Monday 21st May 2012

Home » News » Peluncuran Novel Karya Martin Jankowski di Bali

Martin Jankowski

[JOURNALBALI.COM-Denpasar] Fakultas Sastra Universitas Udayana dan Bentara Budaya Bali akan menggelar peluncuran dan diskusi novel Rabet, Runtuhnya Jerman Timur karya Martin Jankowski pada 10 Desember 2010 mendatang.

Novel Rabet, Runtuhnya Jerman Timur berkisah tentang detik-detik menjelang peristiwa runtuhnya Tembok Berlin, sebagai penanda jatuhnya Republik Demokratik Jerman,  sebuah negara sosialis yang pernah ada di Jerman.. Martin Jankowski, yang terlibat dalam peristiwa demonstasi besar-besaran menentang rezim komunis menuliskan kesaksian sejarah, pergulatan politik, dan kisah manusiawi dalam bahasa estetika sastrawi nan puitik.

Menurut Pembantu Dekan III Fakultas Sastra Universitas Udayana, Drs. I Wayan Sama, M.Hum diskusi novel karya Martin Jankowski dapat menjadi pembelajaran yang penting bagi mahasiswa khususnya dan  generasi muda Bali.

Novel Rabet Runtuhnya Jerman Timur

“Saya kira, diskusi-diskusi seperti ini tidak semata memperkenalkan khazanah kebudayaan luar Nusantara, namun sekaligus juga dapat menjadi sebentuk studi perbandingan yang strategis demi perkembangan kehidupan sastra di Bali, dan juga Indonesia,”. ujar  I Wayan Sama.

Hal senada juga diungkapkan Ni Ni Ketut Sudiani dari Komunitas Sahaja selaku koordinator acara peluncuran novel Rabet, Runtuhnya Jerman Timur di Bali,  yang mengharapkan diskusi sastra seperti ini hendaknya dilakukan secara berkelanjutan, dengan menghadirkan penulis-penulis mumpuni dan mengangkat tema-tema lebih beragam, yang pelaksanaannya didukung dari berbagai pihak.

“Program dialog dan peluncuran buku ini sendiri telah digelar di berbagai kota di Indonesia, seperti Banda Aceh, Bandung, Jakarta, Surabaya dan Papua,” ujar Ni Ketut Sudiani seraya menambahkan bahwa kegiatan di Bali ini terselenggara berkat kerjasama antara Komunitas Sahaja, Fakultas Sastra Universitas Udayana serta Bentara Budaya Bali

Martin Jankowski, sastrawan kelahiran Greifswald, kawasan Laut Baltik, Eropa, memulai karirnya sebagai penyanyi dan penulis lagu oposisi di Leipzig. Karya-karya tulisnya sempat dilarang oleh dinas rahasia Jerman Timur, Stasi. Namun, lagu-lagu dan puisi-puisi Jankowski menjadi populer di saat terjadinya masa Demonstrasi Senin. Ia menerbitkan esai, cerita pendek, novel dan karya non-fiksi. Karya puisinya sudah ada yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Detik-Detik Indonesia” (Indonesiatera, 2005) yang sebagian besar memotret kehidupan sosial dan budaya Indonesia dan juga Pulau Bali. Dia dikenal aktif  menjalin kerjasama kebudayaan antara Jerman dan Indonesia dengan menelaah puisi penyair Indonesia dan kerap tampil dalam forum dan panggung sastra dengan memikat.

Diskusi sastra mendatang ini tidak hanya diperkaya oleh kehadiran penulisnya untuk berbagi pengalaman kreatif, namun juga dimaknai oleh pementasan apresiasi sastra dari penyair dan penggiat sastra di Bali. “Bolehlah dikata, dialog ini bukan hanya dapat dipandang sebagai sebuah refleksi terhadap sastra Jerman maupun Indonesia, melainkan juga upaya untuk menghargai sejarah masa lampau serta memaknai kekinian dan masa depan kita,” ujar Wayan Sama. []

Gus Wira/JB

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments