
Atmadjaya (foto:dok.heha/JB)
RUMAH bercat putih di jalan Antasura 24, Denpasar, itu sederhana. Disampingnya ada usaha salon kecantikan yang menyatu dengan rumah induk. Begitu memasuki rumah, di dinding ruang depan hingga ke belakang memajang lukisan tradisional Bali. Beberapa lukisan berukuran besar yang disandarkan di dinding siap dibingkai. Sebagian besar lukisan adalah karya Ida Bagus Made Nadera.
“Orangnya pendiam. Dia tidak mau menonjolkan diri,” kesan pelukis Tedja Suminar tentang Atmadjaya suatu hari.
Kamis (31/5) siang yang lalu beberapa sahabat menyambangi Atmadjaya. Ada pelukis Tedja Suminar, Ari Cadia, videomaker Agung Eksa Wijaya yang ingin mengetahui persiapan gelaran pameran tunggal karya lukisan Ida Bagus Made Nadera yang akan berlangsung di Museum ARMA (Agung Rai Museum of Art), Ubud, dari 9 Juni hingga 23 Juni yang akan datang.
Semua persiapan pameran dikerjakan oleh Atmadjaya yang dibantu oleh keponakan dan para sahabatnya. Selain mempersembahkan koleksi lukisan Nadera, sebuah buku bertitel “Ida Bagus Made Nadera Balinese Painter of Pita Maha” yang ditulis pengamat seni rupa yang mumpuni, Agus Dermawan T, akan diluncurkan pada pembukaan pameran.
Langkah Atmadjaya bekerjasama dengan Museum ARMA tepat. Ia ingin agar apresiasi karya seni melalui sebuah lembaga museum, agar masyarakat mengetahui dengan seksama perkembangan seni rupa Bali dari zaman ke zaman. Disamping itu, Atmadjaya juga menerbitkan buku yang berisi 157 reproduksi karya Nadera sebagai “museum” yang dapat dibaca di mana pun. Ia sangat sadar melalui lembaga museum proses apresiasi masyarakat atas seni lukis tradisi Bali dapat berjalan dengan optimal, disamping penerbitan buku yang membahas seorang pelukis Pita Maha secara khusus.

Atmadjaya dan buku "Ida Bagus Made Nadera Balinese Painter of Pitamaha" .
“Saya memilih Agus Dermawan T sebagai penulis karena buku Bali Bravo yang disusunnya telah membuka mata masyarakat luas untuk memperhatikan seni lukis tradisi Bali,” kata Atmadja yang mengenal seni sejak usia dini dari kakaknya, Raka Sumichan, seorang kolektor seni rupa, khususnya lukisan karya maestro Affandi.
Berangkat dari fenomena tersebut Atmadjaya berinisiatif menggelar pameran tunggal karya-karya Nadera sekaligus menerbitkan buku yang menelaah setiap periode dalam perjalanan seni lukis Nadera, agar masyarakat mengetahui secara utuh dan menyeluruh perkembangan seni lukis tradisi Bali.

Lukisan karya Ida Bagus Made Nadera.
“Awal ketertarikan saya mengoleksi karya Nadera karena saya dapat merasakan suasana alam dan kehidupan masyarakat Bali yang ditampilkan dengan penuh impresi pada karya-karyanya.Nadera sanggup menggambarkan kehidupan malam hari, dengan cahaya yang menakjubkan. Lukisannya begitu hidup. Beliau bisa dengan rinci menggambarkan suasana pertunjukan wayang, ada yang menonton, ada yang pacaran, ada anak kecil dalam gendongan. Di sawah ada yang mencari belut,” kata Atmadjaya sambil menunjuk figur-figur dalam sebuah lukisan Nadera yang disandarkan di dinding.
“Ketika itu saya datang mengantar teman saya, seorang wanita dari Switzerland, yang sudah sejak dulu mengagumi karya Nadera dan menajadi kolektor setia dari pelukis yang juga ahli sastra itu,” kata Atmadjaya.
“Nadera selalu melukis sesuatu yang baru. Beliau ahli sastra. Tema sastra klasik selalu hadir dalam lukisan-lukisannya. Saya senang bila bertemu beliau selalu ada kisah sastra yang diceritakan,” kenang Atmadjaya.
“Saya datang hanya ingin melihat perkembangan dari lukisan-lukisan itu,” tukas Atmadjaya. Bahkan ia dengan sabar menunggu proses penyesaian sebuah lukisan walau membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Dari sekian banyak koleksinya, yang mendapatkan tempat secara khusus di hatinya adalah karya-karya Nadera. Dengan setia ia mengamati pertumbuhan kreatif Nadera, mendengarkan segala kegelisahannya, dan merawatnya ketika jatuh sakit, laiknya antarsahabat. Sepanjang hidup Nadera ia selalu menyesalkan penerbitan “Buku Lukisan Dan Patung Koleksi Bung Karno” yang mencantumkan lukisannya dengan teledor memasang keterangan bahwa lukisan itu karya Ida Bagus Made, yang berlanjut dengan tanggapan masyarakat yang mengidentikan namanya dengan Ida Bagus Made Poleng.
Nadera menilai bahwa Ida Bagus Made bukanlah nama yang sebenarnya karena ada 13 nama pelukis Bali yang sama dengan Ida Bagus Made (IBM) : 1. IBM Poleng (1913-1987), 2. IBM Togog (1913-1989), 3. IBM Widja (1912-1992), 4. IBM Tibah (1916-1968), 5. IBM Tantra (1913-1987), 6. IBM Djatasura (1913-1946), 7. IBM Mergeg (1949- ), 8. IBM Lanus, 9. IBM Bala (1920-1942), 10. IBM Raka (1918-1976), 11. IBM Dupa (1938- ), 12. IBM Mawar (1961- ), 13. IBM Putra (1952- ).
Hal kedua yang membuat Nadera kecewa adalah hilangnya lencana Dharma Kusuma. Suatu hari ketika melukis di studio, seperti biasanya Nadera melukis hanya mengenakan kaos singlet, menggantungkan pakaian putihnya. Ketika selesai bekerja, Nadera terperanjat ketika mengetahui lencana bintang Wijayakusuma telah hilang.
















