Thursday 27th November 2014

Home » News, News » Diskusi Sandyakala Sastra Menelisik Dunia Kreatif Sastrawan Gerson Poyk dan Fanny J. Poyk

Gerson Poyk (foto:dok JB)

JournalBali.com, GIANYAR – Sastrawan Indonesia mumpuni, Gerson Poyk, akan membagikan proses kreatif serta pengalaman bersusastranya di Bentara Budaya Bali (29/01) mendatang. Pada diskusi bertajuk “Sandyakala Sastra #18: Kisah Keluarga Poyk di Bali”, cerpenis dan novelis yang sempat lama bermukim di Bali serta mengabadikan kesan mendalamnya akan kehidupan keseharian masyarakat pulau ini melalui berbagai karya cerpennya tersebut juga akan secara khusus menjelaskan dinamika kesusastraan di Indonesia, sekaligus tantangan dan peluangnya di masa depan.

Diskusi ini juga secara khusus mengundang Fanny J. Poyk, sastrawan yang juga adalah putri dari Gerson Poyk. Keduanya akan memperbincangkan karya-karya mutakhir mereka serta bagaimana dunia tulis menulis menjadi bagian utama kehidupan keluarga tersebut. Selain itu, dialog ini pun dapat mengusut lebih jauh pengalaman mereka selama bermukim di Bali serta hubungan kreatif macam apa yang terjalin di antara ayah dan anak ini.

Fanny J. Poyk (foto:dok.JB)

“Walau lahir pada kurun zaman yang berbeda, kedua penulis ini boleh dikata memiliki latar sosial yang serupa. Akan tetapi secara stilistik dan isi cerita, karya-karya mereka mencerminkan keunikan sudut pandang masing-masing. Gerson Poyk (86 tahun) adalah sastrawan produktif dengan aneka penghargaan, sedangkan putrinya Fanny J. Poyk (52 tahun) juga penulis yang totalitas dan repurtasinya telah teruji. Menariknya kedua ayah anak ini juga sempat aktif di dalam dunia jurnalistik, sebagai jurnalis dengan pencapaian prestasi terpujikan, Gerson malah sempat meraih hadiah Adinegoro,” ujar Juwitta Katrina dari Bentara Budaya Bali.

Gerson Poyk lahir di Ba’a, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Angkatan pertama dari Indonesia pada International Writing Program di Lowa University Amerika Serikat (1971-1972) ini, memenangkan hadiah  jurnalistik tertinggi di Indonesia, Adinegoro Award pada tahun  1985 dan 1986, penghargaan Livetime Achievement Award  dari Harian Kompas tahun 1997, Anugrah Seni dari Pemerintah RI tahun 2011.

Novel dan kumpulan cerita pendeknya, antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Matias Ankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Anak Karang(1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Meredam Dendam (2009) dan catatan perjalanan jurnalistik Keliling Indonesia Dari Era Bung Karno Sampai SBY (Libri, 2011). Karya-karya telah diterjemahkan  dalam bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Rusia dan Jepang. Beberapa peneliti asing yang meneliti karya Gerson telah berhasil memperoleh Ph. D, sedangkan Sarjana Indonesia memperoleh strata satu, strata dua dari karya-karyanya yang berjumlah seratus judul buku bila diterbitkan semua.

Suamiku Dirampok Orang kumpulan cerpen karya Fanny J. Poyk

Adapun Fanny J. Poyk, adalah sastrawan kelahiran Bima 1960 yang berbagai cerita pendeknya telah dimuat di Sinar Harapan, Suara Karya, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Bali Post, Kartini, Sarinah, dan sebagainya. Ia melewati masa kanak-kanak hingga remaja di Bali, yang banyak menjadi inspirasi  cerpen-cerpennya, khususnya cerita anak-anak yang ditulis sejak usia belia. Buku-bukunya antara lain, Pelangi Di Langit Bali, Istri-istri Orang Seberang (Esensi,  2008), Perjuangan para Ibu : Anakku Pecandu Narkoba (Erlangga), Narkoba Sayonara  (Esensi, 2006) serta yang terbaru Suamiku Dirampok Orang, yang diterbitkan secara indie. Sejak  menamatkan studi jurnalistik di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, Fanny menjalani profesi sebagai  editor di tabloid anak-anak Fantasi dan sekarang  majalah Potensi, disamping aktif dalam organisasi  Wanita Penulis Indonesia (WPI) yang membidangi pendidikan.

“Kehadiran kedua sastrawan ini tentulah akan memberikan makna tersendiri bagi kehidupan kreatif di Bali. Selain masing-masing adalah sastrawan yang senantiasa intens mengolah kreativitas dengan mencipta berbagai karya, keduanya juga memiliki kedekatan hubungan dengan Bali sehingga

Di Bawah Matahari Bali karya Gerson Poyk

memungkinkan terbukanya refleksi yang mendalam atas kehidupan kesenian di pulau ini,” ujar Putu Aryastawa, dari Bentara Budaya Bali seraya menambahkan bahwa diskusi Sandyakala Sastra merupakan agenda dialog berkala bulanan dari BBB yang secara khusus menghadirkan sastrawan-sastrawan Bali maupun Indonesia guna membincang berbagai tema yang kontekstual dengan kekinian kehidupan masyarakat.

Selain Sandyakala Sastra, Bentara Budaya Bali juga menyelenggarakan agenda-agenda lainnya, semisal aktivitas pameran, pertunjukan seni serta berbagai dialog lainnya. Pada awal Februari 2012 mendatang juga akan dihadirkan sebuah diskusi Pustaka Bentara, membahas buku Gandamayu, sebuah novel terkini karya Putu Fajar Arcana, penulis karya sastra serta jurnalis Kompas. Dialog yang digelar pada 3 Februari 2012 ini akan menghadirkan pembicara budayawan Jean Couteau, serta sineas Lola Amaria, serta menampilkan berbagai pementasan musikalisasi puisi serta drama pendek dari seniman-seniman Bali. (Tim JB)

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments