
Ketut Suasana Kabul.
Hal tersebut menjadi perhatian dan keperihatinan perupa muda Ketut Suasana Kabul yang telah menyumbangkan sebuah lukisannya, berjudul “Lebah Ratu”, dua tahun yang lalu. Lukisan “Lebah Ratu” yang konon yang telah menjadi incaran para kolektor seni sengaja disumbangkan untuk kepentingan apresiasi seni. Lukisan Lebah Ratu itu menggambarkan bagaimana konsep kebersamaan dalam komunitas mahluk bernama lebah bisa dimaknai dalam mengaktualisasikan konsep saling membantu sesama dalam kehidupan sehari-hari. Lebah Ratu bertugas menjaga madu dan anak-anak lebah, sedangkan lebah dewasa bertugas untuk menyerap sari bunga untuk dijadikan madu.

Lukisan "Lebah Ratu" karya Ketut Suasana Kabul
“Saya prihatin dengan kondisi koleksi karya seni karya seniman Bali di Taman Budaya yang tidak bisa diapresiasi publik karena mengalami kerusakan. Sebagian besar seniman yang telah dengan tulus menyumbangkan karya terbaiknya pasti kecewa karena pihak yang berwenang ternyata belum bisa menjalankan tugasnya secara optimal merawat koleksi karya seni di Taman Budaya Bali. Pemerintah Bali perlu secepatnya bertindak dengang memberi anggaran restorasi karya demi menjaga lestarinya budaya Bali,” kata perupa asal Banjar Apuan, Baturiti, Tabanan, kelahiran 30 Desember 1978 itu.
Kepala UPT Taman Budaya Art Center Denpasar Ketut Mantara Gandhi membenarkan bahwa sebagian besar lukisan yang rusak perlu direstorasi agar terjaga kelestariannya. Menurut Gandhi, yang dulu bertugas menjadi Kepala Museum Le Mayeur yang mengawasi proyek merestorasi lukisan karya Le Mayeur, koleksi lukisan yang mengalami kerusakan telah menjadi prioritas Taman Budaya Bali. Anggaran merestorasi lukisan yang besar menjadi kendala sehingga untuk sementara gedung koleksi karya seni itu harus ditutup untuk publik.(heha/JB)
















