Thursday 2nd October 2014

Home » Bali Feature, News, News » Seni Di Tempat Sampah

[JOURNALBALI.COM-Denpasar] Sampah dan tempat sampah adalah dua benda yang tidak pernah jauh dalam kehidupan. Sebagian orang menganggap sampah sebagai sesuatu yang menjijikkan dan tidak punya nilai. Namun sebagian orang lagi menganggap sampah adalah teman dan harta. Begitu pula tempat sampah yang sama-sama memiliki dua sudut pandang.

Tshepo DD Maponyane, seorang mahasiswa ISI Denpasar asal Ga-Rankuwa, Tshwane, Afrika Selatan ini menjadikan tempat (tong) sampah sebagai media lukisannya.

Diawali dari hal unik, dia menjadikan tong sampah sebagai alat penyangga kanvas lukis saat dia berkarya. Hal ini dilakukan karena tidak memiliki alat penyangga setiap dia melukis dibelakang rumahnya. Belakangan dia menyadari kalau tong sampah miliknya sangat membantu. Muncul niatnya untuk berterima kasih kepada tong sampah tersebut, hingga akhirnya dia wujudkan ucapannya dalam bentuk lukisan.

Lebih dari itu, ide-ide tentang tempat sampah memenuhi pikirannya. Hingga suatu saat dia berkeinginan menjadikan tempat sampah sebagai benda yang disukai orang banyak seperti yang dia rasakan.

“Tempat sampah merupakan bagian dari kita. Setiap hari kita membuang sampah, kalau tidak ada tempat sampah

kita akan membuang sampah dimana?. Pasti disembarang tempat kan,” jelas DD, sapaan akrabnya, Selasa sore.

Berangkat dari hal tersebut, dia begitu tertarik melukis tempat sampah lebih banyak lagi. Menurutnya, jika tempat sampah itu dikemas dalam bentuk visual yang menarik maka masyarakat tidak akan jijik melihat kotak yang penuh sampah. Ini juga bisa menjadi proses pembelajaran kepada anak-anak sejak dini.

“Bayangkan saja kalau tempat sampah diberi lukisan kartoon, pasti anak kecil akan tertarik,” lanjutnya.

David menggunakan bahan dasar acrylic sebagai framing ditimpa dengan cat minyak untuk membuat sebuah lukisan. Terkadang dia juga menggunakan mix media sebagai bahan utk melukis.

Lelaki yang baru dua bulan tinggal di Bali ini berkeinginan untuk ikut menyumbangkan karyanya demi daerah yang menurutnya pusat seni. Dia mengakui waktu dua bulan bukanlah waktu yang lama, tetapi sebagai perkenalan dia sudah merasakan asyiknya tinggak di Bali yang kaya dengan kesenian dan warisan budaya.

Baginya, bisa belajar seni di Bali adalah hal yang sangat mengesankan. David tidak pernah bermimpi untuk bisa belajar seni apalagi sampai datang ke Bali dengan mendapat beasiswa. Dia mengakui kedatangannya ke Bali karena dukungan seorang temannya yang bernama Yvone More. Yvone memberi informasi dan dukungan kepadanya untuk belajar lebih dalam tentang seni lukis yang awalnya dia pelajari secara otodidak.

Selain Yvone dia juga berterimakasih kepada Mr. Hellmut Wilhem dan Prof Fred Van Staden yang telah mengurus segala kelengkapannya hingga bisa ke Bali untuk belajar.

“Saya sangat berterima kasih kepada Yvone More atas semua support yang dia berikan pada saya. Termasuk Mr Hellmut dan Prof. Fred,” pungkasnya. (ast)

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments