Friday 21st November 2014

Home » Maestro, Profile » Dewa Nyoman Batuan

Nyoman Dewa Batuan (foto: Ist)

AWALNYA, perupa Dewa Nyoman Batuan dikenal dengan ikon Mandala yang menjadi ciri khas dalam setiap karyanya. Dengan ikon Mandala itu, ia kemudian mengusung tema tradisi dan alam Pulau Dewata yang eksotik dalam karya-karyanya.

Nyoman belajar pada 1955 ke seniman Ketut Klobot. Tapi pada 1960 ia memilih jadi guru sekolah dasar. Lalu, pada 1964 baru mulai melukis lagi. Sejak awal sudah berusaha mengkhususkan diri melukis Mandala, karena itu tema yang akrab di lingkungannya sebagai orang Bali.

Tapi menginjak 1970-an, perupa kelahiran Ubud, Bali, pada 1937 itu mulai merambah tema-tema kontemporer dalam lukisan-lukisannya. Ia juga tertarik dengan tema-tema politik, sehingga lukisann-lukisannya yang dibikin belakangan banyak yang menyuguhkan tema tersebut, seperti kejatuhan Orde Baru pada 1998.

Nyoman menyukai politik. Tapi baru pada saat Soeharto jatuh ada dorongan yang kuat untuk membuat lukisan seperti itu. Mungkin karena merasa mendapat kebebasan. Lukisan  yang berjudul “Jatuhnya Orba” menggambarkan bayi yang baru lahir meskipun dibelakangnya ada raksasa yang berusaha menelannya.

Pameran tunggal Nyoman Batuan di Bentara Budaya Bali, sepanjang 19 – 28 Maret 2010 boleh dbilang sebagai penanda jejak langkah perjalanan kesenimanannya. Nyoman Batuan menampilkan sekitar 60 lukisannya dalam pelbagai tema, termasuk tema-tema politik.

Mulai akhir tahun ini Nyoman sudah bertekad berhenti melukis di atas kanvas. Soalnya sudah gampang lelah dan sakit. Sekarang ia melukis lukisan kecil di atas kertas tetap dengan tema Mandala. Lebih untuk meditasi bagi diri saya sendiri.[]

*)DIsarikan dari Tempointeraktif, 22 maret 2010

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments