Saturday 20th December 2014

Home » Music » Kisah Grunge di Bali dan Kawanan Ketut Cobain

oleh HELMI HASKA

Spank Monera beraksi (foto:Gus Wira)

SIAPA bilang angka 13 penanda sial?. Orang yang masih kolot serta merta tentu menampik angka 13. Bagi kaum muda angka 13 tentu bisa menjadi penanda baik keberuntungan, seperti yang diikhtiarkan Bali Total Grunge atau BTG, yang mengangkat titel “13 is Lucky” untuk gigs perdananya di Pizzamina, Warung Santan Kemangi, Peguyangan, pinggiran kota Denpasar. Minggu, 13 Mei yang lalu BTG merayakan hari lahirnya yang pertama dengan dimeriahkan penampilan Bali Easy Rider, Valium, Manurams, Spank Monera dan Naughtoria dengan menggeber grunge dan bermoshingria. Walau baru setahun komunitas grunge ini hadir dan mengalir di tengah scene musik Bali, musisi yang bercokol di dalamnya bukanlah anak band kemarin sore. Sebagian pernah mengenyam manisnya  grunge di Bali pada dekade 90-an.

“Ya, grunge mulai eksis di Bali tahun 90-an. Banyak band-band grunge ketika itu.Banyak anak-anak yang mendengar musik grunge dan mencari tahu tentang musik ini, dengan saling meminjamkan album, baca fanzine dan tukar informasi.Ketika itu belum ada internet seperti sekarang ini, jadi kita saling belajar dan bikin acara bersama. Sekarang kan semua serba mudah, mau mendengar musik tinggal download,” kata Ian Wisanggeni, dedengkot musik grunge di Bali yang kini mengibarkan band Efek Batik.

Bila perkembangan musik grunge secara global ditandai lahirnya semangat musik rock alternative yang dipicu musik punk di dataran Eropa dan Amerika, sedangkan di Bali justru sebaliknya, musik grunge eksis lebih awal ketimbang punk. Band-band grunge tumbuh di seantero Bali bagaikan jamur di musim hujan. Anak-anak muda mendapatkan kanal yang pas ketika mendengar dan mengamalkan musik grunge. Bandul ingatan kita  ketika itu dipengaruhi budaya populer  dari satu-satunya stasiun televisi: TVRI. Kemudian  menyusul televisi swasta dan radio yang masih mengumandangkan lagu-lagu slow rock melayu malaysia ala Amy Search  dengan hitnya “Isabella” yang mendayu-dayu itu.

Ian Wisanggeni

Sedangkan masa itu mulai  banyak anak-anak muda yang  bosan mendengarkan lagu rock dari band yang itu-itu juga pada konser di  venue  besar yang  harus melalui prosedur  perijinan yang ketat. Mereka pun ingin memainkan musiknya sendiri, dengan mengcover musik dari Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden, Superunknown, Alice in Chains,  atau Mudhoney yang dicari dari toko kaset, pasar loak, dan pinjaman dari teman yang baru datang dari luar negeri. Ketika itu Indonesia dilanda arus besar musik pop melayu malaysia yang menguasai mulai pendengaran orang kebanyakan. Scene musik di Bali mulai menampilkan musik yang beda,  grunge pun berkibar di pulau dewata melalui gelaran acara yang kecil namun intim.

Arus besar atau mainstream lagu pop melayu memuncul perlawanan sporadis dari anak-anak muda dengan mengulik rock alternative. Seperti kesaksian Tewe yang pada tahun 1993 mendirikan band Obligasi, “Masa-masa itu mengingatkan pada situasi yang kita rasakan sekarang ini. Musik Indonesia tahun 90-an sempat terkena virus lagu melayu dari Malaysia seperti Isabela. Lalu muncul rock alternative, grunge. Banyak band-band grunge tumbuh. Grunge di Bali eksis lebih dulu lalu muncul punk. Grunge dan punk mempunyai semangat yang sama. Kami sering membuat acara bersama-sama ketika itu. Obligasi sempat bermain bersama dengan Jerink di balai banjar,” tutur Tewe yang kini mendirikan band Efek Batik.

Dalam perkembangannya tahun 90-an musik grunge meledak bagaikan bom. Grunge booming. Lalu muncul scene  punk yang dalam perjalanannya menjadi kerabat seiring sejalan bersama dalam menggelar gigs. Scene punk berjalan terus menggelar gigs reguler, sedangkan scene musik grunge sempat dilanda mati angin. Walaupun vakum menggelar gigs namun secara personal mereka masih tetap menjalin komunikasi dan ngumpul bareng secara sporadis. Ditengah kesibukan domestik, mereka masih menyimpan bara untuk membakar kembali semangat grunge di Bali. “Para militan grunge terus menjalin komunikasi dan melihat perkembangan grunge. Grunge di Bali terus berkembang. Saya senang ketika muncul Navicula merilis album,” tukas Tewe.

Tewe

Gelombang grunge di Bali masih ada walau muncul di akar rumput secara sporadis dan tak tercatat. Telinga publik pun mulai merasakan grunge menggelegar kembali ketika band Navicula merilis album pertama “Self Portrait” atau membuat tour dengan mengangkat tema “Grunge is Not Dead: Navicula is Back!” pada 2009.

Musik grunge, masih menurut Tewe, yang sampai sekarang ini masih sulit didefinisikan (ia lebih klop menyebutnya sebagai perkembangan dari rock alternative dengan karakter kulikan bentuk distorsi gitar, sound heavy, dan reverb)  kini eksis dalam bentuk komunitas BTG. Komunitas ini dibentuk bukan sekadar mengumbar nostalgia 90-an.

Tewe menekankan bahwa grunge harus tetap eksis untuk merespon musik rock di Indonesia yang kini mengalami titik nadir karena  munculnya kembali hegemoni musik pop melayu di arus besar (mainstream) yang menyeragamkan selera masyarakat atas musik. Disamping itu, Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya sedang dalam pusaran pergulatan manusia dan budaya secara lokalitas dan globalitas, yang  menggedor  scene musik grunge membentuk BTG.

Komunitas ini sudah menelurkan 1 buah album kompilasi dan beranggotakan 17 band yang terdiri dari, Efek Batik, Spankmonera, Navicula, In Utero, Midbangs, Nymphea, Naughtoria, Nocturnal, Otakering, Electric, Moist Vagina, Negative, Balian, Valium, Nameless Noise, Manurams dan Bali Easy Riders.

Album The Compilation Bali Total Grunge Vol.1/2011

Album The Compilation  Bali Total Grunge Vol.1/2011 yang dikemas secara bersahaja menampilkan gambar kepala Kurt Cobain memakai udeng atau destar, hasil  plesetan (parodi) dari sampul buku Heavier Than Heaven garapan Robi Navicula, menghimpun 15 lagu dari 15 band grunge di Bali seperti Efek Batik (Hate the Doctor), Spankmonera (Damai),Navicula (Metropolutan), In Utero (Bumi Pertiwi),Midbangs (Imajinasi Liar), Nymphea (Peace), Naughtoria (Nafsu Amoral), Nocturnal (She), Otakering (Manusia Fermentasi), Electric (Wanita Liar), Moist Vagina (Kupu2 Malam), Negative (Die), Balian (Lost at Sea), Valium (Sebut Dia), dan Nameless Noise (The Moon & Sea). Lagu-lagu yang dihimpun yang diciptakan masing-masing band itu merupakan respon terhadap jiwa zaman: kesaksian dan kemuakan, rasa bosan dan kemarahan.

Siapakah orang yang mewujudkan The Compilation  Bali Total Grunge Vol.1/2011, yang akan dilanjutkan rilisan album kompilasi dalam waktu dekat ini? Pada keterangan di halaman dalam album tertuang “Sekelumit Kisah di Balik Album ini” sebagai berikut ini:

Berita heboh tentang kematian legenda rock n’ roll, Kurt Cobain, di tahun 1994 silam ternyata hanya mitos isapan jempol belaka, rekayasa para bos label tempat Nirvana bernaung yang sudah bosan mengurus Kurt Cobain yang mabok melulu. Sementara di sisi lain, kurt sendiri sudah muak dengan dunia rock n’ roll.

Kurt sebenarnya belum mati. Doi diam-diam pindah ke Bali. Dia membangun rumah mungil di sebelah rumah David Bowie (idola Kurt semasa ABG) di sebuah desa kecil di Ubud. Beberapa tahun Kurt menyamar, jauh dari hiruk-pikuk gemerlap dunia selebritis, berubah penampilan menjadi warga lokal dengan nama Ketut Cobain.

Kami memergokinya tidak sengaja, saat membuat acara bazar amal di sebuah Balai Banjar dekat si Cobain tinggal. Doi lagi duduk sendirian di sudut, memakai destar dan kamben khas lokal buatan Sukawati, sambil menyeruput arak Dewi Sri. Ternyata band-band yang main malam itu adalah band-band dari komunitas Bali Total Grunge yang notabene adalah mantan fans Nirvana. Secanggih apapun Cobain menyamar, tak mampu mengelabui mantan fans-nya yang tidur-bangun memakai t-shirt bergambar wajahnya.

Ketut Cobain tak mampu berkelit dari kepungan histeria para fans yang kaget mendapati dirinya masih hidup. Malam itu kami begadang mendengar cerita Cobain membuka tabir  apa yang sebenarnya terjadi dulu hingga di masa persembunyiannya. Doi minta maaf. Sebagai tanda maaf, Ketut Cobain menawarkan diri untuk menjadi sponsor dan donatur untuk album pertama komunitas Bali Total Grunge ini.

Terima kasih Bli Ketut. Dirimu tetaplah seorang rockstar bagi kami. Om Santi, Santi, Santi, Om!

Demikian kisah selama setahun kawanan Ketut Cobain. Mungkin ada kisah yang lain ketika BTG menjejak tahun kedua, ketiga… Dan seterusnya.  Semoga masih ada teriakan bersemangat di setiap panggung Bali Total Grunge : “Kami Masih Ada !” []
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

1 Comment

  1. Adi Manurams says:

    Tulisannnya intelek sekali, tata bahasanya juga pintar dan mudah dimengerti, harus banyak media online sejenis ini di Indonesia supaya kita semua bisa melek apa yang terjadi selain pencitraan busuk yg selalu berkoar2 di media, di tunggu artikel2 mantapnya lagi…
    Manurams_AM

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments