Thursday 23rd October 2014

Home » News » Lakon Sie Jin Kwie di Hari Jadi ke-34 Teater Koma

Pentas lakon Sie Jin Kwie, 2010

JournalBali.com, Jakarta - “Aku sebatang kara. Ayah, ibu dan seluruh keluargaku mati dan yang memfitnah kini jadi raja muda. Sungguh tidak adil kenapa aku harus menjalani lakon sesakit ini.” Di istana Thibiejin meratap. Dendam membara membakar dadanya. Tekadnya hanya satu, membunuh  Sie Jin Kwie .  Biejin menuduh Sie Jin Kwie  telah menyebar  fitnah yang berujung pada pembantaian seluruh marga Thio. “Nyawa harus dibayar nyawa,” serunya.

Litocong yang juga paman kaisar Dinasti Tang, Lisibin, iba dengan kondisi istrinya. Dibantu  Thiojin, lelaki gemulai pengurus rumah tangga mereka, dia menyusun rencana.  Berbekal titah raja ‘aspal’ dia berhasil menjerat Siejinkwi agar datang ke istana memenuhi undangan raja. Di tengah jalan, Litocong membujuknya untuk singgah di istananya.  Tipu muslihat pun berhasil dijalankan. Sie Jin Kwie tertidur pulas setelah menenggak arak yang telah dicampur  obat tidur dosis tinggi.

Litocong tak mau Sie Jin Kwie yang diangkat sebagai raja muda oleh kaiasar Lisibin karena jasa-jasanya itu dibunuh begitu saja. Dia ingin Sie Kwin Jie dihukum mati oleh raja. Maka disusunlah rencana lanjutan. Sie Kwin Jie difitnah telah memerkosa putri tunggal mereka, Loanhong. Tak sudi nama dan kehormatannya tercemar gara-gara fitnah yang disebarkan orang tuanya, Loanhong memilih bunuh diri dengan cara membentur-benturkan batu penggosok tinta ke kepalanya.

Litocong dan istrinya murka. Dia lalu melapor ke kaisar bahwa Sie Jin Kwie, pahlawan besar pada masa perang ke wilayah timur itu, telah memerkosa dan membunuh putri  mereka. Mendengar nasib tragis keponakan tersayangnya, kaisar naik pitam. Dia segera memerintahkan agar Sie Jin Kwie  dihukum mati.

Para sahabat Sie Jin Kwie yang yakin ada oknum keji yang merekayasa tuduhan itu  tak tinggal diam.  Mereka heran, karena Sie Jin Kwie tak kunjung bangun dari tidurnya sekalipun sudah menerima beragam siksaan di penjara.  Mereka pun meminta kaisar menangguhkan hukuman itu sampai Sie Jin Kwie sadar.  Di tengah masalah itu, datang  utusan Saupotong, penguasa dari negeri Tar Tar, membawa tantangan perang.

Inilah sepotong kisah Sie Jin Kwie, panglima perang andalan kerajaan Dinasti Tang dari pertengahan abad ke-7, yang bakal digelar Teater Koma dalam sebuah pertunjukan opera di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, 4-26 Maret 2011 mendatang .  Kisah klasik pahlawan dari Tiongkok itu sebelumnya pernah dipentaskan  Teater Koma, Februari 2010 lalu, dalam lakon berbeda. Kali ini,  Teater Koma melanjutkan kisah pahlawan berbaju putih dalam lakon terbarunya  Sie Jin Kwie Kena Fitnah.

Sie Jin Kwie Kena Fitnah  mengangkat situasi politik di daratan Cina masa Dinasti Tang yang penuh dengan intrik kejam.  N. Riantiarno menyadurnya dari karya klasik Tiokengjian dan Lokoanchung. “Pentas ini merupakan bagian dari kegelisahan kita bersama terhadap kondisi bangsa,” jelas N. Riantiarno, sang sutradara.

Sie Jin Kwi Kena Fitnah merupakan produksi Teater Koma yang ke 122. Drama dua babak sepanjang empat jam itu digelar berbarengan dengan hari jadi Teater Koma  yang ke-34. Sejak didirikan pada 1977,sudah banyak menggelar pementasan. Sebut saja Rumah Kertas (1977), Maaf.Maaf.Maaf (1978)., Opera Kecoa (1982),  Sampek Engtay (1988), dan Semar Gugat (1995) . Selain mementaskan karya N. Riantiarno, kelompok kesenian nirlaba ini juga pernah menggelar karya para dramawan kelas dunia seperti Romeo Juliet karya William Shakesepeare yang diadaptasi menjadi Roman Yulia dan Republik Togog yang merupakan saduran dari naskah karya Moliere yang berjudul  Tartuffe.

Tak Cuma menyuguhkan sebuah pertunjukan opera khas Cina, pada pementasan kali ini Teater Koma menggandeng M. Taviv  dengan wayang taviv-nya. Berbeda dengan wayang kuli biasanya, wayang Taviv menggunakan layar putih berbahan parasut dengan sistem pencahayaan berwarna.

Lewat pertunjukan wayang Taviv inilah kisah Sie Jin Kwie dimulai. Selama setengah jam, aktor senior Teater Koma Budi Ros yang menjadi dalang menceritakan bagaimana usaha Sie Jin Kwie mencari keluarganya setelah selesai berperang. Proses pencarian itu dikemas dengan jenaka dan diselipi dengan sindiran terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini, mulai kasus Gayus Tambunan hingga rencana pembangunan fasilitas spa di gedung Dewan Perwakilan.

Pada beberapa bagian, wayang taviv berbagi panggung dengan para pelakon yang beradegan seperti dalam pentas wayang wong, lengkap dengan kehadiran sang dalang. Pada adegan pertemuan antara Sie Jin Kwie dengan keluarganya misalnya, Sang pahlwan yang diperankan oleh Rangga Riantiarno, terlihat berdialog dengan putri kecilnya yang diwakilkan oleh wayang taviv berwujud bocah kecil. Terkadang, pertunjukan wayang itu menjadi pelengkap dari adegan yang sedang dimainkan para aktor. Ketika aktor-aktor melakoni sebuah adegan, di saat yang sama dalang Taviv memainkan adegan serupa.  Diimbuhi dialog dan guyonan-guyonan segar, pertunjukan yang dipenuhi desain kostum dan tata panggung yang memukau ini terasa menarik dan menghibur.[]

Tim JB

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2011 Journal Bali · Subscribe:PostsComments