Thursday 23rd May 2013

Home » News, News » Agung Rai: Ida Bagus Made Nadera pelukis avant-garde Bali

Agung Rai dan kolektor Atmadjaya. (foto:heha/JB)

JournalBali.com, UBUD – Perjalanan kreatif seni lukis  Ida Bagus Made Nadera merepresentasikan ekspresi diri sang pelukis dalam karya-karyanya. Nadera tidak sekadar melakukan pengulangan dalam melukis. Sebagai pelukis yang tumbuh dalam latar belakang seni tradisi Bali yang bernuansa agama Hindu, Nadera awalnya melukis wayang, namun ia dengan berani menafsirkan kisah pewayangan yangn klasik itu sesuai dengan suasana batin dan jiwa zamannya. Hal itu menandai Nadera sebagai pelukis tradisi bersemangat modern. Demikian pendapat Agung Rai atas pameran tunggal lukisan mengenang Ida Bagus Made Nadera “Modern Traditional Painter” di Museum ARMA (Agung Rai Museum of Art), Ubud, yang berlangsung 9 Juni hingga 23 Juni  yang akan datang.

“Awalnya beliau melukis wayang gaya Kamasan, tetapi dalam perkembangan lukisan selanjutnya kita melihat ada ekspresi diri,  secara tematis dan artistik. Ekspresi diri yang muncul dalam karya-karya pewayangan ini yang menandai semangat modern pada karya Nadera,” kata Agung Rai, pendiri Museum Arma.

Lukisan "Menuju Pura" bertarikh 1990 karya Ida Bagus Made Nadera. (Lukisan koleksi Atmadjaya)

Dalam babakan kreatif seni lukis Nadera, jelas Agung Rai, sejak ia bergabung dengan kelompok seniman Pita Maha banyak dipengaruhi karya-karya Walter Spies. Nadera melukiskan landskap pedesaan di Bali dengan teknik pencahayaan yang dipengaruhi dari lukisan karya  Tuan Tepis, begitu sapaan Walter Spies, seniman multitalen asal Jerman memberi pengaruh yang kuat pada kesenian di Bali pada 1930-an.

Disamping itu, masih menurut Agung Rai, Nadera banyak terinspirasi kehidupan masyarakat Bali, khususnya pertunujukkan wayang, pedalangan, upacara keagamaan, pergaulan muda-mudi dan permainan anak-anak. “Kehidupan masyarakat yang dilukiskan dengan baru,  jenaka dan naive. Ida Bagus Made Nadera seorang pelukis avant-garde Bali ,” kata Agung Rai.

Agung Rai menilai Nadera termasuk seniman avant-garde Bali karena karya-karyanya  begitu berani dan inovatif.

Sebagai salah satu wacana seni modern, avant-garde umumnya kerap digunakan terhadap terobosan-terobosan dalam seni rupa yang muncul menjadi sebuah agenda kritik dan perlawanan dari seniman terhadap sejarah peradaban (Barat) pasca perang dunia I dengan obsesi menciptakan sebuah dunia baru.  Istilah avant-garde juga muncul dalam kosa kata pemikir estetika dari tahun 1820 yang tergabung dalam lingkaran Saint Simonian, yang menegaskan bahwa seni harus menjadi  avant-garde atau garda depan dari masyarakat. Di mana pada prinsipnya sangat jelas bahwa avant-garde selalu melawan di bidang seni dengan cara berperang menuju kondisi yang lebih baik, serta akan selalu menjadi reaktif pada abad ke-20.

Pameran tunggal pertama dalam sejarah pelukis anggota Pita Maha yang bertepatan dengan ulang tahun Museum ARMA ke-16 dibuka oleh Drs. Tjokorda Gde Putra Sukawati, ketua yayasan Museum Puri Lukisan Yayasan Ratna Warta, Ubud,  itu menggelar 83 karya Nadera yang sebagian besar merupakan koleksi Atmadjaya, merepresentasikan perjalanan seni lukis Nadera dengan utuh dan menyeluruh. (Haska/JB)

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments