Monday 24th November 2014

Home » News, News » Ketika tubuh menjelma medan simulakra di pameran lukisan “Apsara”

Seorang pengunjung di depan lukisan "Passion of Dali" karya Deny Nugraha. (foto:heha/JB)

JournalBali.com, GIANYAR – Terasseni Art Studio, Ubud, Bali, menggelar pameran lukisan karya Deni Nugraha dan Wari. Dua pelukis dari kota kembang Bandung itu mengeksplore figur dalam karya-karya mereka dengan pendekatan yang berbeda. Pameran yang mengangkat tajuk “Apsara”, yang dalam bahasa sansekerta berarti bidadari, merupakan representasi atas keindahan, tubuh dan ragam ornamen yang tumbuh dalam ikon budaya  kekinian.

Deni Nugraha, pelukis muda kelahiran Bandung, 13 Januari 1979, yang berbilang tahun berguru pada pelukis sketsa legendaris Ipe Mak’ruf, mengangkat pokok soal ketelanjangan tubuh (nudity) perempuan. Deny terobsesi dan bersitekun menjelajah tubuh-tubuh perempuan bertato sebagai tanda-tanda melalui karya-karyanya. Tato atau rajah yang merupakan tradisi yang adiluhung dalam budaya Nusantara ketika tertera di sekujur tubuh menjelma  wahana makna (veniche of meanings) yang menolak tubuh sebagai sekadar instrumen. Figur pelukis sohor Salvador Dali dengan ciri khas kumis meruncing ke atas dan mata melotot yang  disusun dengan gambar gajah yang surealis bertemu di sekujur tubuh perempuan yang ekstasi, membuat kita membaca tubuh sebagai medan simulakra. Postur, pose, arah dan irama tubuh-tubuh perempuan itu seperti hadir mencari konteks pemaknaan atas hegemoni budaya patriakhi.

Selama ini Deni mengamati adanya pergeseran laku atas tubuh perempuan. Sebagai pelukis yang tumbuh di kota yang sohor senagai trend fashion di Indonesia, ia melihat betapa perempuan dengan bebas mengekspresikan keindahan tubuhnya secara individual melalui tato.

“Saya dulu sempat menjadi tukang tato. Kebanyakan yang saya tato perempuan yang hidup mandiri,” kata pelukis yang juga pernah bekerja di sebuah perusahaan advertensi sebagai ilustrator pada 1999 dan menggarap lukisan “Sejarah Perjuangan Bung Karno” yang diabadikan di ruang istimewa di Monumen Nasional (Monas), Jakarta,  pada tahun 2000.

Sedangkan Wari, pelukis kelahiran Bandung 30 September 1957, bersitekun menggambar figur di kanvas dengan bolpoin. Pelukis yang telah malang melintang berpameran, antara lain menggelar pameran bersama dalam gelaran “UOB Painting Exhibition” di HNI Bandung pada Mei yang lalu, itu dengan enteng menggambar pelbagai hal di sekelilingnya. Ia menjelajahi beragam potret dengan latar belakang yang diunduh dari pelbagai ragam budaya, dari yang tradisional hingga kosmopolitan.

Pelukis Wari

Wari menggambar dengan garis-garis arsiran tergarap rapi. Terkadang goresannya meluncur agak liar, namun ini bukan tumpahan emosi, melainkan penyetimbang bagi goresan yang terlalu rapi. Ada timbunan garis pada bagian tubuh atau wajah tertentu, yang seakan menjadi titik berat bidang gambar. Ia menggambarkan yang maya dan yang nyata berusaha saling melebur pada  bidang yang dibiarkan kosong. Pada bidang putih sosok-sosok itu seakan timbul tenggelam, barangkali untuk membuat kita bertanya apa hakikat wujud itu sebenarnya.

Lukisan karya Wari

Ia mengangkat kembali serpihan  kenangan  tentang sebuah peristiwa, membangkitkan ingatan yang lama terbenam hingga ceruk-ceruk yang paling lubuk, yang  barangkali sudah tertimbun oleh tarikh. Ia tak mengemban tugas menyalin-rupa realitas seakurat mungkin. Ia bekerja dengan imajinasi melalui montase pelbagai citra (image). Melalui gambar hitam-putih ia menyelami sosok sang liyan (the others) seperti dipresentasikan dalam lukisan “Anak Badui”. Atau kita pun akan terbawa pada semesta keasingan yang misterius dalam gambar-gambarnya yang lain. Sengaja atau tak, dalam gambar-gambar Wari, maka kesadaran kita masa kini bagai hendak dihela-direnggut untuk bergegas mundur ke dalam labirin masa silam. Wari dengan playfull memainkan ikon-ikon masa lalu dan masa kini, menggoda kita untuk menyelami hal ihwal kehadiran kita sekarang ini, membawa kita kembali ke relung hening dan kosong, dengan melalui jalan zigzag dan sedikit berbahaya. Seakan kita hanya mungkin bermeditasi di tengah riuh-rendah benda dan citraan, dan mencapai sunyata dengan banjir cerita dan berita.

Pameran “Apsara” dibuka Jumat  malam (8/6) yang dimeriahkan pertunjukan “musik batu” oleh Engkong, seniman asal Sumedang, akan berlangsung hingga 26 Juni 2012 di Terasseni Art Studio, Jalan Raya Nyuh Kuning 1, Pengosekan, Ubud, Bali. (Haska/JB)
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments