Thursday 2nd October 2014

Home » Perfoming Arts, Theatre » Sumur Tanpa Aktor

oleh KINARI

Adegan "Sumur Tanpa Dasar" (foto:Catur Wira Natanagara/JB)

PRIA gaek itu bernama Jumena Martawangsa. Duduk di ruang tamu temaram, tempat bertemu orang-orang yang berkepentingan menemuinya. Jumena sakit-sakitan, rudin dan penuh prasangka. Ia adalah juragan, pemilik sawah dan pabrik.Istrinya, Euis,muda dan cantik. Semua itu, “barang yang harus kulindungi,” ujarnya.

Jumena, tokoh utama dalam sandiwara “Sumur Tanpa dasar” karya Arifin C, Noer yang dipanggungkan oleh  Black Rose Theater dan Teater Pictorial, dua kelompok teater terkini Bandung, di Bentara Budaya Bali, 24 Juli lalu,  berangkat dari zaman yang menyimpan trauma dan ketakutan paranoid terhadap Komunisme. Ia pun menyebal dari dogmatisme agama.
Jumena yang terus menerus nyerocos menguarkan kritik pada totalitas kolektif  masyarakat yang dibalut feodalisme.Jumena, yang menatah kehidupannya dari kemiskinan nan pahit, meyakini adanya esensi dasar yang mempertemukan semua manusia, yakni Rasio.Namun toh ia berada ditengah masyarakat yang mengagungkan intuisi, sentimen moralis dan cara berpikir yang penuh teka-teki, yang penuh spekulasi, yang dianggap sebagai penanda kemanusiawian.
“Sumur Tanpa Dasar” (STD) dan keseluruhan  karya Arifin C. Noer merupakan testamen yang mengisahkan secara diam-diam bahwa esensi dari emansipasi dan kritik adalah pembelengguan dan dogmatisme.Kritik adalah paradigma orang Modern. Dalam kritik kita menemukan suatu laku destruksi kreatif: menghancurkan objek kritik sekaligus mengubahnya jadi baru. Dengan demikian, kritik meniscayakan adanya kebaruan. Dan dalam kebaruan itu kita temukan pembebasan. Itulah dimensi progresif dari kritik.
Sandiwara ini merepresentasikan kondisi kedhaifan manusia, seperti yang tertulis dalam sinopsis: “Menjelang kematiannya Jumena Martawangsa mengalami delusi. Istrinya berselingkuh dengan adiknya, karyawan-karyawan merampok hartanya, orang yang ia kenal berkolaborasi ingin membunuhnya, malaikat maut datang setiap saat…”
Namun, sebaiknya kita lemparkan sinopsis itu, untuk mereguk dialog-dialog panjang yang bersayap lakon STD, khususnya yang keluar dari mulut Jumena. Semi Ikra Anggara memerankan Jumena dengan stamina prima. Namun tempo pemanggungan yang terlampau cepat tidak memberi peluang bagi aktor menyelami watak tokoh dan ruang panggung.
Adegan kemunculan malaikat maut, kilas balik tokoh-tokoh dari masa lalu, dan penampakan wujud binatang yang menampilkan situasi yang boleh dibilang realis-magis (saya kurang setuju dengan istilah surealis),suatu hal yang khas dari naskah Arifin C. Noer, belum optimal direspon secara emosional. Ia hanya nyerocos, tanpa memainkan klimak-antiklimaks, sekadar mengejar hafalan. Justru Aini R. Heryuni yang memerankan Nyai, sosok perempuan tua, menguasai irama pemanggungan, antara dialog dan tubuhnya bertaut dan berbunyi. Tapi  pertunjukan sekitar 100 menit yang dibesut sutradara Irwan Jamal itu patut dipuji, sebagai ikhtiar memuliakan naskah sandiwara  yang boleh  dibilang klasik tapi masih relevan dengan Indonesia kekinian. [JB]
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2011 Journal Bali · Subscribe:PostsComments