Tuesday 25th November 2014

Home » News, News » Arsitek Indonesia Jangan Sekadar Menjadi Pengagum Arsitektur Luar

Danny Wicaksono (foto.Dok.AUB3)

JournalBali.com,DENPASAR- Karya arsitektur Indonesia modern kini mengalami penjenuhan, tidak berkembang, kurang inovasi dan dipenuhi karya repitisi dari masa lalu. Kaum arsitek Indonesia pun seperti terisolasi dari arsitek – arsitek dunia. Kurang begitu dikenal di dunia luar.Demikian diuangkapkan Danny Wicaksono, seorang arsitek muda yang juga penggiat “jongArsitek!” dari Jakarta pada program Architects Under Big 3 (AUB3) yang bertajuk ““Arsitektur, Reaksi dan Kesadaran”, Jumat (7/10) kemarin di  Danes Art Veranda, Denpasar.

Melalui komunitas jongArsitek! yang didirikan Dani bersama arsitek muda pada tahun 2008, yang berusaha menumbuhkan kesadaran dan cara pandang baru dalam arsitektur Indonesia modern. Komunitas beranggotakan para arsitek muda yang mempunyai semboyan “an indonesian young emergent architect community”, mulai turun ke gelanggang sejak menginisiasi Pameran Nasional Arsitek Muda di Galeri Salihara yang merupakan pameran arsitek muda Indonesia terbuka dan terkurasi pertama kali di Indonesia.
Dalam rangkaian acara tersebut, jongArsitek! pun sempat mengundang Rem Koolhaas sebagai dosen tamu pada sebuah kuliah umum yang dihadiri lebih dari 500 orang. Danny mengkurasi sebuah pameran arsitektur out of the box bertajuk “Rumah-rumah Tanpa Pintu”. Pameran ini menampilkan karya-karya dari 11 orang arsitek muda Indonesia mengenai rumah yang didesain tanpa pintu, tanpa menghilangkan esensinya pada rumah itu sendiri.jongArsitek! pun pernah berkolaborasi dengan Keuken untuk menciptakan ruang publik dan mengisinya dengan kegiatan memasak di ruang terbuka.
Danny Wicaksono semenjak menamatkan studi di jurusan arsitektur, Universitas Trisakti, Jakarta, aktif mengamati pameran dan forum diskusi arsitektur yang banyak menambah wawasan dan turut merubah cara pandang, hingga akhirnya membentuk sikap dan pemikirannya sendiri tentang arsitektur dan hal yang terkait dengannya.Buku-buku tentang karya arsitektur dunia seperti karya Rem Koolhaas, memberi pemahaman yang lain tentang ruang dan arsitektur itu sendiri. Selain itu Danny berkesempatan bergabung dalam organisasi Arsitek Muda Indonesia (AMI), yang memberinya kesempatan berkolaborasi dengan arsitek-arsitek ternama, antara lain Yori Antar dan Marcokusuma Wijaya. Beberapa proyek yang sempat dikerjakannya seperti proyek observation deck di situs Trowulan, Jawa Timur, dan gelanggang pemuda di Mataram, Nusa Tenggara Barat.Dari pengalamannya selama di lapangan pekerjaan, Danny berpendapat, “Menjadi arsitek di Indonesia begitu sulit, khususnya dalam menangani masalah konstruksi.”
Pemuda kelahiran Jakarta ini, sebelum membuka studio arsitektur sendiri, pernah bekerja dangan Adi Purnomo (Mamo) selama 3 tahun. Pelajaran berharga yang ia dapatkan dari Mamo adalah menjadi seorang arsitek tidak hanya melulu tentang arsitektur, namun juga tentang sikap. Jangan mudah percaya dan harus selalu mencari hal-hal baru dan melihat hal-hal kecil (detil). Mamo juga mengingatkannya bahwa arsitektur yang baik adalah yang memiliki pembanding (benchmark).
Pada sesi diskusi yang juga dihadiri Trevor Boddy, seorang jurnalis juga kritikus arsitektur asal Kanada, itu ditanggapi tiga peserta diskusi. Pertama, Rezza menanyakan apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan oleh seorang arsitek. Danny menjawab dengan tegas bahwa seorang arsitek harus menentukan pembanding dan patokan. Pembanding harus yang setinggi – setingginya. Bahwa arsitek muda seharusnya membuat desain yang setara bahkan lebih baik dari pembanding tersebut. Jangan pernah minder dengan apa yang kita miliki. Jangan hanya sebagai pengagum dan pengikut, karena kita tidak akan pernah berkembang.
Peserta kedua, Boddy, berpendapat bahwa apa yang telah dilakukan Danny sangat menarik dan sangat inspiratif. Ia bertanya tentang peran Danny ketika menjadi kurator di sebuah pameran arsitektur. Danny menjawab bahwa perannya adalah menjadi seorang critical role, yang belum banyak dilakukan orang. Dari yang Danny tangkap, selama ini tujuan pameran adalah untuk ketenaran. Yang terjadi seharusnya, pameran adalah ruang untuk berdiskusi.
Peserta ketiga Wara Urwasi menanyakan tentang apa yang dimaksud dengan arsitektur Indonesia masa kini membosankan. Danny menjelaskan, dengan memberikan contoh bahwa  sebaiknya kita memiliki pembanding dalam berkarya. Pembanding yang dipilih Danny adalah Jepang. Karena baginya Jepang memiliki standar tertinggi di Asia. Dia memiliki pemikiran bagaimana mereka bisa menghasilkan karya seperti itu tetapi kita tidak. Sebuah kata mutiara dari Mies Van Der Rohe pun dilontarkan oleh Danny, “Arsitektur adalah keinginan sebuah jaman yang diterjemahkan dalam bentuk ruang.” (Tim JB)
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2011 Journal Bali · Subscribe:PostsComments