Saturday 25th October 2014

Home » News » Budaya Dunia Punah Setiap Dua Minggu

John Stanmeyer

[JOURNALBALI.COM-Denpasar] “Setiap dua minggu, ada bahasa ibu yang punah di dunia, setiap dua minggu ada kain tenun yang punah dari muka bumi ini. Saya berusaha mendokumentasikan kebudayaan Bali yang unik di dunia ini, agar tidak mengalami kepunahan digerus zaman,” ujar John Stanmeyer, dalam kata sambutannya pada peluncuran buku dan pembukaan pameran foto bertajuk  Island of  the Spirit di Ganesha Gallery, Four Season Resort, Jimbaran, Bali, Kamis (9/12) lalu.

John Stanmeyer baru saja melakukan lawatan ke Brazil, hatinya miris melihat begitu banyak kebudayaan lokal yang punah akibat  globalisasi yang cenderung menyeragamkan.

Selama ini Stanmeyer begitu peduli pada budaya lokal. Selama lima tahun di Bali,  dia  berkelana keliling Bali memotret  ritual keagamaan dan  kehidupan petani dengan menggunakan kamera yang paling sederhana, Holga. Kamera plastik yang diciptakan di China pada tahun 1981 untuk massa pasar, ini ‘mainan’  seharga $ 25 telah menjadi ikon di antara mereka yang ingin kembali ke akar fotografi dan memberontak terhadap revolusi digital.

Foto-foto yang dihasilkan mengingatkan pada foto-foto awal sebelum penemuan lensa tajam dan film berkecepatan tinggi. Misteri dan emosi subjek – trans penari, pembersihan ritual, melambai keris dan kremasi – adalah semua lebih ditekankan oleh luminositas, suasana duniawi dan gerakan yang dihasilkan dari kondisi cahaya rendah dan kecepatan rana lebih lambat.

Disamping mengusung kekunoan Bali, Stanmeyer tidak  menutupi pengaruh dari dunia post-modern. Ia menangkap motif tato pada tubuh pemuda yang melakukan upacara ‘Pembersihan’ dan ketika mandi di sungai.

Karakteristik lain dari Holga terlihat dalam cetakan foto indah ditampilkan dalam pameran ini adalah frame fuzzy gelap menyerupai Daguerreotypes – salah satu bentuk pertama dari fotografi.

Karya John Stanmeyer

Seorang fotografer berpengalaman seperti Stanmeyer memahami resiko kecelakaan atau kegagalan ketika menggunakan film dan kamera dengan viewfinder dan tidak ada light meter. Memang, seperti ‘peluang’ menciptakan peluang. Berikut hasil memberikan bantuan yang menyenangkan dari homogen sesuai diyakinkan oleh kamera digital otomatis. Dalam konteks kini Holga kita tidak hanya melihat tetapi merasa grit.

Komposisi foto-foto yang unik dan asimetris. Dalam “Melasti” kita hanya melihat lengan dan pisau bergelombang dari dua keris mengacungkan ke langit. Sedangkan dalam “Ubud Cremation” poin tangan satunya ke jauh puncak bade dilakukan di pundak kerumunan orang gelisah.

Fotografer yang mendapat anugerah fotografi Robert Capa Award dan World Press Photo,  ini telah bekerja di lebih dari 70 negara  sebagian besar berfokus pada konflik, ketidakadilan sosial dan budaya yang punah.

Menurut Bruce Carpenter, penulis seni dan programer Ganesha Gallery, karya John Stanmeyer dalam Island of  the  Spirit merupakan pencapaian seni fotografi pada zamannya, setelah Bali diabadikan pertamakali dalam  fotografi oleh Gregor Krauser.

Selama lima tahun John Stanmeyer dengan bersemangat  mengelilingi  Bali, memotret di setiap pelosok Pulau Dewata.  “Saya berterimakasih atas bantuan asisten saya Wayan Tilik dan Juniartha dari Jakarta Post,” ujar Stanmeyer. Juniartha banyak membantu Stanmeyer dalam memaknai setiap ritual Hindu Bali. Sehingga buku Bali Island of  the Spirit merupakan dokumentasi antropologi visual yang otentik. []

Haska / foto: Gus Wira/ JB

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments