
Wimpie Pangkahila beraksi membacakan puisi-puisinya. (foto:Phalayasa Sukmakarsa)
BEGITU banyak orang yang gelisah datang kepadanya untuk berkonsultasi. Begitu banyak pula seminar yang mendapuknya sebagai pembicara. Namun dia tetap saja pribadi yang gelisah selama berpuluh tahun, walau karirnya sebagai akademisi, ilmuwan dan pengasuh rubrik konsultasi seks di media massa kian moncer. Ia gelisah walau telah menulis buku-buku best-seller seperti ”Kita dan seks: tanya jawab tentang masalah seksual”, “Kelopak kehidupan: sekitar masalah seksualitas dalam keluarga”, “Sex yang Indah”, “Seksualitas Anak dan Remaja”, “Anti Aging Medicine: Memperlambat Penuaan Meningkatkan Kualitas Hidup”. Ia gelisah ketika novel yang sedang ditulis belum juga rampung selama puluhan tahun. Ditengah kesibukan menulis makalah atau dalam perjalanan tugas sebagai pembicara, ia merenung dan menulis puisi. Puisi senantiasa memanggilnya dari lubuk nuraninya yang paling dalam.
“Saya sering merasa kehilangan. Karena kesibukan saya saat ini,” kata Wimpie.
Made Sukade, yang juga dikenal sebagai kritikus sastra pun tertarik untuk menerbitkan puisi-puisinya dalam sebuah antologi puisi tunggal. “Pada Daun-daun Berguguran”, demikian judul kumpulan puisi yang telah diketik rapi diserahkan kepada sang kritikus. Setelah lama menunggu penerbitan buku itu, Wimpie mendapat kabar bahwa manuskrip kumpulan puisinya hilang. Tapi ia tidak patah semangat. Ia terus menulis puisi, cerpen, bahkan novel. Selain itu, ia memasuki dunia jurnalistik. Pers semasa itu menjadi saluran aspirasi masyarakat sekaligus sebagai media kontrol pemerintah Orde Baru yang mulai otoriter. Wimpie menjadi wartawan di pelbagai media sejumlah seperti majalah berita mingguan Ekspress, Suara Mahasiswa, Bali Courier, dan lain-lain. Bali Courier, sebuah majalah pariwisata budaya dua bahasa, Wimpie menjadi salah seorang redaktur bersama sastrawan Gerson Poyk, Nyoman Rasta Sindu dan Aco Manafe. “Saya menjadi saksi ketika Rasta Sindhu meninggal,” kata Wimpie dengan suara bergetar.
Sastrawan yang sohor dengan cerita pendek “Ketika Kentongan Dipukul di Bale Banjar” kesehatannya mulai merosot dan sedang dilandai badai persoalan rumah tangga, istrinya pergi meninggalkan sang sastrawan dalam keadaan sakit keras. Rasta Sindhu yang kerap batuk darah akhirnya wafat dalam keadaan memprihatinkan, karena tidak ada satu pun keluarga yang mau mengurus jenasahnya. Wimpie lalu membantu mengurus jenazah dengan menyuntikan cairan formalin agar tetap awet sebelum dilangsungkan upacara pengabenan (dikremasi).
Wimpie menulis suasana duka atas wafatnya sang sastrawan dalam kondisi mengenaskan. Tulisan itu dimuat harian Kompas, dan menjadi topik perbimcangan masyarakat, khususnya para seniman. Tiba-tiba banyak orang yang datang bersimpati atas berpulangnya Nyoman Rasta Sindhu. “Tapi sebaliknya istri Rasta Sindhu marah besar dan memaki-maki saya karena menulis tentang itu,” kata Wimpie mengenang peristiwa pada tahun 1980-an itu.
Pada saat timbul tekanan dan serangan yang datang bertubi-tubi, Wimpie mendapatkan beasiswa sekolah di Amerika dari WHO (World Health Organization), lembaga kesehatan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa). Merasakan sumpek di tanah air, Wimpie memutuskan menerima beasiswa. Ketika persiapan hendak berangkat ke Negeri Abang Sam, Wimpie mendapatkan kabar baik bahwa film Dalam Lingkaran Cinta yang diangkat dari novel Lingkaran Cinta karya Wimpie Pangkahila telah selesai difilmkan dan segera tayang di bioskop. Sebelum berangkat ke Amerika, Wimpie menyempatkan menonton ”Dalam Lingkaran Cinta” yang dibintangi aktor dan aktris yang gemilang pada masanya seperti Lydia Kandau, Rano Karno, Alex Kembar dan sebagainya.
Selama mengajar bahasa Indonesia, Wimpie banyak mendengar cerita dari sang gubernur tentang pernindasan yang dilakukan militer Indonesia kepada penduduk sipil. Para perwira militer seringkali terlihat mengadakan pesta di rumah-rumah mewah peninggalan kolonial Portugis. Mobil-mobil mewah milik pejabat dari Jakarta berseliweran di jalan-jalan kota di tengah kemiskinan masyarakat. Penduduk banyak yang menjadi korban kekerasan militer bahkan perkosaan terhadap perempuan merajalela. “Saya tidak percaya penduduk Tim-tim yang ingin menyatu dengan Indonesia. Ini invasi militer Indonesia,” kata Wimpie yang berdarah campuran Madura dan Manado.
Di Amerika Wimpie mendalami ilmu seksologi dan andrologi. Selama di Amerika ia secara berkala mengirimkan tulisan pada media bertajuk “Surat Dari Amerika”, tulisan feature yang merekam kehidupan dirinya yang mengalami gegar budaya (culture shock) selama hidup di sana. Selain itu ia menulis novel science fiction yang sampai sekarang belum selesai. Novel ini berkisah tentang seorang laki-laki Indonesia yang patah hati karena ditinggal mati kekasihnya lalu memutuskan hijrah ke Amerika. Selama di hidup di Amerika sang tokoh terlibat dalam riset dengan seorang profesor yang mengadakan proyek penelitian menciptakan manusia. Sang tokoh yang patah hati itu ingin menciptakan manusia yang sama persis dengan kekasihnya. Gagasan dalam novel itu, menurut Wimpie, belum terpikirkan dalam dunia sains ketika itu. “Sekarang kita mengetahui ada kloning untuk menciptakan manusia dalam dunia sains,” katanya.
Sebagai ilmuwan Wimpie dihadapkan pada pertanyaan, apakah kematian itu ditentukan Tuhan? Mengapa usia rata-rata orang Indonesia hanya 60 tahun sedangkan usia rata-rata orang Jepang bisa 80 tahun? Kalau pun orang Indonesia bisa berumur 80 tahun namum kondisinya dalam keadaan sakit-sakitan. Menurut Wimpie, orang dapat menunda penuaan dengan berperilaku hidup sehat: asupan makanan bergizi yang cukup (mengurangi karbohidrat), tidur yang cukup (minimal 6 jam sehari), dan olahraga secara teratur (minimal joging selama 30 menit sehari). Ia dan Alex tertarik mengembangkan kedokteran anti-aging karena masih berhubungan dengan bidang specialisasi, seksologi dan andrologi. Misalnya usia senja terkait dengan penurunan kadar hormon yang terkadang menjadi permasalahan dalam penurunan kemampuan berhubungan intim.
Kini ia ingin kembali lagi menulis karya sastra. Wimpie masih menulis puisi ketika waktu senggang. Novel yang belum rampung pun mulai dikutak-kutik kembali. “Saya menugaskan sekretaris mengetik kembali novel yang belum selesai. Menulis novel memang membutuhkan waktu yang lama,” kata Wimpie sambil tersenyum. Makanya, seperti kata Wimpie, harus action.
Malam itu Wimpie pun beraksi membacakan puisi-puisinya. Berikut ini salah satu puisinya yang bertajuk “Benarkah Kita Merdeka” yang diiringi irama musik blues oleh homeband DOK, musisi Darwin, Yande Subawa, Onie dan David. Berikut ini petikannya:
















