Sunday 19th May 2013

Home » Persona, Profile » Kolektor Atmadjaya dan perjalanan seni lukis Ida Bagus Made Nadera

oleh HELMI HASKA

Atmadjaya (foto:dok.heha/JB)

RUMAH bercat putih di jalan Antasura 24, Denpasar,  itu sederhana. Disampingnya ada usaha salon kecantikan yang menyatu dengan rumah induk. Begitu memasuki rumah, di dinding ruang depan hingga ke belakang memajang lukisan tradisional Bali. Beberapa lukisan berukuran besar  yang disandarkan di dinding siap dibingkai. Sebagian besar lukisan  adalah karya Ida Bagus Made Nadera.

Empunya rumah seorang kolektor seni rupa, Atmadjaya, duduk di kursi sice dengan tenang, diantara para tetamu yang mengelilinginya. Ia seorang  yang pendiam. Dari bingkai kacamatanya ia memandang dalam kepada setiap orang yang berbicara.

“Orangnya pendiam. Dia tidak mau menonjolkan diri,” kesan pelukis Tedja Suminar tentang Atmadjaya suatu hari.

Kamis (31/5) siang yang lalu beberapa sahabat menyambangi Atmadjaya. Ada pelukis Tedja Suminar, Ari Cadia, videomaker Agung Eksa Wijaya yang ingin mengetahui persiapan gelaran pameran tunggal karya lukisan Ida Bagus Made Nadera yang akan berlangsung di Museum ARMA (Agung Rai Museum of Art), Ubud,  dari 9 Juni hingga 23 Juni yang akan datang.

Atmadjaya akan menggelar sekitar 80 lukisan dari 500 koleksi lukisan Nadera yang telah dikoleksinya selama 30 tahun. Peristiwa ini merupakan gelaran pameran tunggal pertama dalam sejarah seni lukis karya angkatan pertama generasi pelukis dari perkumpulan pelukis Pita Maha.

Semua persiapan pameran dikerjakan oleh Atmadjaya yang dibantu oleh keponakan dan para sahabatnya. Selain mempersembahkan koleksi lukisan Nadera, sebuah buku bertitel “Ida Bagus Made Nadera Balinese Painter of Pita Maha” yang ditulis pengamat seni rupa yang mumpuni, Agus Dermawan T, akan diluncurkan pada pembukaan pameran.

Langkah Atmadjaya bekerjasama dengan Museum ARMA  tepat. Ia ingin agar  apresiasi karya seni melalui sebuah lembaga museum, agar masyarakat mengetahui dengan seksama perkembangan seni rupa Bali dari zaman ke zaman. Disamping itu, Atmadjaya juga menerbitkan buku yang berisi 157 reproduksi karya Nadera sebagai “museum” yang dapat dibaca di mana pun. Ia  sangat sadar melalui lembaga museum proses apresiasi masyarakat atas seni lukis tradisi Bali dapat berjalan dengan optimal, disamping penerbitan buku yang membahas seorang pelukis Pita Maha secara khusus.

Atmadjaya dan buku "Ida Bagus Made Nadera Balinese Painter of Pitamaha" .

“Saya memilih Agus Dermawan T sebagai penulis karena buku Bali Bravo yang disusunnya telah membuka mata masyarakat luas untuk memperhatikan seni lukis tradisi  Bali,” kata Atmadja yang mengenal seni sejak usia dini dari kakaknya, Raka Sumichan, seorang kolektor seni rupa, khususnya  lukisan karya maestro Affandi.

Buku Bali Bravo yang disusun Agus Dermawan T berisi lebih dari 300 biografi pelukis tradisional Bali sejak tahun 1800. Buku ini yang mengompori sejumlah kolektor memburu karya-karya tradisi Bali. Kolektor mulai menaruh perhatian yang kian besar pada seni tradisi Bali yang mengalami marjinalisasi ini. Perkembangan telah terjadi bisa dilihat dari munculnya aneka balai lelang di Jakarta dan Singapur yang mengunggulkan seni rupa tradisi Bali.

Berangkat dari fenomena tersebut Atmadjaya berinisiatif menggelar pameran tunggal karya-karya Nadera sekaligus menerbitkan buku yang menelaah setiap periode dalam perjalanan seni lukis Nadera, agar masyarakat mengetahui secara utuh dan menyeluruh perkembangan seni lukis tradisi Bali.

Seni lukis tradisi Bali memang khas dan spesifik. Dalam karya Nadera kita mencerap aroma dekoratif bernuansa agama Hindu. Banyak lukisan yang terinspirasi dari karya sastra klasik Ramayana yang dinukilkan dari kisah pewayangan Adi Parwa. Selain itu Nadera menggambarkan suasana kehidupan di desa-desa, pertunjukan wayang, permainan anak-anak, pergaulan orang desa yang digambarkan secara jenaka atau figur-figur mitologis.

Lukisan karya Ida Bagus Made Nadera.

“Awal ketertarikan saya mengoleksi karya Nadera karena saya dapat merasakan suasana alam dan kehidupan masyarakat Bali yang  ditampilkan dengan penuh impresi pada karya-karyanya.Nadera sanggup menggambarkan kehidupan malam hari, dengan cahaya yang menakjubkan. Lukisannya begitu hidup. Beliau bisa dengan rinci menggambarkan suasana pertunjukan wayang, ada yang menonton, ada yang pacaran, ada anak kecil dalam gendongan. Di sawah ada yang mencari belut,” kata Atmadjaya sambil menunjuk figur-figur dalam sebuah lukisan Nadera yang disandarkan di dinding.

Selain itu, Nadera seorang ahli sastra. Hal ini yang menjadi daya tarik utama Atmadjaya untuk menjalin persahabatan dengan pelukis yang tinggal di Desa Semebaung, Gianyar itu. Atmadjaya tidak secara langsung mengenal Nadera pada awal tahun 1980-an.

“Ketika itu saya datang mengantar teman saya, seorang wanita dari Switzerland, yang sudah sejak dulu mengagumi karya Nadera dan menajadi kolektor setia dari pelukis yang juga ahli sastra itu,” kata Atmadjaya.

Sebagai pelukis yang sohor Nadera menjalani kehidupan yang sederhana. Menurut Atmadjaya, di studionya hanya ada sebuah meja tulis, beberapa macam alat untuk melukis, serta beberapa lukisan yang digantung di dinding. Ketika masih sehat Nadera bekerja dengan teratur layaknya jam kerja kantoran. Ia berangkat berjalan kaki ke studio yang berjarak  satu kilo dari rumahnya, selalu tampil mengenakan pakaian putih. Di dadanya disematkan  bintang Dharma Kusuma, penghargaan yang berupa medali emas seberat 20 gram, 22 karat, dari Pemerintah Daerah Bali atas jasanya pada kesenian Bali. Nadera melukis dari pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore setiap hari, hanya mengenakan kaos singlet putih. Dalam menjalani keseharian yang teratur itu Nadera memetik ilham yang senantiasa baru.

“Nadera selalu melukis sesuatu yang baru. Beliau ahli sastra. Tema sastra klasik selalu hadir dalam lukisan-lukisannya. Saya senang bila bertemu beliau selalu ada kisah sastra yang diceritakan,” kenang Atmadjaya.

Atmadjaya menelusuri sisi kehidupan keseharian Nadera. Sebagai kolektor ia tidak pernah memaksakan sebuah tema tertentu kepada pelukis. Pelukis membutuhkan suasana batin yang tepat ketika mengerjakan sebuah lukisan. Dengan sabar Atmadjaya mendukung setiap kemajuan dari pelukis.

“Saya datang hanya ingin melihat perkembangan dari lukisan-lukisan itu,” tukas Atmadjaya. Bahkan ia dengan sabar menunggu proses penyesaian sebuah lukisan walau membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Hubungan yang baik antara pelukis dan kolektor selama bertahun-tahun membentuk rasa saling pengertian dan percaya. Tak ayal Atmadjaya dapat mengoleksi sekitar 500 lukisan karya Nadera. Disamping itu ia mengoleksi karya IB Nyoman Rai (Sanur), I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti Made Deblog, Mangku Mura, I Wayan Dirga, I Wayan Kaler, I Wayan Suandi dan karya Tedja Suminar, lukisan potret 40 maestro seni rupa Bali.

Dari sekian banyak koleksinya, yang mendapatkan tempat secara khusus di hatinya adalah karya-karya Nadera. Dengan setia ia mengamati pertumbuhan kreatif Nadera, mendengarkan segala kegelisahannya, dan merawatnya ketika jatuh sakit, laiknya antarsahabat. Sepanjang hidup Nadera ia selalu menyesalkan penerbitan “Buku Lukisan  Dan Patung Koleksi  Bung  Karno” yang mencantumkan lukisannya dengan teledor memasang keterangan bahwa lukisan itu karya Ida Bagus Made,  yang berlanjut dengan tanggapan masyarakat yang mengidentikan namanya dengan Ida Bagus Made Poleng.

Nadera menilai bahwa Ida Bagus Made bukanlah nama yang sebenarnya karena ada 13 nama pelukis Bali yang sama dengan Ida Bagus Made (IBM) : 1. IBM Poleng (1913-1987), 2. IBM Togog (1913-1989), 3. IBM Widja (1912-1992), 4. IBM Tibah (1916-1968), 5. IBM Tantra (1913-1987), 6. IBM Djatasura (1913-1946), 7. IBM Mergeg (1949- ), 8. IBM Lanus, 9. IBM Bala (1920-1942), 10. IBM Raka (1918-1976), 11. IBM Dupa (1938- ), 12. IBM Mawar (1961- ), 13. IBM Putra (1952- ).

Sebagai bentuk protes Ida Bagus Made Nadera membuat duplikasi lukisan dengan ‘memutihkan’ namanya, sekaligus mengoreksi judul lukisan, yang benar “Sunda Upasanda” bukan “Tarian Bali” seperti tertera dalam buku koleksi Bung Karno.

Hal kedua yang membuat Nadera kecewa adalah hilangnya lencana Dharma Kusuma. Suatu hari ketika melukis di studio, seperti biasanya Nadera melukis hanya mengenakan kaos singlet, menggantungkan pakaian putihnya. Ketika selesai bekerja, Nadera terperanjat ketika mengetahui lencana bintang  Wijayakusuma telah hilang.

“Hilangnya bintang itu menjadi pikiran karena bintang itu kebanggaannya. Beliau merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya,” kata Atmadjaya. Sejak itu kesehatannya merosot, hingga Ida Bagus Nadera, pelukis kelahiran  tahun 1915 di Tegalinggah, Desa Bedahulu, Blahbatuh, Gianyar itu menjalani perawatan intensif karena sakit jantung dan akhirnya wafat  pada 1998. []
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments