Friday 24th May 2013

Home » Maestro, Profile » Antoine Payen, Arsitektur dan Lukisan Mooi-Indie

oleh Zen Rs

Gedung Agung

GEDUNG Agung mulai dibangun pada 1824, setahun sebelum Java-Oorlog yang dikobarkan Diponegoro meledak, atas inisiatif Residen Jogjakarta ke-18, Anthonie Hendrick Smisaaert. Gedung ini diharapkan bisa menjadi tempat yang layak dan ideal bagi kantor sekaligus kediaman residen. Letaknya berada persis di hadapan Benteng Vredeburg. Kedua bangunan Londo itu dibangun masih dalam jarak tembak dengan Kraton Jogjakarta.

Cukup jelas, letak keduanya membuat “pengawasan” terhadap Kraton bisa dilakukan dengan lebih leluasa. Disertasi Ricklefs tentang Kesultanan Jogjakarta menyebutkan dengan detail betapa Sultan tak bisa leluasa melakukan apa yang dikehendakinya, termasuk keharusan meminta ijin lebih dulu jika hendak keluar dari Kutaraja.

Pembangunan Vrerdeburg dan Gedung Agung itu direspons oleh pihak Kraton dengan membangun banyak pohon asem di sekitar alun-alun utara.

Saat Gedung Agung mulai dibangun, Payen sudah delapan tahun berada di Hindia Belanda. Ia menginjakkan kaki di tanah Jawa pada 1816 dalam usia 23 tahun [ia lahir pada 1792]. Ia datang ke Jawa bersama juru-gambar Bik bersaudara [Jan & Theodoor Bik].

Alasan mengapa Antoine Payen yang dipilih kerajaan Belanda kala itu untuk berangkat ke Hindia masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan hingga sekarang. Marie-Odette Scalliet, penulis Antoine Payen, Peintre des Indes Orientales. Vie et Ecrits d’un Artiste du XIXe Siècle [1792-1853], buku setebal 900 halaman lebih yang hingga kini menjadi literatur terlengkap tentang Payen, juga tak mampu menjelaskannya. Pada masa itu telah banyak pelukis Belanda yang khusus membuat gambar untuk merekam tanaman, serangga, kerang-kerangan, dan spesimen flora-fauna lainnya. Namun orang Perancis ini menjadi yang terpilih untuk melukis lanskap Hindia.

Sebelum pergi ke Hindia, Payen sudah lebih dulu mempelajari teknik dasar seni lukis di Belgia. Ia sempat belajar di Academy of Drawing, Belgia, yang ketika itu dipimpin oleh Piat Jospeh Sauvage, seorang pelukis yang sebelumnya sempat bekerja di Acadèmie Royal de Paris serta sempat pula bergabung dengan gerakan massa dalam Revolusi Prancis.

Salah satu temuan menarik hasil lacakan Marie-Odette Scalliet, para juru-gambar [draughtsmen] di Hindia sebelum kedatangan Payen tak ada yang secara intens dan intim menggeluti lukisan lanskap. Kebanyakan dari mereka adalah juru-gambar spesimen hewan, tumbuhan, kerangka, juru-gambar peta dan yang paling istimewa adalah pelukis potret.

Payen juga punya minat yang sama di bidang itu. Sejak kecil, ia bahkan sudah memiliki koleksi burung dan serangga. Minatnya terhadap seni-lukis tidak lebih besar dari minatnya terhadap dunia botani dan zoologi. Satu species kupu-kupu bahkan dinamai seperti namanya, Papilio payen atau Dabasa payeni. Beberapa koleksi serangga milik Payen masih bisa dijumpai di Musée d’Histoire Naturelle sementara beberapa koleksi burung miliknya sebagian bisa dilihat di Institut Royal des Sciences Naturelles de Belgique, Brussels.

Ini bukan kasus unik. Para juru-gambar pada masa kolonial sedikit banyak punya kesamaan serupa. Raden Saleh, misalnya menjadi contoh paling populer, ia bahkan punya koleksi binatang yang dikumpulkan di Kebun Binatang yang berada di daerah Cikini. Minat para juru-gambar atau pelukis terhadap kandungan alam Hindia Belanda semestinya punya hubungan yang intim dengan kemunculan konsep mooi-Indie dalam diskursus tentang Hindia Belanda dalam kesadaran orang-orang Eropa kala itu.

Lukisan "Pelabuhan Ternate" karya Antoine Payen

Mooi-Indie Payen

Kedekatan Payen dengan Caspar Georg Carl Reinwardt, seorang ahli botani kelahiran Prussia, membuat minat Payen terhadap alam tetap terjaga. Reinwardt, yang kelak menjadi guru besar di Leiden, adalah orang yang menjadi inisiator Kebun Raya Bogor sekaligus menjadi direktur-nya yang pertama. Robert Nieuwenhuys, dalam catatannya tentang Reinwardt, sempat menyinggung andil Payen dalam penggodokan gagasan Kebun Raya Bogor.

Tulisan Gerard Termorshuizen, “In Search of the Noble Savage” [yang terbit dalam bunga rampai Oriental Prospect], menyebutkan bahwa Payen bergabung dalam sekelompok kecil cendekiawan yang berada di lingkaran terdekat Gubernur Jenderal van der Capellen.

Selain Payen, kelompok kecil ini meliputi Reinwardt, Karl Ludwing van Blume [botanis kelahiran Jerman] dan Johannes Olivier [seorang pengamat yang jeli tentang kehidupan di Hindia Belanda sekaligus penulis prolifik, salah satu karyanya adalah Travels by Land and by Sea in the Netherlands Indies].

Privilege yang diterima Payen membuatnya bisa berkunjung ke Maluku dan Celebes dengan mengikuti rombongan Gubernur Jenderal Capellen. Sewaktu di Maluku itulah ia melukis lanskap pelabuhan Ternate. Lukisan Payen itu terpampang manis sebagai sampul buku Ibu Maluku: The Story of Jeanne van Diejen karya Ron Heynmann.

Pada masa itu, seorang asing amat dibatasi untuk melakukan perjalanan dan tak seorang pun yang diijinkan melakukannya tanpa surat khusus [permit]. Tapi toh Payen melakukannya juga saat ngelayab ke wilayah Priangan. Dia melakukannya dengan penuh kebebasan.

Ketika Gunung Galunggung meletus pada 1922, Payen sepertinya sedang berada di daerah Priangan. Itu terbukti dari sebuah lukisannya yang menggambarkan erupsi Galunggung. Saya pernah melihat repro lukisan letusan Galunggung itu di buku Oriental Prospect, persisnya di esai Gerard Termorshuizen berjudul “In Search of the Noble Savage”. Dia juga melukis letusan Gunung Guntur pada 1818.

Pada 1823, Payen untuk pertama kalinya mengunjungi kawasan timur pulau Jawa, terutama Banyuwangi dan Madura. Tepat pada tahun di mana Diponegoro mulai menggelar perlawanannya yang panjang, Payen mulai mengeksplorasi kawasan pedalaman Jawa, termasuk dengan mengunjungi Borobudur dan Sukuh.

[Pada periode inilah Payen banyak mencatat fragmen-fragmen yang terkait dengan perang yang dikobarkan Diponegoro dalam catatan hariannya. Peter Carey, pada 1988, menerbitkan catatan harian Payen selama bepergian di Jogjakarta dan diterbitkan dalam jurnal Cahiers d'Archipel no. 17 dengan judul Voyage à Djocjakarta en 1825: The Outbreak of the Java War as Seen by a Painter]

Di setiap kawasan yang dikunjunginya, Payen selalu menghasilkan lukisan yang mengabadikan tempat-tempat atau peristiwa yang dianggapnya indah dan menarik. Realismenya terkesan sederhana, tidak berlebihan, juga tak mencolok. Terkadang ia hanya melukiskan lanskap alam, sebagiannya lagi ia imbuhi dengan gerak dan aktivisme manusia.

Tapi, bahkan dalam lukisan-lukisannya yang menggambarkan “sedikit keriuhan” sekali pun, suasananya terasa teduh, misalnya dalam lukisan gerbang pelabuhan Ternate yang dijadikan cover buku Ibu Maluku: The Story of Jeanne van Diejen atau lukisan tentang satu kawasan di Batu Tulis, Bogor. Lukisannya tentang letusan Gunung Galunggung juga lebih menguarkan aura yang sedikit teduh, bukannya gempar nan mengguncangkan.

Suasana teduh, tenang, indah dan jauh dari gejolak inilah yang kelak disebut-sebut sebagai ciri lukisan bergaya “mooi-Indie” a.k.a Hindia-Molek.

Saya belum begitu yakin pada gambaran Marie-Odette Scalliet yang menyebut bahwa sebelum kedatangan Payen tak banyak pelukis atau juru-gambar yang punya intensitas dan intimasi pada lukisan lanskap. Pernah saya baca tulisan Controversy and Change: 19th and Early 20th Century Landscape Paintings in Indonesia and Malaysia, tapi lupa saya apakah di situ Payen disebut juga salah satu pelukis pertama yang menggeluti dengan intens genre lukisan lanskap.

Pada 1988 di Jakarta, pernah berlangsung pameran lukisan yang memamerkan 49 lukisan bercorak mooi-Indie. Satu-satunya lukisan Payen yang ikut dipamerkan ternyata menjadi lukisan tertua. Dari catatan Agus Dermawan, saya tahu, lukisan Payen itu berjudul “Pohon Tua” berukuran 33 X 23 cm. Kemungkinan besar, lukisan dimaksud adalah lukisan yang menggambarkan kawasan Batu Tulis, Bogor.

[Sayang saya belum membaca buku susunan Annabel Gallop, Early views of Indonesia; Drawings from the British Library, yang edisi Indonesia-nya diterbitkan oleh Yayasan Lontar. Buku itu mungkin bisa memberi gambaran lebih tajam mengenai pokok masalah ini. Saya menduga, buku itu akan menyebut-nyebut Thomas Hirsfield, seorang Amerika, yang datang ke Jawa pada 1800. Hirsfield punya minat yang besar pada soal botani dan pernah pergi ke Ciampea dengan Payen untuk mendapatkan sampel buah ara yang akan digambarnya].

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments