Tuesday 30th September 2014

Home » Perfoming Arts, Theatre » Dalam Lakon Kereta Kencana, Putu Wijaya Mengenang Rendra

PROPERTI di panggung minim. Hanya sebuah kursi warna merah dan layar putih di bagian belakang. Kostum pemainnya juga hanya kostum rakyat jelata. Satu-satunya kekuatan yang ditampilkan malam itu hanya seni akting, olah vokal dan aroma puitis- romantis dari naskah berjudul Kereta kencana itu.

Selama dua hari, 25 dan 26 September, Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) mementaskan Kereta Kencana sebagai bagian dari perayaan Festival Schouwburg ke-9. Lakon ditulis WS Rendra itu adalah adaptasi bebas dari The Chairs atau Les Chaises karya Eugene Ionesco (1909-1994), maestro drama berdarah Rumania-Prancis.

Alkisah  sepasang suami istri– sudah hidup selama 200 tahun. Suatu malam ada suara yang muncul bersama deru angin. Tirai putih menjuntai dan berkelebat di latar panggung. Ada siluet tak berbentuk, dan bias cahaya putih kebiruan.

“Wahai-wahai. Dengarlah engkau dua orang tua. Di tengah malam ini, akan kukirimkan kereta kencana untuk menyambut engkau berdua. Kereta kencana, sepuluh kuda, satu warna …”

Dalam kamar gelap, suara itu merambat. Seorang lelaki tua terkulai di kursi, mungkin setengah terlelap. Dari balik tirai, muncul perempuan tua. Dia memegang lampu teplok, berjalan sambil memanggil si lelaki.

Adegan itu membuka pementasan Kereta Kencana yang dimainkan Teater Mandiri. Lakon itu disutradarai dramawan Putu Wijaya, yang juga berperan sebagai sang suami. Lisa Ristargi, pemain terbaik Festival Teater Jakarta 2009, bermain sebagai istri. Lakon itu bercerita tentang kegusaran sepasang lelaki dan perempuan gaek yang telah hidup selama dua abad. Kini dalam sepi yang panjang, mereka menanti kematian, menunggu kereta kencana tiba.

Dalam penantian itu, keduanya seperti hidup hampa. Mereka kerap mendengar suara memanggil. Seperti maut yang ditunggu, tapi tak kunjung tiba. Kini suara itu terdengar lagi. Si lelaki mendadak merasa hidupnya selama dua abad tak berguna. Kian malam, kegusaran itu makin mencekam.

Lisa Ristargi bermain baik. Gesture-nya terjaga, dan vokal pas bagi lakon realis Putu Wijaya malam itu. Kereta Kencana bukanlah lakon biasa. Drama pendek ini, oleh WS Rendra ditafsirkan dengan bebas dari karya asli Ionesco. “Dalam naskah asli karya Ionesco, tokohnya bukan dua, tapi ada karakter lain,” ujar Putu.

Eugene Ionesco adalah pentolan teater absurd. Oleh Rendra naskah dibuat berbeda. Dia menjadikan dialog sebagai puisi yang hidup. Maka, dalam pementasan malam itu, Putu membiarkan Rendra bermain dengan kepenyairannya. “Tengah malam nanti, apabila angin mendayu, dan bulan luput dari mata. Akan datang sebuah kereta kencana untuk menyambut kita berdua,” ujar si perempuan tua.

Kembali ke panggung, kita pun menyaksikan lelaki tua itu menangis. Si istri mencoba menghibur. Dia mengajak suaminya bermain. Lalu bertingkahlah si lelaki menjadi badut. Bosan dengan itu, si nenek kemudian menjadi layang-layang. Dia ditarik dan diulur¸ sampai tali layang-layang itu putus. Dan kejemuan kembali mencekam.

Lalu tiba-tiba pintu diketuk. Si lelaki mengira kereta kencana tiba. Tapi yang muncul dari balik pintu, adalah seorang penting, sang perdana menteri. Dimainkan secara abstrak, karena sang perdana menteri tak pernah ada, adegan berlangsung padat dialog.

Juga saat rumah kosong itu mendadak dipenuhi tamu lain, dengan berbagai karakter, dan semua adegan dibangun secara imajiner. Putu juga menyelipkan banyolan segar, dan sindiran atas politik aktual. Mementaskan drama ini, kata Putu, keaktoran para pemain ditantang hebat.

Mengenang Rendra

Pementasan ini, kata Putu, untuk mengenang Rendra yang wafat tahun lalu. Sebelum di Gedung Kesenian Jakarta, lakon ini pernah dipentaskan di Komunitas Salihara, dan juga di Yogyakarta.

Naskah Rendra itu, kata Putu, bukan bacaan mengasyikkan. Dibutuhkan aktor kuat agar di pentas, naskah itu menjadi menarik. Itu sebabnya, Putu mengajak Lisa Ristargi, karena Teater Mandiri tak punya pemain perempuan dengan disiplin teater realis. “Kami terbiasa mengeksplorasi visual, dan bukan dialog,” ujar Putu.

Di atas panggung, Putu yang kini berusia 66 tahun itu, lincah menaklukan kekosongan. Kita bisa merasakan kegusarannya sebagai lelaki tua yang hidup dua abad, tetapi ditikam kehampaan. Putu mengolah krisis eksistensial itu menjadi suasana berkarakter. “Teater absurd sekalipun juga ada karakter,” ujarnya.

Drama ini pernah dimainkan Rendra di Yogyakarta pada  1962 bersama Widiati Saebani. Beberapa tahun lalu, Rendra memainkan lakon serupa di Jakarta, bersama istrinya, Ken Zuraida. “Saya menonton beberapa kali Kereta Kencana yang dimainkan Rendra,” ujar Putu, yang juga pernah bergabung dengan Bengkel Teater.

Bagi Putu, Kereta Kencana memang paling pas dimainkan Rendra. Tapi dia juga punya tafsir realis sendiri. “Saya berusaha setia mungkin mengikuti teks Rendra, tapi saya juga mengolah sesuatu yang tumbuh dari interaksi saya dengan naskah itu,” ujar Putu.

Rendra, kata Putu, tak sekedar menerjemahkan. Adaptasi yang dibuatnya menunjukkan kebesarannya sebagai penyair dan dramawan. “Kereta Kencana lebih dari sekedar saduran. Dia adalah karya Rendra dengan inspirasi dari Ionesco,” ujar Putu menambahkan.

Dalam karya asli Ionesco, Les Chaises, lakon itu menghadirkan kenyataan hidup yang tragis. Lelaki dan perempuan tua itu memilih mati dengan melompat keluar jendela. Mereka dilukiskan tenggelam. Entah di laut, atau sungai. Ionesco bahkan mensyaratkan suara lenguhan nafas sakratul maut itu terdengar di atas pentas.[]

Foto: ANTARA/Fanny Octavianus

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments