Tuesday 21st October 2014

Home » Music » Aroma Musik Afrika di Serambi Arts Antida

oleh HELMI HASKA

Vieux Aliou Cissokho (foto: Gus Wira/JB)

VIEUX Aliou Cissokho duduk dengan takjim di sudut panggung seraya memetik dawai dengan jemarinya. Lamat-lamat terdengar melodi yang meditatif yang dimainkan musisi dari Senegal. Afrika Barat itu. Dengan rileks ia pun menjelaskan bahwa alat musik yang dipetiknya bernama Kora. Vieux kelahiran  Ziguinchor, ibukota Casamance di Senegal Selatan, tumbuh dari keluarga yang mencintai musik. Di kota yang berdebu itu, musik tradisi telah berkembang pesat turun-temurun. Vieux dididik secara tradisional dan menjalani takdirnya sebagai  pemain Kora.

Penonton pun mulai terpaku, terbius tembang-tembang Griot  yang dinyanyikannya dengan syahdu.  Vieux membuka gelaran Bali Spirit Festival Showcase di Serambi Arts Antida, Sabtu  (17/3/ 2012) dengan elok. Penonton pun dibawa trance ketika Vieux  berkolaborasi dengan Hamanah Dance and Drum, yang memainkan perkusi dengan rampak. Aroma musik dari gurun-gurun  Afrika membahana membuat penonton pun menari. Irama tetabuhan jimbe yang nyaring, keras, menggigit, dinamik dan rancak memang memanggil tubuh-tubuh bergoyang.

Hentakan musik berirama marimba dan karimba yang dihidangkan Supa Kalulu dengan energetik, memanaskan malam yang lembab.Penonton dibetot menikmati musik dan tarian ala Zimbabwe. Kelompok musik yang beranggotakan orang Indonesia, Amerika dan Afrika yang didirikan oleh  Jan Maraire itu acapkali malang-melintang di pagelaran world musik di Bali. Satu hal yang menarik adalah malam itu Supa Kalulu berkolaborasi dengan band yang mengibarkan genre grunge di Bali, Navicula. Robi Navicula menyanyikan “Everyone Goes To Heaven” yang dihela dengan rada ringan namun kontemplatif.

The Punch (foto:Gus Wira/JB)

Semangat festival yang mempertemukan dalam sebuah dialog kultural beragam genre musik dan beragam latar belakang persona,  dipresentasikan dalam gelaran musik kolaborasi seperti yang diwujudkan The Punch. Kelompok musik dari Institut Seni Indonesia (Denpasar) yang beranggotakan dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Madagaskar, Polandia dan Denmark. Mereka memainkan musik gamelan Bali yang diaransemen dengan menyerap unsur tembang dan musikal dari negeri masing-masing anggotanya,  yang dipadu dengan pertunjukan tarian barongan  dari Jawa.

Sedangkan Eve-Marie and the Nuzan Project yang terdiri dari Eve-Marie (vocal) bersama musisi Bali,  Krishna Adiburpa (gitar) dan Michelle Pinard (biola) memikat audien dengan lagu-lagu rakyat (folk song) berirama riang.  Eve-Marie yang berpenampilan sederahana namun energetik berusaha berinteraksi dengan khalayak, seperti ingin menghilangkan batasan antara ia sebagai penampil dan khalayak penonton. Ia seperti mengajak kita masuk dalam sebuah upacara bersama. Hal senada didedahkan Nahko & Medicine for the People, kelompok musik asal Amerika. Nahko Bear mengulik musik dan lagu-lagu melodik dalam tempo cepat yang selaras dengan tetabuhan perkusi J.J. Hope Medford. Konon, cara bermain musik Nahko & Medicine for the People merupakan jalan untuk penyembuhan dan pengembangan diri untuk masyarakat modern yang didera rutinitas nan patetik. Dari lagu-lagu The Cambodian Space Project (kelompok ini pernah tampil di Serambi Arts Antida pada event Ubud Writer & Reader Festival 2011) pun kita bercermin tentang nilai-nilai Asia yang mengedepankan hubungan tanpa prasangka seperti dalam lagu Sweet Hart Bali, Wisky Cambodian.

Gelaran Bali Spirit Festival Showcase di Serambi Arts Antida merupakan selangkah ikhtiar yang panjang melalui musik membangun hubungan yang setara lintas budaya. [JB]
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments