Wednesday 23rd July 2014

Home » Maestro, Profile » Legenda Puisi dari Sumba

oleh Wayan Sunarta

cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan

karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan

(Melodia, Umbu Landu Paranggi)

Umbu Landu Paranggi

UMBU LANDU PARANGGI telah mengabdikan lebih dari separuh hidupnya untuk puisi. Sejak masa-masa dia dinobatkan sebagai “Presiden Malioboro” pada tahun 1969-an, hingga menjadi pengembara di pelosok-pelosok Bali, demi memberikan sentuhan puisi kepada para remaja yang sedang mencari jati diri.

Umbu pun menjadi legenda di bumi kepenyairan Indonesia. Banyak yang telah mendengar sepak terjangnya, membicarakan dan mengulas sosoknya di berbagai media massa. Banyak yang memuji dan memuja serta merindukan kehadirannya. Banyak yang ingin mengundangnya secara khusus dalam kegiatan sastra. Namun, sangat banyak yang terpaksa gigit jari, karena tak pernah bisa bertemu atau menyaksikan kehadirannya secara langsung, apalagi bercengkrama dengannya. Keberadaan Umbu seperti mitos, antara ada dan tiada, antara fakta dan fiksi.

Namun, sesungguhnya Umbu hanyalah manusia biasa, yang tak lepas dari kelemahan dan kekurangannya. Umbu pun sering merasa kesepian di tengah-tengah “mitos besar” yang dibangun untuk dirinya. Tak jarang tengah malam dia menelepon orang-orang tertentu, hanya untuk ngobrol gosip-gosip terkini. Di lain waktu, teman-temannya yang paham kesepiannya, sesekali “menculik”nya dari tempat kerjanya, mengajaknya minum bir sembari ngobrol ngalor-ngidul hingga larut malam.

Pengabdian Umbu yang tanpa pamrih pada dunia puisi yang membuat banyak orang salut dan terharu. Baginya, puisi adalah kehidupan. Dan, kehidupan adalah puisi. Keyakinannya pada puisi seperti angin sabana, mengalir terus tanpa ada yang mampu menahannya. Semua itu dilakukannya hanya untuk menyemai benih-benih puisi di kalangan remaja, dan mereka tidak harus menjadi penyair.

Umbu sama sekali tak berniat mencetak barisan penyair. Sebab, menurutnya, seseorang menjadi penyair adalah pilihan hidup atau panggilan jiwa, bukan hasil cetakan. Yang paling membahagiakannya adalah ketika puisi mampu merasuki jiwa remaja dan bisa menjadi pelengkap hidup mereka. Sehingga nantinya lahir sarjana-sarjana yang berwawasan puisi, dokter yang paham puisi, tentara atau polisi yang pernah menggauli puisi, atau birokrat yang memberi perhatian pada puisi, dan sebagainya.

Umbu merasa kerja kerasnya di dunia sastra selama ini belumlah apa-apa. Mungkin itu sebabnya dia tak pernah mau menerima berbagai award yang diberikan kepadanya. Dia juga tak mau memenuhi undangan kegiatan sastra yang di dalamnya berisi pamer ketokohan. Dia sengaja menghindar dari kemeriahan tepuk tangan. Bahkan, dia pun tak bersedia datang ke acara peringatan 30 tahun kehadirannya di Bali, yang digelar berkaitan dengan Pesta Kesenian Bali 2009. Namun, dengan senang hati dia akan hadir jika yang mengundangnya anak-anak sekolah yang sedang menggelar kegiatan apresiasi sastra.

Lelaki yang bernama lengkap Umbu Wulang Landu Paranggi ini adalah cucu salah seorang raja Sumba. Dia dilahirkan di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Meski lahir di Sumba, Umbu selalu menganggap Yogyakarta adalah tempat kelahiran keduanya. “Yogya pernah membuat saya jatuh hati, rata dengan tanah,” ujarnya.

Lulus SMP, Umbu merantau ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah di Taman Siswa, karena terkesan dengan model pengajaran Ki Hajar Dewantara. Tapi sayangnya, dia terlambat mendaftar. Akhirnya, dia sekolah di SMA Bopkri 1 Yogyakarta. Pada masa-masa SMA itulah “racun” puisi menjalari jiwanya, dan seringkali menelantarkan pelajaran lainnya. Saat itu pula dia menemukan seorang guru yang memengaruhi jalan hidupnya, Ibu Lasiah Sutanto, guru Bahasa Inggris, yang kemudian menjadi Menteri Peranan Wanita Pertama Republik Indonesia.

Setiap kali ada pelajaran Bahasa Inggris, Umbu diam-diam menulis puisi. Umbu pun sering ditegur karena dianggap mengganggu proses belajar mengajar. Karena jengkel dengan ulah Umbu, kawan-kawannya mendesak Ibu Lasiah agar menghukumnya dengan cara membaca puisi di depan kelas. Ibu guru yang bijak itu tidak menghukum Umbu, melainkan menyarankan Umbu agar mengirimkan puisi-puisinya ke koran. Dan jika dimuat, teman-teman kelasnya wajib mengritik puisi-puisinya. Ibu Lasiah kemudian menahan puisi-puisi Umbu di laci mejanya, namun diam-diam membacanya, mungkin penasaran dengan apa yang ditulis Umbu. Sejak itu, Umbu makin rajin menulis puisi dan mengirimkannya ke koran.

“Saat itu saya berpikir Ibu Lasiah menyukai puisi-puisi saya. Itu yang membuat saya tambah semangat menulis puisi. Semestinya saya pantas dihukum karena sudah beberapa kali melanggar aturan kelas,” kenangnya.

Setamat SMA, ibunya menyarankan Umbu melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan. Tapi dia menolak dengan alasan lemah dalam pelajaran Ilmu Alam. Dia kemudian mengambil jurusan Ilmu Sosiatri di Fisipol UGM dan Sosiologi di Universitas Janabadra, namun tak satu pun yang diselesaikannya.

Sekitar Maret 1969, Umbu terlibat membidani dan mengasuh Persada Studi Klub (PSK) dan menggawangi rubrik sastra di mingguan “Pelopor” Yogya yang bermarkas di Jalan Malioboro. Komunitas PSK itu melahirkan banyak nama besar yang turut memengaruhi perkembangan Sastra Indonesia. Karena kebiasaannya nongkrong di kawasan Jalan Malioboro, Umbu dijuluki “Presiden Malioboro”.

Sejak tahun 1979 hingga kini, Umbu menetap di Bali dan menjadi penjaga gawang rubrik sastra di Bali Post. Kebiasaannya memprovokasi kalangan remaja untuk berpuisi semakin berkembang pesat di Bali. Dia selalu punya cara-cara unik dan seringkali tak terduga untuk menggairahkan dan membangkitkan kegiatan apresiasi sastra. Misalnya, menjadwalkan pertemuan rutin, mengunjungi pelosok-pelosok Bali untuk apresiasi puisi, atau dengan pendekatan personal yang membuat para remaja “mabuk” puisi. Dia biasa mengunjungi calon-calon penyair yang dianggapnya berbakat untuk sekedar ngobrol atau membawakan hadiah berupa buku-buku puisi. Dia juga sangat memerhatikan proses kreatif masing-masing penyair yang diasuhnya, bahkan mengikuti perjalanan hidup penyair bersangkutan.

Di Bali, pada era 1980-an dan 1990-an, bermunculan ratusan remaja yang gemar menulis puisi. Dari yang sekedar ikut-ikutan hingga yang sungguh-sungguh ingin jadi penyair. Umbu suka menggunakan istilah-istilah unik untuk menggairahkan rubrik puisi yang digawanginya, seperti “Pawai”, “Kompetisi”, “Kompetisi Promosi”, “Posbud”, “Solo Run”. Istilah-istilah itu merupakan kelas-kelas pencapaian para penyair menurut penilaian Umbu. Pada tahun 2000-an, Umbu mengubah konsep rubriknya menjadi “Posis atau Pos Siswa” untuk puisi-puisi dari siswa SMP/SMA, “Posmas atau Pos Mahasiswa” untuk esai pendek atau puisi dari mahasiswa. Selain itu, Umbu juga sering memuat esai-esai pendek dari para guru yang suka menulis. Semua itu dilakukannya untuk menggairahkan kesusastraan dan minat menulis di kalangan remaja dan guru.

Sebagai penyair, karya-karya Umbu tidak terlalu banyak dan tidak begitu dikenal luas. Dia sangat jarang mempublikasikan puisi-puisinya, hanya untuk dirinya sendiri. Puisi-puisi terbarunya sering disembunyikannya, entah dimana. Namun, beberapa puisinya pernah muncul dalam sejumlah antologi bersama, seperti “Tonggak 3”, “Bonsai’s Morning”, “Teh Ginseng.” Beberapa puisinya juga bisa didengar lewat album musikalisasi puisi bertajuk “Kuda Putih” yang digarap oleh Penyair Tan Lioe Ie.

Umbu tidak hanya peduli puisi, dia juga mengikuti perkembangan seni lainnya, semisal seni rupa, teater, musik, bahkan kesenian tradisional Bali. Dia mengagumi penari legong legendaris, Ni Reneng (kawan dekat Ni Pollok) dan penari Gambuh, I Gde Geruh. Bagi Umbu, kesenian tradisi adalah mata air yang mesti terus dijaga dan dihargai.

Membicarakan sosok Umbu tidak akan pernah habis. Hampir setiap seniman yang pernah bersentuhan dengan Umbu, mempunyai kenangan dan cerita tersendiri tentang Umbu. Kalau cerita-cerita itu dikumpulkan tentu akan menjadi sebuah buku yang sangat tebal.[]

Foto koleksi Wayan Sunarta

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments