Saturday 20th December 2014

Home » Maestro, Profile » W. J. S. Poerwadarminta, Bapak Kamus Indonesia

Sejak usia 20 tahun sudah mulai bergulat dengan bahasa. Dia mencatat sekaligus merumuskan arti kata sebagaimana yang hidup di tengah pemakainya.

Wilfridus Joseph Sabarija Poerwadarminta (12 September 1904-28 November 1968) masuk angkatan orang Indonesia pertama yang memperkenalkan bahasa Indonesia di luar negeri setelah peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda. Ketika menjadi dosen bahasa Melayu di Sekolah Bahasa Asing di Tokyo (1932-1937), ia sering mengatakan kepada orang Jepang bahwa Indonesia sudah punya bahasa nasional sendiri. Barangkali ia mengatakannya dengan begitu saja, tidak berlandaskan sebuah kesadaran politik. Barangkali juga kecintaannya kepada bahasa Indonesialah yang mendorong dia memuliakan bahasanya itu di negeri asing. Tapi kita tahu, baru pada 1938 bahasa Indonesia boleh dipakai dalam sidang-sidang di Dewan Rakyat Hindia-Belanda, yaitu sejak Mohammad Hoesni Thamrin berpidato dengan bahasa itu di sana.

Dalam ingatan kita, Poerwadarminta adalah seorang ilmuwan, bukan politikus. Ia ilmuwan swadidik bersahaja yang berperan besar dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Minatnya kepada bahasa sudah terlihat ketika ia berusia sekitar 20 tahun. Sambil mengajar di sebuah sekolah dasar di kota kelahirannya, Yogyakarta, ia mengambil kursus pelbagai bahasa, seperti bahasa Belanda, Inggris, Prancis, Sanskerta, Jerman, Jawa Kuno, Melayu, dan Jepang, sampai ia menguasai semua bahasa itu. Tercatat ia sudah menghasilkan sedikitnya 25 buku–sebagian besar berupa kamus–lima diktat kuliah bahasa, serta sejumlah tulisan yang tersebar di beberapa media cetak.

Ia mencurahkan sebagian besar pikirannya pada perkamusan, satu bidang yang tak kalah penting dibanding upaya orang lain, seperti Sutan Takdir Alisjahbana atau Armijn Pane, dalam meletakkan dasar-dasar tata bahasa Indonesia. Julukan Bapak Kamus Indonesia disandangkan kepadanya bukan hanya karena karya unggulnya, Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952), menjadi dasar pengembangan kamus bahasa Indonesia kontemporer. Ia pun menyusun beberapa kamus lain, di antaranya Baoesastra Djawa I (bersama C.S. Hardjasoedarmo dan J.Chr. Poedjasudira, 1930); Baoesastra Walandi-Djawi (1936); Baoesastra Djawa II (1939); Kamus Nippon-Indonesia, Indonesia-Nippon (1942); Indonesisch-Nederlands Woordenboek (bersama A. Teeuw, 1950); serta Kamus Latin-Indonesia (bersama K. Prent dan J. Adisubrata, terbit secara anumerta pada 1969). Ia malah sedang menyusun kamus Prancis-Indonesia ketika ajal menjemputnya.

Sepulang dari Jepang, sepanjang 1937-1942, ia bekerja di bagian penerjemahan penerbit Balai Pustaka, lalu ditempatkan sebagai juru bahasa di kantor Kempetai. Dan pada 1946 ia dipindahkan ke bagian perpustakaan Museum Nasional.

Setelah berkali-kali dimutasi di lingkungan Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan–pada saat yang sama ia masih terus mengajar bahasa Indonesia di beberapa sekolah serta perguruan tinggi di Jakarta–sejak Januari 1953 ia bertugas di Lembaga Bahasa dan Budaya Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia sebagai pemimpin bagian leksikografi. Pada 1960 ia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tapi ia masih membantu Lembaga Bahasa dan Budaya Cabang Yogyakarta, sambil mewariskan ilmunya di Taman Siswa serta menjadi dosen di beberapa universitas terkemuka Yogyakarta dan Semarang.

Sebelum dan pada masa sekitar Poerwadarminta menyelesaikan kamusnya yang bersejarah, di tengah masyarakat sudah beredar cukup banyak kamus, baik ekabahasa maupun dwibahasa, termasuk kamus yang berukuran besar. Tapi mengapa kemudian Kamus Poerwadarminta yang dipandang sebagai tonggak dan dipergunakan sebagai rujukan dalam pengembangan kamus bahasa Indonesia?

Menilik cara kerjanya, tak pelak Poerwadarminta layak disebut sebagai peletak dasar leksikografi di Indonesia. Tiap kata, entah dari khazanah kontemporer entah lama, ia catat dalam kartu disertai keterangan mengenai sumber, batas-batas arti, serta bagaimana penggunaannya. Bersama sekian teks yang telah ia ambil kata-katanya, semua bahan tersebut kemudian ia simpan baik-baik. Sebuah ketelatenan yang amat menakjubkan, dan ini baru merupakan langkah awal dari satu pekerjaan mahapelik. Langkah berikut menghadapkan dia pada dua soal genting, yaitu merumuskan makna sesuatu kata dan menentukan pilihan di antara sekian varian bentuk kata. Dalam soal yang pertama, tanpa rasa segan dan malu-malu ia bertukar pikiran dengan orang yang ia pandang lebih ahli, seperti Poerbatjaraka, C. Hooykaas, atau A. Teeuw. Namun, ketika sampai pada keharusan menetapkan pilihan, ia tegas mengedepankan otoritasnya sambil tetap berpegang pada prinsip-prinsip ilmu bahasa.

Pernah ia katakan, kata-kata yang tercantum di dalam kamusnya sudah digunakan di lima tempat (Medan, Jakarta, Surabaya, Ujungpandang, dan Ambon), dalam lima buku atau majalah, oleh lima penulis yang berbeda-beda. Dari sudut ini, Kamus Poerwadarminta bersifat sinkronis, artinya ia menyajikan pemberian arti kata dalam bahasa Indonesia kontemporer. Tapi kamus itu juga berwatak diakronis, karena mengetengahkan kata-kata Melayu lama dari abad ke-17 hingga ke-19. Jangan lupa, ia hidup pada masa ketika kosakata dari khazanah Melayu lama masih subur, sementara kosakata terutama dari Barat mulai datang membanjir. Dalam kalimat Poerwadarminta: “Sebagai tjermin tjorak perkembangan dan pemakaian bahasa Indonesia pada dewasa ini, maka kamus ini pun terpaksa masih bersipat mendua, lama dan baru.”

Di belahan dunia lain, ketika tradisi perkamusan mulai diterangi cahaya ilmu, penyusunan kamus lebih ditujukan untuk memelihara kemurnian bahasa. Lihat misalnya, kamus yang disusun oleh Bapak Kamus Inggris, Samuel Johnson, Dictionary of the English Language (1755), atau karya Bapak Kamus Amerika, Noah Webster, An American Dictionary of the English Language (1828). Poerwadarminta bukan tidak sadar akan konsekuensi pilihannya. Ia sendiri menyatakan kamusnya bukanlah kamus standar atau baku, melainkan kamus deskriptif yang mencatat sambil merumuskan arti dan penggunaan tiap kata sebagaimana kata itu hidup di tengah pemakainya. Menjelang seminar bahasa Indonesia pada 1968, ia sempat mengutarakan pikiran mengenai pentingnya kamus baku, selain dua jenis kamus lain, yaitu kamus ilustratif dan tesaurus dalam bahasa Indonesia.

Poerwadarminta sendiri mungkin tidak tahu, setelah memasuki abad ke-20, pendekatan normatif Johnson dan Webster sudah ditinggalkan orang. A New English Dictionary on Historical Principles (1934) dan Webster’s Third New International Dictionary (1961), misalnya, berbeda dengan kamus Johnson dan Webster, sekadar mencatat dan menafsirkan pemakaian sebuah kata atau istilah secara cermat tanpa hasrat mendiktekan mana bentuk yang betul serta mana yang salah. Jelas Kamus Poerwadarminta mengikuti prinsip ini. Ia hanya berharap kamusnya “dapat memenuhi keperluan-keperluan jang praktis dalam batja-membatja segala matjam bacaan”. Sedari awal ia pun sudah membayangkan keperluan memperbaiki dan memperbaruinya setiap sepuluh atau 15 tahun. Baginya, kamus tak mungkin kekal.

Pilihan pendekatannya tersebut secara tak terelakkan memang mengakibatkan ada tuntutan penyempurnaan terus-menerus. Namun sayang, sejarah berkata lain. Sampai meninggalnya, ia tidak pernah berkesempatan melakukan penyempurnaan tersebut. Sejak pertama terbit pada 1952, baru pada 1976–di cetakan kelima–Kamus Poerwadarminta “diolah kembali” oleh Pusat Bahasa. Penyempurnaan kedua kita lihat pada cetakan ke-13 pada 2003. Hanya entah mengapa, sejak di tangan Pusat Bahasa, teks-teks pengantar yang ditulis Poerwadarminta tak lagi bisa kita jumpai di sana.

Tahun ini kita memasuki 40 tahun wafatnya Bapak Kamus Indonesia itu. Kamus Umum Bahasa Indonesia hasil jerih payahnya telah memberi sumbangan yang tak ternilai dalam pembakuan kosakata bahasa Indonesia lewat usaha keras yang cermat, sistematis, dan menuruti prinsip-prinsip leksikografi. Seperti bangsa Anglo Saxon menyebut Roget’s Thesaurus atau orang Belanda menyebut Kamus Van Dale, mungkin baik bila kita mengenangkan namanya dengan menyebut kamus babon yang ia susun: Kamus Poerwadarminta.

Eko Endarmoko dan Anton M. Moeliono, Kedua penulis pencinta bahasa Indonesia.

Sumber: Tempo Edisi Khusus Seabad Kebangkitan Nasional, No.13/XXXVII/19 – 25 Mei 2008

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Twitter

Baca Juga

Leave a Reply

About Us | Contact Us
© 2010 Journal Bali · Subscribe:PostsComments