oleh WAYAN SUNARTA
Prolog

Buku antologi puisi "2 Di Batas Cakrawala"
Sebagian orang menganggap menulis puisi itu mudah, sehingga siapa pun merasa memiliki kemampuan menulis puisi. Lihatlah, betapa banyaknya puisi bertebaran di dunia maya (facebook, twitter, blog, web), belum lagi yang di buku harian. Yang merasa penyair sungguhan boleh-boleh saja iri, cemburu, sinis, takjub, terkesima, kepada orang-orang yang begitu mudah menulis puisi.
Di lain pihak, banyak pula yang menganggap betapa susahnya menulis sebait puisi, karena puisi semacam mahkluk unik yang kemunculannya tak bisa diduga di alam pikiran dan perasaan. Justru pada saat kita tidak merasa siap, puisi muncul dengan cara-cara dan waktu yang tak terduga, misalnya pada saat kita jongkok/duduk di wc, atau pada saat kita dalam suatu perjalanan.
Bagi saya, kemunculan puisi selalu didahului dengan inspirasi, percikan ide atau gagasan. Memang, inspirasi tidak harus ditunggu, tapi mesti dicari atau digali. Tapi, saya sulit membantah, bahwa kehadiran puisi memang selalu tak terduga. Hal ini pula yang menyebabkan banyak penyair merasa gamang, uring-uringan, karena tak sebaris puisi pun tercipta, meski si penyair begitu berhasrat melahirkan puisi, meski sampai muntah membaca teori puisi, atau kelelahan menggali inspirasi.
Apa sih puisi? Ada banyak konsep, definisi, teori, pandangan perihal puisi yang dilontarkan oleh banyak tokoh terkemuka. Datanya bisa ditanya langsung pada Mbah Google. Sebab, saya tidak perlu mengulas panjang lebar tentang teori-teori puisi dari para tokoh itu di sini.
Saya sendiri menganggap puisi sebagai anak rohani. Sebab, puisi memang lahir dari hasil perkawinan perasaan dan pikiran. Kekuatan perasaan dan pikiran setiap orang tentu berbeda-beda, sebab itu berkaitan dengan segala bentuk interaksinya dengan berbagai hal, baik yang berasal dari dalam diri maupun di luar diri. Jelas pula, bahwa setiap interaksi melahirkan kenangan dan pengalaman yang berpengaruh pada cara memandang sesuatu, maupun melihat masa depan. Sebagai anak rohani, biasanya puisi lahir di atas landasan kondisi-kondisi seperti ini.
Sebagai anak rohani, tentu puisi memiliki nasibnya masing-masing ketika dilepas ke khalayak yang beragam. Bukan hanya komunitas sastra, atau komunitas seni, namun juga masyarakat luas. Mungkin beragam pujian akan didapat si puisi, mungkin pula aneka kritik, atau bahkan makian atau hinaan. Semua itu adalah resiko yang mesti ditanggung si puisi. Tugas penyair, diantaranya adalah menuntun puisi agar lebih “berharga” dan “bermartabat” di hati pembaca, agar mampu “memberi” pada pembaca. Selebihnya, penyair sebagai ibu sekaligus ayah dari si puisi, hanya bisa mendoakan keselamatan anak-anak rohaninya, agar menjadi anak yang baik dan berguna bagi banyak umat manusia.
Penyair yang bijak tidak akan merasa kebakaran jenggot (jika merasa punya jenggot) ketika puisinya dihina/dicela/dikritik, tidak akan merasa terlalu jumawa ketika puisinya dipuja-puji. Sebab dia telah mengatasi keterikatan dengan anak-anak rohaninya. Sebab, setiap puisi memiliki nasibnya masing-masing, entah itu masuk ke tong sampah, tidak dihiraukan, muncul di dunia maya, nongol di media cetak, atau menghias kartu undangan pernikahan.
Di tangan kritikus (dalam pengertian seluas-luasnya), setiap puisi akan berupaya membela dirinya sendiri, tentu dengan segala kekuarangan dan kelebihannya. Maka, hanya dengan itu pula, puisi menjadi abadi. Sebab, siapa yang mampu menindas atau membunuh puisi? Tak ada. Yang ada, hanya mengritisi puisi, agar bisa lebih berbenah diri, dari yang tampangnya jelek agar tampak lebih elok, dari yang dangkal agar lebih dalam, dan seterusnya.
Menyimak Kesederhanaan di Batas Cakrawala
Sejauh penyair menghindar atau lari dari puisi, pada waktu-waktu tertentu, atau pada waktu yang dijanjikan, puisi akan kembali hadir, akan kembali memeluk dan merangkul penyairnya dengan kerinduan dan kemesraan yang tak terukur. Persis seperti kerinduan seorang anak pada ibu atau ayahnya. Sebab, antara penyair dan puisi, terikat benang merah, hubungan batin yang tak terhindarkan. Selama penyair masih bernafas, hubungan batin itu tak lekang oleh waktu, jarak, kesibukan, atau bentuk-bentuk duniawi yang coba memisahkan mereka.
Bukti yang paling jelas, telah dialami oleh Nana Ernawati (Yogya, 28 Oktober 1961) dan Dhenok Kristianti (Yogya, 25 Januari 1961), dua sahabat yang berbeda latar agama, sosial dan budaya. Pada masa-masa 1980-an, mereka adalah dua penyair wanita yang cukup diperhitungkan. Pada masa itu, mereka intens berkesenian di Yogyakarta, menulis puisi maupun cerpen, lalu mempublikasikannya di berbagai media massa dan sejumlah buku antologi puisi, di antaranya “Tonggak 4” yang dieditori Linus Suryadi AG, tokoh sastra yang sangat berpengaruh pada masa itu.
Karena kesibukan masing-masing (baik dalam tataran rumah tangga maupun pekerjaan), mereka hanyut dan tanpa sadar melupakan puisi. Namun, di usia mereka yang setengah abad, puisi kembali hadir dan mengetuk pintu hati mereka. Pada titik ini, terjadi pertemuan yang begitu mengharukan, antara penyair dan puisi, antara orang tua dan anak rohaninya. Pengalaman mereka bisa jadi juga akan menimpa para penyair wanita generasi kini, yang mungkin telah menelantarkan puisi karena kesibukan rumah tangga dan pekerjaan. Suatu saat, puisi akan kembali menyentuh batin dengan ketulusan tak terkira.
Buku antologi puisi yang berjudul “2 di Batas Cakrawala” (Galangpress, Yogya, 2011) ini merangkum masing-masing 25 puisi karya Nana dan Dhenok. Nana menyertakan puisi yang ditulisnya di tahun 1981 (2 puisi), 1984 (2 puisi), 2000 (1 puisi), 2004 (1 puisi), selebihnya puisi-puisi buatan tahun 2009 hingga 2011. Sementara itu, Dhenok menyertakan puisi yang ditulisnya di tahun 1989 ( 2 puisi), 2000 (2 puisi), 2008 (6 puisi), selebihnya puisi buatan 2009 hingga 2011. Data kuantitatif ini menjelaskan betapa kurang produktifnya mereka sebagai penyair, karena waktu yang tersita untuk berbagai kesibukan di luar tugas kepenyairan. Namun, perlu disyukuri bahwa mereka akhirnya sadar telah berada di batas cakrawala. Dan, kesadaran yang lebih penting lagi adalah bahwa “perjalanan belum selesai, belum boleh selesai”, seperti kata mereka dalam pengantar buku ini. Lanjut mereka, “buku ini merupakan langkah awal untuk menjalani proses demi proses berikutnya.”
Seperti yang telah dinyatakan oleh mereka dalam kata pengantarnya, bahwa puisi-puisi dalam buku ini dipilih dari sejumlah puisi yang mereka ciptakan selama berada dalam “persembunyian”, yang sungguh menyuarakan perasaan dan pemikiran mereka tentang berbagai masalah kehidupan. Buku ini bentuk lain dari kerinduan mereka pada masa lalu (masa-masa aktif berkesenian), sekaligus pelecut semangat untuk meraih harapan yang lebih baik di masa depan, dalam konteks proses kreatif kepenyairan.
Membaca puisi-puisi dalam buku ini, saya merasa kekuatan mereka sebagai penyair terletak pada cara ucap yang cenderung sederhana, polos, lugu tentang berbagai hal yang mengusik jiwa kepenyairan mereka. Dalam teori puisi, karya-karya mereka bisa digolongkan dalam jenis puisi transparan, yang langsung menukik pada pokok persoalan atau muatan puisi, seakan kita bisa langsung melihat denyut nadi dan detak jantung kehidupan itu sendiri. Namun, justru dalam kesederhanaan itu terbentang cakrawala renungan yang begitu luas.
Memang, mereka tidak berupaya memamerkan kemampuan atau kecanggihan mengolah metafora atau akrobatik kata seperti yang mudah ditemui pada puisi-puisi penyair wanita masa kini. Kebanyakan puisi Nana dan Dhenok langsung bicara dengan sendirinya, tanpa perlu terlalu ruwet mengupas lapisan-lapisannya sebagaimana layaknya puisi-puisi prismatis yang cenderung ambigu atau bermakna ganda atau multi tafsir. Meski, dalam beberapa puisi mereka, terlihat juga kecenderungan ke arah puisi prismatis. Transparan atau prismatis merupakan salah satu cara kita memandang puisi berdasarkan karakter masing-masing puisi dan unsur subjektivitas kita yang kadangkala berseberangan dengan objektivitas.
Saya rasa mereka menulis puisi lebih ditujukan sebagai suatu bentuk ekspresi batin, pelampiasan unek-unek, atau hanya untuk menjalankan hobi dan talenta yang lama ditinggalkannya. Pertaruhan estetika dalam wacana puisi masa kini seakan dengan sadar diabaikan oleh mereka, seperti diksi, imajeri (citraan yang muncul dalam imajinasi), ritma, rima, metafora. Yang mereka perjuangkan adalah ekspresi batin yang mengandung berbagai kisah atau muatan sebagai konsekuensi interaksi mereka terhadap lingkungan sekitar, keluarga, sosial-budaya, agama/keyakinan.
Nana Ernawati
Melalui puisi, Nana menumpahkan kegelisahan, kekecewaan, renungan, kenangan, kerinduan, harapan dan impiannya. Tema-tema puisinya cukup beragam, yang secara garis besar berkaitan dengan hubungan antar manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Secara teknis, meski tidak begitu memerhatikan kekuatan unsur bunyi, Nana tetap meramu metafora secukupnya, membubuhkan alegori, simbol, personifikasi, parodi, repetisi, dan unsur-unsur yang membentuk sebuah puisi, dalam upaya menciptakan puisi sesuai keinginan Nana sebagai penyair.
Dengan pengungkapan yang lugas, pada beberapa puisinya kita bisa merasakan nada sinis, satir, sindiran, ironis, otokritik dan juga kritik terhadap tingkah polah manusia masa kini, atau hubungan antar manusia. Pada puisi “Sajak Pengakuan” (hal. 40-41), misalnya, dia menulis: Kita adalah sekumpulan serigala lapar,/ yang lebih buruk dari serigala/ kita makan apa saja, juga bangkai sahabat kita// kita adalah penari topeng/ yang lebih buruk dari penari topeng/ kita pakai topeng siapa saja/ dan tidak pernah mengembalikannya…dst-nya. Hal-hal senada juga bisa kita baca pada puisi berjudul “Sudirman-Thamrin” (hal. 34-35), “Aku Tak Ingin Jadi Kupu” (hal. 36-37), “Akan Kupakai Topeng” (hal. 38-39), “Sajak Musang” (hal. 44), “Sajak Seekor Kucing” (hal. 53).
Di sisi lain, Nana cukup banyak menulis puisi bertema ketuhanan, atau suatu tema tertentu yang berkelindan dengan rasa spiritualitas. Hal itu, misalnya, bisa dibaca pada puisi “Kado Pada Hari Ulang Tahun Ibuku” (hal. 21), “Perjalanan 2 (Perahu Nuh)” (hal.25-26), “Pengakuan” (hal. 46-47), “Al Misbah” (hal. 52), “Puisi Kanak-kanak” (hal. 54), “Sepotong Hati” (hal. 55-56), “Tuhan Memiliki Caranya Sendiri untuk Mencintai” (hal. 57), “Dari Tahajud ke Tahajud” (hal. 58-59), “Aku Mencintaimu” (hal. 60), “Surat untuk Ibu” (hal. 61-62), “Batas Cakrawala” (hal. 65).
Hubungan manusia dengan Tuhan, dengan kekuatan di luar diri, diungkapkannya dengan begitu bersahaja, namun terasa akrab. Misalnya, pada puisi “Batas Cakrawala”, Nana menulis: Kulewati lautan tanpa dasar/ gelombangnya memukul pantai terjauh/ kuseberangi sungai terpanjang, hatiku memerah darah/ menanti hariku tiba menjemput// Berilah aku waktu/ biarkan aku terus berbenah, mematutkan pakaian-pakaianku./ Bila saat itu tiba/ jadikan aku pengantin-Mu/ izinkan aku yang terbaik/ izinkan aku yang terindah/ izinkan aku pantas untuk-Mu (Jakarta, 2011).
Dengan kesederhanaan pengungkapan, namun mengandung keharuan dan perenungan yang dalam, saya menyukai puisi Nana yang berjudul “Sekarang Kita Berdua” (hal. 63-64), perihal pelukisan hari tua yang sungguh dirindui oleh banyak pasangan suami-istri. Dalam konteks orang dewasa, saya kira puisi ini mampu menyentuh siapa saja, bahkan mereka yang tidak begitu peduli atau tidak begitu suka dengan puisi. Puisi semacam ini hanya bisa lahir dari penyair yang memiliki kematangan batin dan telah mengalami banyak hal dalam perjalanan hidupnya.
Dhenok Kristianti
Tidak begitu jauh berbeda dengan Nana, karya-karya Dhenok juga banyak berbicara perihal hubungan antar manusia, manusia dengan alam/lingkungan sekitarnya, manusia dengan Tuhan. Tiga tema besar ini mewujud ke dalam berbagai variasi sub tema yang tak bisa dilepaskan dari persoalan esensial manusia, seperti kerinduan, cinta, kekecewaan, kegetiran hidup, pengorbanan, harapan/impian, kenangan, dan berbagai percik perasaan lainnya.
Nada-nada puisi Dhenok cenderung melantunkan kepasrahan, kekalahan, kelelahan, kemurungan, terkadang juga optimisme. Seringkali, di dalamnya terkandung juga sindiran atau juga renungan tentang kepasrahan manusia menghadapi kenyataan, yang diungkapkannya dengan kiasan atau ramuan metafora yang lembut. Hal itu, misalnya, dengan jelas bisa dibaca pada puisi “Nyanyian Seberang” (hal. 76) yang dibuka dengan bait : Di atas kapal menuju seberang,/ camar luka dari terbangnya/ Adakah kau dengar robeknya?/ terkapar di anjungan.
Pada sisi lain, Dhenok juga cukup banyak menulis puisi perihal hubungan manusia dengan Tuhannya, tragedi penciptaan manusia, peristiwa Adam-Hawa, buah khuldi, ular, dan dosa yang diwarisi manusia hingga kini. Yang muncul di sini juga nada-nada murung, kekecewaan, atau sejenis mempertanyakan takdir. Hal itu muncul dalam puisi “Minggu Pagi, Di Suatu Gereja” (hal. 72-73), “Pengaduan Adam” (hal. 77), “Pengaduan Hawa” (hal 79), “Saat Manunggal” (hal. 81-82), “Pembelaan di Ruang Sidang” (hal. 83-84).
Yang menarik perhatian saya dari sejumlah puisi Dhenok adalah puisi “Untuk Bayi Yesus” (hal. 93-94). Kemampuan dan keberaniannya memarodikan peristiwa kelahiran Yesus yang dikaitkan dengan konteks dan ikon-ikon kekinian. Bacalah dua bait awal puisi ini : Yesus,/ Jangan lagi lahir dalam kandang/ Ini zaman modern, dunia gemerlap gemilang/ Kasihan Ibu-Mu bukan,/ terseok dan tertolak di tiap penginapan!// Lahir saja di hotel berbintang, Yesusku/ Di sini semua tersedia/ Engkau putra Bapa, layak menerima…. Di bait selanjutnya berbunyi : Kami telah atur segalanya, Yesus/ Tak perlu lagi gambus dan kecapi seperti zaman Raja Daud/ sebagai gantinya: rock and roll music dan tari salsa/ Jangan sungkan, Engkau Raja di atas segala raja/ Kedatangan-Mu pasti tidak kami sia-siakan.
Bagi saya, puisi di atas mengandung dua sisi renungan. Pada satu sisi, banyak orang jaman sekarang memperlakukan agama atau simbol-simbol agama seenak perutnya, sehingga nilai kesakralan dari suatu agama menjadi raib. Sedangkan di sisi lain, bisa pula dimaknai bahwa beragama memang harus disesuaikan dengan konteks jamannya, sehingga terhindar dari kekolotan dalam memaknai suatu simbol agama.
Sesungguhnya, pada beberapa puisi Dhenok cukup banyak mengandung sindiran, satir, ironis, otokritik dan kritik terhadap apa pun yang mengusik perenungan dan perhatiannya. Misalnya, kritik tentang Indonesia dan sikap nasionalisme (lihat puisi “Tentang Indonesia”, “Percakapan Anak dan Bundanya”), tentang Bali dalam gerusan pariwisata ( pada puisi “Bali dalam Lukisan”, “Bali dalam Etalase”), termasuk juga kritik tentang sikap dan pandangan beragama, posisi wanita/istri, dan sebagainya.
Epilog
Secara umum, puisi-puisi Nana dan Dhenok, berjuang untuk mempertaruhkan isi/muatan yang dikandungnya. Maka dari itu, puisi-puisi yang diciptakannya terkesan lugas, sederhana, bahkan polos, atau langsung menukik ke pokok persoalan. Tanpa perlu membalut puisi dengan metafora-metafora yang terlalu berlebihan atau bikin kening berkerut, atau menggagah-gagahkan puisi dengan akrobatik kata-kata. Kebanyakan puisi mereka keras, namun juga lembut. Di situlah letak kejujuran mereka sebagai penyair, mengungkapkan apa adanya percikan-percikan jiwa mereka.
Yang membedakan dua penyair wanita ini dengan sejumlah puisi penyair wanita generasi masa kini adalah pilihan gaya ucap, metode/teknik puisi, dan sejumlah tema yang sangat personal. Mereka memilih kesederhanaan/ketransparanan yang langsung mengacu kepada isi/muatan puisi. Namun, resikonya, kalau tidak hati-hati, puisi akan tergelincir menjadi klise atau jatuh menyerupai slogan. Sementara itu, penyair masa kini cenderung asyik bermain diksi, imajeri, metafora, ritma, rima dalam naungan lirikisme (seperti yang bisa dibaca pada sejumlah puisi di Kompas minggu), sehingga terkadang puisi terkesan gelap.
Namun, apa pun pilihannya, semuanya sah-sah saja. Yang terpenting adalah bagaimana puisi mampu “berbicara” dan “menyentuh” pembacanya. Selain memberi isi pada puisi, salah satu perjuangan dan tugas penyair adalah mengasah kepekaan teknis, yang mengarah pada bentuk bangunan puisi atau estetika puisi, jika seseorang sadar memosisikan diri sebagai penyair.
Isi dan bentuk adalah dua hal yang tak terpisahkan. Sebuah keutuhan, kesatuan, keharmonisan. Membuat puisi sama dengan membangun rumah. Sebuah bangunan beratap seng, berlantai keramik, berdinding marmer, lalu diisi atau difungsikan sebagai kandang ayam, tentulah tidak pas, tidak sedap dinikmati, disharmoni. Maka, perjuangan penyair adalah membangun bentuk dan isi, sehingga puisi menjadi lezat untuk dinikmati.[]
WAYAN SUNARTA lahir di Denpasar, Bali, 22 Juni 1975. Belajar Antropologi Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Sempat belajar seni lukis di ISI Denpasar. Mulai suka menulis puisi sejak awal 1990-an. Kemudian merambah ke penulisan prosa liris, cerpen, feature, esai/artikel seni budaya, kritik/ulasan seni rupa, dan novel.
Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional, di antaranya Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, The Jakarta Post, Jawa Post, Pikiran Rakyat, Bali Post, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal Cerpen Indonesia, Majalah Sastra Horison, Majalah Gong, Majalah Visual Arts, Majalah Arti.
Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Cakra Punarbhawa (Gramedia, 2005) dan Purnama di Atas Pura (Grasindo, 2005). Buku kumpulan puisinya yang telah terbit adalah Pada Lingkar Putingmu (bukupop, 2005), Impian Usai (Kubu Sastra, 2007), Malam Cinta (bukupop, 2007), Pekarangan Tubuhku (Bejana Bandung, Juni 2010). Email: myjengki@yahoo.com, Facebook: Wayan Jengki Sunarta

















bagus niki pak.. dumogi malih akeh sane seneng kesusatraan bali anyar..