Thursday 17th April 2014

Home » Perfoming Arts, Theatre » Ah, Apa Hubungan Panji dengan Sutasoma?

oleh Cok Sawitri

AH, apa hubungan Panji dengan Sutasoma? Pertanyaan ini muncul dari kenakalan saya. Sebab tidak ada yang menanyakan kepada saya soal ini. Dan saya tahu darimanapun pertanyaannya, akhirnya harus saya jelaskan, mengapa pola gerak Panji bisa klop dengan kisah Sutasoma.

Dalam tradisi asuhan gaya Bali lama, kisah Panji adalah cerita lisan yang hampir tiap malam saya dengar. Isi kisah dan pemerannya memang fiksi namun lokasi kejadian cerita, membuat saya selalu bertanya-tanya, dimanakah daha itu, dimanakah kahuripan, dst.  Salah satu tante saya, sejak kecil mengingatkan bahwa nama-nama kerajaan dalam kisah panji itu sebenarnya kerajaan-kerajaan di majapahit; padahal dalam ajaran sejarah kesannya majapahit adalah satu kerajaan; baru ketika saya dewasa, saya memahami mengenai padmawilwatika; raja-raja yang menjadi penguasa kerajaan Majapahit; dengan menuakan salah satunya. Posisi Daha sangat kuat dalam konteks politik Majapahit, Hayam Wuruk dan Gajah Mada pernah manggang di kerajaan daha barulah kelak saat dipromosi pindah ke ibu kota. Sedangkan kakawin Sutasoma, karya Mpu Tantular ditulis disaat Hayam Wuruk berkuasa; jika memperhatikan isi negarakertagama maupun referensi sejarah lainnya mengenai majapahit; nampaknya majapahit pernah mengalami ketegangan dalam soal dharma negara dengan dharma agama. Ada persaingan ketat antara penganut Sivait dengan penganut Budha. Walau sejak era rezim Kertanegara (Singosari) persaingan ini telah diredam dengan menyatakan dirinya adalah raja siwa budha; warisan ketegangan itu tetaplah muncul ketika negara mencapai kemapanannya sebagai negara. Juga bagaimana ‘tangan besi’ sistem sentralis yang digunakan gajah mada cenderung mendorong terjadinya dominan kekuasaan oleh yang dekat dengan kekuasaan. Tantular menulis Sutasoma tak hanya sebagai argumentasi, juga jalan ke luar dan jawaban mengenai ‘potensi konflik’ dua paham keyakinan yang kuat ini. Pada kutipan,” Aksobhya tatwa kitang Iswara dewa dibya, hyang Ratnasambhawa sireki bhatara Datta, sang hyang Mahamara sirastam ikamithaba, sryamoghasiddhi sira Wisnu mahadhikara” ; dengan argument ini, mengenai hakikat yang sama dalam berkeyakinan, katakanlah sebutan aksobhya tidaklah berbeda Dewa Iswara, kemudian ratnasambhawa hakikatnya sama dengan bhatara data. Begitu pula amitabha tidak berbeda dengan mahamara, bahkan Dewa wisnu tidaklah berbeda dengan Sri Amoghasiddhi. Bandingkan kemudian kutipan lain dalam Sutasoma ini, yang menegur semua raja, sebab majapahit memiliki banyak daerah taklukan, mereka bagaikana ‘korban’ dari porusadha: “hetunya wetu durbalang bhuwaana dentan nguni siniwi, wruh-wruh yan ratu sing katonta tinekan pinatyan inalap, krurambekta pareng pwa mandiri padeka nora sugati, nahan hetu niran pareng manemu duhka tan hana kari” artinya: karena kedudukan yang jadi sebab semua masalah ini, sebab menginginkan wilayah kerajaan lain, kalian berperang serta menjarah. Kalian sesungguhnya memiliki hati jahat, memerintah negara tanpa memikirkan kesejahteraan rakyat. Ini sebab, hei, kalian semua tanpa kecuali mengalami penderitaan. Teguran kepada para pemimpin ini jelas menegaskan bahwa terjadi konflik kekuasaan bukan karena rakyat atau agamanya, namun dimotivasi oleh kedudukan alias kekuasaan. Maka selalulah menarik jika kutipan yang populer itu yang dijadikaan semboyan negara justru tidak pernah disertai dengan proses pemahaman mengapa timbul semboyan bhinneka tunggal ika itu, di negeri yang kaya keragaman itu. Majapahit itu negara yang luar biasa ragamnya.

Dalam pentas percakapan sunya nirvana, saya sengaja memilih kutipan ketika perang itu telah terjadi, tidak terhindari, gagalnya dialog, gagalnya para penguasa, karena tidak ada yang memiliki keluasan hati, semuanya memilih berada dalam kekuasaan; Jayantaka punya alasan mengenai kaulnya, dasabahu, ipar Sutasoma juga punya alasan, muak dengan arogansi penganut sivait yang terus menerus meluaskan kekuasaannya. Majapahit sesungguhnya hampir mengalami kerancuaan antara dharma negara dengan dharma agama. Nah, pada pola gerak panji; kisah ini justru bertemu karena keduanya sesungguhnya bertautan situasi dan kondisinya dalam konteks teks maupun kisah lisan.

Yang mengharukan tentunya adalah dalam proses ini; sebuah jalinan hubungan-hubungan kepengaruhan dan bagaimana style Budhakeling itu menjadi rupa dan gerak, mewakili argumentasi mengenai posisi gambuh sebagai ibu tari dan sang Hyang Sang Bapa. Dari awal pengadegan proses ini dialirkan, digerakan pelahan pergeserannya dari pola gerak panji ke topeng dalem kemudian ke pola pengarjaan; ketiganya memiliki pakem jelas, namun dimanakah letak bedanya kemudian; pada lahirnya style itu, karakter yang kelak menandai perbedaan kekhasan tampilan tari. Dalam proses ini, unsure gerak ngalegong yang kini mendominasi tari-tarian bali disimpan bahkan dijauhkan; gerak jemari, lirikan mata, semua disisihkan dari seluruh rupa dan gerak. Prinsip menari kaki menginjak bumi, tegas dan tegak, kelenturan bukan dengan menggoyang tubuh, namun terjadi pemilahan badan, nafas, siku, tolehan, hentakan dan putaran pada perut dimana gerakan ekstrim dapat terjadi.

Memang, bagi penonton bali umumnya, yang sudah terbiasa menonton tari-tarian yang telah dibungai gerakan ‘ngalegong’ dimanis-maniskan, akan cukup terganggu, sebab gaya bali timur, style ini selalu disebut bebakalan, ibarat memapas kayu, bekas kapakannya tidak dihaluskan dengan amplas. Inilah style yang lenyap, ketika tarian di bali menuju penyeragaman, semua dimanis-maniskan, dihalus-haluskan dan kerap jatuh dalam ‘ kegenitan’.

Percakapan sunya nirvana memang tidak akan henti pada proses pentas ini; akan berlanjut pada proses pelengkapnyaa yakni menggali terus mengenai kemungkinan menarik garis tegas antara penyeragaman dengan intuisi menari disetiap tubuh manusia. Menjauhi standar-standar perlombaan seni, yang kadang karena sistem penjurian melahirkan pisau tajam, menebas eksploarasi siapapun yang hendak berkarya agak berbeda. Juga pastilah akan dihujani tanda tanya, kritik maupun penyaranan agar memasuki koridor menari ‘ yang diberi aura ngalegong’, riuh dengan gerakan jari dan mata, menoleh dan menunduk, menggoyang pinggang, dst.

PENTAS percakapan sunya nirvana ini, seperti judulnya akan menjadi percakapan hati, akan selalu menggugah untuk terus mengomentari, namun garis tegasnya adalah pada pilahan yang ingin dicapai: yakni sebuah proses harus menuju karakternya yang sejati.[ ]

Foto: koleksi Cok Sawitri

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments