Indonesia yang digelar secara berkala dan berkesinambungan dapat menjadi gelanggang yang terbuka bagi proses eksistensi seorang menjadi penulis. Tradisi sayembara sastra selama dua dekade di Bali terbukti  telah mengukuhkan eksistensi penulis di gelanggang sastra di tingkat nasional.

Sayembara Cipta Karya se-Nusantara yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Fakultas Sastra, Universitas Udayana, sedari 23 januari hingga 16 februari 2012 telah menjaring 86 cerpen dan 126 puisi. Dewan juri karya cerpen yang terdiri dari Oka Rusmini, Wayan Sunarta dan Helmi Y. Haska menaruh harapan yang besar akan munculnya karya cerpen yang bernas dan mumpuni. Dewan juri bertiga mempunyai kesamaan pandangan dengan sebagian pandangan yang hidup di Fakultas Sastra, katakanlah semacam formalisme, harus menerima kenyataan bahwa sebagian besar karya cerpen masih jauh dari standar laiknya sebuah cerita, masih jauh panggang dari api.Sebagian besar cerpen belum optimal mengolah cerita. Tema sayembara  “Melahirkan Karya Sastra Bernuansa Nasionalisme dalam Bingkai Nilai-nilai Budaya bangsa”  diterjemahkan menjadi cerpen yang bernuansa perjuangan mengangkat senjata pada era revolusi. Medan pertempuran menjadi seting kilas balik dari tokoh-tokoh di zaman kita. Namun masih banyak penulis yang sekadar mendedahkan khotbah tentang nasionalisme seperti suara resmi dari penguasa.

Tema belum menjadi mendagingkan tokoh cerita, masih ada jarak yang menganga, sehingga logika cerita (hubungan sebab akibat) terasa kedodoran. Bahkan ada yang mendesakan data sejarah dari arsip Wikipedia hanya menempelkan belaka tanpa mengolahnya sebagai batang-tubuh cerita. Wayan Sunarta bahkan menilai banyak cerpen yang bertele-tele. Tema nasionalisme memberat  dalam narasi. Apakah sebagian besar penulis menggemari klise dan nostalgia?

Ni Putu Rastiti

Menguatnya panetrasi televisi dan media sosial di tengah masyarakat kontemporer yang merebak dalam bahasa alay dan bahasa gaul, pun  diadopsi dalam penulisan cerpen. Penggunaan “loe” dan “gue” atau kode-kode bahasa alay ditemukan pada beberapa cerpen. Oka Rusmini sebagai juri menekankan bahwa pentingnya menggunkan bahasa Indonesia yang baku. Bahasa tidak sekadar alat menyampaikan pesan namun merupakan ekspresi dan cara berpikir kita dalam melihat kenyataan. Ia menilai masih banyak penulis yang mengikuti sayembara tidak membaca karya-karya sastra.

Membaca karya sastra yang mumpuni adalah proses pembelajaran yang penting, sehingga penulis dapat mereguk karya sastra bandingan sebagai bekal kematangan kepengarangan. Sebagian besar cerpen sayembara masih menggunakan alur cerita yang datar dengan menghadirkan tokoh yang merupakan personifikasi sang penulis yang diolah secara melodramatik.

Dari 89 cerpen yang mengikuti sayembara belum ada yang digarap mengejutkan secara teknik bercerita. Mereka masih mengandalkan bentuk cerita yang realis. Namun masih ada setitik cahaya dari cerpen yang dibesut secara sederhana  yang mendedahkan kekayaan budaya lokal, menggabungkan serta mendialogkan pelbagai suara, genre, dan latar budaya.

I.B.W. Widiasa Keniten

Dari sepuluh nominasi karya cerpen: Si Rombeng dan Kekasihku (Virgina Purnama Sanni), Cukup Satu Butir, Maka Terurai Isi Otaknya (DG Kumarsana), Bendera (Moch. Satrio Welang), Penari Tenun (NKD Ayu Winastri), Catatan Biru (Ida Ayu Putri Adityarini), Surat Dari Negeri Asing (Ni Putu Rastiti), Naga Untuk Pertiwi (Hery Syafi’i), Dongeng Sandal Jepit (I.B.W. Widiasa Keniten),Kebang Memedi (I Wayan Wilyana), Pesan Pekak Made (Nyoman Sukaya Sukawati),dewan juri sayembara cerpen  mumutuskan bahwa cerpen Penari Tenun (NKD Ayu Winastri) sebagai Juara I, Surat Dari Negeri Asing (Ni Putu Rastiti) Juara II dan Dongeng Sandal Jepit (I.B.W. Widiasa Keniten) Juara III.

Pada puncak acara Sayembara Cipta Karya Sastra se-Nusantara, Rabu (22/2) yang lalu, dewan juri memberikan rekomendasi kepada Fakultas Sastra, Universitas Udayana, sebagai Fakultas Sastra tertua di Nusantara, sudah saatnya secara membuat program workshop penulisan kreatif secara berkala untuk kaum muda pecinta sastra.[]

Helmi Y. Haska, anggota Dewan Juri lomba cerpen Sayembara Cipta Karya Sastra se-Nusantara 2012.

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments