Thursday 23rd May 2013

Home » Persona, Profile » Seks, Anti Aging Medicine dan Puisi

oleh PUTU HEHA

Wimpie Pangkahila beraksi membacakan puisi-puisinya. (foto:Phalayasa Sukmakarsa)

BEGITU banyak orang yang gelisah datang kepadanya untuk berkonsultasi. Begitu banyak pula seminar yang mendapuknya sebagai pembicara. Namun dia  tetap saja pribadi yang gelisah selama berpuluh tahun, walau karirnya sebagai akademisi, ilmuwan dan pengasuh rubrik konsultasi seks di media massa kian moncer. Ia gelisah walau telah menulis buku-buku best-seller seperti  ”Kita dan seks: tanya jawab tentang masalah seksual”, “Kelopak kehidupan: sekitar masalah seksualitas dalam keluarga”, “Sex yang Indah”, “Seksualitas Anak dan Remaja”, “Anti Aging Medicine: Memperlambat Penuaan Meningkatkan Kualitas Hidup”. Ia gelisah ketika novel yang sedang ditulis belum juga rampung selama  puluhan tahun. Ditengah kesibukan menulis makalah atau dalam perjalanan tugas sebagai pembicara, ia merenung dan menulis puisi. Puisi senantiasa memanggilnya dari lubuk nuraninya yang paling dalam.

Siapa dia? Anda mungkin telah bisa menebak sosok ini: Wimpie Pangkahila. Tapi banyak yang belum tahu bahwa dunia kesenian, khususnya sastra yang sejak awal mengobarkan kreativitasnya, sehingga ia sukses di berbagai ranah. Di tengah kesibukannya yang berjibun, Prof.Dr.dr. Wimpie Pangkahila masih menyempatkan berbagi pengalaman dan kegelisahannya kepada para seniman di Dapur Olah Kreatif, Warung Tresni, Renon, Denpasar, Sabtu malam (26/5) kemarin. Dibalut busana hitam Wimpie nampak segar pada usia 72 tahun. “Telah lama saya merindukan suasana seperti ini, berkumpul lagi membacakan puisi,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Doktor, dokter Pusat Studi Anti-Aging Medicine Bagian Andrologi dan Seksologi Program Pascasarjana Kekhususan Anti-Aging Medicine.

“Saya sering merasa kehilangan. Karena kesibukan saya saat ini,” kata Wimpie.

Sejak  tahun 1970, saat dia menjadi juara pertama baca prosa yang diselenggarakan Himpunan Pengarang Indonesia Bali yang diketuai almarhum Guru Besar Bahasa Universitas Udayana, Made Sukada. Sejak saat itu dia terlibat dalam dunia sastra. Walaupun duduk di bangku mahasiswa kedokteran, Wimpie dikenal cukup produktif dalam mempublikasikan puisi, cerita pendek bahkan menulis sandiwara radio. Karya-karya sastra yang ditulisnya cemerlang pada masanya sehingga ia pun diterima  dalam lingkaran pergaulan sastrawan di Bali.

Made Sukade, yang juga dikenal sebagai kritikus sastra pun tertarik untuk menerbitkan puisi-puisinya dalam sebuah antologi puisi tunggal. “Pada Daun-daun Berguguran”, demikian judul kumpulan puisi yang telah diketik rapi diserahkan kepada sang kritikus. Setelah lama menunggu penerbitan buku itu, Wimpie mendapat kabar bahwa  manuskrip kumpulan puisinya hilang. Tapi ia tidak patah semangat. Ia terus menulis puisi, cerpen, bahkan novel. Selain itu,  ia  memasuki dunia jurnalistik. Pers semasa itu menjadi saluran aspirasi masyarakat sekaligus  sebagai media kontrol pemerintah Orde Baru yang mulai otoriter. Wimpie menjadi wartawan di pelbagai media sejumlah seperti majalah berita mingguan Ekspress, Suara Mahasiswa, Bali Courier, dan lain-lain. Bali Courier, sebuah majalah pariwisata budaya dua bahasa, Wimpie menjadi salah seorang redaktur bersama sastrawan Gerson Poyk, Nyoman Rasta Sindu dan Aco Manafe. “Saya menjadi saksi ketika Rasta Sindhu meninggal,” kata Wimpie dengan suara bergetar.

Sastrawan yang sohor dengan cerita pendek “Ketika Kentongan Dipukul di Bale Banjar” kesehatannya mulai merosot dan sedang dilandai badai persoalan rumah tangga,  istrinya pergi meninggalkan sang sastrawan dalam keadaan sakit keras. Rasta Sindhu yang kerap  batuk darah akhirnya wafat dalam keadaan memprihatinkan, karena tidak ada satu pun keluarga yang mau mengurus jenasahnya. Wimpie lalu membantu mengurus jenazah dengan menyuntikan cairan formalin agar tetap awet sebelum dilangsungkan upacara pengabenan (dikremasi).

Wimpie menulis suasana duka atas wafatnya sang sastrawan dalam kondisi mengenaskan. Tulisan itu dimuat harian Kompas, dan menjadi topik perbimcangan masyarakat, khususnya para seniman. Tiba-tiba banyak orang yang datang bersimpati atas berpulangnya Nyoman Rasta Sindhu. “Tapi sebaliknya istri Rasta Sindhu marah besar dan memaki-maki saya karena menulis tentang  itu,” kata Wimpie mengenang peristiwa pada tahun 1980-an itu.

Tulisan-tulisan Wimpie Pangkahila di media nasional sering menjadi trending topic. Tugas sebagai wartawan yang membutuhkan mengejar fakta di lapangan dan harus melakukan verifikasi data menjadi bekal Wimpie sebagai ilmuwan dalam melakukan penelitian. Salah satu penelitian Wimpie yang menjadi trending topic di media nasional adalah penelitiannya yang mengangkat tema “Perilaku Seks Remaja di Bali”. Hasil penelitian itu menimbulkan kehebohan dan polemik. Media seperti Kompas dan Tempo mengangkat berita tentang penelitian Wimpie selama berminggu-minggu pada 1981. Waktu itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daud Joesoef memberi teguran keras kepada rektor Universitas Udayana atas penelitian itu. Wimpie mendapat tekanan dari berbagai pihak. Dia kecewa berat. “Banyak pejabat dan instansi yang menyerang saya, termasuk Kanwil P dan K yang memberi ijin penelitian,” kata Wimpie.

Pada saat timbul tekanan dan serangan yang datang bertubi-tubi, Wimpie mendapatkan beasiswa sekolah di Amerika dari WHO (World Health Organization), lembaga kesehatan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa). Merasakan sumpek di tanah air, Wimpie memutuskan menerima beasiswa. Ketika persiapan hendak berangkat ke Negeri Abang Sam, Wimpie mendapatkan kabar baik bahwa film Dalam Lingkaran Cinta yang diangkat dari novel Lingkaran Cinta karya Wimpie Pangkahila  telah selesai difilmkan dan segera tayang di bioskop. Sebelum berangkat ke Amerika, Wimpie menyempatkan menonton  ”Dalam Lingkaran Cinta” yang dibintangi aktor dan aktris yang gemilang pada masanya seperti Lydia Kandau, Rano Karno, Alex Kembar dan sebagainya.

Novel Lingkaran Cinta ia tulis ketika bertugas sebagai dokter di Timor-Timur. Selama di daerah yang pernah menjadi provinsi ke-27 Indonesia itu Wimpie banyak merenung dan memanfaatkan waktu senggang selesai bertugas dengan menulis novel dan puisi. Begitu pejabat militer Indonesia yang memfasilitasi selama bertugas di sana mengetahui Wimpie sebagai penulis, ia pun ditunjuk sebagai guru pengajar bahasa Indonesia bagi gubernur Timor-Timur pertama, Arnaldo dos Reis Araújo.

Selama mengajar bahasa Indonesia, Wimpie banyak mendengar cerita dari sang gubernur tentang pernindasan yang dilakukan militer Indonesia kepada penduduk sipil. Para perwira militer seringkali terlihat mengadakan pesta di rumah-rumah mewah peninggalan kolonial Portugis. Mobil-mobil mewah milik pejabat dari Jakarta berseliweran di jalan-jalan kota di tengah kemiskinan masyarakat. Penduduk banyak yang menjadi korban kekerasan militer bahkan perkosaan terhadap perempuan merajalela. “Saya tidak percaya penduduk Tim-tim yang ingin menyatu dengan Indonesia. Ini invasi militer Indonesia,” kata Wimpie yang berdarah campuran Madura dan Manado.

Anti Aging Medicine

Di Amerika Wimpie mendalami ilmu seksologi dan andrologi. Selama di Amerika ia secara berkala mengirimkan tulisan pada media bertajuk “Surat Dari Amerika”, tulisan feature yang merekam kehidupan dirinya yang mengalami gegar budaya (culture shock) selama hidup di sana. Selain itu ia menulis novel science fiction yang sampai sekarang belum selesai. Novel ini berkisah tentang seorang laki-laki Indonesia yang patah hati karena ditinggal mati kekasihnya lalu memutuskan hijrah ke Amerika. Selama di hidup di Amerika sang tokoh terlibat dalam riset dengan seorang profesor yang mengadakan proyek penelitian menciptakan manusia. Sang tokoh yang patah hati itu  ingin menciptakan manusia yang sama persis dengan kekasihnya. Gagasan dalam novel itu, menurut Wimpie, belum terpikirkan dalam dunia sains ketika itu. “Sekarang kita mengetahui ada kloning untuk menciptakan manusia dalam dunia sains,” katanya.

Kembali ke tanah air, Wimpie bersama Alex Pangkahila menggarap  lahan baru di bidang seksologi dan andrologi di Universitas Udayana. Salah satu pencapaian mereka, adalah menjadikan Fakultas Kedokteran Udayana menjadi salah satu pusat studi seksologi dan andrologi di Indonesia.

Sebagai ilmuwan Wimpie dihadapkan pada pertanyaan, apakah kematian itu ditentukan Tuhan? Mengapa usia rata-rata orang Indonesia hanya 60 tahun sedangkan usia rata-rata orang Jepang bisa 80 tahun? Kalau pun orang Indonesia bisa berumur 80 tahun namum kondisinya dalam keadaan sakit-sakitan. Menurut Wimpie, orang dapat menunda penuaan dengan berperilaku hidup sehat: asupan makanan bergizi yang cukup (mengurangi karbohidrat), tidur yang cukup (minimal 6 jam sehari),  dan olahraga secara teratur (minimal joging selama 30 menit sehari). Ia dan Alex tertarik mengembangkan kedokteran anti-aging karena masih berhubungan dengan bidang specialisasi, seksologi dan andrologi. Misalnya usia senja terkait dengan penurunan kadar hormon yang terkadang menjadi permasalahan dalam penurunan kemampuan berhubungan intim.

Wimpie bersama Alex membangun program magister ini adalah Pusat Studi Kedokteran Anti Penuaan (Center for Study of Anti-Aging Medicine) Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, satu-satunya program pasca-sarjana studi anti-aging di di dunia.
Apa yang membuat Wimpie sukses dalam karir sekaligus kreatif dan produktif? “Roh kesenian yang membuat saya seperti sekarang ini,” katanya. Wimpie meyakini dengan menulis puisi, cerpen, dan novel, memacu kreativitasnya di bidang kedokteran. Barangkali, apa yang dinamakan sebagai intuisi kreatif telah memacu Wimpie terus berkembang di pelbagai bidang. “Yang penting action saja,” tukasnya.

Kini ia ingin kembali lagi menulis karya sastra. Wimpie masih menulis puisi ketika waktu senggang. Novel yang belum rampung pun mulai dikutak-kutik kembali. “Saya menugaskan sekretaris mengetik kembali novel yang belum selesai. Menulis novel memang membutuhkan waktu yang lama,” kata Wimpie sambil tersenyum. Makanya, seperti kata Wimpie, harus action.

Malam itu Wimpie pun beraksi membacakan puisi-puisinya. Berikut ini salah satu puisinya yang bertajuk “Benarkah Kita Merdeka” yang diiringi irama musik blues oleh homeband DOK,  musisi Darwin, Yande Subawa, Onie dan David. Berikut ini petikannya:

Enampuluh lima tahun kita rayakan kemerdekaan
Tetapi apa arti merdeka
Kalau rakyat dicengkeram kebodohan dan derita
Dihantui teror kekerasan
Dan ancaman pada kesatuan dan persatuan
Kita merdeka secara fisik dari penjajahan
Tetapi jiwa bangsa tidaklah merdeka
Karena di negeri ini masih banyak tiran
Yang mengancam dasar kebinekaan
Dan akan meruntuhkan negara kesatuan
Enampuluh lima tahun kemerdekaan kita berkata
Tetapi sesungguhnya kita tidak merdeka
Kalau dulu penjajah asing menyengsarakan rakyat
Kini diganti oleh para pejabat
Dan juga rakyat yang menjelma jadi penjahat
Teriakan merdeka hanyalah jargon semata
Yang sesaat membuat kita terlena
Padahal jiwa bangsa belum merdeka
Yang mungkin berontak suatu ketika
Beginikah Indonesia Raya?
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2012 Journal Bali · Subscribe:PostsComments