Tuesday 21st October 2014

Home » Esai, Literature » Pengenalan Metode Penulisan Cerita Berbasis Data/Fakta/Riset

oleh SATMOKO BUDI SANTOSO

Satmoko Budi Santoso di tengah para penulis dalam ajang Ubud Writers & Readers Festival 2011. (foto: dok. kurnia effendi)

MENULIS cerita bisa saja tidak hanya mengarang. Artinya, menulis cerita bisa saja berdasarkan data/fakta/hasil riset atau penelitian. Katakanlah hal semacam ini berdasarkan kenyataan yang sesungguhnya. Persoalannya, bagaimanakah mentranfer atau memindah data/fakta/hasil riset atau hasil penelitian yang ada ke dalam bentuk cerita sehingga tersaji secara menarik? Inilah tantangannya.

Banyak kenyataan menunjukkan, di desa kita sendiri-sendiri mungkin saja menyimpan data atau fakta yang menarik diangkat sebagai cerita. Hanya saja, karena masih bingung atau belum percaya diri mempunyai kemampuan mengungkapkan dalam bentuk cerita, maka data atau fakta yang menarik itu terbiarkan begitu saja. Alangkah sayang, bukan? Soal contoh fakta di dalam desa kita, misalnya saja, bahwa di desa kita adalah penghasil gerabah berupa alat-alat rumah tangga berbahan baku tanah liat. Hasil gerabah desa kita ternyata juga berkualitas ekspor. Kenyataan semacam ini, tentu saja akan sangat menarik diangkat sebagai cerita. Mulai dari sejarah desa kita, perkembangannya, proses pembuatan gerabah, persoalan yang dihadapi dalam proses pembuatan gerabah, pemasarannya, dan seterusnya.
Saya menganggap, teman-teman di sini sudah paham soal faktor-faktor intrinsik dan ekstrinsik di dalam menulis cerita. Misalnya saja, tema, latar cerita, alur, penokohan, dan lain sebagainya. Hal-hal yang menjadi prinsip dan harus ada sebagai unsur-unsur bangunan sebuah cerita. Ini pasti sudah tersampaikan di dalam pelajaran Bahasa Indonesia, bahkan semenjak bangku SMP. Oleh sebab itu, maka di dalam kesempatan ini saya hanya khusus mengajak teman-teman di sini untuk memecahkan persoalan bagaimana menulis cerita berdasarkan fakta/data/hasil riset yang menarik.
1. Pikirkanlah sudut pandang.
Untuk membuka atau memulai cerita yang menarik pikirkanlah sudut pandang. Mau mulai dari mana? Film-film banyak memberikan referensi bahwa sudut pandang yang menarik adalah langsung pada konflik. Setelah itu barulah cerita mengalir menjelaskan kenapa sampai ada konflik hingga penyelesaiannya.
2. Pikirkanlah alur yang tidak membosankan.
Biasanya, pembaca menginginkan adanya alur yang tidak membosankan, mengundang rasa penasaran dan mempunyai kejutan.
3. Pikirkanlah bahasa atau ungkapan yang segar.
Biasanya, pembaca menginginkan adanya bahasa yang segar: bahasa yang lincah, tidak berbelit.
Tiga hal di atas berperan penting dalam penulisan cerita berbasis data/fakta/riset. Selebihnya, adalah kembali pada kemampuan si penulis cerita sendiri dalam berjuang menyuguhkan cerita sehingga tetap mempunyai daya tarik dan daya gugah. Tentu, ini berkaitan dengan kepiawaian meracik atau merangkai kata yang bisa didapat karena kebiasaan. Kebiasaan menulis. Jadi, kebiasaan di sini bernilai penting untuk mengasah kefasihan dan ketajaman menulis.
Hasilnya, cerita berbasis data/fakta/riset adalah sebagaimana film atau video dokumenter yang menceritakan obyek tertentu. Hanya medianya saja yang berbeda. Visual dan tertulis. Bayangkan, hasil penelitian biasanya tidak begitu menarik, terkesan kaku, dan membosankan dibaca. Tentu akan berbeda jika teknik penyajiannya dalam bentuk cerita. Akan lebih merangsang diikuti karena pembaca cenderung merasa nyaman jika dibandingkan dengan membaca hasil penelitian secara langsung.
Di era sekarang, banyak acuan atas cerita-cerita berbasis data/fakta/riset yang beredar di masyarakat/toko buku. Kebetulan era sekarang adalah era di mana cerita yang berbasis data/fakta/riset begitu diminati. Salah satu contoh cerita berbasis data/fakta/riset yang diakui publik sebagai karya sastra yang baik adalah kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Saksi Mata. Kumpulan cerpen ini terinspirasi berdasarkan kisah-kisah nyata ketika suatu ketika terjadi konflik di Timor Timur, di era Orde Baru dulu. Kumpulan cerpen ini juga begitu populer di kalangan siswa sekolah menengah beberapa tahun lalu. Mudah-mudahan sampai sekarang. Di sejumlah cerita di dalam kumpulan cerpen itu, fakta-fakta yang ada disajikan dalam bentuk cerita dengan berbagai pendekatan: ada yang absurd, ada yang surealis, ada yang realis. Jadi, sekali lagi peran imajinasi bisa tetap tak ditinggalkan. Gaya penulisan yang serius, humor, dan lainnya juga diperbolehkan. Yang pasti, inti cerita dan segala aspek penggarapannya adalah sebuah keinginan menghadirkan data atau fakta atau hasil riset yang telah dilakukan sebelumnya. Baik dilakukan sendiri maupun merupakan hasil penelitian orang lain.
Bedakanlah misalnya, dua paragraf berikut ini:
1. Matahari lumayan malu muncul. Aku bayangkan rona wajahnya akan memerah ketika pagi itu ia akan menemuiku. Di gerbang sekolah sebelum bel masuk berbunyi. Kubayangkan, alangkah gagahnya ia, yang akan menemuiku di gerbang sekolah itu. Bagai pangeran tampan ia akan mendatangiku dan memberikan sepucuk bunga. Tepat di hari ulang tahunku. Bunga yang entah. Mungkin hanya bunga plastik. Mungkin memang benar-benar bunga karena harum baunya.
2. Demikianlah, tak dapat digugat. Dengan penuh suka-cita, orang yang melanggar aturan adat di kampungku bisa saja mendapatkan hukuman khas. Jika ia terbukti bersalah melanggar pemanfaatan sumber daya alam, misalnya saja hasil sumber daya alam darat dari hutan, maka ia bakalan diarak keliling kampung. Ia harus memikul kotorannya sendiri keliling kampung, sembari bilang, “Aku tak berguna untuk kampung ini, seperti kotoran yang kubawa!
Bisa dibedakan dan terasakan, mana cerita yang murni berdasarkan imajinasi, mana yang berbasis data/fakta, bukan? [JB]
*) makalah workshop penulisan kreatif di SMA 3, Denpasar, Bali,  dalam rangkaian Ubud Writers & Readers Festival 2011.
*) Satmoko Budi Santoso, sastrawan asal Yogyakarta yang produktif. Buah karyanya buku kumpulan cerpen yang telah terbit, antara lain, Jangan Membunuh di Hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006) dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Selain itu Moko, demikian sapaan akrabnya, menulis novel, Liem Hwa (2005) dan Jilbab Funkies (2011). Cerita pendeknya telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dalam bunga rampai Menagerie 7 yang diterbitkan Yayasan lontar. Ia menulis buku Kisah-kisah Kekejaman Israel di Palestina (2011) yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan Malaysia. Selain menulis karya sastra, Moko juga dikenal sebagai penulis seni rupa . Ia kontributor majalah Visual Arts.
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2011 Journal Bali · Subscribe:PostsComments