Friday 31st October 2014

Home » News, News » Memperingati Hari Bumi Serambi Arts Antida menggelar “Children and Earth”

Suasana pagelaran musik di Serambi Arts Antida. (foto:dok.vifick bolang)

JournalBali.com, DENPASAR – Dalam rangka memperingati Hari Bumi yang jatuh pada 22 April, Serambi Arts Antida menggelar rangkaian program bertajuk “Children and Earth”. Berbagai komunitas dan seniman di Bali akan terlibat dalam program pameran, pagelaran musik, workshop dan diskusi tentang lingkungan.

“Hari Bumi diperingati untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini, yaitu Bumi,” ujar Anom Darsana, pengelola Serambi Arts Antida, kantong budaya yang aktif menggelar program seni dan budaya yang melibatkan berbagai komunitas seni di Denpasar sejak Oktober 2010 lalu.

Rangkaian program yang digelar di Serambi Arts Antida, Jalan Waribang 32, Kesiman, Denpasar,  itu antara lain melibatkan Yayasan Anak Tangguh,  sanggar yang selama ini  menjalankan konsep pendidikan alternatif untuk anak-anak di sekitar Desa Guwang – Sukawati. Anak Tangguh akan menggelar pameran foto yang mengusung tema “Fasilitas Publik di Mata Anak-anak” yang menampilkan karya dari 35 anak-anak hasil pelatihan fotografi oleh Sri Utami, alumnus Allgonquin College, Jurusan Photography, Canada.

Disamping itu akan digelar workshop yang mengolah  barang-barang bekas untuk dijadikan instalasi atau dekorasi. Workshop yang dimotori Yan Trashart – Ubud, dipandu oleh Tebo Barong  yang telah bergelut dengan dunia trash art selama bertahun – tahun, mengedepankan konsep daur-ulang yang konsumerisme yang hanya membeli barang dibutuhkan dan memanfaatkan barang sudah tidak berfungsi lagi (re-use), seperti membuat gelang berbahan dasar ban dalam bekas yang didesain dengan menarik.

Anom Darsana (foto.dok.pri)

Komunitas Batik Gondorukem akan unjuk kreativitas dengan menggelar workshop batik. Komunitas batik yang berdiri sejak  2004, mencoba mengeksplorasi wujud estetika maupun muatan isi yang selama ini dikenal dalam kesenian batik. Dengan menggunakan teknik membatik pada umumnya, merekabe rupaya meluaskan kemungkinan penciptaan, menembus batas bentuk artistik, hingga batik kini tidaklagi tampi lsebagai karya yang terkesan ‘lampau’, ‘kuno’, ataupun, mengutip idiom remajakini: ‘jadul’ atau ketinggalan zaman.Komunitas Batik Gondorukem pernah berpameran di berbagai daerah, yakni “Ajar Nyanthing” (ISI Denpasar, 2006), pamerandan workshop di Kampung Jagir Sidoresmo, Surabaya (2007), Galeri House of La Paste Surabaya, pameran dan workshop di JW Mariot Nusa Dua Bali, pameran di Universitas Kristen Petra (2009), pamerandan workshop di eks Museum MpuTantular, Komunitas Seni PengosekanUbud, Gedung YPK Bandung 2010, dan Bentara Budaya Bali (2011). Workshop ini terbatas untuk 20 peserta saja dengan biaya 100.000 per orang mendapatkan sertifikat dan makan siang.

Pada malam hari  dipagelarkan musik yang akan menampilkan, antara lain, JazzPath (France),Geekssmile, Nosstress,  Dialog Dini Hari, Anak Tangguh Salsa Dance, The Hunter,Damai and Friends Percussion,Ganjil, Kids Teater Performances,Sandra Fay & Friends( Bali International School), Kay Armanousa dan kelompok musik dari Hawai Nahko & Medicine for The People yang belum lama ini tampil di ajang Bali Spirit Festival 2012. Hal yang istimewa dari pagelaran ini, pentolan Sirkus Barock, Sawung Jabo akan tampil mempersembahkan lagu-lagu bertema lingkungan.

Gelaran kesenian yang ditampilkan di Serambi Arts Antida, menurut Anom Darsana, merupakan ajang bertemu dan tampilnya  para pelaku seni lokal yang berada di Denpasar pada khususnya dan Bali pada umumnya, sehingga komunitas/scene ini bisa tumbuh dan berkembang, dan dengan demikian, karya-karya mereka dapat dikenal lebih luas baik secara nasional maupun internasional. (Heha/JB)

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments